Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Rencana Vina


__ADS_3

Evan yang sudah sangat kesal pada Vina segera menghubungi Vina, namun berkali-kali ia menghubungi Vina, tidak ada satupun panggilannya yang tersambung.


"Astaga, kemana dia sebenarnya?" tanya Evan pada dirinya sendiri.


Evan kemudian menghampiri salah satu teman Vina untuk menanyakan alasan Vina mengambil cuti.


"Setahu saya dia hanya ingin beristirahat di rumahnya pak, dia bilang dia baru saja mengalami kecelakaan dan harus beristirahat di rumah," jelas teman Vina.


Evan kemudian masuk ke dalam ruangannya, mengambil kunci mobilnya lalu segera mengendarai mobilnya pergi meninggalkan kantor.


"Aku yakin bukan itu alasan Vina, dia tidak akan melakukan hal sejauh ini jika dia hanya ingin beristirahat di rumah!" ucap Evan sambil menginjak pedal gasnya.


"Dia pasti mengetahui kepergian Nathan dan berniat untuk menemui Nathan disana, aku tidak boleh membiarkan hal itu terjadi, aku harus bisa menghentikannya!" ucap Evan dengan berusaha untuk tetap fokus pada jalan raya yang dilaluinya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evanpun sampai di rumah Vina.


Evan segera keluar dari mobilnya lalu berlari kecil ke arah pintu dan mengetuknya beberapa kali dengan memanggil nama Vina.


"Vina, buka pintunya Vina!" ucap Evan setengah berteriak.


Cukup lama Evan berada disana untuk memastikan apakah Vina berada di rumah atau tidak.


"Yang punya rumah sudah pergi dari pagi mas!" ucap seseorang yang lewat di depan rumah Vina.


"Pergi?"


Evan kemudian menghampiri seseorang itu untuk meminta kejelasan.


"Apa ibu mengenal perempuan yang tinggal disini?" tanya Evan memastikan.


"Tentu saja, rumah ini adalah rumah yang saya kontrakkan padanya, jadi saya mengenalnya," jawab seseorang itu.


"Aaahhh begitu, apa ibu tau kemana dia pergi?" tanya Evan.


"Saya tidak tahu pasti, tapi dia bilang dia harus pergi selama 5 hari dan tadi pagi dia sudah pergi dengan membawa koper!"


"Baik Bu, terima kasih informasinya, saya permisi!" ucap Evan lalu masuk ke dalam mobilnya.


"Dia pasti sudah berada di bandara!" ucap Evan yang segera mengendarai mobilnya ke arah bandara.


Sialnya, Evan terjebak macet saat ia masih berada di setengah perjalanan ke arah bandara.


Tidak ada yang bisa Evan lakukan, ia hanya bisa menunggu dengan kesal, berharap kemacetan agar segera terurai.


Setelah lebih dari 15 menit terjebak dalam kemacetan, Evanpun segera menancap gasnya lebih kuat agar ia segera sampai di bandara.


Sesampainya di bandara, Evan segera mencari keberadaan Vina, berharap ia belum terlambat untuk mencegah Vina pergi.


Evan kemudian melihat ke arah papan informasi kedatangan dan keberangkatan untuk memastikan jika penerbangan ke Paris belum berangkat.


"Masih ada waktu 25 menit!" ucap Evan yang segera berlari ke arah boarding gate untuk mencari keberadaan Vina.


Evan berlari dengan mengedarkan pandangannya, berharap agar ia bisa bertemu dengan Vina, namun sialnya Evan melihat Vina yang baru saja memasuki boarding gate.


"Vina, berhenti Vina!" ucap Evan berteriak.


Vina yang tidak mendengar suara Evan hanya terus berjalan tanpa sedikitpun menoleh.


Sedangkan Evan yang ingin mengejar Vina tentu saja dihentikan oleh petugas yang menjaga boarding gate.


"Maaf, selain penumpang di larang masuk!"


"Tapi saya harus mencegahnya pergi pak, dia....."


"Maaf pak, ini sudah ketentuan kami, mohon dimengerti dan tidak membuat keributan disini!"


