
Saat Aleea sedang duduk di depan ruang UGD, dua orang polisi menghampiri Aleea untuk menanyakan beberapa pertanyaan.
Aleeapun hanya menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan polisi, karena memang ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu.
Yang Aleea tau hanya saat Evan menyelamatkannya dari motor yang melaju kencang, Aleea bahkan tidak sempat melihat seperti apa dan berapa plat nomor motor itu.
Setelah menyelesaikan urusannya dengan Aleea, polisi itupun pergi. Tak lupa mereka memberikan tas milik Aleea dan sebuah ponsel yang mereka temukan di lokasi kejadian.
"Aku harus menghubungi Nathan!" ucap Aleea setelah 2 polisi itu pergi.
Seperti biasa, Nathan tidak segera menerima panggilan Aleea, membuat Aleea begitu kesal. Aleea kemudian mengirim pesan pada Nathan.
"Nathan, aku sedang di rumah sakit, Evan mengalami kecelakaan."
Setelah pesannya terkirim, tak lama kemudian Nathan menghubunginya.
"Aleea, dimana kau sekarang? bagaimana keadaan Evan?" tanya Nathan tanpa basa-basi.
"Aku di rumah sakit X, aku belum tahu bagaimana keadaan Evan, dokter masih memeriksanya, aku....."
Tuuuutttt tuuuutttt tuuuutttt
Panggilan terputus. Aleea hanya menghela napasnya lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas bersama ponsel Evan yang ia bawa.
Di tempat lain, Nathan yang mendengar jika Evan mengalami kecelakaan begitu terkejut dan segera meninggalkan tempatnya untuk menuju rumah sakit yang dimaksud Aleea.
Nathan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh agar ia segera sampai di rumah sakit.
"Kau tidak boleh meninggalkanku Evan, kau harus selalu ada di sampingku, tidak ada yang boleh memisahkan persahabatan kita bahkan maut sekalipun!" ucap Nathan dengan kedua matanya yang fokus pada jalan raya di hadapannya.
Seketika memori Nathan kembali mengulas kejadian bertahun-tahun yang lalu saat Evan mengalami kecelakaan karena membantunya kabur dari rumah.
Rasa bersalah yang penuh kesedihan seolah kembali menguasai dirinya saat itu. Melihat Evan yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit benar-benar membuat Nathan bersedih.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nathanpun sampai di rumah sakit dan segera berlari ke arah ruang UGD.
Sesampainya disana, dilihatnya Aleea yang duduk di depan ruang UGD. Nathanpun segera menghampiri Aleea dan dengan kasar menarik tangan Aleea agar berdiri.
"Apa yang terjadi padanya Aleea? kenapa kau baik-baik saja jika kalian berdua baru saja mengalami kecelakaan?" tanya Nathan pada Aleea
"Aku hampir tertabrak motor di depan restoran dan Evan menyelamatkanku, tapi kepalanya terbentur dan dia pingsan dengan darah yang keluar dari kepalanya," jelas Aleea dengan air mata yang kembali luruh, khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada Evan.
"Kenapa kau tidak menjaga dirimu dengan baik Aleea? kenapa kau membahayakan dirimu dan membuat orang lain mempertaruhkan nyawanya untukmu?" tanya Nathan penuh emosi karena ia berpikir jika Aleea lah penyebab kecelakaan itu terjadi.
"Aku juga tidak tahu hal itu akan terjadi Nathan, aku juga tidak menyangka jika Evan akan melakukan hal itu," balas Aleea membela diri.
"Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Evan, kau yang harus disalahkan Aleea, kau penyebab Evan menderita disini dan jika itu terjadi aku tidak akan pernah me....."
Nathan menghentikan ucapannya saat dokter dan beberapa suster keluar dari ruangan UGD.
"Bagaimana keadaan teman saya dok? apa dia baik-baik saja?" tanya Nathan pada dokter.
"Untunglah pasien sampai di rumah sakit tepat waktu, jadi pendarahan di kepalanya bisa segera di tangani, pasien mengalami pendarahan di kepalanya, tapi itu bukan hal yang perlu di khawatirkan," jelas dokter.
"Apa kita harus melakukan melakukan CT SCAN, MRI atau yang lainnya dok?" tanya Nathan.
