Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Peduli?


__ADS_3

Setelah Aleea mengakhiri panggilannya dengan Evan, Aleea kemudian keluar dari kamarnya dan menghampiri Nathan yang menunggunya di ruang tengah.


"Sepertinya kau semakin dekat dengan Evan," ucap Nathan.


"Dia teman yang baik," balas Aleea.


"Tidak perlu berbasa-basi, apa yang ingin kau katakan?" lanjut Aleea bertanya.


"Tentang apa yang sudah mama rencanakan, aku pikir kita harus menyetujuinya, agar mama berhenti mengkhawatirkan hubungan kita," ucap Nathan.


"Evan juga mengatakan hal itu dan aku rasa tidak ada pilihan lain selain menerimanya dengan terpaksa," balas Aleea.


"Apa kau menceritakan semuanya pada Evan?" tanya Nathan.


"Evan sudah mengetahuinya, mamamu sendiri yang memberi tahu Evan saat mamamu berada di kantor tadi pagi," jawab Aleea.


"Sepertinya mama benar-benar berusaha kali ini, mama bahkan mengatakan sesuatu yang membuatku sangat terbebani," ucap Nathan.


"Mengatakan apa?" tanya Aleea.


Nathan terdiam, ucapan sang mama padanya tadi pagi kembali terngiang di kepalanya.


"Jadi nikmati liburanmu bersama Aleea tanpa memikirkan pekerjaan dan yang paling penting, kembalilah dengan membawa kabar bahagia, kau mengerti maksud Mama bukan!"


Meskipun tidak mengatakannya secara langsung, tetapi Nathan mengerti maksud sebenarnya dari ucapan sang mama.


"Lupakan saja, bukan hal penting," ucap Nathan yang enggan memberi tahu Aleea tentang apa yang sang mama katakan padanya.


"Lalu apa rencanamu sekarang Nathan? bagaimana kita akan melewati satu Minggu di paris nanti?" tanya Aleea.


"Entahlah, kita lihat saja nanti, yang penting sekarang kita sudah bersepakat untuk melakukannya," jawab Nathan.


"Ada satu hal lagi yang harus kita sepakati," ucap Aleea.


"Apa?" tanya Aleea.


"Jangan melakukan apa yang kau lakukan saat di villa kemarin, aku tidak akan tinggal diam jika kau berani menyentuhku!" jawab Aleea dengan tegas.


Nathan hanya diam dengan tersenyum tipis, ia mengerti maksud Aleea.


"Aku bersungguh-sungguh Nathan, aku sudah tidak menganggapmu sebagai suamiku dan aku bukan lagi istrimu, pernikahan ini hanya sandiwara yang entah kapan kau akan mengakhirinya!" ucap Aleea.


"Tidak Aleea, sebelum aku menceraikanmu, kau tetap istriku dan aku suamimu!" balas Nathan.


"Tapi....."


"Kenapa kau sangat takut Aleea? jika aku mau, aku bisa melakukan apapun padamu kapanpun aku mau!" ucap Nathan memotong ucapan Aleea sambil membawa dirinya berpindah posisi duduk ke dekat Aleea dengan cepat.


Aleeapun segera beranjak dari duduknya, namun Nathan secepat kilat menarik tangan Aleea, membuat Aleea kembali duduk di dekat Nathan.


Jarak mereka berdua sangat dekat saat itu, Aleeapun seketika membenturkan kepalanya tepat di kepala Nathan, membuat Nathan mengaduh kesakitan dan menjauhkan dirinya dari Aleea.


"Aku juga bisa melakukan apapun yang aku mau, Nathan!" ucap Aleea lalu berjalan pergi dan dengan sengaja menginjak kaki Nathan yang ia lewati.


"Aaaarrghhhhh Aleeeaaaa!!!!"


Aleea mempercepat langkahnya menaiki tangga sambil mengusap keningnya yang juga terasa sakit saat itu.


"Dia sangat gila, aku harus berhati-hati padanya," ucap Aleea kesal lalu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya.


Sedangkan Nathan, ia masih berada di ruang tengah sambil mengusap kaki dan keningnya yang terasa sakit karena ulah Aleea.


"Dia seperti bukan Aleea yang aku kenal atau mungkin seperti inilah Aleea yang sebenarnya!" ucap Nathan dengan menghela napasnya kesal.


