Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Ketidakpedulian Nathan


__ADS_3

Saat Evan menyentuh wajah Aleea, saat itulah ia sadar jika Aleea sedang demam.


"Kau demam Aleea!" ucap Evan sambil menempelkan telapak tangannya di kening dan pipi Aleea.


Aleea seketika merintih saat Evan menyentuh memar di pipinya.


"Kenapa Aleea? apa ada luka yang lain?" tanya Evan khawatir.


"Tidak ada, aku....."


"Tunggu sebentar, pipimu.... kenapa memar Aleea?" tanya Evan memotong ucapan Aleea saat ia menyadari memar yang samar terlihat di pipi Aleea.


"Tidak..... ini bukan memar, aku..... aku hanya salah menggunakan make up," jawab Aleea berbohong sambil sedikit menjauhkan wajahnya dari Evan.


"Jujurlah padaku Aleea, apa yang terjadi? luka di keningmu dan memar di pipimu, bukan karena kecelakaan kemarin bukan?" tanya Evan.


"Luka di keningku ini karena aku terpeleset di kamar mandi dan memar ini, ini..... ini hanya karena aku salah menggunakan make up jadi terlihat seperti memar," jawab Aleea beralasan.


"Aaaahhh ya, aku kesini untuk mengembalikan ponselmu, kemarin polisi memberikannya padaku dan aku lupa memberikannya padamu," lanjut Aleea berusaha mengalihkan perhatian Evan.


"Terima kasih, apa kau terluka karena kecelakaan kemarin?" ucap Evan sekaligus bertanya.


"Hanya luka kecil," jawab Aleea sambil menunjukkan beberapa luka kecil di tangannya.


"Aku kesini juga ingin meminta maaf padamu Evan, maaf karena kau harus terbaring disini karena aku dan aku sangat berterima kasih karena kau sudah menolongku saat itu," lanjut Aleea.


"Kau tidak seharusnya meminta maaf Aleea, itu bukan salahmu!" ucap Evan.


"Seandainya Nathan juga bisa berpikir seperti itu," ucap Aleea dalam hati dengan menundukkan kepalanya sedih.


"Ada apa Aleea? apa Nathan melakukan sesuatu padamu?" tanya Evan yang melihat Aleea tampak bersedih.


"Tidak," jawab Aleea dengan menggelengkan kepalanya cepat.


Aleea tersenyum agar Evan percaya jika dia baik-baik saja.


"Aku tau kau sedang tidak baik-baik saja Aleea," ucap Evan dalam hati lalu menekan tombol di dekat ranjangnya.


Tak lama kemudian suster datang.


"Tolong periksa keadaannya sus, dia demam dan keningnya terluka," ucap Evan pada suster.


"Aku baik-baik saja Evan, aku....."


"Semakin kau mengatakan hal itu, semakin aku yakin jika kau tidak baik-baik saja Aleea," ucap Evan memotong ucapan Aleea.


Suster kemudian mengajak Aleea keluar dari ruangan Evan. Setelah suster memeriksa keadaan Aleea dan mengobati lukanya, Aleeapun kembali ke ruangan Evan.


Namun Aleea ragu untuk kembali masuk, ia tidak ingin Evan mengkhawatirkan dirinya. Alhasil, Aleea memilih untuk duduk di depan ruangan Evan karena tiba-tiba ia merasa tubuhnya begitu lemas.


Evan yang sudah cukup lama menunggu Aleea kembali, mencoba untuk menghubungi Aleea, namun ternyata ponselnya kehabisan daya.


Evanpun beranjak dari ranjangnya, dengan membawa tiang infus bersamanya, Evan keluar dari ruangannya dan begitu terkejut saat melihat Aleea yang terbaring pingsan di kursi yang ada di depan ruangannya.


"Aleea, bangunlah Aleea, sadarlah!" ucap Evan sambil menepuk pelan pipi Aleea.


Saat itulah Evan menyadari jika memar samar di pipi Aleea, bukan karena make up tapi memang memar keunguan seperti bekas tamparan.


Tak lama kemudian seorang suster yang sedang berjalan melewati ruangan Evan dan melihat apa yang terjadi pada Aleea.


Suster kemudian memanggil perawat lain lalu membawa Aleea untuk memeriksa keadaannya.