"Untuk saat ini tidak perlu, mari kita lihat bagaimana responnya saat dia sudah sadar nanti, setelah itu kita bisa menentukan apakah perlu tindakan lanjutan atau tidak," balas dokter.
"Baik dok, terima kasih, tolong tempatkan dia di ruang rawat VIP dok, saya yang akan menjadi walinya dan bertanggung jawab sepenuhnya," ucap Nathan.
"Baik, saya akan meminta perawat untuk memindahkannya ke ruang rawat VIP," balas dokter lalu berjalan pergi bersama para suster.
Setelah Evan dipindahkan ke ruang rawat VIP, Nathanpun masuk untuk melihat keadaan Evan, begitu juga Aleea yang ingin melihat keadaan Evan.
Namun sebelum Aleea melangkah masuk, Nathan sudah menahan Aleea di depan pintu.
"Pergilah, kau tidak dibutuhkan disini!" ucap Nathan pada Aleea.
"Aku hanya ingin melihat keadaan Evan, Nathan," balas Aleea.
__ADS_1
"Tidak perlu, bukankah kau mendengar apa yang dokter katakan? dia baik-baik saja!"
"Tapi...."
"Pergilah Aleea, keberadaanmu hanya membuatku semakin marah padamu!" ucap Nathan dengan nada tinggi.
"Baiklah aku akan pergi, tapi apa kau sudah menghubungi keluarganya? apa....."
"Diamlah Aleea, kau tidak tahu apapun tentang Evan, jadi sebaiknya pergi sekarang sebelum aku kehilangan kesabaranku!" ucap Nathan memotong ucapan Aleea dengan tatapan tajam.
Aleeapun hanya diam dengan kedua matanya yang berkaca-kaca, sedangkan Nathan segera masuk ke ruangan Evan lalu menutup pintu ruangan Evan.
"Aku juga tidak ingin hal ini terjadi Nathan, aku juga tidak tau jika hal buruk ini akan terjadi, kenapa kau sangat marah padaku? bukan aku yang bersalah Nathan, bukan aku," ucap Aleea dalam hati dengan genangan air di kedua matanya yang perlahan menetes.
Aleea kemudian membawa langkahnya pergi sambil menghapus air matanya. Tidak hanya keadaan Evan yang membuatnya bersedih, tapi juga sikap Nathan yang memperlakukannya dengan sangat kasar.
"Maafkan aku Evan," ucap Aleea pelan dengan berusaha mengatur napasnya agar bisa menghentikan air mata yang terus luruh dari kedua sudut matanya.
Aleea kemudian keluar dari rumah sakit, memesan taksi yang mengantarnya pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan, Aleea masih memikirkan sikap Nathan padanya. Entah mengapa ia merasa sikap Nathan terlalu berlebihan padanya.
"Kenapa kau sangat marah padaku Nathan? apa kau berpikir jika sebaiknya aku saja yang terbaring di rumah sakit?" batin Aleea bertanya dalam hati.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Aleeapun sampai di rumahnya. Dengan langkah yang penuh kesedihan, Aleea berjalan masuk ke dalam rumah lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya.
"Semoga kau baik-baik saja Evan, maaf sudah membuatmu terlibat hal buruk seperti ini, jika saja aku bisa memutar waktu, lebih baik aku tidak merasakan kebahagiaanku saat bersamamu jika akhirnya kau harus terbaring di rumah sakit karena aku," ucap Aleea dengan menatap langit-langit kamarnya.
Aleea kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan baru menyadari jika ada ponsel Evan di dalam tasnya.
"Aku harus mengembalikan ponsel ini padanya, aku akan menemuinya sendiri besok," ucap Aleea lalu kembali menyimpan ponsel Evan di dalam tasnya.
**
Di tempat lain, sudah cukup lama Nathan hanya duduk di samping ranjang Evan, sampai akhirnya Nathan melihat Evan yang mulai mengerjap dengan perlahan.
"Evan, kau sudah sadar?" tanya Nathan yang melihat Evan membuka matanya dengan pelan.
Dokter segera memeriksa keadaan Evan dan memastikan jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari keadaan Evan.
