Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Bersandiwara


__ADS_3

Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nathan dan Aleeapun sampai di tempat tujuan.


Mereka turun dari mobil lalu berjalan bersama ke arah ballroom hotel, tempat mama dan papa Nathan merayakan ulang tahun pernikahan mereka.


Sebelum masuk ke dalam ballroom hotel, Nathan meraih tangan Aleea, berniat untuk menggandengnya, namun dengan cepat Aleea menarik tangannya.


"Hanya untuk saat ini Aleea, apa kau mau membuat semua orang curiga?" ucap Nathan sekaligus bertanya dengan berbisik.


Aleea hanya diam dengan menghela napasnya kesal. Tidak ada pilihan lain, Aleea membiarkan Nathan menggenggam tangannya saat itu.


Dengan bergandengan tangan, Aleea dan Nathanpun masuk ke dalam ballroom dimana sudah ada banyak tamu yang datang.


Sejak dulu, orang tua Nathan memang selalu melakukan hal yang sama untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Mereka mengundang teman-teman serta rekan bisnis mereka untuk merayakan hari bahagia mereka.


Orang tua Nathan yang menyadari kedatangan Aleea dan Nathan seketika membawa langkah mereka menyambut Aleea dan Nathan.


Mereka bergantian berpelukan sebelum Aleea memberikan hadiahnya pada mama dan papa Nathan.


"Terima kasih banyak Aleea, semoga pernikahan kalian berdua bisa langgeng seperti mama dan papa," ucap Hanna saat ia menerima hadiah dari Aleea.


"Tidak... tidak.... semoga pernikahan kalian jauh lebih baik dari pernikahan mama dan papa," sahut Aryan yang hanya dibalas senyuman oleh Aleea dan Nathan.


"Kak Aleea!" panggil Rania sambil melambaikan tangannya pada Aleea.


Aleea hanya tersenyum sambil membalas lambaian tangan Rania.


"Jaga sikapmu Rania, jangan membuat mama malu!" ucap Hanna berbisik pada Rania.


"Hehe.... maafkan Rania ma," balas Rania lalu memeluk Aleea dan Nathan bergantian.


"Kak Aleea cantik sekali, kak Nathan pasti semakin jatuh cinta pada kak Aleea sekarang," ucap Rania memuji kecantikan Aleea.


"Kau juga sangat cantik Rania," balas Aleea.


"Jawablah dengan jujur kak, siapa yang paling cantik disini? kak Aleea atau Rania?" tanya Rania pada Nathan.


"Pertanyaan apa itu Rania!" sahut Aryan.


"Mama yang paling cantik disini," ucap Nathan yang membuat sang mama tersipu.


"Ya... karena ini adalah acara mama dan papa, jadi hanya mama yang paling cantik disini dan papa yang paling tampan disini," ucap Aryan diikuti tawa kecil Rania.


"Hanya untuk hari ini, karena untuk selanjutnya tidak ada yang menandingi ketampanan Nathan!" balas Nathan.


"Apa kau yakin?" sahut seseorang bertanya yang membuat semua yang ada disana menoleh ke arah sumber suara.


"Jangan lupakan aku yang lebih tampan darimu Nathan!" lanjut Evan dengan tersenyum sambil membawa langkahnya mendekat.


"Benar sekali, kak Evan yang paling tampan setelah papa," balas Rania yang segera menghampiri Evan dan memeluknya.


Evan cukup terkejut dengan apa yang Rania lakukan, namun ia berusaha membalas pelukan Rania dengan singkat agar tidak menyinggung perasaan Rania.


"Kau selalu saja seperti itu Rania, jaga sikapmu!" ucap Hanna.


"Apa yang salah ma? dari dulu Rania dan kak Evan memang suka seperti ini, bahkan kak Evan suka menggendong Rania saat Rania menangis," balas Rania.


"Itu dulu Rania, sekarang kau sudah besar, kau harus bisa menjaga sikapmu!" ucap Hanna.


"Maafkan sikap Rania, Evan!" ucap Aryan pada Evan.


"Tidak masalah om, tante, bagi Evan, Rania sudah seperti adik Evan sendiri," balas Evan dengan membawa senyumnya pada Rania.