"Bagaimana keadaannya dok? apa yang terjadi padanya?" tanya Evan pada dokter yang baru saja memeriksa keadaan Aleea.


"Tekanan darah pasien cukup tinggi, mungkin karena stres dan banyak tekanan, kita sudah melakukan yang terbaik untuk menormalkan kembali tekanan darahnya dan pasien akan sadar jika tekanan darahnya sudah kembali normal," jelas dokter.


"Terima kasih dok," ucap Evan yang dibalas anggukan kepala oleh dokter.


Evan kemudian duduk di samping ranjang Aleea, terdiam untuk beberapa saat menatap Aleea yang masih terpejam di hadapannya.


"Apa yang sudah Nathan lakukan padamu Aleea? apa Nathan juga yang membuatmu terluka? kenapa kau menyembunyikannya dariku? apa karena kau sudah mencintainya?" batin Evan bertanya dalam hati.


Setelah beberapa lama menunggu, Aleea mulai membuka matanya dengan perlahan.


"Evan...." panggil Aleea pelan.


Evan hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Ia ingin menanyakan banyak hal pada Aleea, tetapi ia merasa itu bukanlah saat yang tepat untuk banyak bertanya.

__ADS_1


"Kenapa aku ada disini?" tanya Aleea sambil berusaha bangun dari posisinya.


"Kau pingsan di depan ruanganku, dokter sudah memeriksa keadaanmu dan dokter mengatakan agar kau tidak terlalu stres, jangan terlalu memikirkan apapun yang membuatmu tertekan Aleea," jelas Evan.


"Maaf sudah merepotkanmu Evan, sebaiknya aku pergi sekarang," ucap Aleea sambil berusaha melepas selang infus di tangannya.


"Tidak, kau harus tetap disini, setidaknya sampai cairan infusnya habis, itu yang dokter katakan," ucap Evan sambil menahan tangan Aleea.


"Maafkan aku Evan," ucap Aleea dengan menundukkan kepalanya.


Ia tiba-tiba merasa begitu bersedih, tidak hanya karena masalahnya dengan Nathan, tapi juga karena merasa bersalah pada Evan.


Emosi sesaat yang membuatnya tidak bisa mengendalikan ucapannya, tanpa sadar membuatnya mengeluarkan kata-kata yang begitu jahat tentang Evan.


"Berhentilah meminta maaf Aleea, kecelakaan itu bukan salahmu," ucap Evan.


"Bukan tentang kecelakaan itu, tapi ada hal lain yang membuatku harus meminta maaf padamu," ucap Aleea.


"Hal lain apa maksudmu?" tanya Evan tak mengerti.


"Aku benar-benar minta maaf, emosi sesaat membuatku tidak bisa berpikir dengan jernih saat itu," ucap Aleea lalu menjelaskan tentang apa yang membuatnya merasa bersalah pada Evan.


Kedua mata Aleea bahkan berkaca-kaca saat ia menjelaskannya pada Evan, namun Aleea tidak mengatakan jika Nathan menamparnya karena hal itu.


Berbeda dengan Aleea yang bersedih karena merasa bersalah, Evan justru tertawa saat ia mendengar cerita Aleea yang mengatakan tentang hubungan menjijikkan antara Nathan dan Evan.


"Hahaha..... jadi selama ini kau berpikir seperti itu Aleea? hahaha....."


"Kenapa kau tertawa Evan? kau boleh marah padaku, kau bisa mengumpat dan membentakku karena ucapan bodohku itu!"


"Untuk apa aku marah padamu Aleea? aku tidak mungkin marah hanya karena hal menggelikan seperti itu," balas Evan.


"Jadi.... kau tidak marah padaku?" tanya Aleea.


"Tentu saja tidak," jawab Evan sambil menghapus air mata yang baru saja luruh dari kedua sudut mata Aleea.


"Maafkan aku Evan, aku benar-benar tidak bermaksud untuk mengatakan hal itu, aku hanya..... hanya terbawa emosi saat itu," ucap Aleea yang masih merasa bersalah.


"Aku mengerti, tidak perlu terlalu memikirkannya karena aku sama sekali tidak marah padamu," ucap Evan.


"Persahabatan kalian membuatku iri, aku bahkan merasa jika Nathan lebih menyayangimu daripada aku," ucap Aleea dengan tersenyum.


