
Setelah beberapa lama menunggu, mobil Evanpun datang. Seseorang yang mengantar mobil Evan itu kemudian pergi dengan menggunakan taksi, sedang Aleea dan Evan pergi dengan menggunakan mobil Evan.
"Kemana kita akan pergi sekarang, Evan?" tanya Aleea saat Evan sudah mengendarai mobilnya meninggalkan pantai.
"Aku akan membawamu ke tempat tinggalku," jawab Evan.
"Bukankah sebaiknya kau mengantarku ke hotel saja, Evan?" tanya Aleea.
"Tidak Aleea, lebih baik kau tinggal di tempatku untuk sementara," jawab Evan.
"Tapi aku tidak tau berapa lama aku akan tinggal disana Evan, aku tidak ingin terlalu merepotkanmu, kau sudah sangat baik padaku," ucap Aleea.
"Tidak perlu terlalu memikirkannya Aleea, kau bisa tinggal selama yang kau mau," balas Evan.
"Terima kasih banyak Evan, aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu seperti apa," ucap Aleea.
"Dengan kebahagiaanmu Aleea, melihatmu bahagia saja sudah cukup untukku," balas Evan dengan tersenyum pada Aleea.
Aleea hanya tersenyum tipis mendengar apa yang Evan katakan padanya.
"Bahagia? apa aku bisa bahagia dengan semua yang aku jalani saat ini?" batin Aleea bertanya dalam hati.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evan sampai di sebuah gedung apartemen tinggi yang berada di tengah kota.
Evan memarkirkan mobilnya di basement lalu masuk ke dalam lift bersama Aleea. Tak lama kemudian lift berhenti di lantai 25, tempat unit apartemen Evan berada.
Evan kemudian menekan passwordnya pada pintu lalu membuka pintunya
"Ayo Aleea, masuklah!" ucap Evan pada Aleea.
Aleeapun masuk bersama Evan.
"Duduklah, aku akan berganti pakaian sebentar," ucap Evan sambil memberikan satu botol minuman pada Aleea lalu masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian, karena pakaian yang ia kenakan saat itu sudah benar-benar basah kuyup.
Selesai berganti pakaian, Evan keluar dari kamarnya dan mendapati Aleea yang berdiri di balkon.
Evan kemudian menghampiri Aleea, memegang kedua bahu Aleea lalu membalik badan Aleea agar kembali masuk.
"Pakaianmu basah, kau bisa sakit jika berada disini," ucap Evan sambil mendorong Aleea masuk.
Tiba-tiba bel apartemen Evan berbunyi, Evan segera membuka pintu apartemennya dan menerima paket yang sudah ia pesan sebelumnya.
"Ini pakaianmu, aku tidak tau apakah ini cocok untukmu, tapi setidaknya kau bisa mengganti pakaianmu yang basah," ucap Evan sambil memberikan sebuah paket pada Aleea.
"Terima kasih Evan," ucap Aleea.
Aleea kemudian masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian kemudian keluar dan mendapati sudah banyak makanan di atas meja.
"Apa kau memesan semua ini?" tanya Aleea sambil membawa dirinya duduk di hadapan Evan.
"Iya, makanan rumah sakit sangat membosankan, jadi aku memesan semua ini," jawab Evan lalu menggeser salah satunya ke arah Aleea.
"Terima kasih banyak Evan, tapi aku sedang tidak lapar sekarang," ucap Aleea yang hanya mengambil minuman dan menyeruputnya.
"Tapi kau harus tetap makan Aleea, aku tau saat ini adalah saat yang sulit untukmu, tapi kau juga harus tetap memperhatikan kesehatanmu," ucap Evan.
Aleea hanya diam menatap banyak makanan di hadapannya.
"Baiklah kalau kau tidak mau makan, itu artinya aku harus menyuapimu," ucap Evan lalu mengarahkan sendoknya yang berisi makanan di hadapan Aleea.
Aleea hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.
"Aku akan makan sendiri," ucap Aleea.
"Setelah ini berisitirahatlah di kamar, kau pasti sangat lelah!" ucap Evan.
"Bagaimana denganmu?" tanya Aleea.
"Aku bisa istirahat di ruang tamu," jawab Evan santai.
