Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Teguran untuk Vina


__ADS_3

Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evan dan Aleeapun sampai di tempat tujuan mereka.


"Apa acaranya ada di dalam gedung, Evan?" Tanya Aleea saat Evan baru saja memarkirkan mobilnya di depan sebuah gedung.


"Acara pembukaannya dilakuan disini, setelah itu kita akan diajak untuk pergi ke florist yang ada di bagian belakang gedung ini," jawab Evan.


Aleea hanya menganggukkan kepalanya pelan mendengar penjelasan Evan.


Saat baru saja memasuki gedung, Evan dan Aleea diberikan sampel produk parfum yang terbuat dari ekstrak beberapa macam bunga yang dijadikan satu.


"Wanginya sangat menenangkan Evan," ucap Aleea pada Evan.


"Kau benar, apa kau menyukainya?" Balas Evan sekaligus bertanya.


"Sepertinya aku harus membelinya, ini akan menjadi parfum kesukaanku yang baru," jawab Aleea.


Evan dan Aleea kemudian berjalan ke setiap sudut ruangan dimana banyak gambar-gambar bunga dan tanaman berserta penjelasannya.


Lebih dari 2 jam Aleea dan Evan berada di acara pameran bunga sekaligus opening florist di tempat itu.


Setelah mengikuti semua acara yang berlangsung dan membeli beberapa bunga yang Aleea inginkan, Aleea dan Evan kemudian meninggalkan tempat itu.


Evan mengendarai mobilnya mengantarkan Aleea pulang ke rumahnya.


"Bagaimana? kau tidak menyesal bukan?" tanya Evan pada Aleea yang duduk di sampingnya.


"Sama sekali tidak, aku benar-benar sangat senang hari ini, terima kasih Evan," jawab Aleea.


"Aku tahu kau tidak akan menyesal, itu kenapa aku memaksamu untuk tetap datang meskipun tidak bersama dengan Nathan," ucap Evan.


Aleea hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan, apapun mendengar nama Nathan membuat Aleea kembali merasa kecewa pada Nathan yang melupakan janjinya.


"Evan, apa aku salah jika aku merasa Nathan tidak benar-benar mencintaiku?" tanya Aleea dengan menundukkan kepalanya.


"Kenapa kau bertanya seperti itu Aleea? apa karena Nathan tidak bisa menemanimu hari ini?" balas Evan bertanya.

__ADS_1


"Tidak hanya karena hal itu Evan, tetapi aku merasa jika aku tidak pernah menjadi prioritas bagi Nathan, selalu ada saja hal lain yang menjadi prioritasnya," ucap Aleea.


"Aku tahu hubunganmu dengan Nathan mungkin terasa sulit, tetapi percayalah Aleea Nathan benar-benar mencintaimu, karena ingatanmu yang hilang kau tidak hanya lupa tentang dirimu sendiri tapi juga tentang bagaimana hubunganmu dan Nathan di masa lalu," ucap Evan.


"Kau yang dulu selalu mengerti dan menerima bagaimana Nathan memperlakukanmu, mungkin sekarang berbeda dengan apa yang kau rasakan saat ini karena ingatanmu yang sudah hilang, tetapi aku yakin lambat laun kau pasti bisa memahaminya," lanjut Evan.


Aleea hanya diam tanpa mengatakan apapun, karena tidak hanya satu atau dua kali Nathan mengecewakannya dan itu membuatnya cukup ragu tentang bagaimana mereka menjalani hubungan mereka di masa lalu.


"Aku tahu semua ini tidak mudah untukmu Aleea dan aku yakin ini semua juga tidak mudah untuk Nathan, apalagi keberadaan Vina yang berusaha untuk mengganggu hubungan kalian, tapi aku harap kau tidak terpengaruh dengan keberadaan Vina," ucap Evan.


"Kedekatan mereka sudah di luar batas Evan, tetapi Nathan tidak pernah menyadari hal itu!" ucap Aleea.


"Tentang apa yang terjadi semalam sepertinya Vina sengaja berbohong padamu, karena Nathan sama sekali tidak mabuk, dia juga tidak sadar jika Vina mengambil ponselnya dan mungkin menghapus semua panggilanmu di ponsel Nathan," ucap Evan.


