Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Mendalami Kebohongan


__ADS_3

Nathan duduk di tempatnya dengan masih memikirkan tentang apa yang baru saja ia lihat antara Aleea dan Evan.


Melihat Aleea dan Evan bersitegang membuat Nathan berpikir tentang keberadaannya disana dan bagaimana sebenernya hubungan antara Aleea dan Evan.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Tika yang menghampiri Nathan dengan memberikan satu gelas minuman dingin.


Nathan hanya menganggukkan kepalanya sambil menerima minuman dari Tika lalu meminumnya.


"Jangan salah paham, Aleea dan Evan hanya berteman, seperti kau yang berteman dengan Evan," ucap Tika yang membuat Nathan segera membawa pandangannya pada Tika.


"Apa kau juga mengenal Evan?" tanya Nathan.


"Tentu saja, dia teman baik Aleea dan Aleea adalah teman baikku, jadi aku juga mengenal Evan," jawab Tika.


"Darimana kau tau tentang pertemananku dengan Evan? apa Aleea yang bercerita?" tanya Nathan.


"Aleea tidak pernah menceritakan apapun tentangmu, meskipun kita berteman, tetapi Aleea tidak pernah menceritakan masalah pribadinya padaku," jawab Tika.


"Dan tentang pertemananmu dengan Evan, aku rasa semua orang mengetahuinya, hampir semua orang disini mengenalmu melalui media dan dimana ada kau selalu ada Evan, benar begitu bukan?" lanjut Tika.


Nathan hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.


"Aku pernah melihat wawancaramu bersama salah satu media bisnis, kau tidak hanya menceritakan tentang bisnis yang kau jalani saat ini tapi kau juga menceritakan hubungan baikmu dengan Evan," ucap Tika.


"Kau melihatnya?" tanya Nathan terkejut karena ia sangat mengingat tentang wawancara yang sudah ia lakukan beberapa tahun yang lalu.


"Aku sangat tertarik dengan dunia bisnis, jadi aku banyak mengikuti tokoh-tokoh yang aku anggap berpengaruh dan salah satunya adalah kau," jelas Tika.


Nathan hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Tika.


"Meksipun pada awalnya aku sangat membencimu," ucap Tika yang membuat Nathan terkejut dan segera membawa pandangannya pada Tika.


"Membenciku? kenapa?" tanya Nathan.


"Karena aku pikir orang sukses di usia muda sepertimu adalah orang yang beruntung karena memiliki orang tua yang sudah membangun bisnisnya sejak lama, jadi orang sepertimu hanya tinggal melanjutkan saja tanpa harus bekerja keras," jawab Tika.


"Itu tidak semudah yang kau pikirkan, justru hal itu yang menjadi tekanan untuk seseorang sepertiku," ucap Nathan.


"Iya aku tau, aku mulai merubah pandanganku tentang hal itu setelah aku melihat bagaimana anak seorang pebisnis sukses yang menghancurkan bisnis orang tuanya sendiri, jadi aku mulai membuka diri tentang hal itu," balas Tika.


"Tentang Evan, sejauh apa kau mengenalnya?" tanya Nathan.


"Aku hanya mengenalnya sebagai laki-laki yang baik, dia penuh perhatian pada orang-orang di sekitarnya," jawab Tika.


"Bagaimana dengan Aleea? apa kau sudah lama mengenalnya?" tanya Nathan.


"Aku mengenal Aleea dari kelas memasak, dia perempuan yang baik dan pintar, dia tidak banyak bicara jika bersama orang-orang baru atau lingkungan yang membuatnya tidak nyaman, tapi dia akan menjadi sosok yang sangat menyenangkan di lingkungan yang membuatnya nyaman," jelas Tika.


"Apa dia tidak pernah mengatakan apapun tentangku?" tanya Nathan penasaran.


"Tidak, seperti yang sudah aku katakan, dia tidak pernah bercerita tentang kehidupan pribadinya, dia sangat tertutup tentang hal itu," jawab Tika.


"Satu yang aku tau, sedekat apapun dia dan Evan, dia bisa menjaga hubungannya tetap sehat, karena dia sudah memilikimu dan menganggap Evan hanya sebatas teman," lanjut Tika.


"Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang ada di dalam hati orang lain," ucap Nathan dalam hati.


Tak lama kemudian Aleea masuk ke dalam tenda stand, Nathanpun segera beranjak dari duduknya, meraih tangan Aleea lalu memaksanya keluar dan berjalan ke arah tempat yang sepi dari lalu-lalang orang.


"Lepaskan aku!" ucap Aleea kesal sambil menarik tangannya dengan kasar.


"Apa kau tidak bisa berpikir sebelum bertindak, Aleea? apa kau sungguh sangat bodoh atau hanya berpura-pura bodoh?" tanya Nathan dengan menatap kedua mata Aleea.


"Apa maksudmu? kau....."

__ADS_1


"Kau mengejar Evan dan mengobrol berdua dengannya di tempat yang sepi, entah apa yang kalian berdua bicarakan, tapi apa yang kau lakukan dengannya bisa menimbulkan kecurigaan bagi siapapun yang melihatnya, Aleea!" ucap Nathan memotong ucapan Aleea.


"Apa kau mengikutiku?" tanya Aleea yang terkejut karena Nathan melihat apa yang ia lakukan dengan Evan.


"Apa itu penting sekarang? selama ini aku hanya diam melihatmu bersama Evan, aku sama sekali tidak peduli dengan apa saja yang kalian berdua lakukan di luar sana, tapi kau sudah sangat keterlaluan jika melakukan hal itu di tempat umum, Aleea!"


"Melakukan apa? aku hanya mengobrol dengannya, membicarakan kesalahpahaman agar tidak semakin berlarut-larut, ucapanmu itu yang keterlaluan karena seperti menuduhku melakukan hal yang salah bersama Evan!" balas Aleea.


"Apa yang kau lakukan memang salah Aleea, semua orang tau kau adalah istriku dan apa yang baru saja kau lakukan bisa menjadi masalah besar yang tidak hanya melibatkan ku tapi juga melibatkan mama papa dan perusahaan!" ucap Nathan.


"Kau sangat berlebihan Nathan!" ucap Aleea yang akan berjalan pergi, namun Nathan segera menahan tangan Aleea.


"Dengarkan aku Aleea, selama kau masih menjadi istriku, semua yang kau lakukan akan berimbas padaku, keluargaku dan perusahaanku, jadi jangan pernah melakukan hal bodoh yang hanya akan kau sesali nanti!" ucap Nathan.


Aleea menganggukkan kepalanya pelan lalu menarik tangannya dari Nathan dan melepaskan cincin yang melingkar di jari kelingkingnya.


"Aku kembalikan cincin ini padamu sebagai bukti jika sudah tidak ada pernikahan di antara kita dan aku bebas melakukan apapun yang aku mau selama itu tidak mengganggu nama baikmu dan keluargamu!" ucap Aleea sambil memberikan cincin itu pada Nathan.


"Dengan atau tanpa cincin ini, kau tetap ada di bawah kendaliku Aleea, dengan kontrak yang sudah kau tanda tangani, kau tidak akan bisa melakukan apapun sesukamu!" ucap Nathan lalu membuang cincin yang Aleea berikan padanya.


Seketika Aleea membawa pandangannya ke arah cincin yang menggelinding. Tiba-tiba sekilas memori melintas di kepala Aleea saat ia melihat cincin yang menggelinding tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Aleea melihat cincin yang berbeda menggelinding bersama suara-suara samar yang terdengar di telinga Aleea.


Tiba-tiba......


TIIIINN TIIIINN TIIIIN


Suara klakson menggema dengan jelas di telinga Aleea, begitu jelas dan memekikkan telinganya sampai membuat kepalanya pusing.


Seketika Aleea menutup kedua telinganya dengan tangannya, memejamkan matanya menahan pusing yang seolah menusuk kepalanya dengan sangat dalam.


Aleea terduduk, riuh yang samar kini mulai terdengar jelas bersama memori yang menangkap wajah laki-laki yang menghampirinya saat ia terbaring dengan segala perasaan takut dan sakit yang ia rasakan.


"Aleea, ada apa denganmu, Aleea?" tanya Nathan yang berjongkok di hadapan Aleea.


