Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Undangan Pernikahan


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam saat Aleea sedang duduk di jendela kamarnya, menatap hamparan langit malam tak berbintang dan sama sekali tidak ada sinar bulan malam itu.


Entah kenapa Aleea merasa malam itu begitu sepi, bukan hanya dirinya yang merasa kesepian tapi juga kegelapan malam yang tak berteman.


Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman rumahnya, Aleeapun menutup jendela kamarnya lalu keluar dari kamar untuk menyambut kedatangan Nathan.


"Apa yang kau lakukan di jendela kamarmu Aleea?" tanya Nathan sambil memeluk Aleea yang berjalan ke arahnya.


"Hanya duduk," jawab Aleea.


"Apa ada yang kau pikirkan Aleea? katakan padaku agar tidak menjadi beban untukmu," tanya Nathan.


"Aku hanya sedang merasa kesepian, hanya ada aku sendiri disini, tidak ada orang tua atau bahkan teman, aku sama sekali tidak mengingat apapun tentang diriku dan itu membuatku sedikit bersedih," jawab Aleea.


"Apa aku saja tidak cukup untukmu Aleea?" tanya Nathan.


"Aku tahu kau sangat baik padaku Nathan, tapi aku juga membutuhkan kehidupan sosialku, tapi aku bahkan tidak mengingat siapapun," jawab Aleea.


"Sebenarnya aku tidak banyak mengenal temanmu, hanya ada beberapa teman yang kau kenalkan padaku karena dulu kau tidak begitu suka bergaul," ucap Nathan.


"Apa kau tahu dimana temanku tinggal? aku ingin bertemu dengannya Nathan," tanya Aleea bersemangat.


"Kita akan mengundangnya di pesta pernikahan kita, jadi kau akan bertemu dengan mereka saat pernikahan kita nanti," jawab Nathan.


"Tentang pernikahan itu, apakah itu tanggal yang sudah kita tetapkan sebelum aku mengalami kecelakaan?" tanya Aleea yang sebenarnya merasa keberatan dengan tanggal pernikahannya yang dinilainya sangat mendadak.


"Iya, itu adalah tanggal yang sudah kita berdua sepakati, ada apa Aleea? apa kau keberatan dengan tanggal itu? atau mungkin kau berubah pikiran?" tanya Nathan.


"Sebenarnya itu terlalu mendadak untukku, mungkin aku pernah bersepakat denganmu pada hari itu, tapi setelah aku mengalami kecelakaan aku sama sekali tidak mengingat apapun dan bulan depan itu adalah waktu yang sangat mendadak bagiku," jawab Aleea.


"Mungkin aku bisa menjadwal ulang tanggal pernikahan kita, tetapi aku tidak tahu bagaimana dengan mama dan papa, apalagi melihat Mama yang sangat bersemangat dengan pernikahan kita," ucap Nathan.

__ADS_1


"Kau benar, Mama pasti akan kecewa jika tiba-tiba kita merubah tanggal pernikahan kita," balas Aleea dengan menghela nafasnya panjang.


"Apa kau ragu dengan pernikahan kita Aleea?" tanya Nathan.


"Aku tidak ragu Nathan, hanya saja..... aku tidak bisa mengingat apapun, aku tidak tahu bagaimana aku akan menjalani pernikahanku denganmu dengan keadaanku yang seperti ini," jawab Aleea.


"Jika kau tidak ragu maka jangan menjadikan pernikahan kita sebagai beban untukmu, meskipun kau hanya memilikiku, aku akan memberikan semuanya untukmu, aku pastikan kau akan menjalani hidupmu dengan baik selama kau berada di sisiku," ucap Nathan dengan menggenggam tangan Aleea.


Aleea tersenyum datar lalu membawa kepalanya bersandar di bahu Nathan. Setiap ia sedang bersama Nathan, ia berusaha untuk menggali ingatannya tentang hubungannya dengan Nathan.


Namun semua itu sia-sia karena ia sama sekali tidak mengingat apapun, tidak hanya tentang hubungannya dengan Nathan tapi tentang semua kehidupan di masa lalunya.


"Apa yang membuatmu memutuskan untuk menikah denganku, Nathan?" tanya Aleea yang masih menyandarkan kepalanya di bahu Nathan.


