
Cukup lama Vina menunggu di hotel tempat Nathan dan Aleea menginap. Berkali-kali ia membawa pandangan ke arah lift setiap ia mendengar suara lift yang terbuka.
Namun seseorang yang ia tunggu tidak juga menampakkan batang hidungnya bahkan setelah lama Vina menunggu.
"Kenapa mereka tidak juga keluar? padahal aku sudah ada disini sejak pagi, apa mereka meninggalkan hotel pagi-pagi sekali?" tanya Vina pada dirinya sendiri.
TRIIIING
Vina seketika membawa pandangannya ke arah lift dan hanya menghela napasnya kesal karena bukan Nathan ataupun Aleea yang keluar dari lift.
Vina kemudian mencari nama Nathan di penyimpanan kontaknya lalu menghubungi Nathan, tapi tidak terjawab.
Vina melakukannya sampai berkali-kali namun tetap saja tidak terjawab.
"Aaarrgghh menyebalkan sekali, dimana sebenarnya Nathan sekarang?"
Meskipun sangat kesal dan bosan karena sudah menunggu lama, tapi Vina masih berada di tempat duduknya.
Ia tidak mempunyai tujuan apapun selain ingin bersama Nathan saat ia berada disana dan ia tidak mengetahui dimana keberadaan Nathan karena Nathan tidak menerima panggilannya.
"Aaahh aku tau," ucap Vina dengan tersenyum lalu mengirim pesan pada Nathan.
"Perbedaan cuaca sepertinya membuatku demam, apa kau sungguh membiarkanku sendirian disini di saat aku demam seperti ini, Nathan?"
Setelah mengirim pesan itu, Vina kemudian beranjak dari duduknya.
"Sekarang aku hanya perlu menunggu Nathan di hotel," ucap Vina lalu berjalan keluar untuk menunggu taksi yang akan mengantarnya kembali ke hotel, tempat ia menginap.
Sesampainya di hotel, Vina berjalan masuk ke kamarnya lalu membaringkan dirinya di ranjang dengan mengenakan selimutnya.
Tanpa Vina ketahui, Nathan tidak akan mungkin membalas pesannya apa lagi datang menghampirinya karena Nathan sedang berada di rumah sakit.
**
Di rumah sakit, Nathan perlahan membuka matanya, mengedarkan pandangannya dan menyadari jika dirinya berada di rumah sakit saat itu.
"Dimana Aleea? apa dia meninggalkanku disini sendirian?" batin Nathan bertanya dalam hati.
Nathan kemudian mencoba untuk beranjak, namun tiba-tiba terdengar suara yang sangat Nathan kenali.
"Berhenti, apa yang mau kau lakukan?" ucap Aleea sekaligus bertanya sambil berjalan cepat menghampiri Nathan setelah ia keluar dari toilet yang ada di dalam ruangan Nathan.
"Kau..... kenapa kau ada disini?" tanya Nathan.
"Pertanyaan macam apa itu, kembalilah berbaring, keadaanmu masih sangat lemah, aku akan memanggil dokter agar memeriksa keadaanmu!" ucap Aleea lalu menekan tombol merah yang ada di dekat ranjang Nathan.
Tak lama kemudian dokterpun datang dan segera memeriksa keadaan Nathan. Dokter memberi tahu jika keadaan Nathan sudah membaik dan melarang Nathan untuk menggaruk bercak kemerahan di tangan dan wajahnya.
Dokter juga mengatakan agar Nathan tidak banyak melakukan aktivitas untuk mempercepat pemulihan keadaan ulu hatinya yang sempat terkena efek soda yang diminumnya.
Selain itu, dokter juga mengharuskan Nathan untuk tetap berada di rumah sakit setidaknya untuk 2 hari ke depan sampai keadaannya benar-benar sudah membaik.
Setelah menjelaskan semuanya, dokterpun keluar dari ruangan Nathan, meninggalkan Nathan dan Aleea berdua disana.
"Kau mengerti apa yang dokter katakan bukan? kau tidak boleh banyak bergerak agar ulu hatimu segera sembuh!" ucap Aleea pada Nathan.
Nathan hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun karena memang ia masih merasa sakit di bagian ulu hatinya.
"Seharusnya kau memberi tahuku jika kau alergi soda, kau tau aku tidak mengingat apapun tentang masa laluku, termasuk tentangmu!" ucap Aleea.