Evan menghela napasnya kasar lalu berjalan pergi dengan langkah yang tak bersemangat.


Saat melihat papan informasi, beberapa menit lagi pesawat yang akan membawa Vina ke Parispun akan berangkat.


"Aku terlambat, apa yang bisa aku lakukan sekarang?" batin Evan dalam hati.


Evan kemudian mengendarai mobilnya kembali ke kantor. Sepanjang jalan Evan memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan.


"Apa aku harus memberi tahu Nathan? atau aku harus memberi tahu Tante Hanna?" tanya Evan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Evan mendengus kesal karena tidak mempunyai jawaban atas pertanyaannya sendiri.


Sesampainya di kantor, Evan masuk ke ruangannya. Ia berniat untuk menghubungi Hanna, memberi tahu Hanna jika kemungkinan besar Vina akan menyusul Nathan ke Paris.


Namun sebelum Evan sempat menghubungi Hanna, seseorang masuk ke ruangan Evan, memberi tahu Evan jika meeting akan dilakukan 10 menit lagi dan Evan diharuskan untuk menyambut kedatangan klien dari Jepang sebelum meeting dimulai.


Evanpun beranjak dari duduknya sambil memasukkan ponselnya ke dalam kantong jasnya lalu berjalan keluar dari ruangannya untuk bersiap menyambut klien pentingnya yang berasal dari Jepang.


Setelah acara penyambutan, Evan memulai meeting tepat waktu untuk membahas hal-hal penting yang menjadi pokok kerja sama perusahaan papa Nathan dengan perusahaan kliennya itu.


Karena kesibukannya itu, Evanpun lupa untuk memberi tahu Hanna tentang apa yang sudah Vina lakukan.


Waktupun berlalu, di tempat lain Vina baru saja turun dari pesawat dengan penuh senyum karena akhirnya ia bisa menyusul Nathan ke Paris.


Meskipun Vina tahu jika apa yang ia lakukan akan membuat Evan sangat marah, tapi ia tidak peduli.


Ia yakin Evan sengaja menahannya di kantor dan memberinya banyak pekerjaan agar ia tidak mengganggu Nathan, apa lagi saat Evan menolak izin cutinya, membuat Vina semakin yakin jika Evan memang mengetahui rencananya.


"Dia pasti sudah mengetahui rencanaku, itu kenapa dia melarangku cuti, dasar licik!" ucap Vina kesal.


"Lupakan saja, aku akan bersenang-senang disini, jadi tidak perlu memikirkan Evan yang menyebalkan!" ucap Vina sambil menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan.


Dengan menarik kopernya, Vina membawa dirinya duduk di salah satu kursi yang ada disana. Ia ingin mengambil beberapa foto yang akan ia posting di media sosialnya.


"Ini akan menjadi hari yang menyenangkan untukku, meskipun aku harus menguras tabunganku dan melawan ucapan Evan, aku tidak peduli, toh Nathan tidak mungkin memecatku hanya karena hal ini!"


Vina kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitarnya dan menyadari jika bandara saat itu tidak terlalu ramai karena ia mendarat di waktu yang masih sangat pagi.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? apa aku harus menghubungi Nathan sekarang?" batin Vina bertanya dalam hati.


Di saat Vina tampak bingung dengan apa yang akan ia lakukan, tiba-tiba seorang pria datang menghampirinya, berbicara dengan menggunakan bahasa Perancis.


Vinapun seketika mendekatkan barang-barang miliknya padanya, khawatir pada orang asing yang tidak ia kenal itu.


Karena Vina hanya diam, pria itu kemudian berbicara menggunakan bahasa Inggris namun Vina menjawabnya menggunakan bahasa Perancis.


Saat Vina diam, bukan karena ia tidak mengerti apa yang dikatakan pria itu, tapi karena Vina waspada dan sedikit terkejut.


Vina kemudian berjalan pergi setelah pria itu sedikit memaksa Vina agar mengikutinya untuk pergi ke tempat menginap, mengingat waktu itu masih sangat pagi.


