
Rania berlari keluar dari ruangan Nathan, sebagai seorang gadis remaja yang beranjak dewasa, Rania sudah cukup mengerti jika apa yang baru saja dilihatnya bukanlah hal yang wajar.
Saat tengah berlari, Rania tidak sengaja menabrak Evan yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Rania, apa yang kau lakukan disini?" tanya Evan sambil menahan Rania yang hampir terjatuh.
"Dimana ruangan kak Evan?" balas Rania bertanya tanpa menjawab pertanyaan Evan.
"Disini, kenapa?" balas Evan sambil membawa pandangannya ke arah ruangannya.
Raniapun segera membawa dirinya masuk ke ruangan Evan sambil menarik tangan Evan.
"Ada apa Rania? apa terjadi sesuatu?" tanya Evan yang melihat Rania tampak panik.
"Kak Evan tau bukan jika Rania sangat mempercayai kak Evan, jadi tolong jawab pertanyaan Rania dengan jujur kak," ucap Rania.
"Memangnya apa yang ingin kau tanyakan Rania, apa tentang kejadian semalam yang....."
"Bukan, bukan tentang itu, tapi tentang hubungan kak Nathan dengan perempuan disini!" ucap Rania memotong ucapan Evan.
"Apa maksudmu Rania? kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Evan yang terkejut mendengar pertanyaan Rania.
"Rania baru saja ke ruangan kak Nathan dan melihat seorang perempuan yang duduk di meja kerja kak nathan, itu bukan hal yang biasa kak, perempuan itu tidak mungkin duduk di meja kerja kak Nathan jika mereka tidak memiliki hubungan apapun!" jelas Rania.
Evan terdiam untuk beberapa saat, ia yakin perempuan yang Rania maksud adalah Vina. Tetapi Evan tidak mungkin memberi tahu Rania jika apa yang Vina lakukan bukanlah hal baru, karena Vina memang sering melakukan hal itu saat mengobrol dengan Nathan di ruangan Nathan.
"Rania melihat dia mengobrol dengan kak Nathan, dia duduk di meja kerja kak Nathan dan kak Nathan hanya berdiri santai di depannya, mereka seperti tidak sedang membicarakan pekerjaan, mereka....."
"Rania..... kenapa kau selalu memikirkan hal-hal yang tidak penting seperti ini?" tanya Evan memotong ucapan Rania sebelum Rania berpikir terlalu jauh tentang apa yang baru saja dilihatnya.
"Ini hal yang penting kak, sangat penting, bagaimana jika ternyata kak Nathan bermain perempuan di belakang kak Aleea? apa yang akan mama dan papa lakukan jika mereka mengetahui hal itu kak? apa jangan-jangan kak Evan sudah mengetahuinya?"
"Tidak Rania, apa yang kau pikirkan itu sepenuhnya salah, tidak ada hubungan apapun antara Nathan dan perempuan yang kau maksud itu," ucap Evan.
"Tidak mungkin kak, pegawai macam apa yang berani duduk di meja atasannya saat mengobrol dengan atasannya, tidak ada kak, kecuali pegawai itu memiliki hubungan dengan atasannya yang membuatnya bisa bersikap tidak sopan seperti itu!" ucap Rania.
"Mungkin yang kau lihat itu adalah Vina, dia sekertaris Nathan, mereka memang dekat karena Vina sudah bekerja dengan Nathan saat Nathan baru pertama kali menginjakkan kaki di perusahaan ini," ucap Evan menjelaskan.
"Apa hal itu bisa memberikan alasan kenapa dia bisa bersikap seperti itu di depan kak Nathan?" tanya Rania.
"Mungkin kau salah paham Rania, apa yang kau lihat belum tentu sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi, jadi lebih baik temui Nathan dan tanyakan sendiri padanya agar dia bisa menjelaskan semuanya padamu," ucap Evan.
"Rania benar-benar akan sangat marah jika kak Nathan melakukan hal yang menjijikan seperti itu, Rania akan memberi tahu mama dan papa jika benar apa yang Rania pikirkan saat ini!" ucap Rania kesal.