"Apa Nathan yang memberitahumu?" tanya Aleea yang dibalas anggukan kepala oleh Evan.


"Dan kau mempercayainya begitu saja?" tanya Aleea


"Aku sangat mengenal Nathan, Aleea," jawab Evan.


"Apapun yang terjadi pada hubunganmu dengan Nathan, jangan pernah membiarkan Vina menang Aleea, kemarahanmu dan kecemburuanmu adalah kemenangan bagi Vina, kau tahu itu bukan?" ucap Evan.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? terkadang aku bahkan merasa jika Nathan lebih dekat dengan Vina daripada denganku!"


"Itu tidak benar Aleea, sudah pasti Nathan lebih dekat denganmu, dia juga mencintaimu karena dia menikahimu, untuk saat ini tetaplah bersabar dan terus membangun kedekatanmu dengan Nathan, jangan terlalu memikirkan Vina yang memang berniat untuk mengganggu hubungan kalian berdua," balas Evan.


"Kau harus menjadi perempuan yang lebih tangguh Aleea, kau harus menunjukkan kebahagiaanmu di depan orang-orang yang tidak menyukaimu, dengan begitu mereka akan merasa kalah darimu," lanjut Evan.


Mendengar apa yang Evan katakan, Aleeapun menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


Ia seperti mendapat dorongan baru untuk bisa menjalani hidupnya dengan lebih baik di tengah kekacauan pikirannya karena kehilangan memorinya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evanpun sampai di rumah Aleea.


"Sepertinya Nathan belum pulang, apa kau mau mampir?" ucap Aleea sekaligus bertanya.

__ADS_1


"Aku akan langsung pulang, tapi sebelum itu aku ingin memberikan ini padamu," jawab Evan sambil memberikan sebuah bingkisan pada Aleea.


"Waaahhh..... sepertinya aku mengenali baunya," ucap Aleea sambil membuka bingkisan itu dan mendapati satu botol parfum dengan wangi yang ia suka.


"Sudah kuduga ini adalah parfum yang aku suka, kau membeli ini untukku Evan?" ucap Aleea sekaligus bertanya yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Evan.


"Terima kasih banyak Evan, aku akan selalu memakainya mulai sekarang," ucap Aleea.


Aleea kemudian keluar dari mobil Evan diikuti Evan yang membantu Aleea menurunkan beberapa bunga yang dibeli oleh Aleea.


"Terima kasih untuk hari ini, aku benar-benar sangat senang," ucap Aleea setelah Evan menurunkan semua bunga yang dibelinya.


"Aku juga senang karena bisa menemanimu Aleea, sekarang aku pergi dulu," ucap Evan yang dibalas anggukan kepala oleh Aleea.


Sepeninggalan Evan, Aleea segera masuk ke dalam rumah, berganti pakaian lalu menanam tanaman dan bunga-bunga yang baru saja dibelinya.


**


Di tempat lain, Nathan sedang mengemasi barang-barangnya lalu keluar dari kamarnya dengan membawa tas ranselnya.


"Kau mau kemana Nathan? kau tidak mungkin pulang sekarang bukan?" tanya Vina pada Nathan.


"Kenapa tidak mungkin? aku bisa pulang kapanpun yang aku inginkan," balas Nathan.


"Ada apa denganmu? apa kau marah padaku?" tanya Vina yang merasa Nathan mengabaikannya.


Nathan menghela nafasnya kesal lalu menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya menatap Vina.


"Kita memang dekat Vina, tapi sebagai partner kerja dan aku selalu menyukai hasil pekerjaanmu yang sempurna tapi bukan berarti kau bisa melakukan apapun yang kau mau termasuk mengambil ponselku dan menerima panggilan Aleea tanpa sepengetahuanku!" ucap Nathan.


"Aku..... aku hanya......"


"Aku tidak menerima apapun alasanmu, sekarang aku akan pergi dan aku tidak peduli bagaimana kau akan pulang, anggap ini sebagai balasan karena sikapmu yang sudah keterlaluan!" ucap Nathan memotong ucapan Vina lalu berjalan pergi begitu saja.


Vinapun hanya diam di tempatnya dengan mengepalkan kedua tangannya kesal.

__ADS_1


__ADS_2