Nathan kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan naik ke kamarnya.


Nathan mengentikan langkahnya di depan kamar Aleea yang tertutup, ia tersenyum tipis lalu melanjutkan langkahnya untuk masuk ke kamarnya.


**


Hari berganti. Aleea baru bangun dari tidurnya saat mendengar ponselnya berdering.


Saat itulah Aleea baru sadar jika ia terlambat bangun.


"Astaga, aku terlambat!" ucap Aleea lalu segera beranjak dari ranjangnya.


Aleea masuk ke kamar mandi, mandi dengan cepat lalu mempersiapkan dirinya untuk pergi ke ruko.


Aleea kemudian menyambar tas selempangnya, menjinjing tas laptopnya lalu segera keluar dari kamar.


Karena terlalu terburu-buru, Aleea yang berjalan di tangga hampir saja terjatuh.


Beruntung, Nathan yang saat itu tengah menuruni tangga dengan sigap menarik tangan Aleea sebelum Aleea benar-benar terjatuh dari tangga.


"Hampir saja!" ucap Aleea terkejut karena ia hampir saja terjatuh dari tangga.


"Kenapa buru-buru sekali? apa kau....."


"Aku tidak punya waktu untuk berdebat, aku harus pergi!" ucap Aleea memotong ucapan Nathan sambil menarik tangannya dari Nathan dan segera melanjutkan langkahnya menuruni tangga.

__ADS_1


"Kemana sebenarnya dia pergi? akhir-akhir ini dia selalu terlihat sibuk," tanya Nathan pada dirinya sendiri.


Nathan menggelengkan kepalanya pelan sambil melanjutkan langkahnya, ia tidak ingin terlalu memikirkan apa yang Aleea lakukan di luar rumah.


Di sisi lain, Aleea masih berdiri di depan pagar rumahnya karena taksi yang dipesannya tidak kunjung datang.


Lebih dari 15 menit Aleea menunggu, namun tidak ada tanda-tanda kedatangan taksi yang dipesannya.


Aleea sudah berusaha menghubungi supir taksinya, namun tidak ada jawaban sama sekali.


"Aaahh kenapa sial sekali aku hari ini!" gerutu Aleea lalu berjalan meninggalkan rumah, berniat untuk mencari taksi lain di jalan raya.


Saat baru beberapa meter berjalan, sebuah mobil melaju kencang mendahului Aleea.


Aleea seketika mendengus kesal saat ia menyadari jika mobil itu adalah mobil Nathan.


"Lihatlah, dia sama sekali tidak peduli padaku!" ucap Aleea kesal.


TIIIINN TIIIINN TIIIIN


Tiba-tiba suara klakson terdengar nyaring di telinga Aleea. Suara klakson itu berasal dari mobil di belakang Aleea yang sengaja menekan klakson berkali-kali karena seekor kucing tiba-tiba berlari ke tengah jalan dan mengejutkan si pengendara mobil.


Mendengar suara klakson itu seketika Aleea terdiam. Kepalanya dengan cepat memutar kembali memori singkatnya tentang kecelakaan yang terjadi padanya.


Suara klakson dan riuh ramai orang-orang kembali terdengar samar namun sangat menggangu kepalanya.


Aleea seketika mengentikan langkahnya, ia mengernyitkan keningnya, memegang kepalanya, menahan rasa sakit yang tiba-tiba ia rasakan di kepalanya.


Aleea bahkan terduduk di tepi jalan karena rasa sakit yang ia rasakan saat itu.


Dari jauh, Nathan yang melihat hal itu segera memutar balik mobilnya untuk menghampiri Aleea.


Nathan segera turun dari mobilnya dan mendekati Aleea yang terduduk di pinggir jalan dengan tertunduk dan memegangi kepalanya.


"Aleea, apa yang terjadi padamu Aleea?" tanya Nathan khawatir.


Seketika Aleea memegang erat-erat lengan tangan Nathan. Rasa sakit di kepalanya hampir membuat kesadarannya hilang, namun ia berusaha untuk tetap menjaga kesadarannya.


"Aleea, katakan sesuatu Aleea!" ucap Nathan yang semakin khawatir.


"Nathaan......" panggil Aleea dengan suaranya yang terdengar begitu lemah.