"Jangan terlalu gegabah Rania, kesalahpahaman hanya akan membuat segala sesuatu semakin rumit, jangan sampai kesalahpahaman ini membuat Nathan kehilangan impiannya untuk mendapatkan perusahaan ini, kau tau bukan bagaimana usaha Nathan selama ini!" balas Evan.
Rania hanya diam tanpa mengatakan apapun, ia tetap yakin dengan apa yang saat itu ia pikirkan.
Tak lama kemudian pintu ruangan Evan terbuka, Nathanpun masuk dan segera menghampirinya Rania.
"Kau pasti salah paham!" ucap Nathan pada Rania.
"Rania akan mengatakan hal ini pada mama dan papa!" balas Rania.
"Jangan bodoh Rania, kau hanya salah paham!" ucap Nathan dengan mencengkeram tangan Rania.
Evan yang melihat hal itupun segera menepis tangan Nathan agar melepaskan tangan Rania dari cengkeramannya.
"Aku sudah menjelaskan padanya siapa Vina disini, tetapi sepertinya Rania tidak mempercayai ucapanku," ucap Evan pada Nathan.
"Tidak mungkin dia duduk di meja kakak jika dia tidak ada hubungan apapun dengan kakak!" ucap Rania dengan menatap Nathan.
"Tidak ada hubungan apapun antara kita selain atasan dan bawahan Rania, kau hanya melihat sekilas dan sudah menyimpulkan seolah-olah kau mengetahui kejadian keseluruhannya!" ucap Nathan.
"Aaaahhh Rania ingat, bukankah dia perempuan yang bersama kakak di depan kafe?" tanya Rania yang tiba-tiba mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.
"Kau benar, itu adalah Vina, sekertarisku," jawab Nathan tanpa ragu.
"Tapi apa yang kau lihat tidak seperti yang kau pikirkan Rania, kau sama sekali tidak mengenal dunia kerja, jadi hentikan pikiran liarmu itu!" lanjut Nathan dengan nada tinggi.
"Tidak perlu membentaknya Nathan, jelaskan saja padanya apa yang terjadi, sikapmu yang seperti ini hanya akan membuatnya salah paham," ucap Evan menengahi.
"Kaaaakkk...." Rania membawa dirinya pada Evan dengan manja lalu memeluk Evan.
"Kau juga jangan bersikap seolah kau tau semuanya Rania, biarkan Nathan menjelaskannya," ucap Evan sambil menepuk pelan punggung Rania yang memeluknya.
__ADS_1
Rania hanya menganggukkan kepalanya lalu membawa pandangannya pada Nathan dengan kedua tangannya yang masih memeluk Evan.
"Kau pasti tau event kemarin sukses besar, Vina berencana untuk mengajak kerja sama beberapa model yang terlibat pada event kemarin dan kenapa aku membiarkan Vina duduk di atas mejaku? itu karena dia sedang memperagakan salah satu model itu agar aku bisa mengingat siapa model yang Vina maksud," ucap Nathan beralasan.
"Kak Nathan pasti hanya beralasan!" balas Rania tak percaya.
"Jika kau melihat Vina berbicara santai padaku, itu hal yang biasa Rania, bahkan Aleeapun mengetahui hal itu karena memang aku dan Vina sering mengerjakan pekerjaan bersama, kau bisa menanyakannya pada Aleea jika kau tidak mempercayaiku!" ucap Nathan.
"Kau belum begitu mengenal dunia kerja yang sebenarnya Rania dan apa yang kau pikirkan itu adalah hal yang salah, jika kau memberi tahu orang lain pikiran salahmu itu maka akan terjadi kesalahpahaman yang bisa membuat masalah semakin rumit," ucap Evan berusaha membuat Rania memahami situasi saat itu.
"Jadi.... kak Nathan dan perempuan itu... tidak ada hubungan apapun?" tanya Rania.
"Aku tidak segila itu Rania, jika aku mau aku bisa berhubungan dengan siapapun sejak dulu, tapi aku tidak melakukannya sampai akhirnya aku menikah dengan Aleea!" jawab Nathan dengan tegas.
"Aku pasti tahu apa yang terjadi pada Nathan, kau tidak meragukan persahabatanku dengan Nathan bukan?" tanya Evan yang dibalas gelengan kepala oleh Rania.
