
Nathan menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya dengan kesal. Tangannya memijit kepalanya yang terasa pusing saat itu.
Entah kenapa ia merasa masalah bertubi-tubi datang padanya semenjak ia menikah dengan Aleea.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Nathan membawa pandangannya ke arah pintu ruangannya dan mendapati Vina yang membuka pintu lalu masuk ke ruangannya.
"Ini adalah proposal dari tim saya pak, saya...."
"Tidak perlu, hasil kerja kalian sangat mengecewakan, bubarkan saja tim yang sudah kau buat!" ucap Nathan memotong ucapan Vina.
"Tapi pak...."
"Aku akan mengurus semuanya sendiri Vina, sebelum semuanya menjadi lebih buruk!" ucap Nathan dengan meninggikan suaranya lalu beranjak dari duduknya dan hendak melangkah pergi.
Namun Vina dengan cepat beranjak dari duduknya dan menahan Nathan.
"Tidak Nathan, kau tidak bisa seperti ini padaku, kau tau bukan bagaimana aku bekerja selama ini? aku selalu bisa memberikan hasil yang maksimal untuk perusahaan, jadi aku mohon beri aku kesempatan dan aku akan membuatnya menjadi lebih baik!" ucap Vina memohon.
"Tapi ini bukan masalah kecil Vina, aku selalu mempercayakan banyak hal penting padamu tapi kali ini kau benar-benar sangat mengecewakanku!" balas Nathan.
"Aku tau aku salah, aku terlalu sibuk memikirkan hal lain beberapa hari terakhir, tapi aku janji aku akan kembali fokus dengan pekerjaanku!" ucap Vina.
"Apa yang membuatmu tidak bisa fokus Vina? apa kau masih berniat mengundurkan diri?" tanya Nathan.
"Tidak, aku hanya....."
"Sudahlah lupakan saja, aku sendiri yang akan turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini dan jangan salahkan aku jika aku akan sulit untuk mempercayaimu lagi!" ucap Nathan memotong ucapan Vina.
"Bagaimana dengan Evan? bukankah dia juga bertanggung jawab atas hal ini? dia bahkan tidak terlihat di kantor sejak kemarin!" tanya Vina.
"Dia sama sekali tidak mengetahui masalah ini jadi jangan pernah memberi tahunya," jawab Nathan.
"Kenapa? dia juga harus bertanggung jawab Nathan!"
"Dia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja Vina, memberi tahu masalah kantor padanya hanya akan membuat keadaanya memburuk!" ucap Nathan.
"Kau sangat tidak adil Nathan, kau hanya marah padaku dan tim tanpa melihat sedikitpun pada Evan yang sebenarnya juga bersalah!" ucap Vina.
"Jika Evan tau ada masalah pasti dia akan berusaha menyelesaikannya dan memberi tahuku untuk berdiskusi tentang solusinya, bukan membiarkannya berlarut-larut sampai akhirnya menjadi masalah besar seperti yang kau dan timmu lakukan!" balas Nathan.
"Tapi....."
Vina menghentikan ucapannya saat tiba-tiba pintu ruangan Nathan terbuka dan terlihat papa Nathan yang memasuki ruangan Nathan.
"Ada apa ini? apa kalian sedang bertengkar?" tanya Aryan yang melihat Nathan dan Vina tampak bersitegang.
"Tidak pa, hanya ada sedikit masalah," jawab Nathan yang berusaha mengendalikan emosinya saat itu.
"Keluarlah Vina, kita bicarakan lagi nanti!" lanjut Nathan meminta Vina untuk keluar dari ruangannya.
"Baik pak, saya permisi," ucap Vina dengan sedikit menundukkan kepalanya pada Nathan dan Aryan.
"Ada apa papa kesini? Nathan pikir papa masih di luar pulau," tanya Nathan pada sang papa sambil membawa dirinya kembali duduk di kursinya setelah Vina meninggalkan ruangannya.
"Papa sudah pulang sejak kemarin dan papa kesini untuk memberikan beberapa berkas yang harus kau periksa, buktikan pada papa jika kau memang masih bisa dipercaya Nathan!" jawab Aryan.
"Nathan pasti berusaha melakukan pekerjaan Nathan dengan baik pa, bukankah selama ini papa tau bagaimana Nathan bekerja," ucap Nathan.
