
Aleea yang baru saja menyelesaikan urusannya di toilet segera membawa langkahnya ke arah Nathan yang masih berdiri di tempatnya.
Namun saat itu Nathan tidak sendiri karena ada seorang gadis cantik berambut pirang yang berdiri di samping Nathan.
"Apa dia yang kita tunggu?" tanya Aleea pada Nathan sambil membawa pandangannya pada gadis cantik yang berusaha menyembunyikan wajahnya dari Aleea.
"Iya, dia adikku, Rania," jawab Nathan.
"Sepertinya dia pemalu," ucap Aleea dengan tersenyum.
"Tidak biasanya dia seperti ini, ada apa denganmu Rania?" ucap Nathan sekaligus bertanya sambil memegang kedua bahu Rania agar berbalik menghadap Aleea.
Rania hanya terdiam dengan memejamkan matanya, tidak berani menatap Aleea yang sudah ada di hadapannya.
Rania merasa tidak siap jika harus menerima kemarahan Aleea saat itu.
"Apa kau baik-baik saja Rania?" tanya Aleea pada Rania yang masih tertunduk dengan memejamkan matanya.
"Ada apa denganmu Rania? sepertinya tadi kau baik-baik saja," tanya Nathan yang tidak mengerti dengan sikap Rania yang tiba-tiba berubah.
"Mungkin dia kelelahan, sebaiknya kita segera membawanya pulang," ucap Aleea sambil memegang bahu Rania dan mengajaknya berjalan pergi.
Raniapun hanya diam dengan mengikuti langkah Aleea dan Nathan untuk masuk ke dalam mobil.
Sial bagi Rania, bukannya duduk di depan, Aleea justru duduk di samping Rania karena mengkhawatirkan keadaan Rania saat itu.
"Apa kita perlu pergi ke rumah sakit Rania?" tanya Aleea dengan menundukkan kepalanya untuk menatap Rania yang sedari tadi tertunduk.
Rania hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Ia sedikit heran karena Aleea seperti tidak mengenalnya saat itu.
"Kenapa dia bersikap biasa saja? dia pasti sudah melihat wajahku bukan? apa mungkin dia lupa jika dia pernah bertemu denganku sebelumnya? apa mungkin dia bukan perempuan yang waktu itu aku lihat? tapi tidak mungkin, aku yakin dia adalah perempuan yang aku lihat saat itu," batin Rania penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Berbaringlah di bahuku Rania, pejamkan matamu, aku akan membangunkanmu saat kita sudah tiba di rumah," ucap Aleea sambil membawa kepala Rania bersandar di bahunya.
"Aku yakin dia adalah perempuan yang sama, tapi kenapa dia bersikap seolah tidak pernah melihatku? apa mungkin dia hanya berpura-pura?" batin Rania bertanya dalam hati.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nathanpun sampai di rumah orang tuanya. Nathan, Aleea dan Raniapun keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Aku harus memastikan, apakah dia berpura-pura tidak mengenalku atau memang dia sudah lupa padaku," ucap Rania dalam hati.
"Mama dan papa sedang tidak ada di rumah, jadi lebih baik segera masuk ke kamarmu untuk beristirahat," ucap Nathan pada Rania.
"Aku akan mengantarnya," ucap Aleea yang mengantar Rania masuk ke dalam kamar Rania.
Kini hanya ada Aleea dan Rania di dalam kamar. Rania memberanikan dirinya untuk bertanya pada Aleea.
"Kak, apa mungkin kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Rania pada Aleea.
"Bertemu? apa kita saling mengenal?" balas Aleea bertanya.
"Mungkin kau hanya bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Aleea, kau juga sudah lama tinggal di Paris dan Aleea hanya pernah pergi ke Paris satu kali saat bersamaku," lanjut Nathan.
"Aaahh iya, mungkin hanya seseorang yang mirip dengan kak Aleea," ucap Rania dengan menganggukkan kepalanya pelan.
"Beristirahatlah, kakak harus pulang, mungkin sebentar lagi mama dan papa akan sampai di rumah," ucap Nathan lalu keluar dari kamar Rania bersama Aleea.