Melihat keadaan Aleea yang tampak buruk, Nathanpun mengambil tas jinjing milik Aleea lalu mengangkat tubuh Aleea dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Nathan mendudukkan Aleea di samping kursi kemudi lalu memasang sabuk pengaman pada Aleea.


Nathan kemudian berlari kecil lalu masuk ke dalam mobilnya dan duduk di balik kemudi.


"Tidak Nathan, aku hanya perlu minum obat," ucap Aleea masih dengan suaranya yang lemah.


"Apa kau membawa obatmu?" tanya Nathan yang dibalas anggukan kepala oleh Aleea.


Nathan kemudian mengambil air minum yang ada di mobilnya, membuka tutup botolnya lalu memberikannya pada Aleea.


Sedangkan Aleea, segera mencari obatnya yang ada di dalam tas dan segera meminum obatnya.


Aleea menarik napasnya dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya agar tidak memikirkan kecelakaan yang pernah terjadi padanya.


"Apa sudah lebih baik?" tanya Nathan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Aleea.


"Aku akan mengantarmu pulang, kau harus beristirahat di rumah!" ucap Nathan.


"Tidak Nathan, aku harus pergi," ucap Aleea sambil berusaha melepaskan sabuk pengamannya, namun Nathan segera menahannya.


"Aku tidak tau apa yang kau lakukan di luar rumah, tapi keadaanmu yang seperti ini tidak memungkinkan untukmu berkegiatan di luar rumah Aleea, kau hanya akan membahayakan dirimu sendiri!" ucap Nathan.


"Aku sudah baik-baik saja Nathan, aku hanya terlambat minum obat tadi," balas Aleea.


"Tapi....."


"Tidak perlu berpura-pura peduli padaku Nathan, bersikaplah acuh seperti biasanya," ucap Aleea memotong ucapan Nathan.


Nathan menghela napasnya kasar lalu mengalihkan pandangannya dari Aleea.


"Baiklah, kalau begitu keluarlah dari mobilku dan lanjutkan kegiatanmu dengan berjalan kaki!" ucap Nathan.


"Dengan senang hati," balas Aleea lalu keluar dari mobil Nathan.


"Menyebalkan sekali, apa hilang ingatan membuatnya lupa caranya berterima kasih!" gerutu Nathan kesal lalu mengendarai mobilnya pergi.


Di sisi lain, Aleea sengaja keluar dari mobil Nathan meskipun keadaanya masih lemah saat itu.


Selain karena tidak ingin Nathan memaksanya pulang, ia juga tidak ingin Nathan mengetahui kemana dan apa yang ia lakukan di luar rumah.


Beruntung, tak lama kemudian sebuah taksi berhenti di dekat Aleea. Ternyata itu adalah taksi yang Aleea pesan.


Taksi itu terlambat datang karena supir taksi mengatakan jika dirinya adalah supir baru yang belum benar-benar memahami jalan-jalan disana, jadi beberapa kali supir taksi itu sempat salah jalan yang membuatnya terlambat sampai.


Aleeapun tidak mempermasalahkannya lagi karena ia sudah tidak punya tenaga untuk berdebat.

__ADS_1


Akhirnya, Aleeapun pergi ke ruko dengan diantar taksi itu sampai akhirnya Aleea tiba di toko kuenya.


Aleea segera meminta maaf pada Tika atas keterlambatannya, ia juga menceritakan pada Tika tentang supir taksi yang membuatnya harus menunggu lama.


"Tidak masalah Aleea, tapi kau terlihat pucat, apa kau baik-baik saja?" tanya Tika.


"Hanya sedikit pusing, tapi aku baik-baik saja," jawab Aleea.


"Aku akan menyelesaikan semuanya sendiri Aleea, kau kerjakan saja promosi untuk Minggu ini!" ucap Tika.


"Aku bisa mengerjakannya nanti, kau jangan lupa Tika aku juga bertanggung jawab atas roti dan kue-kue ini!" balas Aleea.


"Tapi kau sedang tidak sehat Aleea, naiklah dan kerjakan promosi di balkon," ucap Tika sambil mendorong Aleea untuk menaiki tangga.


Aleeapun akhirnya menaiki tangga dan duduk di balkon, salah satu tempat favoritnya untuk mengerjakan pekerjaannya sebagai admin sosial media toko kuenya.


"Laptopku, dimana laptopku?" tanya Aleea pada dirinya sendiri saat ia baru sadar jika ia tidak membawa laptopnya.