"Papa tau, tapi apa yang kau lakukan kemarin sangat mengecewakan papa, bagaimana bisa kau bersenang-senang disana tanpa mempedulikan pekerjaan dan tanggung jawabmu!" balas Aryan.
"Maafkan Nathan pa, Nathan tidak akan melakukannya lagi," ucap Nathan.
"Papa melihatmu seperti sedang berdebat dengan Vina, apa ada masalah besar? apa itu terkait masalah kantor atau masalah pribadi kalian berdua?" tanya Aryan.
"Kenapa papa bertanya seperti itu, sudah pasti yang Nathan dan Vina bicarakan adalah masalah kantor, tidak ada alasan untuk membicarakan masalah pribadi dengan Vina!" balas Nathan.
"Jangan membuat nama baik keluarga kita tercoreng Nathan, kau harus berpikir panjang sebelum bertindak!" ucap Aryan sambil beranjak dari duduknya.
"Nathan mengerti pa," balas Nathan.
Aryan kemudian keluar dari ruangan Nathan, meninggalkan Nathan yang masih merasa frustasi dengan semua masalah yang sedang ia hadapi.
**
Di apartemen Evan, kini sudah tercium wangi kue yang memenuhi setiap sudut ruangan saat Evan mengeluarkan brownies dari dalam oven.
__ADS_1
"Waaaahhh baunya saja sudah sangat enak, aku sudah tidak sabar untuk mencobanya!" ucap Aleea dengan kedua matanya yang berbinar saat melihat brownies yang baru saja keluar dari oven.
Setelah beberapa menit menunggu, Evan kemudian menghias fudgy brownies itu dengan lelehan coklat dan kacang almond di beberapa bagiannya, sedangkan yang lainnya ia biarkan polos tanpa topping apapun.
"Apa aku sudah boleh mencobanya?" tanya Aleea tak sabar.
"Tentu saja, cobalah!" balas Evan.
Dengan penuh senyum aleeapun mengambil satu potong fudgy brownies itu lalu memasukkannya ke dalam mulut tanpa ragu.
Seketika kedua matanya berbinar merasakan rasa coklat yang menjalar ke seluruh mulutnya.
"Waaahhh..... ini benar-benar luar biasa, kau harus mencobanya Evan, cepatlah!" ucap Aleea sambil memberikan satu potong fudgy brownies pada Evan.
Evan hanya membuka mulutnya, membiarkan Aleea menyuapinya fudgy brownies yang baru saja mereka buat.
"Hmmmm......"
Evan mengangguk-anggukkan kepalanya merasakan rasa manis coklat yang memenuhi mulutnya.
"Aaaahhh rasanya aku ingin menghabiskan semuanya!" ucap Aleea dengan raut wajah yang tampak begitu senang saat itu.
"Kau bisa menghabiskan semua ini Aleea, makan sebanyak apapun yang kau inginkan," balas Evan.
Aleeapun menganggukkan kepalanya dengan penuh senyum, sedangkan Evan hanya tersenyum tipis melihat Aleea yang begitu senang saat itu. Dalam hatinya ia merasa sangat bahagia dengan hal itu.
Evan kemudian mengambil toples kaca dan memasukkan potongan fudgy brownies ke dalamnya.
"Masih ada banyak bahan kue yang tersisa, apa kau mau membantuku untuk belajar membuat kue lagi?" ucap Aleea sekaligus bertanya.
"Sebenarnya aku juga tidak terlalu pandai membuatnya Aleea, aku hanya mengingat apa yang dulu pernah mama lakukan dan sesekali melihat resep di internet," balas Evan.
"Tapi kau membuatnya dengan sangat baik Evan, ayolah bantu aku, aku mohon!" ucap Aleea memohon dengan menggenggam satu tangan Evan.
Seketika Evan terdiam, ia membeku untuk beberapa saat sebelum Aleea mengangkat tangannya yang ada dalam genggaman Aleea.
"Kau mau membantuku bukan?" tanya Aleea dengan menatap kedua mata Evan.
"Iya.... kita akan membuatnya bersama," jawab Evan dengan tersenyum canggung.