"Lebih baik kau yang berisitirahat di kamar, aku bisa....."
"Nathan bisa sewaktu-waktu datang Aleea, aku yakin kau masih tidak ingin menemuinya, jadi.... apa kau tetap mau berisitirahatlah di ruang tamu?"
Dengan cepat Aleea menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan berisitirahat di kamar," ucap Aleea yang membuat Evan tersenyum.
Setelah menghabiskan makanannya, Aleea kemudian masuk ke kamar Evan, sedangkan Evan membawa dirinya beristirahat di sofa.
Baru saja Evan duduk, bel pintunya kembali berbunyi. Evanpun segera membuka pintunya dan mendapati Nathan yang sudah berdiri dengan raut wajahnya yang menegang.
"Apa kau gila?" tanya Nathan tanpa basa-basi.
"Hehe.... maafkan aku," balas Evan dengan terkekeh.
__ADS_1
"Ayo kembali ke rumah sakit, kau harus berada di rumah sakit sampai hasil CT scan keluar!" ucap Nathan.
"Tidak Nathan, aku sangat bosan berada disana sendirian!" balas Evan menolak yang segera membawa langkahnya masuk diikuti oleh Nathan.
"Bukankah kau sudah terbiasa sendiri? kenapa bosan? lagipula aku juga akan sering menjengukmu!"
"Berhentilah memaksaku Nathan, aku baik-baik saja, kita lihat saja bagaimana hasil CT scan yang beberapa hari lagi keluar, jika memang ada sesuatu yang serius dengan keadaanku, aku pasti akan kembali ke rumah sakit," ucap Evan.
"Apa kau yakin kau merasa baik-baik saja sekarang?" tanya Nathan memastikan.
"Aku yakin Nathan, lebih dari 100 persen," jawab Evan tanpa ragu.
"Baiklah, tapi untuk sementara kau harus libur sampai hasil CT scanmu keluar!" ucap Nathan.
"Oke baiklah, setidaknya aku tidak harus berada di rumah sakit setiap hari!" balas Evan setuju.
"Pak Budi menghubungiku, memberi tahuku jika Aleea pergi dari rumah sakit tanpa pak Budi, apa kau sudah bertemu dengannya? apa mungkin kau meninggalkan rumah sakit untuk mencarinya?" ucap Nathan sekaligus bertanya.
"Apa kau mulai peduli padanya sekarang?" balas Evan bertanya tanpa menjawab pertanyaan Nathan.
"Sama sekali tidak, aku tidak tahu dimana dia sekarang dan aku tidak peduli," jawab Nathan sambil menyandarkan dirinya pada sandaran sofa.
"Apa kau tidak mengkhawatirkannya Nathan? dia pasti sangat terkejut mendengar apa yang kau katakan saat di rumah sakit."
"Memang lebih baik dia mengetahuinya, dengan begitu dia akan berhenti menggangguku!" balas Nathan.
"Kau sudah menyakiti hatinya Nathan, apa yang kau lakukan sudah membuatnya bersedih!" ucap Evan.
"Bukankah kau tau jika dari awal....."
"Aku tau," ucap Evan memotong ucapan Nathan, sebelum Nathan mengatakan rahasianya karena bisa jadi Aleea yang ada di dalam kamar mendengar pembicaraan mereka.
"Dia kehilangan ingatannya Nathan, hanya kau yang dia percaya dan dia tidak pernah ragu untuk menyerahkan hidupnya padamu, apa harus dengan seperti ini kau membalasnya?" lanjut Evan.
"Aku sudah memberikan kehidupan yang layak untuknya Evan, dia bisa membeli apapun yang dia inginkan dengan uang yang aku berikan padanya dan aku rasa itu sudah lebih dari cukup," ucap Nathan.
"Tapi...."
"Berhentilah membicarakannya Evan, aku kesini karena aku mengkhawatirkanmu, bukan untuk membicarakan Aleea!" ucap Nathan memotong ucapan Evan lalu beranjak dari duduknya.
Pandangan Nathan kemudian tertuju pada meja makan yang ada di dekat dapur, Nathan melihat banyak bekas makanan dan minuman yang ada di atas meja.
