
Hari-hari telah berganti. Sejak beberapa hari yang lalu Vina menuntut jawaban Nathan atas syarat yang ia ajukan. Hal itu tentu saja membuat Nathan terganggu, namun ia tidak memiliki alasan lain selain menerima syarat dari Vina.
"Oke, kita akan berlibur satu hari, tapi aku yang akan memutuskan kapan dan kemana kita akan pergi," ucap Nathan pada Vina saat Vina sedang berada di ruangan Nathan.
"Tidak masalah, jadi kapan kita akan pergi berlibur?" tanya Vina penuh semangat.
"Akhir bulan nanti, saat kita mengunjungi anak perusahaan yang ada di luar pulau," jawab Nathan.
"Aku ingin berlibur Nathan, bukan ingin bekerja," gerutu Vina.
"Aku tau, tapi aku tidak bisa cuti dan beralasan untuk berlibur denganmu bukan? akhir bulan nanti aku harus memeriksa pembangunan anak perusahaan di luar pulau, jadi kita gunakan waktu itu untuk sekalian berlibur, lagi pula aku hanya perlu memeriksa progres pembangunannya tanpa harus melakukan banyak hal," jelas Nathan.
"Hmmm..... baiklah, tapi hanya kita berdua bukan?" tanya Vina memastikan.
"Iya, hanya kita berdua," jawab Nathan dengan menganggukkan kepalanya.
"Yeeeyyy, terima kasih Nathan," ucap Vina dengan penuh senyum lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Nathan.
Karena terlalu senang, Vina tidak sengaja menabrak Evan saat ia baru saja membuka pintu ruangan Nathan.
"Maaf pak Evan," ucap Vina dengan menundukkan kepalanya lalu berjalan pergi dengan bersenandung.
"Ada apa dengannya?" tanya Evan pada Nathan saat ia memberikan sebuah berkas pada Nathan.
Nathan hanya mengangkat kedua bahunya tanpa mengatakan apapun sambil memeriksa berkas yang Evan berikan padanya.
"Apa kau sudah menetapkan tanggal untuk kunjungan kita ke luar pulau akhir bulan nanti?" tanya Evan.
"Sudah, tapi sepertinya aku sendiri yang akan pergi," jawab Nathan.
"Kenapa? bukankah om Aryan sendiri yang meminta kita berdua untuk melihat progres pembangunan disana?" tanya Evan.
"Aku tidak bisa meninggalkan Aleea sendiri, Evan," jawab Nathan.
"Apa maksudmu?" tanya Evan tak mengerti.
"Aku tidak bisa membawa Aleea ikut bersamaku dan jika aku pergi bersamamu, siapa yang akan menjaga Aleea disini? aku tidak bisa mempercayai siapapun selain kau Evan, jika terjadi sesuatu padanya bukankah akan lebih baik jika ada kau yang bersamanya?" jelas Nathan.
"Aku tidak mengerti maksudmu, memangnya apa yang akan terjadi pada Aleea? bukankah dia baik-baik saja? lagi pula dia bukan anak kecil yang harus dijaga setiap waktu!"
"Dia memang terlihat baik-baik saja, tapi bukankah kau tau bagaimana keadaannya yang sebenarnya, jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak kita inginkan, kau bisa segera menanganinya jika kau ada di dekatnya, kau mengerti maksudku bukan?" jelas Nathan beralasan.
Evan hanya menghela napasnya panjang tanpa mengatakan apapun setelah ia mendengar penjelasan Nathan.
"Tentang apa yang terjadi pada Aleea hanya kita berdua yang tau Evan, salah satu dari kita harus selalu ada di dekatnya untuk menghindari apa yang tidak kita inginkan," ucap Nathan.
"Baiklah, aku mengerti," balas Evan dengan menganggukkan kepalanya pelan.
"Kau memang selalu bisa diandalkan!" ucap Nathan penuh senyum.
Evan hanya diam dan beranjak dari duduknya, mengambil kembali berkas yang sudah Nathan tanda tangani lalu keluar dari ruangan Nathan tanpa mengatakan apapun.