"Aaahh ya, ini untuk om dan tante, semoga Tuhan selalu memberkati pernikahan om dan tante," lanjut Evan sambil memberikan hadiahnya pada Hanna.


"Terima kasih Evan," ucap Hanna yang hanya dibalas senyuman oleh Evan.


"Ayo kak, kita cari kue yang manis disini!" ucap Rania sambil menarik tangan Evan, menjauh dari Aleea, Nathan dan orang tuanya.


Evan hanya pasrah mengikuti langkah Rania yang membawanya ke arah deretan kue dan cookies yang berjajar.


"Cobalah yang ini kak, ini sangat enak, lebih enak dibanding yang lain!" ucap Rania sambil memberikan satu potong kue pada Evan.


"Apa kau sudah mencoba semuanya?" tanya Evan sambil mencoba kue yang Rania berikan padanya.


"Sudah, mulai dari ujung sana sampai ujung sana, Rania sudah mencoba semuanya," jawab Rania.


"Apa kau tidak takut gigimu berlubang jika terlalu banyak makan makanan yang manis?" tanya Evan.


"Astaga kaakk..... Rania bukan anak kecil lagi, berhentilah menganggap Rania anak kecil," ucap Rania kesal.


"Hahaha..... bagiku kau tetap Rania, adik kecilku," ucap Evan sambil mencubit hidung Rania.

__ADS_1


"Kak Evan menyebalkan," ucap Rania kesal lalu berjalan pergi meninggalkan Evan.


Sedangkan Evan hanya tersenyum tipis melihat sikap Rania. Saat sedang mengedarkan pandangannya, kedua matanya tertuju pada Aleea yang sedang mengobrol bersama mama dan papa Nathan.


"Cantik sekali," ucap Evan dalam hati, mengagumi kecantikan Aleea, istri sahabatnya.


Tiba-tiba Aleea yang sedang mengobrol membawa pandangannya ke arah Evan dan mendapati Evan yang tengah melihat ke arahnya.


Aleeapun memberikan senyumnya pada Evan yang segera dibalas senyuman oleh Evan.


"Nathan benar-benar buta jika dia tidak menyadari kecantikan Aleea," ucap Evan dalam hati dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya.


"Kaaakkkk!" panggil Rania sambil menepuk bahu Evan, membuat Evan segera mengalihkan pandangannya dari Aleea.


"Berhentilah tersenyum seperti itu, Rania tidak ingin ada perempuan yang menggoda kak Evan!" ucap Rania sambil merengkuh tangan Evan.


"Jangan seperti ini Rania, kau...."


"Kenapa? bukankah Rania masih adik kecil kak Evan?" tanya Rania memotong ucapan Evan.


"Rania!" panggil Hanna dengan memberikan tatapan tajam pada Rania.


Seketika Rania menghela napasnya kesal lalu melepaskan tangan Evan dari dekapannya.


"Jaga sikapmu jika tidak ingin merusak momen bahagia mamamu!" ucap Evan pada Rania lalu berjalan pergi, namun Rania segera mengikuti Evan.


Karena Evan menemui klien papa Nathan dan membicarakan masalah bisnis, Raniapun memilih pergi karena ia tidak pernah tertarik dengan obrolan seperti itu.


Sedangkan di sisi lain, Aleea sedang menemani Nathan yang mengobrol dengan beberapa rekan bisnis sang papa.


Sebagai sosok istri yang baik, Aleea harus selalu menemani Nathan, seperti yang dilakukan Hanna pada Aryan. Setidaknya hanya itulah yang biasa Aleea lakukan agar tidak ada yang mengetahui bagaimana keadaan pernikahannya dengan Nathan yang sebenarnya.


Aleea juga bersedia berpura-pura dan menuruti kemauan Nathan karena Aleea tidak ingin hal buruk yang terjadi padanya dan Nathan melibatkan Evan, seperti yang pernah Nathan katakan padanya.


Bagi Aleea, Evan adalah malaikat pelindungnya, ia tidak mungkin dengan sengaja membiarkan Evan terlibat masalah karenanya.


Sejauh ini, hanya Evan yang ia percaya, hanya Evan yang benar-benar bisa menemaninya di saat tidak ada seorangpun yang peduli padanya, bahkan seseorang yang dulu ia percaya pernah mencintainya.