"Baiklah kalau begitu, tapi mungkin Rania akan salah paham lagi jika hal seperti ini terulang lagi!" ucap Rania.
"Jika kau tidak mengerti apa yang sedang terjadi, bertanyalah, jangan menyimpulkannya sendiri tanpa kau tau kebenarannya!" ucap Evan.
"Rania mengerti kak," balas Rania dengan menganggukkan kepalanya.
"Dan lain kali jangan lupa mengetuk pintu jika masuk ke ruangan orang lain!" ucap Nathan.
"Rania hanya terlalu bersemangat kak, Rania kesini untuk memberi tahu kakak jika kak Aleea setuju untuk pergi berlibur," ucap Rania.
"Aleea menyetujuinya?" tanya Nathan tak percaya.
"Iya, kak Aleea menyetujuinya, jadi kakak sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak, Rania, kak Evan dan kak Aleea sudah setuju!" balas Rania.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Rania berdering, salah satu temannya menghubunginya.
"Baiklah, Rania pergi dulu, jangan lupa, weekend nanti kita pergi berlibur!" ucap Rania lalu keluar dari ruangan Evan.
Nathan dan Evan hanya diam sampai Rania benar-benar keluar dari ruangan Evan.
"Aleea tidak mungkin menyetujuinya, dia sudah mengatakan padaku jika dia akan menolaknya!" ucap Nathan dengan menggelengkan kepalanya.
"Pasti ada sesuatu yang membuatnya menyetujui ajakan Rania," balas Evan.
"Tanyakan baik-baik tanpa menyakitinya Nathan!" ucap Evan.
"Aku tau," balas Nathan sambil menarik tangannya dari Evan lalu berlari pergi.
Nathan segera meninggalkan kantor, mengendarai mobilnya ke arah rumahnya sebelum Aleea pergi ke kelas memasaknya.
Sesampainya di rumah, Nathan segera berlari masuk ke dalam rumah dan mendapati Aleea yang sudah berpakaian rapi, siap untuk keluar dari rumah.
"Apa benar kau menyetujuinya Aleea?" tanya Nathan pada Aleea.
"Aku sudah menolaknya, tapi dia terus memohon padaku," jawab Aleea sambil tetap melanjutkan langkahnya.
"Tapi itu hanya akan membuat kita tidak nyaman Aleea, kau tau itu!" ucap Nathan.
"Aku tau," balas Aleea singkat dengan membawa langkahnya melewati Nathan begitu saja, namun dengan cepat Nathan menahan tangan Aleea.
Aleea hanya diam tanpa meronta, membawa pandangannya ke arah tangan Nathan menahan tangannya.
Seketika Nathan segera melepas tangannya, namun segera membawa dirinya menghadang langkah Aleea.
"Bisakah kita membicarakan hal ini sebentar?" tanya Nathan.
"Apa lagi yang ingin dibicarakan Nathan?" balas Aleea kesal.
"Kau harus menolaknya Aleea!" jawab Nathan.
"Dia memohon padaku dengan setengah memaksa, dia mengatakan jika liburan nanti adalah keinginan terakhirnya sebelum dia kembali ke Paris, aku tidak sampai hati untuk menolaknya Nathan, lagi pula sepertinya dia menyukai Evan, dia ingin menghabiskan banyak waktu bersama Evan sebelum dia kembali ke Paris!" jelas Aleea.
"Alasan apa lagi itu, semua itu pasti hanya akal-akalannya saja, kau....."
"Aku sudah memintanya untuk pergi tanpa aku, tapi dia terus memaksaku Nathan!" ucap Aleea memotong ucapan Nathan.
"Tapi....."
__ADS_1
"Aku harus pergi, taksiku sudah menunggu!" ucap Aleea yang tidak membiarkan Nathan menyelesaikan ucapannya.
Aleeapun membawa langkahnya pergi, sedangkan Nathan masih berdiri di tempatnya dengan menatap Aleea yang berjalan meninggalkannya.
"Pasti Rania berbohong agar Aleea menyetujui rencananya," ucap Nathan dengan menghela napasnya panjang.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Aleea dan Tika baru saja keluar dari gedung tempat mereka mengikuti kelas memasak.
