
Dengan bersusah payah Vina membantu Nathan berjalan ke arah kamarnya demi rencana yang sudah ia siapkan untuk bisa mendapatkan Nathan.
Nathan yang saat itu sedang mabuk, hanya bisa mengikuti langkah Vina dengan sempoyongan.
Sesampainya di depan kamar Nathan, Vina menjatuhkan Nathan di lantai agar ia bisa mencari kartu akses untuk membuka kamar Nathan.
Namun saat Vina baru saja mengambil dompet Nathan, dari kejauhan Vina melihat seseorang yang dikenalnya sedang berjalan ke arahnya.
"Pak Aryan, kenapa pak Aryan ada disini?"
Seketika Vina segera mengembalikan dompet Nathan lalu beranjak dan masuk ke kamarnya dengan terburu-buru sebelum papa Nathan menyadari keberadaannya disana.
"Sial, apa yang dilakukan papa Nathan disini?" tanya Vina sambil mengintip lubang kecil di pintu kamarnya.
"Pak Aryan tidak boleh melihatku disini, pak Aryan pasti akan berpikir jika aku yang membuat Nathan mabuk, tidak..... tidak...... aku tidak boleh terlihat sebagai perempuan buruk di depan pak Aryan," ucap Vina sambil membawa langkahnya untuk duduk di tepi ranjangnya.
Di sisi lain, Aryan sengaja menemui Nathan untuk membicarakan masalah proyek baru disana. Ia sengaja jauh-jauh terbang ke luar pulau karena merasa ada sesuatu yang lain dengan Nathan, karena tidak biasanya Nathan bersikap tidak profesional dalam pekerjaannya.
"Seharusnya dia berada di lapangan untuk memantau perkembangan proyek baru disini, tetapi dia bahkan tidak datang ke lapangan seharian, pasti terjadi sesuatu!" batin Aryan dalam hati yang membuatnya memutuskan untuk terbang menemui Nathan.
Saat Aryan sampai di hotel tempat Nathan menginap, Aryan menanyakan kamar Nathan pada resepsionis dan mulai mencari kamar Nathan dengan memperhatikan satu per satu angka yang ada pada pintu.
Sampai akhirnya Aryan melihat seorang laki-lakinya duduk di depan kamar dengan pintu yang tertutup.
Nathan terlihat duduk bersandar pada pintu dengan menundukkan kepalanya tanpa bergerak sedikitpun.
Aryan yang melihat hal itupun segera berlari kecil ke arah Nathan dan segera berjongkok di hadapan Nathan.
Menyadari seseorang yang datang, Nathan yang sudah sangat mabuk hanya mengangkat kepalanya lalu tersenyum pada sang papa.
Aryan menghela napasnya lega sekaligus kesal melihat keadaan Nathan saat itu. Lega karena Nathan baik-baik saja dan kesal karena Nathan mabuk di tempat yang tidak seharusnya, yang bisa saja beresiko menurunkan reputasinya.
Aryan kemudian mencari dompet Nathan untuk mengambil kartu akses kamar Nathan lalu segera membuka pintu kamar itu dan membantu Nathan berdiri untuk masuk ke dalam kamar.
Aryan menjatuhkan Nathan di atas ranjang dan tak butuh waktu lama Nathanpun tertidur sebelum Aryan sempat menanyakan apapun pada Nathan.
"Dasar anak nakal!" ucap Aryan dengan menghela napasnya kasar.
Malam itu, Aryanpun tidur di kamar Nathan. Sedangkan di sisi lain, Vina sedang mengemasi barang-barangnya karena ia harus segera kembali pulang besok pagi.
"Semua rencanaku gagal, Nathan sama sekali tidak terpengaruh olehku, apapun yang aku lakukan untuk mendekatinya selalu saja gagal karena dia selalu menolakku, saat rencanaku hampir berhasil papanya datang dan menggagalkan semuanya!" ucap Vina kesal.
Vina menghela napasnya panjang lalu menatap koper di hadapannya yang sudah terisi barang-barang miliknya.
"Aku sudah menyia-nyiakan kesempatan besarku, aku pulang tanpa membawa hasil apapun, bahkan aku harus pulang diam-diam tanpa bertemu Nathan karena bisa jadi pak Aryan berada di kamar Nathan sampai besok pagi," ucap Vina dengan raut wajahnya yang murung.
