Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Pergi Berlibur


__ADS_3

Di kafe. Evan berjalan ke arah Rania yang melambaikan tangan padanya. Dengan penuh senyum Evan berjalan dengan membawa pandangannya pada Aleea yang tampak terkejut oleh kedatangannya.


Beberapa jam yang lalu Rania memang menghubunginya, menanyakan tempat Aleea mengikuti kelas memasak dan mengajak Evan untuk makan siang bersama Aleea.


Evan kemudian membawa dirinya duduk di samping Rania, tepat di depan Aleea.


"Hai Aleea!" sapa Evan yang hanya dibalas senyum oleh Aleea.


"Apa kalian sudah memesan makanan?" tanya Evan dengan membawa pandangannya pada Aleea dan Rania bergantian.


"Sudah, Rania memesan makanan dan minuman kesukaan kakak," jawab Rania.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang, merekapun menikmati makan siang mereka dengan sesekali mengobrol.


Tetapi Rania lebih banyak mengobrol dengan Evan dan hanya sesekali Evan mengobrol dengan Aleea.


"Rania ke toilet sebentar kak!" ucap Rania lalu beranjak dari duduknya dan berjalan pergi ke toilet.


"Aku pikir kau akan menolak ajakan Rania, Aleea!" ucap Evan pada Rania.


"Aku memang berpikir untuk menolaknya, tetapi aku berubah pikiran," balas Aleea.


"Kenapa? apa dia memaksamu?" tanya Evan yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Aleea.


"Aku sangat mengenalnya Aleea, dia tidak jauh berbeda dengan Nathan yang menginginkan semuanya berjalan sesuai dengan apa yang dia mau, hanya saja Rania selalu memohon dengan manja atau bahkan memaksa agar keinginannya terpenuhi," ucap Evan.


"Kau sangat mengenalnya rupanya," balas Aleea dengan tersenyum seolah membenarkan apa yang Evan katakan tentang Rania yang memaksanya.


"Tidak perlu terbebani oleh semua ucapannya Aleea, kau bisa menolaknya jika memang kau tidak menginginkannya," ucap Evan.


"Aku sudah mengiyakannya Evan, aku tidak mungkin berubah pikirkan tiba-tiba," balas Aleea.


"Bagaimana dengan kegiatanmu di ruko? bukankah seharusnya kau ada di ruko sekarang?" tanya Evan.


"Itu dia masalahnya, aku jadi merasa bersalah pada Tika karena membiarkan dia sibuk di ruko sejak pagi," balas Aleea dengan menghela napasnya.


"Aku akan mengantar Rania pulang setelah ini, jadi kau bisa segera pergi ke ruko," ucap Evan.


"Terima kasih Evan," ucap Aleea yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Evan.


"Aaahh ya, bagaimana dengan Nathan? apa dia memarahimu karena mengiyakan ajakan Rania?" tanya Evan.


"Sepertinya dia sangat kesal, tapi aku tidak peduli," jawab Aleea.


"Tapi dia tidak melukaimu bukan?" tanya Evan khawatir.


"Tidak, dia sedikit berubah sekarang, sepertinya dia sedang berusaha mengendalikan emosinya," ucap Aleea.


"Baguslah kalau begitu," ucap Evan dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Tak lama kemudian Rania datang dan kembali ke tempat duduknya.


"Kita pergi sekarang Rania, aku harus kembali ke kantor karena ada sedikit masalah!" ucap Evan pada Rania.


"Tapi kita baru saja selesai makan," protes Rania.


"Aku akan mengantarmu pulang jika kau mau pulang sekarang atau aku akan pergi lebih dulu jika kau tetap kau disini!" ucap Evan.


"Baiklah, kita pulang sekarang!" balas Rania tanpa ragu.


"Rania akan meminta supir Rania untuk mengantar kak Aleea pulang," ucap Rania pada Aleea.


"Tidak perlu Rania, aku sudah memesan taksi untuk pulang," balas Aleea.


"Aaahh begitu, baiklah," ucap Rania.


"Aku pergi dulu Aleea, jaga dirimu!" ucap Evan yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Aleea.


Evan kemudian mengendarai mobilnya pergi meninggalkan kafe bersama Rania dan supir Rania mengikuti di belakang mobil Evan.