Dalam hatinya, Evan selalu menyimpan rasa bersalahnya karena ikut terlibat dalam kebohongan yang Nathan rencanakan untuk Aleea.
Namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain terus mengikuti langkah Nathan dengan harapan agar Nathan bisa melunak dan hatinya bisa terbuka untuk Aleea.
**
Waktu berlalu, Nathan sudah berada di rumahnya dan sedang menikmati makan malamnya bersama Aleea.
"Kau tidak perlu menungguku untuk makan malam Aleea, karena aku tidak setiap hari pulang di jam yang sama," ucap Nathan pada Aleea.
"Tidak masalah buatku, aku akan selalu menunggumu," balas Aleea.
"Aaahh ya, akhir bulan nanti aku harus pergi ke luar pulau untuk memantau perkembangan proyek baru disana, tidak akan lama, mungkin 2 atau 3 hari," ucap Nathan.
"Apa aku boleh ikut?" tanya Aleea.
"Tidak Aleea, aku kesana untuk bekerja, bukan untuk bersenang-senang, lagi pula tidak akan lama," jawab Nathan.
"Apa kau pergi kesana sendiri?" tanya Aleea.
"Iya aku pergi sendiri, sebenarnya aku pergi bersama Evan tetapi ada hal lain yang harus Evan kerjakan disini, jadi aku pergi sendiri," jawab Nathan beralasan.
__ADS_1
Tentu saja Nathan tidak mengatakan jika ia pergi bersama Vina, karena Evanpun tidak mengetahui tentang hal itu.
Nathan sengaja menyembunyikan hal itu dari semua orang, bahkan Evan karena ia tau Evan pasti tidak akan menyetujui keputusannya jika Evan tau ia pergi bersama Vina.
Nathan sengaja pergi satu hari lebih dulu dari hari cuti Vina dan pulang di hari yang berbeda dengan Vina agar tidak ada yang mencurigainya.
"Kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu Nathan, bisakah kau meluangkan waktu untuk kita sekedar mengobrol berdua? kita seperti dua orang asing setelah kita menikah, sangat berbeda jauh dengan saat sebelum kita menikah," ucap Aleea sekaligus bertanya.
"Tidak ada yang berbeda Aleea, mungkin kau hanya belum benar-benar memahamiku setelah ingatanmu hilang," balas Nathan.
"Apa kau tidak merasakannya Nathan? sebelum kita menikah kau membuatku merasa jika aku adalah prioritas utama buatmu, kau membuatku berpikir jika kau adalah laki-laki penuh cinta yang romantis dan....."
"Apa kau menyesali pernikahan kita?" tanya Nathan memotong ucapan Aleea.
"Tidak, aku tidak menyesalinya, hanya saja..... ini bukan pernikahan yang aku inginkan, kau mengerti maksudku bukan?"
"Aku mengerti, kehilangan ingatan memang bukan hal yang mudah buatmu dan itu juga sesuatu yang sulit untukku Aleea, tapi aku yakin suatu saat nanti kau akan mengerti dan memahami jika apa yang kita jalani saat ini adalah keputusan kita berdua, bukan hanya keinginanku sendiri," ucap Nathan.
Aleea menghela napasnya lalu menaruh sendoknya dan beranjak dari duduknya meski ia belum menghabiskan makanannya.
Saat Aleea akan pergi, Nathan segera menahan Aleea lalu membawa Aleea ke dalam dekapannya.
"Maafkan aku Aleea, aku tidak bisa merubah apa yang sudah kita sepakati, seiring dengan berjalannya waktu, kau pasti akan mengerti," ucap Nathan.
Aleea hanya diam dalam dekapan Nathan. Meskipun mereka sudah menikah, mendapat pelukan dari Nathan adalah suatu hal yang langka bagi Aleea.
Baginya, pernikahannya dengan Nathan hanya sebuah status yang jauh berbeda dengan kehidupan sebenarnya yang ia jalani bersama Nathan.
Namun Aleea tidak memiliki pilihan lain selain menjalani apa yang ada di hadapannya, selain karena kesepakatan konyol yang ia tanda tangani, ia juga tidak memiliki tujuan lain dalam hidupnya karena seluruh memorinya telah terhapus dari hidupnya.