"Makanan rumah sakit sangat membosankan, jadi aku memesan banyak makanan sebagai pelampiasan," ucap Evan beralasan saat ia menyadari jika Evan memperhatikan meja makannya yang masih berantakan.
Nathan hanya diam lalu membawa langkahnya keluar dari apartemen Evan.
Evan hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun lalu menutup pintu apartemennya.
Saat baru saja masuk, Evan melihat Aleea yang berdiri di celah pintu kamarnya.
"Aleea.... apa kau mendengar semuanya?" tanya Evan pada Aleea yang kedua matanya sudah berkaca-kaca.
Aleea hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun, ia sedang berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh.
Evan kemudian membawa langkahnya mendekat pada Aleea.
"Beristirahatlah, jangan terlalu memikirkannya, semua akan baik-baik saja jika kita sudah bisa berpikir dengan jernih, untuk saat ini kosongkan saja pikiranmu!" ucap Evan pada Aleea.
Aleea hanya diam lalu membawa langkahnya ke arah ranjang di kamar Evan, sedangkan Evan segera menutup pintu kamarnya.
**
Waktu berlalu, Evan baru saja menerima pesanan bahan-bahan masakan yang beberapa saat lalu dipesannya.
Evan kemudian membawanya ke dapur, bersiap untuk memasak makan malam. Meskipun tinggal seorang diri di apartemennya, tetapi Evan sering memasak, tidak hanya agar lebih hemat, tapi juga karena memasak adalah salah satu hobinya.
Berkutat di dapur membuatnya teringat akan kebersamaannya bersama sang mama saat ia masih kecil.
Di sisi lain, Aleea yang baru saja beranjak dari ranjang, membawa langkahnya keluar dari kamar setelah ia merasa sudah cukup beristirahat.
"Evan, apa yang kau lakukan?" tanya Aleea yang melihat Evan sedang sibuk di dapur.
"Menyiapkan makan malam, tunggu saja di depan," jawab Evan.
Bukannya menunggu di depan seperti perintah Evan, Aleea justru membawa langkahnya mendekati Evan.
"Aku akan membantu, apa yang bisa aku lakukan?" ucap Aleea sekaligus bertanya.
"Kau bisa mencuci sayur lalu memotongnya jika kau tidak keberatan," jawab Evan dengan penuh senyum.
"Oke," balas Aleea lalu membuka sayur yang masih segar dari tempatnya lalu mencucinya dan memotongnya.
"Apa kau memang sering memasak, Evan?" tanya Aleea.
"Iya, walaupun tidak banyak menu yang bisa aku masak, asalkan itu terasa enak di lidahku maka tidak akan jadi masalah hehe...." jawab Evan terkekeh.
__ADS_1
"Menu apa yang akan kita masak kali ini?" tanya Aleea.
"Aku ingin membuat chicken katsu ditambah dengan beberapa sayur yang akan aku tumis dengan sedikit minyak," jawab Evan sambil membalurkan daging ayam pada kocokan telur lalu menyelimutinya dengan tepung panir.
"Bagaimana jika sayurnya dibuat salad saja?" tanya Aleea.
"Aku tidak suka sayuran mentah Aleea hehe..."
"Aaahh begitu, baiklah," ucap Aleea sambil memotong beberapa jenis sayuran yang sudah dia cuci.
Sembari menunggu ayam yang sedang digorengnya, Evan mulai menumis sayuran yang sudah Aleea potong.
"Bagaimana dengan kelas memasakmu Aleea?" tanya Evan.
"Untuk sementara aku akan mengambil libur, aku tidak tahu kapan aku akan kembali mengikuti kelas memasak lagi," jawab Aleea.
"Jika itu adalah kegiatan yang kau sukai, kau harus kembali Aleea, bukankah kau juga memiliki banyak teman baru disana?"
"Kau benar, tapi untuk beberapa hari ini aku ingin menjauh dari semuanya, aku.... aku ingin menghilang untuk sesaat," ucap Aleea dengan tatapan kosong.
"Itu tidak masalah, kau memang harus melakukannya agar kau bisa berpikir dengan jernih setelah ini," ucap Evan sambil memberikan satu gelas minuman pada Aleea.
Aleeapun menerimanya lalu meminumnya.