**
Malam yang panjang telah berlalu. Vina bangun lebih pagi, ia bahkan berangkat ke bandara jauh lebih awal dari tiket keberangkatannya untuk menghindari bertemu dengan papa Nathan.
Vina kemudian mengambil ponselnya, berniat untuk menghubungi Nathan, namun ia mengurungkan niatnya, khawatir jika papa Nathan yang justru menerima panggilannya.
"Aaarrgghh menyebalkan sekali!" ucap Vina kesal lalu menghentikan taksi dan pergi dari hotel.
Di sisi lain, Nathan yang baru saja bangun dari tidurnya masih mengerjapkan matanya dan menggeliat malas di atas ranjangnya.
"Nyenyak?" tanya Aryan yang sudah duduk di sofa yang ada di kamar Nathan.
Menyadari suara asing di dalam kamarnya, Nathanpun begitu terkejut dan segera beranjak dari tidurnya.
"Papa..... kenapa papa bisa ada disini?" tanya Nathan sambil memegang kepalanya yang terasa pusing saat itu.
"Apa saja yang kau lakukan disini Nathan? kau benar-benar membuat papa kecewa!"
Nathan terdiam untuk beberapa saat, memikirkan tentang apa yang terjadi semalam dan kenapa tiba-tiba ada sang papa di dalam kamarnya.
"Jika kau seperti ini, jangan salahkan papa jika papa akan menangguhkan janji papa padamu meskipun kau sudah mengikuti permintaan mama untuk menikah!" ucap Aryan yang membuat Nathan segera membawa pandangannya pada sang papa.
"Tapi papa dan mama sudah berjanji pada Nathan, tidak adil jika tiba-tiba papa tidak menepati janji papa setelah Nathan menuruti permintaan mama!" protes Nathan.
__ADS_1
"Apa kau menikahi Aleea hanya untuk itu?" tanya Aryan yang membuat Nathan terdiam.
Efek alkohol yang diminumnya semalam masih terasa mengganggu dirinya, meskipun ia sudah lebih bisa mengendalikan dirinya saat itu.
"Apa mungkin kau sebenarnya tidak mengenal Aleea? sebelum pergi ke luar negeri kau bahkan menolak syarat yang mama ajukan, tapi tiba-tiba saja kau datang dengan membawa Aleea dan berkata akan menikahinya, apa benar yang papa pikirkan, Nathan?" tanya Aryan curiga.
"Paaa..... Nathan sangat pusing sekarang dan pertanyaan papa yang tidak masuk akal itu semakin membuat Nathan pusing," ucap Nathan tanpa menjawab pertanyaan sang papa.
"Papa dan mama akan sangat marah padamu jika ternyata pernikahanmu dengan Aleea hanya sandiwara, Nathan!" ucap Aryan dengan tegas.
Nathan menghela napasnya panjang, berusaha untuk bisa berpikir dengan jernih di tengah efek alkohol yang diminumnya semalam.
"Nathan sudah lama diam-diam berhubungan dengan Aleea, Nathan menolak syarat mama karena memang Aleea belum siap menikah saat itu, tapi Nathan berusaha meyakinkannya dan akhirnya dia setuju untuk menikah lebih cepat dari yang dia rencanakan," ucap Nathan beralasan.
"Dan ya papa benar, Nathan memutuskan untuk menikah lebih cepat karena syarat yang mama berikan pada Nathan, tapi Nathan benar-benar mencintai Aleea, dia kekasih Nathan sejak lama pa!" lanjut Nathan.
"Baiklah jika memang seperti itu, tapi itu tidak akan merubah keputusan papa untuk menangguhkan janji papa dan mama, papa akan memberi tahu mama tentang apa yang kau lakukan disini, papa yakin mama pasti akan menyetujui keputusan papa!" ucap Aryan.
"Apa yang sebenarnya papa ketahui tentang kejadian semalam? apa papa melihatku bersama Vina?" batin Nathan bertanya dalam hati.