**
Hari telah berganti, hari itu Aleea mulai mengikuti kelas memasaknya setelah beberapa hari libur.
Seperti biasa, Aleea berangkat dengan diantar oleh supirnya. Namun saat baru saja meninggalkan rumah, Aleea melihat sebuah mobil yang berhenti di sebrang rumahnya dan tak lama kemudian mulai berjalan pergi saat mobil Aleea sudah meninggalkan rumah.
Beberapa lama dalam perjalanan, Aleea merasa mobil yang dilihatnya di depan rumah seperti sedang mengikutinya.
"Pak, tolong berhenti di apotek sebentar ya, ada yang harus Aleea beli," ucap Aleea pada supirnya.
"Baik non," balas supir.
Aleea hanya membeli beberapa obat-obatan yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Aleea sengaja meminta supirnya untuk berhenti di apotek hanya untuk memastikan apakah mobil yang dilihatnya ikut berhenti atau tidak.
Saat Aleea keluar dari apotek, Aleea melihat mobil itu ikut berhenti di depan toko yang berada di sebelah apotek, membuat Aleea semakin curiga pada mobil itu.
Aleea kemudian masuk ke dalam mobil tanpa berlama-lama menatap mobil yang mencurigakan itu karena ia tidak ingin seseorang yang berada di dalam mobil itu menyadari kecurigaannya.
"Tunggu disini sebentar pak," ucap Aleea pada supirnya agar tidak segera menyalakan mesin mobilnya.
Aleea ingin memastikan apakah mobil hitam yang mencurigakan itu tetap di tempatnya atau pergi mendahului Aleea dan ternyata mobil itu tetap di tempatnya sampai beberapa lama tanpa ada siapapun yang terlihat keluar atau masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana non? apa kita sudah bisa pergi?" tanya supir pada Aleea.
"Iya pak, kita berangkat sekarang," jawab Aleea sambil memperhatikan mobil hitam yang dicurigainya.
Benar saja, saat mobil Aleea mulai pergi, mobil hitam itu ikut pergi mengikuti Aleea. Sampai beberapa lama, Aleea masih terus memperhatikan mobil hitam itu dan menghafalkan plat nomornya.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Aleeapun sampai di tempat tujuannya dan melihat mobil hitam mencurigakan itu berhenti di sebrang tempat ia mengikuti kelas memasaknya.
"Pak, apa Aleea bisa minta tolong?" tanya Aleea pada supirnya.
"Apa yang bisa saya bantu non?" balas supir.
"Tolong perhatikan mobil hitam di sebrang itu pak, tapi jangan terlalu terlihat memperhatikannya, bapak perhatikan saja apakah ada yang keluar atau masuk ke dalam mobil itu sampai kelas memasak Aleea selesai," jelas Aleea.
"Memangnya kenapa non? apa non Aleea mengenali pemilik mobil itu?" tanya supir.
"Tidak pak, Aleea hanya merasa mobil itu mengikuti kita sejak tadi," jawab Aleea.
"Apa sebaiknya saya melaporkan hal ini pada Tuan Nathan, non?"
"Aleea akan memberi tahu Nathan setelah Aleea memastikannya pak, sekarang bapak perhatikan saja apakah ada yang masuk dan keluar mobil itu," jawab Aleea.
__ADS_1
"Baik non," balas supir.
Aleea kemudian masuk ke dalam gedung dua lantai tempat ia mengikuti kelas memasaknya.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Aleea menyelesaikan kelas memasaknya.
Aleea segera masuk ke dalam mobilnya dimana sudah ada supirnya yang duduk di dalam mobil dengan memperhatikan mobil yang berada di sebrangnya.
"Mobil itu sama sekali tidak berpindah tempat non, sejak tadi juga tidak ada siapapun yang masuk dan keluar dari mobil itu," jelas supir.
"Kita pulang saja pak, Aleea akan memberi tahu Nathan sendiri nanti," ucap Aleea.
"Tapi bagaimana jika seseorang di dalam mobil itu sedang merencanakan rencana jahatnya non?" tanya supir khawatir.
