Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Saran Evan


__ADS_3

Setelah puas memperhatikan Aleea dari jauh, Evan kemudian keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri Aleea.


Melihat kedatangan Evan, Aleeapun melambaikan tangannya dengan penuh senyum.


"Akhirnya kau datang, aku akan pergi sekarang!" ucap Tika sambil beranjak dari duduknya.


"Apa kau yakin bisa mengatasi semua ini sendiri, Tika?" tanya Aleea.


"Tenang saja, ini hanya barang-barang kecil, lanjutkan saja membeli barang-barang yang lain lalu segera bawa ke ruko," balas Tika.


"Baiklah, aku akan membeli barang-barang yang lain dan membawanya ke ruko bersama Evan," ucap Aleea.


Setelah berpamitan, Tikapun pergi, meninggalkan Aleea dan Evan disana.


"Terima kasih sudah datang Evan, Tika harus pergi untuk mengurus hal lain dan membawa beberapa barang yang sudah kita beli, sekarang aku harus membeli barang-barang yang lain lalu membawanya ke ruko," ucap Aleea.


"Aku akan menemanimu dan mengantarmu ke ruko," balas Evan.


Aleea tersenyum dengan mengacungkan ibu jarinya pada Evan. Aleea dan Evan kemudian mencari beberapa barang yang Aleea butuhkan sesuai dengan daftar yang sudah Aleea dan Tika buat.


Evan juga memberikan beberapa rekomendasi dan saran pada Aleea saat Aleea bingung menentukan jenis barang yang ia butuhkan.


Setelah beberapa lama menghabiskan waktu disana, semua barang yang Aleea butuhkan sudah ia beli. Aleea dan Evan kemudian meninggalkan tempat itu untuk pergi ke ruko, diikuti oleh supir pick up yang membawa banyak barang besar yang Aleea beli.


Sesampainya di ruko, semua barang-barang yang Aleea beli segera diturunkan dari pick up dan dibawa masuk ke dalam ruko.


"Jadi disini tempatnya?" tanya Evan sambil memperhatikan sekelilingnya.


"Iya, disinilah aku akan memulai bisnis baruku dengan Tika, bagaimana menurutmu Evan?" balas Aleea.


"Mmmm.... aku rasa ini cukup strategis, disini dekat dengan kampus dan daerah perkantoran, pasti harga sewanya juga mahal bukan?"


"Memang lebih mahal, tapi aku rasa itu akan sebanding dengan hasilnya nanti, karena di tempat yang satunya aku rasa lokasinya kurang begitu strategis," jawab Aleea.

__ADS_1


"Semoga ini adalah awal yang baik untukmu Aleea dan kau harus ingat untuk selalu menghubungiku jika kau membutuhkan sesuatu, oke?"


Aleea menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


"Aku akan selalu merepotkanmu Evan," ucap Aleea lalu membawa langkahnya menaiki tangga.


"Kemarilah, kau harus melihat apa yang ada di lantai dua," ucap Aleea yang membuat Evan berjalan mengikuti Aleea untuk naik ke lantai dua.


Di lantai dua, ada sebuah ruangan dan balkon yang cukup luas dengan meja dan kursi yang menghadap ke arah jalan raya.


"Ini akan menjadi spot favoritku disini!" ucap Aleea lalu membawa dirinya duduk disana, diikuti Evan yang duduk di samping Aleea.


"Ruangan apa yang ada di belakang?" tanya Evan sambil menunjuk ruangan di belakangnya.


"Aku belum tau pasti, tapi mungkin aku akan tinggal disini dan menempati ruangan itu," jawab Aleea.


"Tinggal disini? bagaimana dengan Nathan? apa dia menyetujuinya?" tanya Evan.


"Aku tidak memerlukan persetujuannya Evan, bukankah dia sudah tidak peduli padaku!" balas Aleea.


"Aku tau Evan," ucap Aleea memotong ucapan Evan dengan tersenyum, namun kedua matanya tampak berkaca-kaca.


"Maafkan aku Aleea, aku tidak bermaksud membuatmu bersedih," ucap Evan yang merasa bersalah.


Aleea hanya menggelengkan kepalanya lalu mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak menetes.


Evan kemudian menepuk pelan bahu Aleea, berusaha membuat Aleea lebih kuat dalam menghadapi jalan hidupnya yang tidak sesuai dengan keinginannya.