Hal itulah yang membuat Aleea merasa jika Evan adalah malaikat pelindungnya.


Waktu berlalu, mama dan papa Nathan sibuk dengan tamu-tamu mereka. Nathan juga masih mengobrol bersama rekan kerja sang papa yang mengenalnya dengan baik.


Aleea kemudian membawa langkahnya ke arah toilet dan tanpa sengaja Aleea tersandung kabel panjang yang membuatnya hampir terjatuh.


Namun seseorang dengan sigap menahan Aleea dan kembali membantu Aleea untuk berdiri dengan tegak.


"Evan..... terima kasih Evan," ucap Aleea yang terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


"Perhatikan langkahmu Aleea," balas Evan.


Aleea hanya menganggukkan kepalanya lalu melanjutkan langkahnya ke arah toilet. Sebelum masuk ke toilet, Aleea melepas high heels yang ia pakai dan menyadari jika tumitnya terluka saat itu.


"Pantas saja sangat sakit, aku memang tidak terbiasa memakai sepatu seperti ini!" ucap Aleea lalu membawa langkahnya ke dalam toilet dengan menjinjing kedua sepatunya.


Tanpa Aleea tahu, Evan melihat hal itu diam-diam.


Setelah merasa cukup mengistirahatkan kakinya, Aleea kemudian keluar dari toilet dengan menggunakan high heels yang sebenarnya tidak nyaman ia kenakan saat itu.


Aleea berusaha untuk menjaga langkahnya dengan menahan perih di kedua kakinya. Ia tidak ingin apa yang terjadi padanya menimbulkan masalah yang merusak momen bahagia orang tua Nathan.


Evan yang sejak beberapa saat lalu menunggu Aleea, segera berjalan menghampiri Aleea, meraih tangan Aleea lalu membawanya duduk di salah satu kursi.


Evan kemudian berjongkok di bawah Aleea dan berniat untuk melepas high heels yang Aleea kenakan.


"Apa yang kau lakukan Evan?" tanya Aleea berbisik, khawatir jika hal itu akan membuat orang lain salah paham.


"Kakimu terluka Aleea, aku hanya ingin menempelkan plester agar lukanya tidak semakin parah," jawab Evan dengan mendongkakkan kepalanya menatap Aleea.


"Tapi....."


"Hanya sebentar, lepaskan sepatumu!" ucap Evan memotong ucapan Aleea.


Aleeapun menurut, ia menarik kakinya dari high heels yang ia kenakan dan membiarkan Evan menempelkan plester pada luka di kakinya.


Evan kemudian membantu Aleea memakai kembali sepatunya lalu meraih kedua tangan Aleea agar berdiri.


"Bagaimana? apa sudah lebih baik?" tanya Evan memperhatikan kedua kaki Aleea.


"Iya, terima kasih Evan," jawab Aleea yang merasa rasa sakitnya berkurang setelah Evan memberinya plester.


"Baguslah kalau begitu, kemarilah Aleea, kau harus mencoba kue ini!" ucap Evan sambil membawa langkahnya ke arah deretan kue.

__ADS_1


Aleeapun mengikuti langkah Evan dan mengambil sepotong kue yang Evan rekomendasikan padanya.


"Waaahhh enak sekali, ada rasa manis coklat dan rasa segar di dalamnya," ucap Aleea.


"Itu karena filling strawberry di dalamnya yang membuat rasanya semakin kompleks, manis dari coklat dan segar dari strawberry menjadi satu dalam satu gigitan," jelas Evan.


"Kau benar," ucap Aleea dengan menganggukkan kepalanya.


"Sepertinya kau sangat dekat dengan Rania, Evan!" lanjut Aleea.


"Karena aku bersahabat dekat dengan Nathan, aku jadi dekat dengan keluarganya, mama papa dan adiknya," balas Evan.


"Dia terlihat sangat manja padamu," ucap Aleea.


"Dia memang seperti itu dari dulu, aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri," balas Evan.


Aleea dan Evan kemudian mencoba beberapa kue dan cookies disana. Mereka juga membicarakan banyak hal dan sesekali tertawa kecil karena candaan ringan mereka.


"Berhentilah membuat lelucon Evan, perutku sakit karena menahan untuk tidak tertawa lepas!" ucap Aleea dengan berusaha menahan tawanya.