"Aleea, buka matamu Aleea, apa yang terjadi padamu?" tanya Nathan dengan memegang kedua bahu Aleea.


"Nathan..... kecelakaan itu......"


Aleea terbata-bata mengatakan apa yang baru saja ia sadari saat itu. Dari kilasan memori singkatnya, Aleea kini menyadari jika ada Nathan dalam kecelakaan yang terjadi padanya yang membuatnya harus kehilangan ingatannya.


Perlahan Aleea melepaskan kedua tangannya yang memegang telinganya, membuka matanya dan melihat Nathan yang ada di hadapannya.


Seketika kedua kaki Aleea terasa lemas, ia menjatuhkan dirinya di hadapan Nathan dan dengan sigap Nathan menahan Aleea dengan memeluknya.


"Aleea, apa yang terjadi? katakan padaku!" tanya Nathan yang masih mengkhawatirkan Aleea.


Aleea tidak menjawab pertanyaan Nathan, ia justru memeluk Nathan dan semakin lama pelukannya semakin erat hingga tiba-tiba Aleea kehilangan kesadarannya.


Menyadari hal itu, Nathanpun segera membawa Aleea ke ruang medis. Setelah mendapatkan pemerikasaan dari perawat yang ada disana, Aleea dibiarkan istirahat di ruang medis untuk beberapa lama.


"Keadaannya stabil, kemungkinan dia mengalami kelelahan, jika dalam waktu 30 menit dia belum sadar, kita akan membawanya ke rumah sakit terdekat!" ucap perawat.


Nathanpun memutuskan untuk menemani Aleea disana, setelah ia meminta tolong perawat untuk memberi tahu Tika tentang apa yang terjadi pada Aleea.


Untuk beberapa lama Nathan hanya diam, memperhatikan Aleea yang masih terpejam di hadapannya.


"Ada apa sebenarnya dengannya? apa dia mengingat sesuatu?" batin Nathan bertanya dalam hati.


Setelah beberapa lama menunggu, Nathan melihat Aleea yang mulai mengerjap dengan perlahan.


"Aleea, kau sudah sadar?" tanya Nathan sambil menggenggam tangan Aleea.

__ADS_1


Aleea hanya diam, ia menatap Nathan yang duduk di samping ranjangnya dengan menggali kembali ingatan singkat yang beberapa saat lalu mengulas kembali di kepalanya.


"Jika kau masih merasa pusing, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Nathan yang melihat Aleea hanya terdiam menatapnya.


Aleea menggelengkan kepalanya pelan lalu berusaha untuk beranjak dengan dibantu Nathan.


"Aku akan meminta Evan untuk membantu Tika, kau harus pulang dan berisitirahat di rumah!" ucap Nathan.


"Nathan, tolong jawab dengan jujur pertanyaanku ini!" ucap Aleea yang tidak menghiraukan ucapan Nathan.


"Apa yang ingin kau tanyakan, Aleea?" tanya Nathan.


"Tentang kecelakaan yang membuatku hilang ingatan, apa kau terlibat dalam kecelakaan itu?"


Seketika Nathan terdiam, dadanya tiba-tiba berdebar, khawatir jika Aleea sudah mengingat apa yang sebenarnya terjadi saat itu.


"Katakan padaku dengan jujur Nathan, aku mohon!" ucap Aleea memohon.


"Apa kau.... mengingat sesuatu?" tanya Nathan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Aleea.


"Apa yang kau ingat Aleea?" tanya Nathan.


"Cincin yang tadi kau buang membuatku mengingat kejadian kecelakaan itu, semua suara dan visual yang sebelumnya samar, sekarang mulai jelas dan sekarang aku tau alasanku berlari ke jalan raya saat itu adalah untuk mengambil cincin," jelas Aleea.


"Aku tidak mengingat apa yang terjadi sebelumnya, tetapi aku mengingat dengan jelas saat aku berusaha mengambil cincin itu, ada sebuah mobil yang menabrakku kemudian seorang laki-laki datang menghampiriku dan laki-laki itu adalah.... kau Nathan!" lanjut Aleea.