Saat Aleea akan berjalan ke arah Tika memarkirkan mobilnya, tiba-tiba seseorang memanggil Aleea.
"Kak Aleea!"
Aleeapun segera membawa pandangannya ke arah sumber suara dan mendapati Rania yang melambaikan tangan padanya.
"Sepertinya aku tidak bisa ikut ke ruko lagi Tika, maafkan aku," ucap Aleea pada Tika.
"Tidak masalah Aleea, lagi pula hari ini aku hanya akan mencoba resep baru salah satu menu kita," balas Tika.
"Maafkan aku Tika," ucap Aleea menyesal.
"Tidak masalah, pergilah!" balas Tika.
Aleea kemudian membawa langkahnya menghampiri Rania yang berdiri di depan mobilnya.
"Kenapa kau kesini Rania? apa kau menungguku sejak tadi?" tanya Aleea pada Rania.
"Iya, masuklah kak, Rania akan mengantar kakak pulang," jawab Rania sambil membuka pintu mobilnya.
Aleeapun masuk lalu duduk dengan Rania di sampingnya. Rania kemudian meminta supirnya untuk mengantarnya ke salah satu kafe yang ada disana.
"Apa kita akan pergi ke kafe?" tanya Aleea.
"Iya, kita makan siang sebelum Rania mengantar kakak pulang," jawab Rania.
"Rania ingin bertemu kak Aleea, jadi Rania menanyakan tempat kursus memasak kakak pada kak Evan," lanjut Rania.
"Aaahhh begitu, apa kau ingin membicarakan masalah liburan weekend nanti?" tanya Aleea.
"Rania hanya ingin memastikan jika kak Aleea tidak akan berubah pikiran," jawab Rania.
"Tentu saja tidak, aku sudah berjanji padamu," ucap Aleea.
"Baguslah kalau begitu," balas Rania penuh senyum.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di salah satu kafe. Aleea dan Rania duduk lalu memesan makanan dan minuman.
"Aaahh ya, apa kak Aleea mengetahui banyak tentang pekerjaan Kak Nathan?" tanya Rania pada Aleea.
"Apa lagi yang ingin dia tanyakan sebenarnya?" batin Aleea bertanya dalam hati.
"Apa kak Aleea mengenal teman-teman kak Nathan di kantor?" tanya Rania.
"Aku tidak banyak mengerti tentang pekerjaan Nathan, tapi yang aku tau dia memang selalu sibuk dengan pekerjaannya, dia sangat bertanggung jawab sebagai CEO di kantornya," jawab Aleea.
"Dan tentang teman-teman Nathan, aku hanya mengetahuinya beberapa," lanjut Aleea.
"Apa kakak mengenal perempuan yang bernama Vina?" tanya Rania yang membuat Aleea sedikit terkejut.
"Tentu saja, dia sudah lama bekerja dengan Nathan jadi aku mengenalnya," jawab Aleea.
"Apa kak Aleea tidak cemburu melihat kak Nathan bersama perempuan bernama Vina itu?" tanya Rania.
"Tentu saja tidak, aku tau hubungan mereka sebatas partner kerja, meskipun mereka sering mengerjakan pekerjaan mereka berdua tapi aku percaya pada Nathan, Nathan tidak akan melakukan hal yang salah di belakangku," jawab Aleea.
"Kenapa kak Aleea sangat mempercayai kak Nathan, kak?" tanya Rania.
"Karena cinta, tidak ada alasan lain selain itu," jawab Aleea dengan tersenyum.
"Kau akan mengerti saat kau sudah cukup dewasa Rania, jadi untuk saat ini nikmati saja waktumu untuk bersenang-senang tanpa memikirkan hal-hal di luar kepentinganmu," lanjut Aleea.
Tak lama kemudian Rania tiba-tiba melambaikan tangannya ke arah pintu masuk kafe, Aleeapun membawa pandangannya mengikuti arah Rania memandang dan mendapati Evan yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Kita akan makan siang bertiga!" ucap Rania pada Aleea dengan penuh senyum.
__ADS_1
Aleeapun hanya membalas dengan senyum yang ia paksakan.
"Rania benar-benar tidak bisa ditebak," ucap Aleea dalam hati.