Nathan kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah orang tuanya bersama Aleea yang duduk di sampingnya.
Sepanjang perjalanan, Aleea dan Nathan masih memikirkan ucapan Rania beberapa saat yang lalu.
"Apa aku sudah mengenal Rania sebelum aku kecelakaan, Nathan?" tanya Aleea pada Nathan.
"Tidak, kau sama sekali tidak mengenal anggota keluargaku sebelumnya, apa lagi Rania yang sudah lama tinggal di Paris," jawab Nathan.
__ADS_1
"Tapi....."
"Jangan terlalu memikirkannya Aleea, di dunia ini memang banyak orang yang memiliki wajah hampir mirip, jadi pasti Rania hanya salah mengenalimu," ucap Nathan memotong ucapan Aleea.
Aleea hanya menganggukkan kepalanya pelan mendengar ucapan Nathan dan memilih untuk tidak terlalu memikirkan apa yang Rania katakan padanya.
Di sisi lain, Nathan masih memikirkan tentang kemungkinan yang bisa saja terjadi tanpa ia ketahui.
"Apa benar Rania pernah bertemu Aleea sebelumnya? jika memang benar, apa mereka saling mengenal? sejauh apa Rania mengenal Aleea? aku harus segera memastikannya sebelum semuanya kacau," batin Nathan dalam hati.
Nathan tidak ingin ada sedikitpun kesalahan yang bisa merusak seluruh rencananya.
**
Di tempat lain, Rania masih memikirkan pertemuan pertamanya dengan Aleea. Semakin Rania berusaha mengingatnya semakin Rania yakin jika Aleea yang baru saja ia lihat adalah perempuan yang sama yang pernah ia lihat di Paris.
"Aku ingat, Bryan menyebut nama 'Aleea' saat itu, saat aku mengikuti mereka keluar dari bar, Bryan juga menyebut nama 'Aleea', tidak salah lagi, dia adalah Aleea yang pernah bertemu denganku di bar, dia adalah kekasih Bryan," ucap Rania yang sudah mengingat dengan jelas siapa Aleea sebenarnya.
Tapi tentu saja ada yang mengganjal di kepalanya mengenai hubungan Aleea dengan sang kakak, Nathan.
"Bagaimana mungkin Aleea menjadi kekasih kak Nathan bahkan menikah dengan kak Nathan, padahal dulu aku sangat mengingat dengan jelas saat Aleea mengatakan jika dia sudah bertunangan dengan Bryan, apa mungkin Aleea selingkuh?" tanya Rania tanpa ada yang memberinya jawaban.
Rania terdiam untuk beberapa saat, memikirkan tentang hubungan Aleea dengan Bryan dan Nathan. Rania ingat bagaimana Aleea terlihat sangat mencintai Bryan saat itu.
Aleea bahkan rela mencelakakan dirinya demi bisa mengambil cincin tunangannya yang Bryan buang ke jalan raya.
"Itu artinya Aleea memiliki maksud lain pada hubungannya dengan kak Nathan, aku harus memberi tahu kak Nathan semuanya, kak Nathan harus tau jika sebenarnya Aleea sudah bertunangan dengan laki-laki lain sebelumnya," ucap Rania yakin dengan apa yang dia pikirkan.
"Dia pasti berpura-pura tidak mengenalku agar aku tidak mengacaukan rencananya, wajah polosnya ternyata hanya tipuan, aku tidak akan membiarkan kak Nathan jatuh pada perempuan licik sepertinya," ucap Rania dengan menghela nafasnya panjang penuh kekesalan.
Rania yang tidak tahu apapun tentang rencana Nathan, membiarkan pikirkannya menyimpulkan sendiri beberapa hal yang ia ketahui.
__ADS_1
Sebagai seorang adik, ia hanya tidak ingin jika sang kakak menjatuhkan hatinya pada perempuan yang salah, tanpa Rania tahu jika sebenarnya yang penuh dengan rencana rahasia adalah sang kakak sendiri, Nathan.