"Kau tidak bisa bertanggung jawab dengan pekerjaanmu disini Nathan, papa mempercayaimu untuk datang kesini bersama Evan, tapi ternyata kau berangkat kesini sendiri hanya agar bisa bersenang-senang tanpa diketahui siapapun!" ucap Aryan.
"Nathan tidak bersenang-senang pa, Nathan juga bekerja disini, Nathan bahkan sudah memberikan laporannya pada papa di hari pertama Nathan berada disini!" balas Nathan berusaha membela diri.
"Lalu bagaimana dengan hari kemarin? tidak ada siapapun yang bisa menghubungimu sejak pagi, kau juga tidak datang ke lapangan sama sekali dan saat papa datang kesini papa malah melihatmu duduk di depan pintu sendirian dengan keadaan mabuk, sangat memalukan!" ucap Aryan dengan menegaskan kalimat terakhirnya.
"Duduk sendirian di depan pintu?" tanya Nathan dengan suara pelan sambil berusaha mengingat kejadian semalam.
"Apa kau lupa apa yang terjadi semalam? apa jangan-jangan kau bersama perempuan semalam?" tanya Aryan.
"Tidak, Nathan..... Nathan hanya ingin menghabiskan waktu sendirian kemarin," jawab Nathan.
"Sepertinya papa tidak mengetahui keberadaan Vina, apa mungkin Vina sengaja meninggalkanku saat dia melihat papa?" batin Nathan bertanya dalam hati.
"Apa yang sebenarnya membuatmu seperti ini Nathan? apa kau sedang bertengkar dengan Aleea? itu kenapa kau mencari waktu untuk bersenang-senang sendiri?" tanya Aryan.
"Maafkan Nathan pa, Nathan janji hal ini tidak akan terulang lagi," ucap Nathan dengan menundukkan kepalanya.
"Tolong maafkan Nathan pa, Nathan tidak akan bersikap seperti ini lagi, jadi Nathan mohon jaga janji papa pada Nathan!" ucap Nathan memohon.
"Keputusan papa sudah bulat Nathan, kau sendiri yang membuat papa kecewa padamu!" balas Aryan lalu beranjak dari duduknya.
"Sekarang bersiap-siaplah, papa sudah menyiapkan tiket pesawat untukmu, lebih baik kau pulang dan biarkan papa sendiri yang menyelesaikan pekerjaan disini!" lanjut Aryan lalu keluar dari kamar Nathan.
Nathan hanya bisa menghela napasnya panjang. Ia sangat kesal dengan apa yang terjadi namun ia tidak mempunyai cukup tenaga untuk meluapkan emosinya saat itu.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Nathan berdering, sebuah pesan masuk dari Aleea.
"Selamat pagi, apa kau sudah bangun? aku hanya ingin memastikan jika aku bisa menghubungimu!"
Nathan hanya menatap datar layar ponselnya saat ia membaca pesan dari Aleea, Nathan justru tiba-tiba memikirkan Vina karena ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin malam.
Karena sang papa sudah pergi, Nathanpun segera menghubungi Vina.
"Halo Vina, kau dimana?" tanya Nathan setelah Vina menerima panggilannya.
"Aku sudah berada di bandara," jawab Vina.
"Katakan padaku apa yang terjadi semalam Vina, apa papa melihatmu bersamaku?" tanya Nathan.
"Aku rasa tidak, aku segera pergi saat aku melihat pak Aryan di hotel, jadi maaf jika aku meninggalkanmu begitu saja di depan kamar," jawab Vina.
"Memang itu yang harus kau lakukan, masalah akan semakin rumit jika papa melihatmu bersamaku semalam, apa lagi sepertinya aku sangat mabuk semalam!" ucap Nathan.
"Apa kau sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi semalam, Nathan?" tanya Vina.
"Tidak, aku tidak mengingat apapun, hal terkahir yang aku ingat adalah saat kita berada di bar dan gelasku ternyata tertukar dengan gelas milikmu," jawab Nathan.
__ADS_1
"Seharusnya aku tidak mabuk semalam, kenapa kau tidak menahanku Vina?" lanjut Nathan.
"Aku sudah berusaha menahanmu, tetapi kau sendiri yang memaksa untuk minum lebih banyak," jawab Vina beralasan.
"Baiklah kalau begitu, aku masih belum memiliki tenaga untuk marah walaupun sebenarnya aku sedikit marah padamu!" ucap Nathan.
