
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Aleea berbaring di ranjangnya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Aleea berdering, sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenalnya. Aleea kemudian membuka pesan itu dan mendapati sebuah gambar yang bertuliskan opening sebuah toko bunga.
"Siapa yang mengirim pesan ini?" tanya Aleea pada dirinya sendiri.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Tak lama kemudian sebuah pesan kembali masuk dari nomor yang sama.
"Karena kau sangat menyukai bunga, datanglah bersama Nathan, akan ada pameran bunga-bunga dari luar negeri yang diadakan saat opening nanti."
Aleea mengernyitkan keningnya lalu memutuskan untuk menghubungi nomor itu karena ia berpikir jika si pemilik nomor itu adalah orang terdekatnya karena pasti hanya orang terdekatnya yang mengetahui jika ia sangat menyukai bunga.
"Halo nyonya Nathan, apa kau sudah membaca pesan dariku?"
Aleea terdiam untuk beberapa saat setelah ia mendengar suara laki-laki di ujung sambungan ponselnya.
"Evan?" tanya Aleea menerka.
"Apa suaraku sangat jelas, Aleea?" balas Evan bertanya.
"Tentu saja, aku baru sadar jika aku tidak memiliki kontakmu," ucap Aleea.
"Sekarang simpan kontakku agar kau bisa menghubungiku kapanpun kau membutuhkan bantuanku," balas Evan.
"Baiklah," ucap Aleea.
Panggilan berakhir. Malam yang panjangpun berlalu. Aleea keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah meja makan dimana sudah ada Nathan disana.
"Nathan, aku....."
"Aku tidak akan mendengarnya jika kau masih membicarakan tentang kelas memasak konyol itu," ucap Nathan memotong ucapan Aleea.
"Aku tidak membicarakan hal itu, aku hanya ingin memberi tahumu jika Minggu depan akan ada opening florist sekaligus pameran bunga, apa kau bisa datang kesana bersamaku?" ucap Aleea sekaligus bertanya.
"Aku tidak bisa berjanji Aleea, kau tau bukan jika aku tetap sibuk dengan pekerjaanku bahkan saat weekend!" balas Nathan.
__ADS_1
"Aku tau, tapi tidak bisakah kau meluangkan satu hari saja waktumu untukku?" tanya Aleea.
"Ini bukan tentangmu Aleea, tapi tentang tanggung jawabku pada pekerjaanku, aku harap kau bisa mengerti," jawab Nathan.
"Kalau kau tidak bisa menemaniku, aku akan pergi kesana sendiri dengan diantar pak supir, apa kau mengizinkan?"
"Kita lihat saja nanti," jawab Nathan lalu beranjak dari duduknya.
Aleea hanya menghela nafasnya panjang sambil menikmati sarapannya tanpa bersemangat.
"Sikapmu benar-benar sangat berubah Nathan, kau seperti sudah tidak mencintaiku lagi, kau bahkan tidak mempedulikanku sama sekali," ucap Aleea dalam hati.
"Aku sangat bodoh karena menandatangani surat perjanjian konyol itu, sekarang tidak ada yang bisa aku lakukan selain menerima semua keadaan ini," batin Aleea sambil menyeruput minumannya lalu beranjak dan pergi meninggalkan meja makan.
Di tempat lain, Nathan mengendarai mobilnya ke arah tempatnya bekerja. Sesampainya di kantor ia tidak segera masuk ke ruangannya, namun segera membawa langkahnya ke arah ruangan Evan dan duduk di hadapan Evan.
"Tumben sekali pagi-pagi kau kesini!" ucap Evan.
"Aleea membuat masalah lagi," balas Nathan dengan raut wajah yang kesal.
"Ada apa lagi kali ini?" tanya Evan.
"Jadi apa dia tetap akan mengikuti kelas memasak itu?" tanya Evan.
"Tentu saja tidak, aku tidak akan membiarkannya melakukan banyak hal di luar rumah, aku tidak ingin ada seseorang yang mengenalnya dan mengacaukan rencanaku," jawab Nathan.
"Menurutku kau sedikit berlebihan Nathan, dia pasti sangat bosan berada di rumah sepanjang hari," ucap Evan.