"Terima kasih Evan, kau memang sangat baik!" ucap Aleea sambil melepaskan tangan Evan lalu mengambil toples fudgy brownies dan membawanya ke ruang tamu.
"Astaga, apa yang terjadi padaku? sadarlah Evan, dia istri sahabatmu!" ucap Evan dalam hati sambil berusaha menenangkan debaran dalam dadanya.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat Aleea baru saja selesai mandi.
"Kau bisa memakai pakaianku untuk sementara Aleea, aku lupa belum membeli pakaian ganti untukmu," ucap Evan dari depan kamarnya.
"Tidak masalah Evan, terima kasih," balas Aleea dari dalam kamar Evan yang tertutup.
Evan kemudian mengambil ponselnya di meja, mencari pakaian perempuan dari ponselnya lalu membeli beberapa yang dia rasa cocok untuk Aleea.
Tak lama kemudian terdengar bel pintu apartemennya yang berbunyi, membuat Evan mengernyitkan keningnya.
"Aku baru saja memesannya, tidak mungkin langsung datang bukan?" tanya Evan pada dirinya sendiri.
Karena bel pintunya terus berbunyi, Evanpun segera membuka pintunya dan sangat terkejut saat melihat Nathan yang sudah berdiri dengan raut wajahnya yang kesal.
"Tidak biasanya kau tiba-tiba kesini, ada apa?" tanya Evan.
"Apa aku harus membuat janji dulu sebelum aku kesini?" balas Nathan sambil membawa langkahnya masuk begitu saja.
Nathan kemudian duduk di sofa dan melihat beberapa kantong belanja di dekatnya.
"Apa kau baru saja berbelanja?" tanya Nathan sambil membuka satu kantong belanja di dekatnya, namun dengan cepat Evan mengambilnya dan memindahkannya ke tempat lain.
"Tidak," jawab Evan singkat.
"Lalu? semua itu?"
"Aku sudah membelinya sejak lama dan belum sempat memindahkannya," jawab Evan beralasan.
"Bisanya kau selalu rapi, tidak biasanya kau....."
"Berhentilah menggerutu Nathan, ada apa kau kesini? apa kau masih mengkhawatirkanku?" tanya Evan memotong ucapan Nathan.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya..... sedang suntuk saja dan keadaan kantor membuatku semakin stres!" jawab Nathan.
"Apa ada masalah di kantor?" tanya Evan.
"Tidak ada, hanya masalah kecil yang tidak perlu dipikirkan," jawab Nathan berbohong agar Evan tidak memaksa untuk segera pergi ke kantor jika Evan mengetahui permasalahan yang sebenarnya.
Evan kemudian mengambil minuman dan menaruhnya di depan Nathan lalu berjalan masuk ke kamarnya seolah tidak ada Aleea disana.
Di dalam kamar, Aleea yang mendengar suara Nathan hanya diam di tepi ranjang. Suasana hatinya yang sudah membaik sejak pagi tiba-tiba saja berubah saat menyadari keberadaan Nathan disana.
"Kau pasti tau ada Nathan disini, apa kau tidak ingin menemuinya?" tanya Evan pada Aleea dengan suara yang sangat pelan.
Aleea hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Rasa sedih dan sakit kembali terasa memenuhi setiap sudut hatinya saat itu.
"Baiklah, aku mengerti," ucap Evan lalu keluar dari kamarnya dan membawa langkahnya duduk di samping Nathan.
"Aku akan menginap malam ini!" ucap Nathan yang membuat Evan segera membawa pandangannya pada Nathan.
"Menginap? kenapa?" tanya Evan
"Saat ini kantor dan rumah menjadi tempat yang sangat tidak nyaman untukku, aku ingin menjauh dari keduanya," jawab Nathan sambil membuka minuman kaleng yang ada di depannya.
"Apa karena Aleea tidak ada di rumah?" tanya Evan.
"Tentu saja tidak, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Aleea, aku hanya..... aku merasa perlu suasana yang berbeda saja," jawab Nathan.
"Tapi bukan berarti kau bisa menginap disini Nathan, hanya ada satu kamar disini dan aku tidak mungkin tidur satu ranjang denganmu!" ucap Evan.
"Aku bisa tidur disini," balas Nathan sambil menepuk-nepuk sofa yang didudukinya.