Sedangkan Aleea segera memesan taksi yang akan mengantarnya ke ruko. Aleea sengaja berbohong pada Rania agar Rania tidak meminta supirnya mengantar Aleea pulang.


Setelah beberapa lama menunggu, taksi yang Aleea tunggu pun datang. Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Aleea sampai di ruko dan segera membantu Tika untuk mengerjakan pekerjaan mereka.


"Bagaimana dengan sosial medianya Aleea? apa sudah ada perkembangan?" tanya Tika pada Aleea.


"Sudah, setelah aku memposting menu-menu kita dan beberapa promosi, sudah ada lebih dari 300 pengikut," jawab Aleea.


"Awal yang bagus Aleea, setelah ini pasti akan lebih banyak pengikut baru karena hanya dengan mengikuti akun sosial media dan menyebarkannya, mereka akan mendapatkan harga spesial," ucap Tika.


"Kau benar, Evan juga membantu mempromosikannya pada teman-temannya," balas Aleea.


"Waaahh.... Evan sangat banyak membantu kita Aleea," ucap Tika senang.


"Iya, aku berhutang banyak padanya, entah bagaimana caraku membalas semua kebaikannya padaku," ucap Aleea.

__ADS_1


Setelah menu baru mereka selesai dibuat, merekapun mulai mencobanya lalu menyiapkan properti lain untuk mengambil gambar yang sesuai dengan gaya sosial media toko kue mereka.


"Aku sudah mengambil beberapa gambar, setelah aku mengeditnya, aku akan mengirimkannya padamu dan kau bisa mengunggahnya di sosial media," ucap Tika.


Aleea menganggukkan kepalanya penuh semangat. Selain membuat sendiri kue dan roti yang mereka jual, Aleea juga berperan sebagai admin sosial media toko kue mereka, sedangkan Tika fokus dengan foto dan editing agar sosial media toko kue mereka lebih menarik.


Meskipun baru berkecimpung di dunia baru itu, tetapi Aleea dan Tika bisa membagi tugas dengan baik. Mereka saling mendukung dan belajar dari satu sama lain. Tidak ada satu dari mereka yang merasa iri atau cemburu, mereka benar-benar melakukan semua pekerjaan mereka dengan baik dan penuh semangat.


"Aaahh ya, siapa yang menjemputmu tadi Aleea, saudaramu?" tanya Tika pada Aleea saat mereka sedang beristirahat.


"Namanya Rania, dia adik....."


Aleea menghentikan ucapannya, ia ragu untuk mengatakan nama Nathan di depan Tika karena sejak mereka berteman sampai sedekat saat itu, Aleea sama sekali tidak pernah membicarakan tentang Nathan pada Tika.


"Adik Nathan," lanjut Aleea.


"Aaahhh adik ipar rupanya," ucap Tika dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Aleea hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Selama ini ia merasa nyaman berteman dengan Tika karena Tika tidak pernah menyinggung masalah pribadinya sama sekali, termasuk tentang pernikahannya.


Jadi, Aleea akan merasa sangat canggung jika tiba-tiba Tika membicarakan tentang hal itu dan tentu saja itu akan membuat Aleea tidak nyaman.


"Coba ceritakan padaku tentang masa kecilmu Aleea, aku ingin mendengarnya!" ucap Tika yang membuat Aleea cukup terkejut.


Bagaimana tidak, Aleea yang hilang ingatan sama sekali tidak mengingat apapun tentang masa kecilnya, bahkan tidak ada satupun yang ia ingat sebelum ia sadar di rumah sakit bersama Nathan yang menemaninya.


"Tidak ada yang menarik dari masa kecilku Tika, bagaimana denganmu?" balas Aleea bertanya.


"Masa kecilku sangat menyenangkan Aleea, aku memiliki satu teman baik yang tidak akan pernah bisa aku lupakan sampai sekarang, aku biasa memanggilnya Tata," jawab Tika bercerita.


"Kalian pasti sangat dekat," ucap Aleea.


"Kau benar, kita sudah seperti saudara karena kita sangat dekat, meskipun banyak orang memanggilnya dengan nama yang berbeda, tetapi aku selalu memanggilnya dengan nama Tata dan dia selalu tersenyum senang saat mendengar nama itu," ucap Tika.