"Jaga sikapmu atau Tante Hanna akan menegurmu seperti Rania tadi hehe...." balas Evan.


"Aku akan menyalahkanmu jika mama menegurku!" ucap Aleea.


Mereka kemudian tertawa kecil karena tidak ingin menarik perhatian orang-orang yang ada disana.


Di sisi lain, sejak beberapa saat yang lalu Hanna memperhatikan Aleea dan Evan. Hanna kemudian memberitahu Nathan dan meminta Nathan untuk memanggil Aleea.


"Biarlah ma, mereka hanya sedang mengobrol," ucap Nathan pada sang mama.


"Apa kau tidak melihat mereka sangat dekat Nathan? mereka bahkan tertawa berdua disana!"


"Tidak ada yang berlebihan antara Aleea dan Evan ma, sama seperti mama dan teman-teman papa yang lain, bukankah mama juga dekat dengan teman laki-laki papa?" balas Nathan.


"Kau terlalu berpikir positif Nathan, bagaimana jika....."


"Sudah.... sudah.... jangan berdebat disini!" ucap Aryan menengahi perdebatan istri dan anaknya.


Aryan kemudian membawa langkahnya menghampiri Evan dan Aleea.


"Papa sudah melihat hadiah darimu Aleea, terima kasih sudah memberi papa jam tangan yang bagus," ucap Aryan pada Aleea.


"Aleea tidak begitu memahami kesukaan papa, jadi semoga jam tangan itu sesuai dengan apa yang papa suka," balas Aleea.


"Papa menyukainya Aleea, kau pandai memilihnya," ucap Aryan.


Di sisi lain, Hanna hanya berdiri dengan mendengus kesal saat melihat sang suami yang justru mengobrol bersama Evan dan Aleea.


"Mama lihat sendiri bukan, mereka terlihat mengobrol dengan santai, itu karena memang tidak ada hubungan apapun diantara mereka berdua," ucap Nathan pada sang mama.


Nadine hanya diam tanpa mengatakan apapun, entah kenapa ia merasa ada sesuatu antara Aleea dan Evan.


Waktu berlalu, acarapun selesai. Satu per satu tamu mama dan papa Nathan meninggalkan ballroom dan yang terakhir meninggalkan tempat itu adalah Nathan setelah kedua orang tuanya yang lebih dulu pulang.


Nathan kemudian masuk ke dalam mobilnya bersama Aleea. Namun tak lama setelah Nathan berkendara, Nathan tiba-tiba menepikan mobilnya.


"Turunlah!" ucap Nathan pada Aleea.


"Turun? kenapa?" tanya Aleea tak mengerti.


"Aku harus pergi dan tidak bisa mengantarmu pulang, jadi turunlah dan pulang menggunakan taksi!" jelas Nathan.


"Apa kau serius? bagaimana jika ada tamu mama dan papa yang melihatmu menurunkanku disini? sandiwara kita akan percuma dan....."


"Apa aku harus menyeretmu agar keluar dari mobilku?" tanya Nathan memotong ucapan Aleea tanpa sedikitpun menoleh pada Aleea.


"Kau benar-benar gila!" ucap Aleea lalu keluar dari mobil Nathan dan tanpa menunggu lama Nathanpun segera menancap gas pergi meninggalkan Aleea begitu saja.


Aleea hanya menghela napasnya kesal menatap kepergian Nathan. Saat sedang menunggu taksi, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya dan sang pemilik mobil segera keluar lalu menghampiri Aleea.


"Apa yang kau lakukan disini Aleea? apa kau menunggu Nathan?" tanya Evan pada Aleea.


"Tidak, dia meninggalkanku disini," jawab Aleea tanpa bisa menyembunyikan kekesalannya.


"Masuklah, aku akan mengantarmu!" ucap Evan sambil membuka pintu mobilnya untuk Aleea.


Aleeapun masuk dan Evan segera mengendarai mobilnya pergi, mengantar Aleea pulang ke rumahnya.


Tanpa Evan dan Aleea tahu, Rania melihat kejadian itu.


"Kenapa kak Aleea pergi dengan kak Evan? apa kak Nathan mengetahuinya?" tanya Rania pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2