"Aku yakin sudah membawa laptopku saat meninggalkan rumah," ucap Aleea sambil berusaha mengingat semua kejadian yang ia alami pagi itu.


Aleea kemudian ingat saat ia merasa kepalanya sakit dan Nathan yang tiba-tiba datang menghampirinya.


"Astaga, Nathan membawa laptopku!" ucap Aleea sambil menepuk keningnya.


Aleea menghela napasnya kasar lalu membaringkan kepalanya di meja. Ia kembali mengingat kejadian beberapa saat yang lalu saat Nathan tiba-tiba menghampirinya.


"Dia terlihat sangat khawatir," ucap Aleea dalam hati.


Namun seketika raut wajah Aleea tampak kesal saat mengingat Nathan yang menyuruhnya keluar dari mobil.


"Aku sama sekali tidak mengenalnya dengan baik, entah seperti apa dia sebenarnya," ucap Aleea lalu mengangkat kepalanya, beranjak dari duduknya lalu kembali turun untuk membantu Tika.


**


Di tempat lain, Nathan yang baru saja sampai di kantor baru saja menyadari jika laptop Aleea tertinggal.


Nathan kemudian membawa laptop itu masuk ke ruangannya dan meletakkannya di atas meja kerjanya.


"Apa isi laptopnya? dia selalu sibuk dengan laptopnya sejak kemarin!" batin Nathan bertanya dalam hati.


Namun saat Nathan baru saja mengeluarkan laptop itu dari tas, pintu ruangannya diketuk dari luar, membuat Nathan mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan laptop itu.


"Jadi..... apa Minggu depan aku yang akan menghandle semuanya?" tanya Evan dengan penuh senyum saat masuk ke ruangan Nathan.


"Mama yang memberi tahumu?" balas Nathan bertanya.


"Iya, Tante Hanna datang ke ruanganku setelah bertemu denganmu, memintaku untuk mengatakan padamu agar kau tidak bekerja terlalu keras!" jawab Evan.


Nathan hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Evan.


"Jadi.... apa kau dan Aleea sudah memutuskan untuk pergi ke Paris?" tanya Evan.


"Tidak ada pilihan lain, mengikuti permintaan mama adalah cara paling aman untuk tidak membuat mama curiga," jawab Nathan.


"Kau benar," balas Evan dengan menganggukkan kepalanya.


Tiba-tiba pandangan mata Evan tertuju pada tas jinjing laptop yang ada di meja Nathan. Evan sangat mengenal tas itu, karena ada simbol A yang tergambar di tas itu.


"Apa itu tas jinjing milik Aleea?" tanya Evan.


"Iya, darimana kau tau?" balas Nathan.


"Aku sering melihat Aleea membawanya, kenapa bisa ada padamu?" jawab Evan sekaligus bertanya.


"Kau sering melihatnya membawa tas ini? apa itu artinya kalian sering menghabiskan waktu berdua selama ini?" tanya Nathan tanpa menjawab pertanyaan Evan.


"Apa kau cemburu jika jawabanku adalah iya?" balas Evan yang sengaja menggoda Nathan.


"Lagi-lagi pertanyaan bodoh itu, tentu saja tidak!" jawab Nathan.


"Kembalikan saja padanya, dia selalu membuatku repot!" lanjut Nathan sambil memberikan tas jinjing berisi laptop pada Evan.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Evan berdering, sebuah panggilan dari Aleea.


"Panjang umur sekali, dia menghubungi saat kita membicarakannya," ucap Evan sambil menunjukkan layar ponselnya pada Nathan.


Nathan hanya tersenyum tipis lalu membawa pandangannya pada komputer di hadapannya.


"Halo Aleea, apa kau mencari laptopmu?" tanya Evan setelah ia menerima panggilan Aleea di depan Nathan.


"Iya, apa kau tau Nathan membawanya?" balas Aleea.


"Iya aku tau, aku akan mengembalikan padamu saat jam makan siang nanti," jawab Evan.


"Oke, aku menunggumu," ucap Aleea.


Panggilan berakhir. Evan kemudian beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Nathan sambil membawa tas jinjing Aleea.

__ADS_1


Sepeninggalan Evan, Nathan menghela napasnya kasar lalu menghapus huruf-huruf acak yang baru saja ia ketik.


__ADS_2