Tanpa sadar kedua mata Tika berkaca-kaca saat ia mengingat tentang kebersamaannya bersama teman masa kecilnya.


Tika kemudian beranjak dari duduknya, menghindar dari Aleea agar Aleea tidak melihatnya bersedih saat itu.


"Aaahh ya, weekend nanti sepertinya aku tidak bisa datang ke ruko, Rania mengajakku berlibur saat weekend nanti," ucap Aleea pada Tika.


"Kau memang harus menyempatkan waktumu untuk berlibur Aleea, terlalu banyak bekerja bisa membuatmu stres," balas Tika.


Aleea hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Ia memang ingin pergi berlibur, tapi bukan dengan Nathan dan berlibur dengan Nathan sudah pasti akan membuatnya semakin stres karena harus bersandiwara di depan Rania.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 6 petang saat Aleea dan Tika bersiap-siap untuk pulang.


Ponsel Aleea berdering, sebuah panggilan masuk dari Evan.


"Halo Aleea, apa kau masih ada di ruko?" tanya Evan setelah Aleea menerima panggilannya.


"Iya aku di ruko tapi sebentar lagi akan pulang," jawab Aleea.


"Bisakah kau menungguku sebentar? sebentar lagi aku sampai disana!"


"Baiklah," balas Aleea.


"Apa Evan akan datang?" tanya Tika yang dibalas anggukan kepala oleh Aleea.


Benar saja, tak lama kemudian tampak mobil Evan yang mendekat ke arah halaman ruko. Evan kemudian keluar dari mobilnya, menghampiri Aleea dan Tika.


"Karena Evan sudah datang, aku pulang dulu!" ucap Tika pada Aleea.


"Hati-hati di jalan Tika," ucap Aleea yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tika.


"Ayo, aku akan mengantarmu!" ucap Evan sambil membuka pintu mobilnya.


Aleea kemudian masuk dan Evanpun segera mengendarai mobilnya meninggalkan ruko.


"Aku sangat berterima kasih karena kau menjemputku Evan, tapi tidak perlu terlalu sering melakukannya karena aku bisa pulang menggunakan taksi," ucap Aleea pada Evan.


"Aku sengaja menjemputmu karena aku juga ingin bertemu dengan Nathan, Aleea," balas Evan beralasan.


"Aaahhh begitu, baiklah," ucap Aleea dengan menganggukkan kepalanya.


"Tapi jika kau kesulitan mendapatkan taksi, kau bisa menghubungiku Aleea, bahaya jika kau terlalu lama sendirian di depan ruko saat malam hari, apa lagi saat ruko lain di sebelahmu sudah tutup," ucap Evan.


"Iya, aku mengerti," balas Aleea.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di rumah Nathan. Aleea dan Evan keluar dari mobil bersamaan.


"Apa aku boleh ikut masuk untuk menemui Nathan?" tanya Evan pada Aleea.


"Tentu saja," jawab Aleea.


Merekapun membawa langkah mereka masuk ke dalam rumah, menaiki tangga bersama sampai akhirnya Aleea menghentikan langkahnya di depan kamarnya.

__ADS_1


Tiba-tiba terlihat Nathan yang baru saja keluar dari kamarnya dan melihat Evan yang sedang bersama Aleea di depan kamar Aleea.


"Terima kasih sudah mengantarku Evan," ucap Aleea yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Evan.


Aleea kemudian masuk ke kamarnya seolah tidak menyadari keberadaan Nathan disana, sedangkan Nathan segera membawa langkahnya ke arah ruang kerjanya diikuti oleh Evan yang berjalan di belakangnya.


"Sepertinya akhir-akhir ini kau selalu bersamanya!" ucap Nathan sambil membuka salah satu map yang ada di atas meja kerjanya.


"Iya, apa kau keberatan?" balas Evan.


"Tidak, aku tidak peduli," jawab Nathan.


"Benarkah?" tanya Evan yang sengaja menggoda Nathan.


"Dia selalu pergi dari rumah pagi-pagi sekali dan pulang sangat malam, aku tidak peduli dengan hal itu asalkan dia tidak melakukan sesuatu yang merugikanku," jawab Nathan.