"Marah padaku? kenapa? apa....."
Tuuuutttt tuuuutttt tuuuutttt
Nathan mengakhiri panggilannya begitu saja lalu masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10 siang saat Nathan berangkat ke bandara setelah berpamitan dengan sang papa.
Setelah kurang dari 2 jam berada di dalam pesawat, Nathan akhirnya tiba di bandara tujuannya.
Tepat pukul 3 sore Nathan sudah berada di rumahnya. Ia segera berjalan masuk ke dalam rumah.
Aleea yang saat itu baru saja kembali dari taman belakang begitu terkejut melihat Nathan yang berjalan menaiki tangga.
"Nathan!" panggil Aleea dengan berteriak.
Nathan yang mendengar Aleea memanggilnya hanya diam dan melanjutkan langkahnya untuk masuk ke kamarnya, sedangkan Aleea segera berlari mengejar Nathan.
"Aku pikir kau tidak akan pulang hari ini, aku....."
"Aku sangat lelah Aleea, biarkan aku berisitirahat dulu di kamar dan jangan menggangguku!" ucap Nathan memotong ucapan Aleea.
"Baiklah," balas Aleea dengan suaranya yang sangat pelan.
Aleea menghela napasnya panjang lalu berjalan masuk ke kamarnya.
"Sepertinya hanya aku yang merindukannya," ucap Aleea dengan memanyunkan bibirnya setelah ia melihat sikap Nathan yang mengacuhkannnya.
**
Di tempat lain, Evan mendapatkan sebuah tiket dari temannya untuk menghadiri acara opening sebuah merk parfum yang baru di launching temannya.
Satu tiket itu bisa dihadiri oleh satu orang ataupun dengan mengajak pasangan mereka. Seketika Evan terpikirkan Aleea di kepalanya.
"Aleea pasti senang jika aku mengajaknya kesini, dia sangat antusias dengan macam-macam parfum saat berada di acara pameran kemarin," ucap Evan dalam hati.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat Evan sedang fokus dengan pekerjaannya sampai akhirnya ia menyelesaikan pekerjaannya sebelum petang.
Evan kemudian mengambil ponselnya, berniat untuk menghubungi Aleea dan memberi tahu Aleea tentang tiket yang ia miliki.
Namun Evan mengurungkan niatnya dan memilih untuk menemui Aleea secara langsung.
"Lebih baik aku menemuinya saja!" ucap Evan dengan penuh senyum lalu merapikan meja kerjanya sebelum ia meninggalkan ruangannya.
Evan kemudian meninggalkan kantor, mengendarai mobilnya ke arah rumah Aleea dengan penuh semangat.
Di kepalanya sudah terbayangkan bagaimana reaksi Aleea saat ia mengajak Aleea pergi ke acara opening merk parfum milik temannya.
"Tidak tidak.... aku tidak boleh berlebihan, aku mengajak Aleea hanya agar Aleea tidak bosan di rumah," ucap Evan dalam hati.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evanpun sampai di rumah Aleea. Karena mobil Nathan berada di garasi yang tertutup, Evan tidak melihat mobil Nathan saat itu, membuatnya tidak menyadari jika Nathan sudah berada di rumah.
Dengan penuh senyum Evan membawa sebuah tiket di tangannya lalu berlari kecil ke arah Aleea yang berada di taman saat itu.
Aleea yang menyadari kedatangan Evanpun segera beranjak dari duduknya dan menaruh buku yang sedang dibacanya.
"Selamat sore nyonya Nathan," sapa Evan dengan penuh senyum seperti biasa.
"Selamat sore Evan," balas Aleea yang juga tersenyum pada Evan
"Aku kesini untuk.... "
__ADS_1
"Evan, ada apa kau kesini?" tanya Nathan yang sudah ada di depan pintu utama rumahnya dengan membawa pandangannya pada Evan dan Aleea yang berada di taman tepat di depan pintu utama rumahnya.
Melihat keberadaan Nathan di rumahnya, seketika Evan menyembunyikan tiket yang dibawanya, membawa tangannya ke belakang tubuhnya dan menyelipkan tiket itu ke dalam saku di bagian belakang celananya.