"Aku pikir itu bukan hal yang penting untuk dibicarakan," balas Nathan.
"Tentu saja itu penting, kau hampir celaka hanya karena campuran soda yang ada pada minuman yang aku pesan!" ucap Aleea.
"Tapi kau tidak memberi tahu mama tentang hal ini bukan?" tanya Nathan.
"Tidak, Evan melarangku untuk memberi tahu mama," jawab Aleea.
"Evan? apa kau memberi tahu Evan?" tanya Nathan.
"Iya aku memberi tahunya, sepertinya dia juga sangat mengkhawatirkanmu!" jawab Aleea.
"Tapi dia tidak akan pergi kesini bukan?" tanya Nathan.
"Tentu saja tidak, Evan tidak akan melakukan hal segila itu hanya karena dia mengkhawatirkanmu!" jawab Aleea.
"Kau tidak tau Aleea, dia bahkan....."
Nathan mengentikan ucapannya, ia tidak ingin terlalu banyak bercerita pada Aleea.
"Bahkan apa, Nathan?" tanya Aleea karena Nathan tidak melanjutkan ucapannya.
"Lupakan saja," jawab Nathan.
"Katakan Nathan, kau...."
__ADS_1
"Diamlah Aleea, aku ingin beristirahat, jangan berisik!" ucap Nathan memotong ucapan Aleea.
Aleea hanya menghela napasnya kesal lalu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah sofa yang sedikit jauh dari ranjang Nathan.
Ia memilih untuk duduk di sofa, membiarkan Nathan beristirahat agar keadaannya cepat pulih.
Sedangkan Nathan hanya berbaring dan diam, sengaja mengatakan hal itu pada Aleea agar Aleea berhenti memaksanya untuk bercerita.
Nathan tidak ingin mengingat lagi hal menakutkan yang pernah terjadi padanya di masa lalu, dimana ia hampir saja kehilangan nyawanya hanya karena soda.
Ya, Nathan pernah meminum soda dengan sengaja meskipun ia tahu jika ia mempunyai alergi soda. Tetapi Nathan tidak tahu jika efek yang ditimbulkan dari alergi itu sangat besar dan hampir menghilangkan nyawanya.
Beruntung saat itu ada Evan yang segera membawanya ke rumah sakit dan karena tindakan Evan, Nathan bisa terselamatkan meskipun harus mengalami kritis selama beberapa hari.
Sampai Nathan dewasa, ia tidak pernah melupakan kejadian itu, kejadian yang pada akhirnya membuatnya yakin jika Evan adalah seseorang yang layak dan tepat untuk menjadi sahabat baginya.
Di sisi lain, Aleea mengirim pesan pada Evan, memberi tahu Evan jika Nathan sudah sadar.
"Nathan sudah sadar, dokter bilang keadaannya sudah membaik, tetapi dia masih harus dirawat di rumah sakit setidaknya selama 2 hari sampai dia benar-benar pulih."
Tak lama kemudian ponsel Aleea berdering, sebuah panggilan masuk dari Evan yang segera menghubungi Aleea setelah Evan membaca pesan dari Aleea.
"Halo Aleea, apa kau masih bersama Nathan sekarang?" tanya Evan tanpa basa-basi setelah Aleea menerima panggilannya.
"Iya, aku bersamanya, apa kau mau berbicara dengannya?" balas Aleea.
"Jika kau tidak keberatan," ucap Evan.
"Tentu saja tidak, aku akan memberikan ponselku padanya," balas Aleea lalu berjalan ke arah Nathan kemudian memberikan ponselnya pada Nathan.
"Evan ingin berbicara denganmu!" ucap Aleea.
Nathanpun menerima ponsel Aleea.
"Halo Evan!"
"Apa kau gila? apa itu caramu menikmati liburan yang tidak kau inginkan?" tanya Evan dengan nada suara yang kesal.
"Apa maksudmu? apa kau ingin berbicara denganku hanya untuk memarahiku?" balas Nathan.
"Aku tidak akan marah jika kau tidak sebodoh itu Nathan, kau bahkan tidak bisa meminum minuman yang mengandung sedikit saja soda, apa kau lupa?"
"Aku tidak sengaja meminumnya Evan!" balas Nathan.