"Dimana Aleea, Nathan? apa dia baik-baik saja?" tanya Evan pada Nathan setelah dokter keluar dari ruangannya.
"Kenapa kau menanyakannya saat kau baru baru sadar? apa kau tidak tahu bagaimana khawatirnya aku saat aku mendengar kau mengalami kecelakaan?" balas Nathan kesal.
"Kau mengkhawatirkanku?" tanya Evan dengan menahan senyumnya.
"Tentu saja, aku..... aku takut..... kejadian di masa lalu terulang lagi," jawab Nathan dengan mengalihkan pandangannya.
"Aku baik-baik saja Nathan, jadi bagaimana dengan Aleea? dia baik-baik saja bukan?"
"Dia baik-baik saja dan aku sudah mengusirnya dari sini," jawab Nathan.
"Mengusirnya? apa maksudmu?" tanya Evan.
"Dia yang sudah membuatmu seperti ini Evan, melihatnya disini hanya akan membuatku semakin marah padanya, jadi aku memaksanya untuk pergi," jawab Nathan.
"Ini sama sekali bukan kesalahan Aleea, Nathan!" ucap Evan.
"Berhentilah memikirkan Aleea, Evan!" balas Nathan.
"Ada apa denganmu? kenapa kau bersikap seperti ini? orang-orang akan berpikir jika kita memiliki hubungan yang tidak benar jika mereka tahu bagaimana sikapmu saat ini!"
"Aku tidak peduli, aku hanya tidak ingin kejadian di masa lalu terulang lagi, aku tidak ingin lagi merasakan rasa sakit dan rasa bersalah itu, Evan!" ucap Nathan.
"Astaga Nathan, itu sudah lama berlalu dan kita berhasil melewati masa-masa buruk itu, sekarang hubungi Aleea dan...."
"Tidak Evan, berhentilah memikirkan Aleea dan berhentilah melakukan hal bodoh hanya untuk menyelamatkan orang lain, jangan pernah mengorbankan hidupmu hanya demi orang lain dan mulailah belajar untuk memikirkan dirimu sendiri, Evan!" ucap Nathan memotong ucapan Evan.
"Tenanglah Nathan, kendalikan ketakutanmu tentang masa lalu buruk itu, aku tau apa yang harus aku lakukan dan aku pastikan hal buruk itu tidak akan terulang lagi!" ucap Evan.
__ADS_1
"Bagaimana kau akan memastikannya sedangkan kau masih bersikap bodoh seperti ini?" balas Nathan.
Evan menghela napasnya panjang dan hanya diam menatap Nathan. Evan mengerti kenapa Nathan begitu mengkhawatirkannya, tetapi itu bukan alasan untuk menyalahkan Aleea atas apa yang terjadi.
"Semenjak ada Aleea hidupku menjadi lebih rumit, aku harus berpura-pura mencintainya, dan menerima semua hal yang tidak aku suka darinya, aku bermasalah dengan Vina sampai akhirnya aku melakukan hal bodoh hanya untuk menahan Vina di kantor yang membuatku kehilangan kesempatan besar yang papa janjikan padaku," ucap Nathan.
"Tidak Nathan, kau merenggut kehidupan Aleea hanya untuk kepentinganmu sendiri, selebihnya kau sendiri yang membuat semuanya berantakan," balas Evan.
"Apapun itu, mulai sekarang kau tidak perlu lagi berurusan dengan Aleea, aku juga sudah tidak peduli padanya," ucap Nathan.
"Apa kau akan menceraikannya?" tanya Evan.
"Tidak, aku akan membiarkannya tetap berada di sarangku, tetapi aku akan berhenti berpura-pura, aku tidak akan menghabiskan waktuku hanya untuk berpura-pura mencintainya," jawab Nathan.
"Lalu bagaimana dengannya? apa kau sama sekali tidak memikirkannya?" tanya Evan.
"Tidak, kau juga tidak perlu memikirkannya lagi, terserah apa yang akan dia lakukan, aku sudah tidak peduli lagi," jawab Nathan.
"Bagaimana jika dia bertemu dengan seseorang di masa lalunya? bagaimana jika dia....."