"Kau tetap pemenangnya Aleea, karena kau memilikinya sepenuhnya," balas Evan yang juga tersenyum.


"Aaahh ya, bagaimana keadaanmu? kau belum sempat menjawabku tadi," tanya Aleea.


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja, tetapi Nathan terlalu berlebihan dan memintaku untuk tetap disini sampai beberapa hari," jawab Evan.


"Tentang kecelakaan itu, aku akan berusaha mencari tahu siapa yang mengendarai motor itu, aku akan membuktikan pada Nathan jika aku tidak bersalah atas kecelakaan itu," ucap Aleea.


"Apa kau tidak tau Aleea? pengendara motor itu..... dia.... sudah meninggal!"


"Apa? meninggal?" tanya Aleea yang begitu terkejut mendengar apa yang Evan katakan.


"Iya, dia sudah meninggal dalam kecelakaan tunggal semalam, sebenarnya polisi sudah berhasil mendapatkan identitasnya tetapi dia kabur dan masih dalam pencarian polisi, tetapi semalam dia ditemukan meninggal dalam kecelakaan," jelas Evan.


Seketika Aleea memijit keningnya, ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan pada Nathan jika ia tidak bersalah, karena satu-satunya orang yang bersaksi atas kecelakaan itu sudah meninggal.


"Apa yang sedang kau pikirkan Aleea?" tanya Evan.


"Aku tidak tahu harus menjelaskan dengan bagaimana lagi pada Nathan, aku pikir jika pengendara motor itu ditangkap, dia akan menjelaskan pada Nathan jika dialah yang sebenarnya bersalah atas kecelakaan itu," jawab Aleea.


"Apa Nathan menyalahkanmu atas semua ini?" tanya Evan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Aleea.


"Itu kenapa aku tidak ada disini saat kau baru sadar, Nathan memaksaku untuk pergi sebelum aku bisa melihat keadaanmu," ucap Aleea.


"Aku akan mencoba berbicara pada Nathan, kau tidak perlu melakukan apapun dan tetaplah bersikap seperti biasanya pada Nathan," ucap Evan.


"Terima kasih Evan, kau sangat baik padaku, tetapi aku justru membuatmu seperti ini, maafkan aku," ucap Aleea dengan menundukkan kepalanya.


"Kenapa harus meminta maaf? justru menghabiskan waktu bersamamu seperti kemarin adalah hal yang sangat menyenangkan bagiku, siapa sangka aku akan menjadi kekasih perempuan yang merupakan istri sahabatku sendiri hehe....." ucap Evan dengan tertawa.


Aleeapun tersenyum saat mengingatnya, hanya demi mendapatkan makanan gratis, Aleea mengiyakan waiters yang berpikir jika ia dan Evan adalah sepasang kekasih.


"Menghabiskan waktu denganmu juga selalu menjadi hal yang sangat menyenangkan buatku, tetapi aku tidak yakin apakah ada hal menyenangkan lagi yang akan kita lakukan setelah ini," ucap Aleea.


"Tentu saja ada dan akan ada banyak hal menyenangkan lainnya yang bisa kita lakukan," balas Evan.

__ADS_1


Aleea hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun.


"Sekarang beristirahatlah, aku juga harus mempersiapkan diri untuk melakukan CT scan nanti," ucap Evan.


"CT scan? apa terjadi sesuatu yang buruk padamu? apa...."


"Tidak Aleea, dokter sebenarnya sudah yakin jika aku baik-baik saja, tetapi Nathan memaksaku untuk tetap melakukan CT scan untuk memastikan semuanya," ucap Evan memotong ucapan Aleea yang terlihat mengkhawatirkannya.


"Semoga semuanya baik-baik saja Evan, Nathan pasti akan semakin membenciku jika terjadi sesuatu yang buruk padamu," ucap Aleea.


"Itu tidak akan terjadi Aleea, semua akan baik-baik saja," balas Evan.


"Beristirahatlah dan berjanjilah untuk datang ke ruanganku sebelum kau meninggalkan rumah sakit, oke?" lanjut Evan yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Aleea.


Evan kemudian keluar dari ruangan Aleea, sedangkan Aleea kembali berbaring di ranjangnya.