Vina tidak peduli, ia tidak akan menginap apa lagi pergi dengan orang yang tidak dikenalnya.


**


Di hotel, Nathan masih tertidur nyenyak di sofa. Tiba-tiba ponselnya berdering, membuat Nathan segera meraih ponselnya yang ada di meja


"Vina, kenapa dia menghubungiku sepagi ini?" batin Nathan bertanya.


"Sangat mengganggu!" ucap Nathan lalu menekan lama tombol power ponselnya, berniat untuk menonaktifkan ponselnya.


Namun sebelum ponselnya mati, sebuah pesan dari Vina masuk dan Nathan bisa membacanya sekilas melalui pop up.


"Aku sedang berada di bandara, aku di Paris sekarang, jemput aku karena ada pria yang menggangguku disini!"


Seketika Nathan urung mematikan ponselnya dan segera beranjak dari posisi tidurnya karena terkejut.


Nathan kemudian membaca pesan Vina sambil mengucek matanya dan benar saja, ia tidak salah membaca, Vina benar-benar berada di Paris saat itu.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Vina kembali menghubungi Nathan, membuat Nathan akhirnya menerima panggilan Vina.


"Apa yang kau lakukan Vina? kenapa kau bisa ada disini?" tanya Nathan dengan berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar oleh Aleea.


"Cepat jemput aku Nathan, aku takut," ucap Vina yang terdengar terisak saat itu.


"Jangan duduk di tempat yang sepi, aku akan segera kesana!" ucap Nathan lalu mengakhiri panggilan Vina.


"Benar-benar merepotkan!" ucap Nathan kesal lalu segera menyambar kunci mobil, berniat untuk menjemput Vina.


Tapi Nathan segera meletakkan kembali kunci mobilnya setelah ia ingat jika ada alat pelacak yang terpasang di mobil itu.


"Aku tidak bisa menjemputnya dengan mobil itu!" ucap Nathan lalu meninggalkan kunci mobilnya di meja dan segera berjalan keluar dari kamar hotelnya.


"Tidak ada cara lain, aku harus menjemputnya dengan taksi, tidak mungkin orang suruhan mama mengikutiku di jam sepagi ini bukan?"

__ADS_1


Nathan memesan taksi dan menunggunya di depan hotel, tak lama kemudian taksipun datang dan segera membawa Nathan ke arah bandara.


Sesampainya di bandara, Nathan meminta supir taksi itu untuk menunggunya dan iapun segera mencari keberadaan Vina sambil menghubungi Vina.


Setelah beberapa lama mencari, akhirnya merekapun bertemu. Vina segera memeluk Nathan saat ia bertemu Nathan, namun Nathan segera mendorong Vina agar melepaskan pelukannya.


"Aku senang kau menjemputku, ada pria yang menggangguku dari tadi!" ucap Vina dengan memperlihatkan raut wajahnya yang sedih.


Tanpa banyak berkata, Nathan membawa langkahnya ke arah taksi menunggunya, diikuti Vina yang berjalan di belakangnya.


"Apa yang kau lakukan disini Vina? apa kau sengaja mengikutiku?" tanya Nathan pada Vina saat mereka sudah berada di dalam taksi.


"Hanya ini kesempatanku untuk berlibur ke luar negeri denganmu, jadi aku tidak akan menyia-nyiakannya!" jawab Vina.


"Tapi aku kesini untuk berlibur dengan Aleea, Vina!" ucap Nathan.


"Aku tau, kau disini bersama Aleea selama satu minggu bukan? aku hanya akan berada disini selama 3 hari, jadi dalam 3 hari itu aku ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu, sisanya kau bisa bersama Aleea, aku tidak akan mengganggu!" jelas Vina.


"Tidak bisa Vina, aku tidak mungkin membiarkan Aleea disini sendirian!" ucap Nathan.


"Lalu, apa kau akan membiarkanku disini sendirian?" tanya Vina.


"Aku akan membawamu ke hotel, kau bisa menginap selama satu hari disana dan pergilah kemanapun kau mau lalu segera kembali pulang!" ucap Nathan.