"Aku tidak peduli Evan, bahkan jika ingatannya kembali pun aku sudah tidak peduli, dia tidak akan bisa pergi dariku jika bukan aku yang melepasnya pergi, kau tau itu," ucap Nathan memotong ucapan Evan.
"Jadi mulai sekarang, nikmati hidupmu seperti saat kau belum mengenal Aleea, aku tidak akan meminta tolong padamu lagi tentang apapun yang berhubungan dengan Aleea," lanjut Nathan.
"Tidak Nathan, aku tidak bisa melakukan hal itu," ucap Evan yang membuat Nathan terkejut.
"Apa maksudmu? apa yang tidak bisa kau lakukan?" tanya Nathan.
"Aku tidak bisa berpura-pura tidak mengenalnya, aku tidak bisa berhenti berurusan dengannya, apa yang terjadi padanya dan apa yang dia jalani sekarang adalah karena kebohongan yang kau ciptakan dan aku sudah cukup banyak terlibat dengan kebohongan itu Nathan," jelas Evan.
"Apa kau menyukainya? apa kau jatuh cinta padanya?" tanya Nathan.
"Ini bukan soal suka atau cinta, aku hanya merasa bersalah padanya, aku ikut andil dalam kebohongan yang kau ciptakan dalam hidupnya jadi bagaimana bisa aku mengabaikannya Nathan? hanya kau dan aku yang dia percaya saat ini!"
"Aku tidak peduli, aku hanya membutuhkannya tetap bersamaku sampai aku mendapatkan apa yang harus menjadi milikku, setelah papa mempercayaiku dan memberikan janjinya padaku, aku akan segera menceraikannya!" balas Nathan.
"Apa yang sebenarnya membuatmu tiba-tiba bersikap seperti ini padanya Nathan? bukankah kau bilang padaku jika kau akan memperlakukannya dengan baik meskipun kau tidak mencintainya?"
"Dia sudah mencelakakanmu Evan dan itu adalah kesalahan yang tidak bisa aku maafkan, lagi pula aku sudah muak berpura-pura mencintainya," jawab Nathan.
"Bukan Aleea yang...."
"Berhentilah membelanya Evan, kau hampir membuat jantungku berhenti berdetak saat aku mendengar kau mengalami kecelakaan, kau tidak akan pernah tau bagaimana takutnya aku jika aku harus menghadapi hal yang sama seperti dulu!" ucap Nathan memotong ucapan Evan.
"Jadi aku mohon padamu, berhentilah bertindak bodoh dan membahayakan nyawamu hanya demi orang lain, kau akan menghancurkan hidupku jika kau membiarkan dirimu mengalami hal buruk yang aku takutkan!" lanjut Nathan.
"Tapi jangan memasakku untuk menjauhi Aleea, setidaknya aku bisa menebus rasa bersalahku padanya dengan bersikap baik padanya," ucap Evan.
"Asalkan kau berjanji untuk tidak membahayakan nyawamu lagi!" ucap Nathan.
Evan hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.
Entah apa yang akan terjadi pada Aleea setelah ini, tapi Evan berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap ada di saat Aleea membutuhkannya.
Evan juga masih memiliki harapan yang sama, membuat Nathan luluh dengan keberadaan Aleea di dekatnya.
Meskipun harapannya saat ini terasa semakin jauh, tapi Evan yakin, akan selalu ada jalan di setiap harapannya.
Waktu berlalu, sudah berjam-jam Nathan menemani Evan di rumah sakit.
"Pulanglah Nathan, aku bosan melihatmu disini!" ucap Evan pada Nathan.
"Untuk apa aku pulang, aku hanya semakin emosi jika melihat Aleea di rumah," balas Nathan.
"Jika kau tidak pergi, aku akan memanggil dokter agar mengusirmu dari sini, aku akan memberi tahu dokter jika keberadaanmu sangat menggangguku disini!" ucap Evan mengancam.
"Seperti ini balasanmu padaku yang sudah memberikan ruangan terbaik di rumah sakit ini?" tanya Nathan.
"Aku sedang belajar untuk memikirkan diriku sendiri, bukankah itu yang kau katakan padaku tadi!" jawab Evan dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Baiklah aku akan pergi, hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu!" ucap Nathan lalu berjalan keluar dari ruangan Evan.