**


Hari-hari telah berganti. Tiba saatnya bagi Aleea, Nathan, Evan dan Rania untuk pergi berlibur.


Mereka sudah bersepakat untuk pergi dengan menggunakan mobil Nathan. Setelah menjemput Rania, Nathan kemudian mengendarai mobilnya menjemput Evan bersama Aleea yang duduk di sampingnya.


Setelah menjemput Evan, Nathan mengendarai mobilnya meninggalkan batas kota. Selama dalam perjalanan, mereka banyak mengobrol, terutama Evan dan Rania.


Sebelum sampai di tujuan, mereka membeli makanan ringan dan minuman yang cukup banyak karena villa yang akan mereka tempati nanti cukup jauh dari minimarket.


Setelah membeli semua yang mereka inginkan, mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Sesampainya di villa, mereka disambut oleh bibi yang memang bertugas untuk menjaga villa itu bersama suaminya. Jadi, selama mereka disana, bibi yang akan menyiapkan semua kebutuhan mereka.


"Selamat datang tuan Nathan, bibi sudah menyiapkan makanan di meja makan, silakan masuk," ucap bibi pada Nathan.


"Terima kasih Bi," balas Nathan lalu meraih tangan Aleea, menggandengnya masuk ke dalam vila.


Aleea yang merasa canggung hanya bisa menerima apa yang Nathan lakukan padanya agar tidak membuat Rania curiga pada hubungan mereka berdua.


"Waaahhh ada banyak makanan dan buah-buahan!" ucap Rania senang.


Rania kemudian mengambil satu potong melon lalu menyuapkannya pada Evan.


"Bagaimana kak? manis?" tanya Rania.


"Manis," jawab Evan dengan menganggukkan kepalanya.


"Aaahhh ya, apa kak Aleea pernah kesini sebelumnya?" tanya Rania pada Aleea.


Aleea seketika membawa pandangannya pada Nathan karena sudah pasti ia tidak mengingatnya.


"Tidak, Aleea belum pernah kesini," sahut Nathan.


"Kenapa? apa....."


"Sudahlah Rania, jangan terlalu banyak bertanya, lebih baik kita makan sebelum makanannya dingin," ucap Evan memotong ucapan Rania.


"Baiklah," balas Rania.


Merekapun menikmati makan siang mereka disana. Beberapa kali Aleea memperhatikan, Rania tampak sangat manja pada Evan. Rania bahkan beberapa kali menyuapi Evan buah ataupun makanan yang ada di hadapannya.


"Kemana kita akan pergi setelah ini?" tanya Nathan.


"Bagaimana jika kita pergi ke kebun belakang?" balas Rania memberi saran.


"Ada apa di kebun belakang?" tanya Evan.


"Ada strawberry yang siap panen, Rania sudah tidak sabar ingin memakan strawberry langsung dari kebun," jelas Rania.


"Kau harus mencucinya sebelum memakannya Rania," ucap Evan.


"Tapi jika hanya makan satu atau dua buah langsung dari kebunnya tidak akan membuat Rania keracunan bukan?"


"Baiklah, terserah kau saja," balas Evan yang membuat Rania terkekeh.


Setelah menghabiskan makanan mereka, mereka kemudian keluar dari villa untuk berjalan ke arah kebun yang berada di belakang villa.


Rania berjalan di depan bersama Evan, sedangkan Aleea berada di belakang bersama Nathan.


Saat tengah berjalan di jalan berbatu, Aleea tiba-tiba berteriak karena terpeleset hingga membuatnya jatuh terduduk.


Evan yang berada di depan Aleea seketika menghentikan langkahnya dan segera menghampiri Aleea.


"Apa kau terluka, Aleea?" tanya Evan khawatir.


"Kakiku sakit sekali Evan, sepertinya aku tidak bisa menggerakkan kakiku," ucap Aleea merintih sambil memegang pergelangan kakinya yang terasa sakit.


Tanpa pikir panjang, Evan segera mengangkat tubuh Aleea, membawa Aleea kembali ke arah villa.

__ADS_1


Sedangkan Nathan dan Rania hanya terdiam melihat apa yang baru saja terjadi.


__ADS_2