Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Berhati-hati


__ADS_3

Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Dering ponsel seketika membuat Nathan membuka matanya, degup jantungnya berdetak cepat, dadanya berdebar bersama perasaan aneh yang tidak biasa ia mengerti.


"Astaga, mimpi yang sangat gila!" ucap Nathan sambil memukul kepalanya pelan.


Nathan kemudian mengambil ponselnya dan mendapati pesan masuk dari Evan.


"Mulai hari ini semua laporan akan aku berikan pada om Aryan, karena untuk sementara semua persetujuan hanya melalui om Aryan agar kau bisa menikmati liburanmu!"


Nathan menjatuhkan ponselnya di atas ranjangnya, satu tangannya memegang dadanya yang masih berdegup kencang.


Ia tidak mengerti kenapa ia bisa memimpikan hal yang sama sekali tidak pernah ia pikirkan dalam hidupnya.


"Aku pasti sudah sangat gila!" ucap nathan lalu beranjak dari ranjangnya.


Baru saja Nathan beranjak, Aleea masuk ke dalam kamar yang memang tidak memiliki pintu.


Dengan santai Aleea masuk ke kamar mandi dan mengabaikan Nathan yang masih duduk di tepi ranjangnya.


Melihat Aleea yang masuk ke kamar mandi, Nathanpun segera berlari keluar dari kamar sebelum ia melihat sesuatu yang tidak ingin dilihatnya.


Nathan membawa dirinya duduk di sofa, hanya diam dan tanpa sadar kepalanya mengulas kembali setiap detail mimpinya semalam.


"Apa semua yang terjadi hanya mimpi? apa Aleea sama sekali tidak masuk ke kamar semalam? atau.... aaarrgghhh tidak..... tidak mungkin Aleea masuk ke kamar dan mempedulikanku yang tidur dengan posisi duduk!" batin Nathan dalam hati.


Tiba-tiba bel pintu kamarnya berbunyi, Nathan yang terkejut segera beranjak dari duduknya dan memeriksa layar kecil yang ada di dekat pintu.


"Aaahhh, makanan rupanya," ucap Nathan lalu membuka pintu dan membiarkan 2 staf hotel masuk lalu menyajikan makanan dan minuman di meja.


Setelah dua staf hotel itu keluar, Nathanpun kembali duduk di tempatnya dan segera menyeruput salah satu minuman yang ada di hadapannya.


"Tenanglah Nathan, berhenti memikirkan mimpi gila itu!" ucap Nathan dalam hati sambil berusaha menenangkan dirinya.


Tak lama kemudian Aleea keluar dari kamar dengan rambutnya yang tergerai dan tampak basah.


"Apa kau meminum minumanku?" tanya Aleea yang melihat minuman yang ia pesan tinggal setengah.


"Kau bisa meminum milikku," balas Nathan.


"Kau menyebalkan sekali!" gerutu Aleea lalu menyeruput minuman yang seharusnya menjadi milik Nathan.


"Aku akan membawanya ke balkon, cepat mandi, kau terlihat sangat berantakan!" ucap Aleea lalu membawa makanan dan minumannya ke balkon.


Aleea menikmati sarapannya di balkon dengan pemandangan kota Paris yang sedikit dingin karena sudah memasuki musim salju.


Sedangkan Nathan segera membawa langkahnya masuk ke kamar mandi, mengguyur badannya di bawah shower untuk waktu yang cukup lama.


Nathan berusaha keras untuk melupakan mimpi yang benar-benar mengganggu kepalanya sejak ia bangun dari tidurnya.


Namun seberapa keras pun Nathan berusaha melupakannya, tanpa sadar ia justru semakin memikirkannya.


"Meksipun suaranya terdengar samar, tapi terasa begitu nyata, dia seperti benar-benar ada di dekatku saat itu," ucap Nathan sambil menundukkan kepalanya, membiarkan air hangat dari shower memijat kepalanya.


"Tapi kenapa aku menahannya? kenapa aku...... tidak.... aku tidak mungkin melakukan hal bodoh itu, apa lagi pada Aleea, Vina yang selalu menggodaku saja tidak pernah bisa membuatku tertarik padanya, apa lagi Aleea yang bukan siapa-siapa!"


Nathan menggelengkan kepalanya cepat, berusaha menyadarkan dirinya atas pikiran-pikirannya yang mulai liar.