"Tidak, kau harus pergi, aku tidak bisa menerima tamu yang tidur disini!" ucap Evan menolak.
"Tamu? kau memperlakukanku sebagai tamu disini? setelah bertahun-tahun kita bersahabat?" tanya Nathan tak terima dengan segera beranjak dari duduknya.
"Hahaha.... duduklah!" ucap Evan sambil menarik tangan Nathan agar kembali duduk.
"Bukankah kau tau jika aku terbiasa sendirian? lagi pula selama kita bersahabat kau tidak pernah menginap di tempatku!" lanjut Evan.
"Baiklah jika kau tidak bisa menerimaku, lebih baik aku pergi ke hotel saja!" ucap Nathan dengan menghela napasnya yang membuat Evan terkekeh.
Waktu berlalu, malampun semakin larut. Nathan memutuskan untuk pergi dari apartemen Evan setelah beberapa lama ia berada disana.
Saat baru saja Nathan membuka pintu, bersamaan dengan itu seseorang datang mengantar barang pesanan Evan.
"Sejak kapan kau membeli pakaian di butik itu?" tanya Nathan pada Evan saat Nathan membaca nama butik yang ada pada tas belanja dengan nama butik yang tertulis disana.
"Apa aku harus melaporkan padamu dimana saja aku membeli pakaian?" balas Evan bertanya tanpa menjawab pertanyaan Nathan.
"Setahuku kau bukan orang yang suka berbelanja," ucap Nathan.
"Sesekali berbelanja tidak ada salahnya bukan?" balas Evan.
"Yaa.... yaa... ya... terserah kau saja, aku pergi dulu!" ucap Nathan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Evan.
Evanpun menutup pintunya setelah memastikan Nathan pergi. Evan kemudian mengetuk pintu kamarnya beberapa kali sebelum ia membukanya.
"Aku sudah membeli beberapa pakaian untukmu Aleea, kau pasti tidak nyaman mengenakan pakaian milikku!" ucap Evan.
"Terima kasih Evan, tapi mungkin sebaiknya aku pergi saja dari sini, aku bisa tinggal di hotel untuk sementara sampai aku siap untuk bertemu Nathan," ucap Aleea.
"Nathan bisa melacak penggunakan kartu kreditmu Aleea dan dia bisa dengan mudah menemukanmu, bagaimana jika dia tiba-tiba datang dan memaksamu pulang?" tanya Evan.
"Sepertinya tidak mungkin, bukankah kau dengar sendiri jika dia sudah tidak peduli padaku," balas Aleea.
"Itu karena dia tidak berhasil mencarimu Aleea, jika dia tau dimana keberadaanmu, kita tidak tahu apa yang akan dia lakukan padamu nanti!" ucap Evan.
Aleea hanya diam dengan kepalanya yang tertunduk. Mendengar suara Nathan saja sudah membuka kembali kesedihan dalam hatinya, entah bagaimana jika ia harus bertemu dengan Nathan sebelum ia siap.
"Kau harus menenangkan dirimu sebelum bertemu dengan Nathan, Aleea," ucap Evan sambil memegang kedua bahu Aleea.
"Aku tau, tapi sepertinya aku membutuhkan waktu yang lebih lama," balas Aleea.
"Kau bisa tinggal disini sampai kapanpun kau mau Aleea, aku akan menyiapkan apapun kebutuhanmu dan aku pastikan Nathan tidak akan mengetahui keberadaanmu disini sebelum kau siap untuk bertemu dengannya," ucap Evan.
Aleea kemudian mengangkat kepalanya, membawa pandangannya pada Evan yang duduk di sampingnya.
"Kenapa kau sangat padaku Evan? kenapa kau harus bertindak sejauh ini hanya untukku yang bukan siapa-siapa ini?" tanya Aleea.
__ADS_1
"Karena aku merasa bersalah padamu Aleea, karena aku yang sudah membuatmu berada dalam situasi yang menyedihkan ini dan hanya ini yang bisa aku lakukan untuk meringankan rasa bersalahku padamu," jawab Evan dalam hati.
Evan tentu tidak mampu menjawab jujur pertanyaan Aleea, ia hanya mengatakannya dalam hati dengan kedua matanya menatap Aleea.