"Tentu saja karena aku mencintaimu, kita saling mencintai dan memiliki tujuan yang sama, jadi untuk apa kita menghabiskan waktu hanya untuk bermain-main, jadi aku mengajakmu untuk menjalani hubungan kita ke arah yang lebih serius dan kau menerimanya," jelas Nathan.


Malam semakin larut, Nathanpun meninggalkan rumah Aleea. Di sela perjalannya pulang, Nathan menghubungi Evan.


"Sudah ada beberapa gadis yang bersedia untuk menjadi teman palsu Aleea, mereka juga sudah menandatangani surat kesepakatan yang kau buat," jawab Evan.


"Baguslah kalau begitu," ucap Nathan lalu mengakhiri panggilannya pada Evan.


**


Waktu berlalu, hari telah berganti, tinggal menghitung hari Nathan akan menikah dengan Aleea.


Sudah banyak persiapan yang orang tua Nathan lakukan, mulai dari mempersiapkan gaun, gedung untuk pernikahan, catering bahkan orang tua Nathan sudah menyebar undangan pada teman-teman dan klien besar mereka.


Saat Nathan tengah sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka tanpa ada siapapun yang mengetuknya terlebih dahulu.


"Apa ini Nathan?" tanya Vina sambil melemparkan sebuah undangan di meja Nathan.

__ADS_1


Nathan hanya tersenyum melihat undangan pernikahannya yang kini ada di meja kerjanya. Ia kemudian membawa pandangannya pada Vina yang berdiri dengan raut wajah penuh amarah saat itu.


"Bukankah sudah jelas ini undangan pernikahanku?" balas Nathan sambil beranjak dari duduknya lalu kembali memberikan undangan itu pada Vina.


"Sejak kapan kau memiliki kekasih Nathan? bukankah selama ini kita......"


"Kita memang dekat Vina, tapi hanya sebatas partner kerja, dan sejak kapan aku memiliki kekasih itu sama sekali bukan urusanmu, tapi tenang saja tidak akan ada yang berubah dari hubungan kita," ucap Nathan memotong ucapan Vina.


"Jika memang kita memiliki hubungan, kenapa kau menikahi perempuan lain dan bukan menikahiku?" tanya Vina.


"Hubunganku denganmu adalah sebagai atasan dan bawahan yang menyenangkan, kita juga dekat tetapi tidak cukup dekat untuk bisa lebih dari sebagai partner kerja," jawab Nathan.


"Tapi kita sudah melakukan banyak hal bersama Nathan, kita pergi ke luar kota, kita pergi ke klub malam, kita pergi ke....."


"Semua itu kita lakukan setelah kita berhasil menyelesaikan projek besar kita, lagi pula aku tidak hanya melakukannya denganmu, tapi juga pada seluruh tim yang sudah bekerja keras untuk menyukseskan projek besar kita," ucap Nathan.


Vina menghela nafasnya panjang lalu membawa langkahnya mendekat pada Nathan.


"Tidakkah kau merasa jika hubungan kita lebih dari itu Nathan? kita bahkan pernah tidur di satu kamar," ucap Vina dengan membawa pandangannya menatap kedua mata Nathan.


"Jaga ucapanmu Vina, jangan membuat orang lain salah paham dengan ucapanmu itu," ucap Nathan dengan memegang kedua bahu Vina dan membawa Vina untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya.


"Kau tidak mungkin mencintai calon istrimu itu bukan? aku sangat mengenalmu Nathan, tidak mungkin kau tiba-tiba menikah seperti ini," tanya Vina.


"Ini bukan pernikahan yang tiba-tiba, aku memang sengaja menyembunyikan hubunganku dengannya dari semua orang sebelum pernikahan kita terjadi," balas Nathan.


"Maaf jika hal ini membuatmu sangat terkejut, tapi inilah yang terjadi, sebentar lagi aku akan menikah dan aku harap kau bisa datang ke acara resepsi pernikahanku," lanjut Nathan.


"Lalu bagaimana denganku?" tanya Vina dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.


"Sudah kukatakan tidak akan ada yang berubah dengan hubungan kita, kita akan tetap menjadi partner kerja yang menyenangkan," jawab Nathan dengan tersenyum sambil menghapus air mata yang hampir saja tumpah dari kedua sudut mata Vina.

__ADS_1


__ADS_2