**


Di tempat lain, Evan baru saja meninggalkan kantin setelah ia makan siang di kantin.


Saat akan masuk ke ruangannya, ia melihat mama Nathan yang berdiri di depan ruangannya.


Evan mengentikan langkahnya, sedikit menyembunyikan dirinya dari mama Nathan yang tampak sedang mengobrol bersama seseorang melalui ponsel.


"Apa kau juga sudah memberi tahu Nathan mobil yang akan dia pakai selama disana?" tanya Hanna pada seseorang melalui ponselnya.


"Sudah, saya sudah memberikan kunci mobilnya padanya dan menaruh mobilnya di basement hotel."


"Baguslah kalau begitu, pastikan kau bisa melacak kemana saja mobil itu pergi dan tetap awasi mereka berdua dari jarak jauh agar tidak membuat mereka curiga," ucap Hanna.


"Baik, saya mengerti."


Mendengar hal itu, Evanpun hanya diam dan sedikit menjauh dari ruangannya saat melihat mama Nathan mengakhiri panggilannya.


Evan kemudian berpura-pura berjalan ke arah ruangannya tanpa mengetahui jika mama Nathan sudah berada disana terlebih dahulu.


"Tante Hanna, apa Tante menunggu Evan?" tanya Evan berpura-pura terkejut.


"Iya, Tante menunggumu, ada yang ingin Tante bicarakan denganmu," jawab Hanna.

__ADS_1


"Silakan masuk Tante," ucap Evan lalu membawa langkahnya masuk ke ruangannya diikuti oleh mama Nathan.


"Apa yang Tante ingin bicarakan pada Evan, Tante? sepertinya penting sekali sampai harus datang kesini," tanya Evan.


"Ini tentang Vina, kau pasti mengenalnya bukan?"


"Iya Tante, Evan mengenalnya, tapi ada apa dengannya?" balas Evan.


"Tante hanya ingin meminta tolong padamu, berikan dia banyak pekerjaan di kantor agar dia tidak mempunyai waktu untuk mengganggu Nathan, karena Tante yakin dia pasti masih berusaha untuk menggoda Nathan meskipun Nathan sudah menikah!"


"Aaahhh soal itu, Tante tidak perlu khawatir, Nathan sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Vina, jadi sekeras apapun usaha Vina untuk menggoda Nathan, Vina tidak akan berhasil!" ucap Evan.


"Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi Evan, jadi apa salahnya berjaga-jaga?"


"Tante benar, Evan tau apa yang akan Evan lakukan pada Vina, Tante tidak perlu khawatir," ucap Evan.


"Baiklah kalau begitu, Tante kesini hanya untuk mengatakan hal itu, sekarang Tante akan pergi!" ucap Hanna.


"Baik Tante, hati-hati di jalan," ucap Evan saat Hanna sudah beranjak dari duduknya.


Setelah memastikan Hanna meninggalkan ruangannya, Evan kemudian segera menghubungi Nathan, namun tidak terjawab.


Perbedaan waktu antara dua negara membuat aktivitas yang mereka lakukan pun berbeda.


Berbeda dengan Evan yang baru saja menyelesaikan makan siangnya, Nathan justru baru saja masuk ke kamar mandi dan Aleea baru saja menikmati sarapannya.


Karena panggilannya tidak juga terjawab, Evan kemudian menghubungi Aleea.


"Halo Evan!"


Terdengar suara Aleea yang menerima panggilannya.


"Halo Aleea, apa kau bersama Nathan? aku baru saja menghubunginya tapi tidak terjawab!"


"Sepertinya dia sedang mandi, apa ada sesuatu yang penting?" tanya Aleea.


"Iya, tapi aku ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu, apa kemarin ada seseorang yang menjemput kalian berdua saat di bandara?" balas Evan bertanya.


"Iya, kenapa?"


"Apa dia memberi tahu mobil yang akan kalian pakai selama kalian disana?" tanya Evan memastikan.


"Iya benar, apa kau mengenalnya?" balas Aleea bertanya.


"Berhati-hati kenapa?" tanya Aleea tak mengerti.


Evan kemudian menjelaskan pada Aleea tentang apa yang ia dengar dari mama Nathan. Semua percakapan mama Nathan bersama orang suruhannya ia katakan pada Aleea agar Aleea dan Nathan tidak melakukan hal yang mencurigakan selama mereka berada disana.