"Iya aku mengerti," balas Nathan.
"Apa kau sudah membaik sekarang? Aleea bilang kau harus dirawat di rumah sakit!"
"Aku sudah membaik, tapi dokter memintaku untuk tetap disini selama dua hari," balas Nathan.
Nathan mengobrol beberapa lama bersama Evan, menggunakan ponsel Aleea. Sedangkan Aleea hanya duduk diam dengan berpura-pura membaca majalah yang ada di meja.
Dengan jelas Aleea mendengar apa yang Nathan bicarakan dengan Evan meskipun Aleea tidak mendengar suara Evan.
Dari apa yang ia dengar, ia semakin yakin jika Nathan dan Evan memang bersahabat dekat, bahkan sangat dekat bak saudara kandung.
"Persahabatan mereka benar-benar sangat hangat," ucap Aleea dalam hati dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang dan Aleea sudah tertidur di sofa karena sejak pagi hanya diam dan sesekali memainkan ponselnya.
Diam-diam Nathan memperhatikan Aleea dengan penuh tanda tanya karena ia pikir Aleea akan meninggalkannya di rumah sakit.
"Bukankah lebih menyenangkan jika berjalan-jalan di luar daripada duduk disini sejak pagi? dia juga bisa menggunakan bahasa Inggris dengan baik meskipun tidak bisa berbahasa Perancis!" batin Nathan dalam hati.
Nathan kemudian beranjak dari ranjangnya karena ingin pergi ke toilet. Namun saat ia baru saja berdiri, tiba-tiba Aleea terbangun dari tidurnya.
"Nathan, apa yang kau lakukan?" tanya Aleea yang segera berjalan menghampiri Nathan.
"Aku hanya ingin ke toilet," jawab Nathan.
"Aku akan membantumu," ucap Aleea yang berniat untuk membantu Nathan berjalan.
"Tidak perlu Aleea, aku bisa sendiri," ucap Nathan sambil sedikit mendorong Aleea.
"Apa kau yakin?" tanya Aleea memastikan.
"Aku tidak lumpuh Aleea, jangan berlebihan!" jawab Nathan yang membuat Aleea hanya menghela napasnya.
Nathan kemudian masuk ke toilet sambil membawa tiang infusnya, sedangkan Aleea menunggu di depan toilet.
Setelah menyelesaikan urusannya di toilet, Nathan begitu terkejut saat melihat Aleea yang berdiri di depan toilet.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Nathan.
"Menunggumu, apa lagi?" balas Aleea.
__ADS_1
"Kau...."
"Aku tidak akan menyentuh dan mengganggumu, lanjutkan saja langkahmu dan abaikan aku!" ucap Aleea memotong ucapan Nathan.
Nathan kemudian membawa langkahnya kembali ke ranjang, sedangkan Aleea berjalan di belakang Nathan.
"Apa kau masih merasa sakit?" tanya Aleea.
"Tidak," jawab Nathan singkat.
"Di bagian sini?" tanya Aleea sambil sedikit menekan bagian ulu hati Nathan, yang membuat Nathan berteriak kesakitan.
"AAAAAA..... kau......"
"Kau bilang sudah tidak sakit!" ucap Aleea.
"Tadi memang sudah tidak sakit, tapi sekarang sakit setelah kau menekannya!" balas Nathan dengan kesal.
Aleea hanya tersenyum dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku," ucap Aleea.
"Sejak kapan senyumnya terlihat sangat manis, dia bahkan terlihat sangat cantik meskipun tidak menggunakan make up sama sekali," batin Nathan dalam hati.
"Jangan menatapku seperti itu atau kau akan jatuh cinta lagi padaku," ucap Aleea yang membuat Nathan segera mengalihkan pandangannya dari Aleea.
"Aku hanya sedang melihat kotoran di matamu, perempuan jorok!" ucap Nathan beralasan.
"Benarkah?" tanya Aleea yang segera mengucek matanya lalu berlari kecil ke arah toilet untuk membasuh wajahnya.
"Astaga memalukan sekali, pasti karena aku baru saja tertidur dan terbangun sebelum sempat membersihkan mataku," ucap Aleea yang merasa malu.
Sedangkan Nathan hanya bisa menahan tawanya di atas ranjangnya saat melihat Aleea yang segera masuk ke toilet karena ucapan bohongnya.