"Aku tidak ingin mengambil resiko Evan, lagi pula tidak ada yang bisa dia lakukan selain menuruti ucapanku!" balas Nathan.
"Untuk saat ini mungkin dia hanya diam dan menuruti ucapanmu, tapi semakin lama kau banyak melarangnya dia akan semakin memberontak dan mulai memikirkan banyak hal tentang alasanmu melarangnya," ucap Evan.
"Aku hanya tidak ingin ada orang lain yang merusak rencanaku Evan," ucap Nathan.
"Dimana Aleea ingin mengikuti kelas memasak? aku akan menyelidikinya dan memastikan apakah kelas memasak itu aman untuk Aleea dan jika tidak ada siapapun yang mengenal Aleea disana, kau harus berjanji untuk mengizinkan Aleea mengikuti kelas memasak itu!"
"Kenapa kau sangat peduli padanya Evan? dia bahkan sudah tidak membahasnya lagi!"
"Aku peduli bukan hanya pada Aleea, tapi juga padamu Nathan, melarang Aleea berkegiatan di rumah hanya akan membuatnya stres dan tertekan, aku tidak yakin berapa lama dia bisa bertahan dengan pernikahan yang dia jalani saat ini, bisa jadi Aleea akan membuat masalah yang akan merugikanmu jika kau terlalu banyak melarangnya," balas Evan.
__ADS_1
"Lagi pula kelas memasak tidak akan dilakukan setiap hari dan mungkin hanya akan dilakukan beberapa jam dalam beberapa hari," lanjut Evan.
Nathan terdiam untuk beberapa saat lalu menganggukkan kepalanya pelan. Nathan kemudian memberi tahu Evan tentang kelas memasak yang akan Aleea ikuti agar Evan memastikan apakah kelas memasak itu aman untuk Aleea.
"Aku akan memberikan laporan padamu tentang kelas memasak itu secepatnya," ucap Evan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Nathan yang sudah beranjak dari duduknya.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Nathan baru saja sampai di rumahnya.
Seperti biasa, Aleea menyambut kepulangan Nathan meskipun Nathan selalu mengacuhkan Aleea.
Namun sebelum masuk ke kamarnya, Nathan memanggil Aleea yang membuat Aleea segera berlari kecil menghampiri Nathan.
"Tentang kelas memasak yang kemarin kau katakan padaku, kau bisa mengikutinya mulai besok," ucap Nathan.
"Benarkah? apa kau serius?" tanya Aleea terkejut.
"Hanya beberapa jam setiap harinya bukan?" balas Nathan memastikan.
"Iya, hanya 5 hari dalam satu Minggu dan setiap pertemuan hanya 3 jam," jawab Aleea bersemangat.
"Baiklah, aku mengizinkanmu asalkan kau segera pulang setelah kelas memasakmu selesai dan jangan pernah pergi tanpa supir," ucap Nathan.
Aleea menganggukkan kepalanya dengan penuh senyum lalu segera membawa dirinya memeluk Nathan dengan erat.
"Terima kasih Nathan, kau memang suami terbaik," ucap Aleea penuh senyum dengan mendongakkan kepalanya menatap Nathan.
Mendapat pelukan dan tatapan Aleea yang sangat dekat membuat Nathan hanya diam dan membeku untuk beberapa saat.
Tanpa sadar dalam hatinya mengagumi kecantikan gadis di hadapannya.
Sedangkan Aleea segera melepaskan pelukannya pada Nathan lalu berjalan ke kamarnya dengan menari-nari kecil yang membuat Nathan gemas melihatnya.
Tanpa sadar Nathan tersenyum tipis dengan menatap Aleea sampai Aleea tak terlihat dari pandangannya.
"Astaga, aku pasti sudah gila," ucap Nathan yang baru sadar dengan apa yang terjadi padanya.
Nathan menggelengkan kepalanya cepat lalu segera masuk ke kamarnya.
"Dia terlihat sangat senang, padahal aku hanya mengizinkannya untuk mengikuti kelas memasak," ucap Nathan dengan menghela nafasnya.
__ADS_1
Ia masih tidak mengerti dengan cara berpikir perempuan, terutama Aleea yang sekarang menjadi istrinya.