"Bapak jangan khawatir, jika mereka memang berniat mencelakakan Aleea, mereka pasti sudah melakukannya sejak tadi, lagi pula kita akan pulang dengan melewati jalanan yang ramai, jadi tidak mungkin mereka menyerang kita di jalanan ramai," jelas Aleea.
Supir menganggukkan kepalanya lalu mengendarai mobil meninggalkan tempat itu untuk mengantar Aleea pulang ke rumah.
Selama dalam perjalanan, Aleea dan supirnya sesekali memperhatikan mobil hitam yang sejak tadi mengikuti mereka.
"Mereka sangat mencolok sekali, siapapun akan sadar jika sedang mereka ikuti," ucap Aleea dengan menghela napasnya panjang.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Aleeapun sampai di rumahnya.
"Apa yang harus saya lakukan sekarang non? apa kita harus membiarkan mobil itu berada disana?" tanya supir pada Aleea setelah mereka melihat mobil itu berhenti di sebrang rumah Aleea.
"Biarkan saja pak, tetap jaga pergerakan mereka saja agar tidak masuk ke rumah ini, selama mereka tidak melakukan apapun cukup perhatikan saja mereka," jawab Aleea.
"Baik non," balas supir.
Aleea kemudian masuk ke dalam rumah, membawa langkahnya ke dalam kamar lalu segera menghubungi Nathan.
Beberapa kali Aleea menghubungi Nathan, tapi tidak terjawab, Aleeapun memutuskan untuk mengirim pesan pada Evan.
"Apa Nathan sedang sibuk Evan? aku tidak bisa menghubunginya sama sekali!"
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Tak butuh waktu lama, sebuah pesan balasan masuk dari Evan.
"Dia sedang bertemu kliennya, tunggu sebentar lagi!"
Di sisi lain, Nathan sedang membicarakan hal penting dengan kliennya bersama Vina. Setelah beberapa lama waktu berlalu, Nathan mendapatkan kesepakatannya bersama klien pentingnya.
"Akhirnya satu masalah selesai," ucap Nathan lega setelah kliennya meninggalkan ruangan pertemuan.
"Sekarang sudah tidak ada lagi yang mengganggumu dan akhir bulan nanti kita akan menikmati waktu liburan kita tanpa gangguan pekerjaan," ucap Vina.
"Hanya satu hari Vina, ingat itu!" ucap Nathan sambil memeriksa ponselnya dan mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari Aleea, namun ia mengabaikannya.
"Iya aku tau, walaupun hanya satu hari, tapi aku akan membuatnya menjadi hari yang sangat berkesan, tidak hanya untukku, tapi juga untukmu," balas Vina dengan penuh senyum.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Nathan berdering, sebuah pesan masuk dari Aleea yang berisi sebuah foto bagian depan mobil hitam yang menampakkan plat nomornya dengan jelas.
"Apa maksudnya?" batin Nathan bertanya dalam hati.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Sebuah pesan kembali masuk dari Aleea.
"Apa kau tau siapa pemilik mobil itu? mobil itu berada di sebrang rumah sejak pagi sampai sekarang, mobil itu bahkan mengikutiku pergi ke kelas memasak sampai aku pulang!"
Setelah membaca pesan Aleea, Nathanpun segera menghubungi Aleea.
"Halo Aleea, dimana kau sekarang?" tanya Nathan yang terdengar khawatir.
"Aku di rumah," balas Aleea.
"Kau baik-baik saja bukan? tidak ada orang asing yang mendekatimu bukan?" tanya Nathan.
"Tidak, apa kau khawatir karena mobil yang sejak tadi mengikutiku?"
__ADS_1
"Aku akan mencari tahu siapa pemilik mobil itu dan kenapa mobil itu mengikutimu, untuk saat ini tetap berada di rumah sampai aku pulang dan jangan biarkan siapapun masuk ke dalam rumah, aku juga akan menghubungi pak satpam untuk memastikan semuanya aman!" ucap Nathan dengan penuh ketegasan di setiap kalimatnya.
"Baiklah, aku akan tetap di rumah sampai kau pulang," balas Aleea dengan penuh senyum karena merasa Nathan begitu mengkhawatirkannya saat itu.