"Dia mudah sekali tertipu!" ucap Nathan pelan.
Tak lama kemudian Aleea keluar dari toilet lalu membawa langkahnya duduk di sofa.
"Aku akan berada disini selama kau dirawat disini, jika aku tertidur, bangunkan aku saat kau membutuhkan sesuatu, jangan memaksakan dirimu untuk melakukan semuanya sendirian jika kau ingin segera keluar dari sini!" ucap Aleea.
"Kau tidak perlu melakukan hal itu, kau bisa pergi kemanapun kau ingin pergi, lagi pula aku bisa memanggil suster jika aku membutuhkan sesuatu!" balas Nathan.
"Aku tidak mungkin pergi dari sini Nathan, bagaimana dengan orang suruhan mama jika dia melihatku pergi sendirian, mama pasti akan berpikir jika aku istri yang tidak baik!" ucap Aleea.
"Aaahhh.... dia tidak ingin pergi karena mengkhawatirkan hal itu, bukan karena mengkhawatirkanku," ucap Nathan dalam hati sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Lagi pula, aku juga merasa bersalah," ucap Aleea yang membuat Nathan seketika membawa pandangannya pada Aleea.
"Merasa bersalah? kenapa?" tanya Nathan.
"Karena aku tidak mengingat apapun tentangmu dan memesan minuman bersoda, jika aku tau kau tidak bisa meminum minuman seperti itu, sudah pasti aku tidak akan memesannya meskipun untuk diriku sendiri," jawab Aleea.
"Maafkan aku," lanjut Aleea dengan membawa pandangannya menatap Nathan yang duduk di ranjangnya.
Untuk beberapa saat Nathan hanya diam, menatap Aleea yang duduk di sofa. Mereka sama-sama terdiam dengan saling menatap sampai akhirnya Aleea mengalihkan pandangannya, membuat Nathan ikut mengalihkan pandangannya.
"Itu bukan kesalahanmu," ucap Nathan lalu membaringkan badannya.
"Aku ingin beristirahat, jadi jangan berisik!" lanjut Nathan.
Aleea hanya diam tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ia merasa lega karena Nathan tampak baik-baik saja.
"Sejahat apapun perlakuanmu padaku, aku tetap ingin kau baik-baik saja Nathan, meskipun aku meragukan kisah cinta kita di masa lalu, tetapi kau sudah menyelamatkan hidupku saat tidak ada siapapun yang aku ingat," ucap Aleea dalam hati.
"Ingat Nathan, dia bukan siapa-siapa, dia hanya gadis asing yang tidak sengaja kau temui, setelah semuanya berada dalam genggamanku, aku akan segera menceraikannya, apapun yang terjadi!" ucap Nathan dalam hati.
**
Di tempat lain, Vina yang bosan menunggu kedatangan Nathan di kamar hotel tanpa sadar tertidur.
Setelah cukup lama tertidur, Vina terbangun dan segera mengambil ponselnya.
"Sudah hampir petang dan Nathan belum membalas pesanku, kemana dia sebenarnya? dia bahkan tidak membaca pesanku!"
Vina kemudian menghubungi Nathan, namun lagi-lagi tidak ada satupun panggilannya yang terjawab setelah berkali-kali ia berusaha menghubungi Nathan.
"Aku sudah menyia-nyiakan waktuku dengan hanya tidur disini, aku harus menemuinya lagi di hotelnya!" ucap Vina yang segera beranjak dari ranjangnya.
Vina kemudian pergi ke hotel yang tadi pagi dia datangi dengan menggunakan taksi. Vina kembali menanyakan keberadaan Nathan dan Aleea pada resepsionis, namun resepsionis masih mengatakan hal yang sama.
Vina kemudian menunjukkan artikel yang menyebutkan jika Nathan dan Aleea berada disana, bahkan ada foto Nathan dan Aleea saat Nathan dan Aleea baru saja keluar dari hotel.
Namun resepsionis cantik itu masih menjawab dengan jawaban yang sama bahkan mengatakan jika artikel yang Vina tunjukkan tidak memiliki sumber yang pasti.
Alhasil Vinapun semakin kesal dibuatnya, namun ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk bisa bertemu dengan Nathan.
__ADS_1