"Astaga, mama Nathan benar-benar sangat berlebihan!" ucap Aleea setelah ia mendengar semua yang Evan katakan padanya.


"Apa yang berlebihan?" tanya Nathan yang tiba-tiba berdiri di samping Aleea.


"Dengarkan sendiri!" ucap Aleea sambil memberikan ponselnya pada Nathan.


Nathan melihat layar ponsel Aleea dan mendapati nama Evan disana, iapun menempelkan ponsel Aleea di telinganya.


"Ada apa Evan?" tanya Nathan.


"Tanyakan saja pada Aleea, aku sudah menjelaskan semuanya padanya," jawab Evan.


"Tidak, aku ingin mendengarnya darimu!" ucap Nathan.


"Astaga, kau....."


"Katakan saja atau aku tidak akan pernah mengetahuinya!" ucap Nathan memotong ucapan Evan.


Dengan helaan napasnya yang terdengar begitu berat, Evanpun kembali menjelaskan pada Nathan tentang apa yang ia dengar dari mama Nathan.


"Apa kau yakin dengan apa yang kau dengar, Evan?" tanya Nathan setelah ia mendengar semua penjelasan Evan.


"Aku yakin Nathan, bukankah memang ada seseorang yang menyiapkan mobil untukmu selama kau disana?" balas Evan.


"Iya, tapi bukankah itu hal yang biasa!"


"Itu hal yang biasa jika kau sendiri yang menyiapkan liburanmu, tetapi bukankah Tante Hanna yang menyiapkan semuanya? mulai dari tiket pesawat, hotel, akomodasi dan hal-hal lainnya!" balas Evan.


Nathan terdiam untuk beberapa saat. Dalam hatinya ia mengiyakan ucapan Evan, karena memang benar sang mamalah yang menyiapkan semuanya.


"Kau harus berhati-hati Nathan, sedikit saja kesalahan bisa membuat Tante Hanna mencurigai pernikahanmu dengan Aleea, jadi kau harus terus bersandiwara selama kau berada disana karena seseorang akan selalu mengikuti kemanapun kau dan Aleea pergi," ucap Evan.


"Bagaimana jika aku dan Aleea tetap berada di hotel selama satu minggu?" tanya Nathan.

__ADS_1


"Apa kau bodoh? justru itu semakin mencurigakan Nathan, lagi pula di mobil yang sudah mereka siapkan sudah dipasang GPS dan orang suruhan mamamu akan tau jika mobilnya tetap berada di hotel selama satu minggu," balas Evan.


"Kau benar-benar bodoh jika kau melakukan hal itu!" lanjut Evan.


"Berhentilah mengatakan aku bodoh Evan, kau menyebalkan sekali!" ucap Nathan kesal.


"Tidak ada cara lain selain terus bersandiwara selama kalian berada disana, jadi..... selamat menikmati waktu kalian berdua, bye!"


Klik.


Evan mengakhiri panggilannya begitu saja. Ia tersenyum tipis lalu melanjutkan pekerjaannya.


"Mereka memang harus sering menghabiskan waktu bersama, bukan tidak mungkin jika cinta akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu!" ucap Evan.


Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu ruangan Evan dan Vinapun masuk ke ruangan Evan.


"Ini laporan yang kau minta, aku....."


"Eheemm!"


Evan berdehem, memberikan kode agar Vina merubah ucapannya dengan lebih sopan.


Vina menghela napasnya dengan memutar kedua bola matanya.


"Ini adalah laporan yang pak Evan minta, saya juga sudah membuat draft acara Minggu depan yang bisa pak Evan periksa," ucap Vina sambil memberikan berkasnya pada Evan.


"Draft acara Minggu depan? bukankah deadline nya masih lama?" tanya Evan.


"Benar, tapi saya sengaja mengerjakannya sekarang karena saya ingin mengajukan cuti," jawab Vina.


"Cuti? tiba-tiba?" tanya Evan.


"Sebenarnya saya sudah berniat cuti setelah saya mengalami kecelakaan, tetapi pak Nathan selalu melarang saya, jadi sekarang saya ingin mengambil hak cuti saya untuk beristirahat dari kesibukan saya di kantor," jelas Vina.