"Kau bisa menceritakan apapun padaku Aleea, kau mungkin bisa tertawa dan tersenyum seolah kau baik-baik saja di depan semua orang, tapi aku tau jika kau menyimpan kesedihan dalam hatimu," ucap Evan.


"Menangis hanya membuatku semakin lemah Evan," balas Aleea dengan suaranya yang mulai serak.


"Tidak Aleea, aku tau kau perempuan yang kuat, kau bisa menyimpan kesedihanmu dengan sangat baik dan memberikan senyuman yang tulus pada semua orang, padahal hatimu sedang terluka, tidak semua orang bisa melakukannya Aleea," ucap Evan.

__ADS_1


"Menangis tidak akan membuatmu lemah, kau harus menangis untuk menuntaskan kesedihanmu Aleea dan bersamaku kau bisa meluapkan semuanya tanpa harus menahannya," lanjut Evan sambil menyibakkan sehelai rambut Aleea.


Aleea hanya diam, berusaha keras untuk bisa menahan rasa sedihnya. Tapi seberapa keras pun ia berusaha, matanya tetap terasa perih hingga kedua matanya tidak mampu membendung kesedihannya setelah cukup lama ia berpura-pura baik-baik saja di depan Tika.


Evan kemudian menggeser posisi duduknya, menyandarkan kepala Aleea di bahunya dengan satu tangannya menggenggam tangan Aleea.


Evan hanya diam, membiarkan Aleea menangis sepuasnya untuk menuntaskan kesedihannya.


Setelah merasa lebih tenang, Aleea kemudian menghapus sisa air mata di pipinya dan mengangkat kepalanya dari bahu Evan, membuat Evan seketika melepaskan genggaman tangannya pada Aleea.


"Maafkan aku Evan, aku selalu seperti ini di depanmu," ucap Aleea dengan menghela napasnya panjang.


"Tidak perlu meminta maaf Aleea, setelah kau puas menangis, kau harus benar-benar tersenyum karena bahagia, bukan karena berpura-pura, aku yakin semuanya akan baik-baik saja setelah ini," balas Evan mengusap kepala Aleea.


"Terima kasih Evan," ucap Aleea yang hanya dibalas senyuman oleh Evan.


"Maaf jika aku tidak setuju dengan apa yang kau katakan tadi Aleea, aku tau bagaimana hubunganmu dengan Nathan saat ini, tapi pergi darinya tidak akan menyelesaikan masalah Aleea," lanjut Evan.


"Sampai kapan aku harus tetap bersamanya Evan? dia bahkan sudah tidak mencintaiku lagi dan sudah dua kali menamparku, apa aku harus menunggu tamparan lain darinya?" tanya Aleea.


"Aku mengerti itu pasti hal yang menyakitkan untukmu Aleea, tapi bolehkah aku memberi saran untukmu?"


Aleea hanya diam dengan membawa pandangannya pada Evan, seolah menunggu saran yang akan Evan katakan padanya.


"Salah satu sifat buruk Nathan memang keegoisannya, tapi dibalik itu dia adalah laki-laki yang tidak mudah menyerah dan akan selalu berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan, jika kau pergi darinya itu hanya akan membuatnya semakin marah padamu," ucap Evan.


Aleea hanya diam, mendengarkan ucapan Evan.


"Saranku, tetaplah bersama Nathan, jalani hidupmu sesuai dengan yang kau mau tanpa meninggalkan rumah itu, tidak perlu mempedulikan Nathan tapi jangan melakukan hal yang Nathan tidak suka, semuanya akan semakin rumit jika orang tuan Nathan mengetahui masalah kalian berdua Aleea, kau mengerti maksudku bukan?" lanjut Evan.


Aleea masih terdiam, ia kembali teringat ucapan Nathan padanya beberapa saat yang lalu.


"Evan benar, orang tua Nathan akan melibatkan Evan jika mereka tau hubunganku dengan Nathan tidak baik-baik saja, aku tidak boleh membiarkan hal itu terjadi," ucap Aleea dalam hati.

__ADS_1


"Aku akan selalu ada untukmu Aleea, jadi aku mohon tetaplah bertahan, aku juga akan berusaha menyadarkan Nathan jika sikapnya padamu adalah kesalahan yang besar," ucap Evan dengan menggenggam tangan Aleea di atas meja.


Aleea hanya diam, menatap tangannya yang berada dalam genggaman tangan Evan.


__ADS_2