"Lemon tea?" tanya Aleea memastikan apa yang baru saja ia minum.
"Iya, aku membuatnya sendiri," jawab Evan.
"Waaahhh, ternyata selain mengerti tentang dunia memasak, kau juga pandai membuat minuman seperti ini," ucap Aleea kagum.
Evan hanya tersenyum tipis lalu memotong ayam yang sudah ia tiriskan kemudian menaruhnya di atas piring bersama sayuran yang ia tumis.
"Cobalah, apa ada yang kurang?" tanya Evan sambil memberikan sedikit sayurannya pada Aleea dengan menggunakan sendok.
Aleea menerima sendok dari tangan Evan lalu mencoba sayuran yang baru saja Evan masak.
"Waaaahhh..... ini enak sekali Evan, sama sekali tidak ada yang kurang, kau memang sangat pandai memasak," ucap Aleea memuji masakan Evan.
"Kau sangat berlebihan Aleea, itu hanya sayuran yang aku tumis dengan beberapa bumbu dasar," ucap Evan.
"Tetap saja ini sangat enak Evan, jika aku yang membuatnya belum tentu rasanya akan seperti ini," ucap Aleea.
Evan dan Aleea kemudian menikmati makan malam mereka berdua sambil sesekali mengobrol. Tak jarang lelucon Evan membuat Aleea tersenyum.
Setelah menyelesaikan makan malam, Evanpun mencuci piring dan membersihkan dapurnya dibantu dengan Aleea.
"Apa kau tidak mempekerjakan seseorang disini, Evan?" tanya Aleea.
"Tidak ada Aleea, aku hanya memanggil petugas keberhasilan jika aku merasa memerlukannya," jawab Evan.
"Bagaimana dengan keluargamu? kenapa kau tidak tinggal dengan keluargamu?" tanya Aleea.
"Keluarga? aku sudah tidak memiliki keluarga sejak mama meninggal," balas Evan dengan raut wajahnya yang tiba-tiba tampak sedih.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu....."
"Sudah selesai, sekarang apa yang akan kita lakukan? menonton film? atau kau mau pergi keluar?" tanya Evan memotong ucapan Aleea dengan tersenyum.
Sangat jelas terlihat jika Evan sedang berusaha menyembunyikan kesedihannya saat itu.
"Menonton film saja disini," jawab Aleea dengan tersenyum.
**
Di tempat lain, Nathan sedang berada di ruang kerjanya untuk mengerjakan pekerjaan yang belum ia selesaikan karena ia terburu-buru pulang saat pihak rumah sakit menghubunginya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Nathan keluar dari ruang kerjanya. Saat berjalan melewati kamar Aleea, Nathan hanya melihatnya sekilas lalu melanjutkan langkahnya untuk menuruni tangga.
"Apa Aleea belum pulang bi?" tanya Nathan pada bibi yang menyiapkan makan malam di meja makan.
"Belum tuan, apa sebaiknya kita lapor polisi saja? tidak biasanya non Aleea pergi selama ini," balas bibi.
"Tidak perlu, bibi juga tidak perlu mengkhawatirkannya, dia pasti bisa menjaga dirinya dengan baik," ucap Nathan.
"Bagaimana jika ibu menanyakannya tuan? bibi khawatir jika tiba-tiba ibu datang saat non Aleea belum pulang," tanya bibi.
Nathan terdiam untuk beberapa saat, memikirkan apa yang baru saja bibi tanyakan padanya.
"Katakan saja pada mama jika Aleea pergi berlibur, jika mama masih terus bertanya, minta mama untuk menanyakannya pada Nathan!" ucap Nathan.
"Baik tuan," balas bibi lalu kembali ke dapur untuk membereskan dapur.
Nathan menghela napasnya kasar sambil menyendok makanan ke piringnya.
"Ada atau tidak ada dia disini, selalu saja merepotkanku," ucap Nathan kesal sambil menyendok makanannya.
__ADS_1
Entah kenapa malam itu Nathan merasa begitu malas untuk makan, bahkan menu masakan bibi yang ia suka, tiba-tiba terasa hambar di lidahnya.
Nathanpun mengakhirinya dengan menyeruput minumannya meskipun makanan di piringnya masih terlihat utuh.