"Tidak bisa, kau harus menunggu Nathan kembali jika kau ingin cuti," ucap Evan yang segera menolak izin cuti Vina.


"Kenapa? bukankah cuti adalah hak saya? pak Nathan sudah memaksa saya bekerja selama saya sakit, jadi sekarang saya harus mengambil hak cuti saya untuk menggantikan...."


"Apa kau tidak melihat keadaan perusahaan saat ini? aku pikir kau cukup profesional dan bisa memahami dengan baik keadaan perusahaan saat ini!" ucap Evan memotong ucapan Vina.


"Tidak adanya Nathan disini membuat tanggung jawabku semakin besar dan banyak pekerjaan yang harus aku handle dan kau adalah salah satu orang kepercayaan Nathan disini, kau tidak bisa berpaling begitu saja saat Nathan meninggalkan banyak pekerjaannya disini!" lanjut Evan.


"Tapi saya sudah mengerjakan pekerjaan saya bahkan membuat draft acara untuk Minggu depan, bukankah itu cukup membantu?" balas Vina.


"Apa kau pikir hanya itu tugasmu? bukankah kau tau setiap hari akan ada banyak pekerjaan dan laporan yang harus kau kerjakan yang tidak bisa dikerjakan oleh orang lain?"


"Tapi pak...."


"Tidak Vina, aku tidak bisa memberimu izin untuk cuti," ucap Evan yang sudah tidak ingin berdebat dengan Vina.


"Cuti adalah hak setiap karyawan Evan, kau tidak bisa bersikap semena-mena seperti ini!" ucap Vina yang sudah kehilangan kesabarannya.


"Dan aku sebagai atasanmu memiliki hak untuk menolak izin cutimu jika keadaan perusahaan benar-benar membutuhkanmu!" balas Evan dengan tegas.


Vinapun beranjak dari duduknya dengan kesal. Ia menatap Evan dengan tatapan tajam lalu berjalan keluar dari ruangan Evan.


"Kenapa dia tiba-tiba memaksa untuk cuti? apa dia tau jika Nathan pergi ke Paris? tidak mungkin jika dia ingin mengikuti Nathan ke Paris bukan?" batin Evan bertanya dalam hati.


"Hmmm.... entahlah, yang penting aku sudah bisa menghentikannya, aku rasa alasanku cukup masuk akal untuk menolak izin cutinya," ucap Evan lalu melanjutkan pekerjaannya.


**


Di tempat lain, Aleea dan Nathan sedang duduk di sofa. Mereka sedang memikirkan apa yang harus mereka lakukan selama mereka berada disana.


Berada di dalam hotel saja adalah hal yang tidak mungkin mereka lakukan dan pergi ke luar adalah keputusan yang akan membuat mereka canggung karena harus terus bersandiwara selama mereka berada di luar kamar hotel.


"Pikirkanlah sesuatu Aleea, jangan hanya diam!" ucap Nathan pada Aleea.


"Aku diam karena berpikir Nathan," balas Aleea.


"Kita tidak bisa terlalu lama berdiam disini atau orang itu akan melaporkannya pada mama dan membuat mama curiga," ucap Nathan.


"Apa kau mengingat wajah orang yang mengantar kita kesini, Nathan?" tanya Aleea.


Nathan diam untuk beberapa saat, berusaha mengingat seseorang yang merupakan orang suruhan sang mama.


"Mmmm.... aku tidak begitu mengingatnya, aku cenderung mengabaikan orang-orang di sekitarku yang tidak penting," ucap Nathan.


"Lihatlah, kau benar-benar sangat egois, hanya memikirkan apa yang menguntungkan untukmu, sekarang kau tau bukan jika orang yang kau anggap tidak penting ternyata seseorang yang sangat penting yang seharusnya kau ingat!'


"Apa kau mengingatnya?" tanya Nathan yang membuat Aleea seketika mengalihkan pandangannya ke sekitarnya.

__ADS_1


"Lihatlah wajah bodohmu itu, kau bahkan tidak mengingatnya tapi menceramahiku seolah kau lebih baik dariku!" ucap Nathan.


Aleea yang kesal dengan ucapan Nathan hanya diam, karena ia memang tidak mengingat sedikitpun tentang orang yang menjemputnya di bandara dan mengantarnya ke hotel.


__ADS_2