"Aku tidak akan pulang sebelum aku menikmati waktuku disini bersamamu!" balas Vina dengan tersenyum.


"Kau benar-benar gila!" ucap Nathan menahan kekesalan dalam dirinya.


Vina hanya tersenyum, tidak peduli pada Nathan yang tampak kesal saat itu. Yang terpenting baginya adalah ia bisa berada disana bersama Nathan dan ia akan mencari alasan agar Nathan mau menemaninya disana.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di hotel. Nathan segera keluar dari taksi dan meminta supir taksi untuk tetap menunggunya.


Nathan kemudian masuk ke dalam hotel diikuti Vina lalu memesan satu kamar hotel untuk satu hari atas nama Vina dan membayarnya.


"Ini kunci kamarmu, sekarang masuk ke kamarmu dan lakukan apapun yang kau mau selama satu hari disini lalu pulanglah!" ucap Nathan lalu berjalan pergi, namun Vina segera menahannya.


"Kau mau kemana?" tanya Vina.


"Kembali ke hotel, aku tidak ingin Aleea salah paham karena aku tidak ada di hotel sekarang," jawab Nathan sambil menarik tangannya dari Vina.


"Apa kau dan Aleea tidak menginap disini?" tanya Vina.


"Tentu saja tidak," jawab Nathan.


"Kalau begitu bawa aku menginap ke hotel yang sama denganmu Nathan, aku tidak mau disini sendirian!" ucap Vina.


"Aku tidak mungkin melakukan hal itu Vina, membawamu kesini adalah satu-satunya hal baik yang bisa aku lakukan padamu dan sekarang jangan mengganguku lagi!" ucap Nathan lalu berjalan pergi.


Vinapun segera berlari, namun karena koper yang dibawanya, iapun kesulitan mengejar Nathan. Vina kemudian meninggalkan kopernya di depan resepsionis agar ia bisa mengejar Nathan.


"Nathan tunggu, jangan meninggalkanku disini!" ucap Vina yang berusaha menahan Nathan.


Namun sayang, Nathan sudah masuk ke dalam taksi dan pergi dengan taksi yang ditumpanginya.


"Aaaarggh siaallll!" ucap Vina berteriak kesal.


Vina kemudian kembali masuk ke hotel lalu mengambil kopernya dan pergi ke kamar yang sudah Nathan pesan untuknya.


"Aku tidak boleh terbawa suasana menyebalkan ini, aku harus fokus dan berpikir dengan jernih agar aku tidak melewatkan kesempatanku kali ini," ucap Vina saat ia baru saja masuk ke dalam kamar.


Vina kemudian mengambil ponselnya, mencari nama Nathan dan Aleea pada pencarian di internet.


Vina tersenyum tipis saat melihat beberapa artikel yang menunjukkan foto paparazi Nathan dan Aleea. Dalam artikel itu disebutkan nama sebuah hotel tempat Nathan dan Aleea menginap.


Meskipun belum ada kepastian dari artikel itu, tetapi Vina yakin jika Nathan dan Aleea memang menginap disana.


"Kita lihat saja, apa yang akan terjadi besok!" ucap Vina dengan penuh senyum lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang.


Di sisi lain, Nathan yang baru saja tiba di hotel tempat ia menginap, segera masuk ke kamarnya.


Sebelum membawa dirinya ke sofa, Nathan sedikit mengintip Aleea yang tidur di ranjang.


"Sepertinya dia masih tertidur lelap," ucap Nathan dalam hati.


Nathan kemudian membawa dirinya berbaring di sofa. Meskipun memejamkan matanya, namun Nathan tidak bisa benar-benar tertidur.

__ADS_1


Tak bisa dipungkiri, keberadaan Vina disana membuatnya tidak nyaman. Ia khawatir Vina akan melakukan hal-hal bodoh seperti sebelumnya.


"Aku tidak akan membiarkan Vina menghancurkan rencanaku, sudah cukup satu kali aku membuat kesalahan yang membuat papa sangat marah, aku akan lebih tegas lagi padanya kali ini!" ucap Nathan dalam hati.


__ADS_2