Untuk beberapa saat Nathan terdiam, ia sadar semakin lama ingatan Aleea akan semakin bertambah dan saat ini Aleea sudah mengingat keberadaan dirinya yang berada di lokasi kecelakaan itu terjadi.


"Tolong jawab dengan jujur Nathan, apa benar kau terlibat dengan kecelakaan itu?" tanya Aleea yang menginginkan jawaban dari Nathan.


"Apa yang kau ingat saat ini bukanlah kejadian yang utuh Aleea, kau hanya mengingat beberapa bagian dari apa yang terjadi saat itu dan iya.... kau benar, aku terlibat dengan kecelakaan yang terjadi padamu saat itu," jawab Nathan setelah ia berusaha berpikir dengan cepat.


"Katakan padaku Nathan, apa yang terjadi saat itu, siapa yang membuang cincin itu? dan kenapa kau ada disana?" tanya Aleea.


Nathan menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan sebelum ia menjawab pertanyaan Aleea dengan segala alasan yang sudah ia pikirkan sebelumnya.


"Sebenarnya saat itu kita sedang bertengkar, kau marah dan membuang cincin yang aku berikan padamu, tapi saat aku akan mengambil cincin itu, kau justru menahanku dan segera berlari untuk mengambilnya," jelas Nathan.


"Aku tidak tau kenapa kau menahanku saat itu dan bodohnya aku, aku terlambat menahanmu saat itu dan terjadilah kecelakaan itu, andai saja aku bisa menahanmu, kecelakaan itu pasti tidak akan terjadi," lanjut Nathan dengan menundukkan kepalanya.


"Sepertinya hubungan kita sudah rumit sejak awal," ucap Aleea setelah mendengar semua penjelasan Nathan.


"Kau benar, kau selalu meragukan keseriusanku padamu, itu kenapa aku segera melamarmu saat kita di Paris, aku menunjukkan keseriusanku dengan pernikahan, tetapi kau yang menolak dan terus menunda, itu yang selalu membuat kita bertengkar saat itu," ucap Nathan.


"Dan itu yang membuatku melempar cincin itu?" tanya Aleea yang dibalas anggukan kepala oleh Nathan


"Aku melempar cincin itu dan Nathan berusaha untuk mengambilnya tetapi aku menahannya? kenapa? kenapa aku menahannya? apa karena aku benar-benar mencintainya dan tidak ingin dia terluka?" batin Aleea bertanya dalam hati.


"Kau adalah perempuan pertama dan satu-satunya dalam hidupku Aleea, tidak mudah bagiku untuk menjalani hubungan denganmu, tapi aku selalu berusaha untuk meyakinkanmu, itu kenapa ada perjanjian yang kita sepakati sebelum kita menikah," ucap Nathan.


"Perjanjian yang terlihat konyol dan bodoh itu ada agar kita bisa berpikir lebih panjang sebelum kita memutuskan untuk berpisah setelah banyak hal yang sudah kita lewati bersama," lanjut Nathan.


"Tapi kenapa kau masih mempertahankanku Nathan? bukankah kau sudah tidak mencintaiku?" tanya Aleea.


"Perjanjian itu adalah jawabannya, perjanjian itu yang membuatku ragu untuk melepaskanmu, aku sudah berusaha melupakanmu dengan bersikap buruk padamu, dengan semua alasan yang mungkin tidak bisa kau terima, tapi......"


Nathan menghentikan ucapannya, ia membawa pandangannya menatap Aleea yang duduk di hadapannya.


"Ini adalah saat yang tepat, ini saat yang aku tunggu," ucap Nathan dalam hati.


"Tapi apa?" tanya Aleea.


"Pada akhirnya aku sadar jika aku tidak bisa benar-benar membencimu, aku menjalani hari-hariku dengan rasa bersalah karena kecelakaan itu, aku berusaha melupakan rasa bersalah itu dengan mencoba untuk membencimu karena aku sangat lelah dengan rasa bersalah itu, aku..... aku....."

__ADS_1


Nathan terdiam, tenggorokannya seperti tercekat, entah kenapa ada rasa sedih yang tiba-tiba ia rasakan saat itu.


"Sial, aku terlalu mendalami kebohonganku," ucap Nathan dalam hati.


__ADS_2