**


Di tempat lain, Nathan sedang melakukan meeting dan selesai pukul 11.30.


"Kau bisa kembali ke kantor sendiri bukan? aku harus pergi ke tempat lain," tanya Nathan pada Vina yang ikut meeting bersamanya.


"Apa aku tidak bisa ikut denganmu?" tanya Vina.


"Tidak bisa Vina, aku akan memesan taksi untukmu," jawab Nathan.


"Baiklah," balas Vina.


Setelah memesan taksi untuk Vina, Nathan mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, ia segera berjalan ke arah ruangan dokter yang bertanggung jawab atas keadaan Evan disana.


Setelah bertemu dokter, dokter menjelaskan jika keadaan Evan baik-baik saja dan sudah menjalani CT scan yang hasilnya akan keluar dalam waktu beberapa hari lagi.


Nathan kemudian berjalan ke arah ruangan Evan setelah ia mendengar penjelasan dokter.


"Kenapa kau sangat rajin sekali kesini Nathan? pagi-pagi sekali kau datang dan sekarang kau datang lagi!" tanya Evan saat melihat Nathan yang masuk ke ruangannya.


"Aku kesini untuk menemui dokter, dokter bilang hasil CT scan akan keluar dalam beberapa hari lagi, jadi kau harus tetap disini sampai hasilnya keluar," balas Nathan.


"Astaga Nathan, aku sangat bosan berada disini sepanjang hari, apa lagi sampai berhari-hari hanya untuk menunggu hasil CT scan!" protes Evan.


"Hanya itu yang bisa kau lakukan, jika kau tidak ingin melakukan hal itu, maka jangan bertindak bodoh lagi hanya untuk menyelamatkan orang lain!" ucap Nathan.


"Aku tidak berniat menyelamatkannya Nathan, aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan, aku tidak mungkin diam saja melihat motor yang hampir menabrak Aleea!" ucap Evan.


"Sudahlah jangan membahasnya lagi!" ucap Nathan sambil menjatuhkan dirinya di kursi yang ada di dekat ranjang Evan.


"Apa yang kau lakukan padanya Nathan? apa kau menamparnya?" tanya Evan yang membuat Nathan segera membawa pandangannya pada Evan.


"Apa dia menemuimu? apa dia mengatakannya padamu?" balas Evan bertanya.


"Jadi benar kau menamparnya?" tanya Evan terkejut karena tidak menyangka jika Nathan akan melakukan hal yang sejauh itu pada Aleea.


"Aku sudah lelah berpura-pura mencintainya Evan, bukankah aku masih cukup baik dengan memberinya uang belanja yang banyak? jadi aku tidak perlu lagi berpura-pura di depannya!" ucap Nathan.


"Kau benar-benar keterlaluan Nathan, dia memang datang menemuiku, dia datang hanya untuk meminta maaf dan berterima kasih padaku, dia bahkan menyembunyikan memar di pipinya agar aku tidak mengetahuinya, itu artinya dia masih memikirkanmu Nathan, dia..."


"Aku tidak peduli Evan, jangan pernah membicarakan tentangnya lagi padaku," ucap Nathan memotong ucapan Evan.


"Bagaimana dengan luka di keningnya? apa kau juga yang membuatnya terluka?" tanya Evan.


"Tidak, aku tidak tau jika dia terluka," jawab Nathan.


"Dia di rumah sakit ini sekarang, dia di rawat disini karena dia pingsan di depan ruanganku, temui dia dan meminta maaflah padanya," ucap Evan.


"Itu adalah hal yang tidak akan mungkin aku lakukan, aku juga tidak peduli jika dia dirawat disini," balas Nathan.


"Kau benar-benar membuatku frustasi Nathan, kau menikahinya tapi kau sama sekali tidak peduli padanya, padahal kau tahu jika bukan dia penyebab kecelakaan itu!" ucap Evan kesal.


"Aku tidak mencintainya Evan, untuk apa aku mempedulikannya!" balas Nathan.


"Kau....."


Evan menghentikan ucapannya saat ia melihat Aleea yang berdiri di celah pintu yang terbuka saat itu.


"Aleea!"


Melihat Evan yang menyebut nama Aleea dengan menatap ke arah pintu, Nathanpun membalikkan badannya dan melihat Aleea yang berdiri dengan tiang infus di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2