
Aleea tidak segera membalas pesan dari Nathan, ia masih sedikit terkejut karena tidak biasanya Nathan mengirim pesan seperti itu padanya.
"Lebih baik kita pulang sekarang!" ucap Evan setelah Aleea memberi tahunya pesan Nathan.
"Baiklah," balas Aleea.
Aleea kemudian mengetik pesan di ponselnya untuk membalas pesan Nathan.
"Tidak perlu menjemputku, aku sudah dalam perjalanan pulang!"
"Apa Nathan sering mengatakan hal itu padamu, Aleea?" tanya Evan pada Aleea.
"Tidak, biasanya dia tidak pernah peduli kapan aku pergi dan pulang," jawab Aleea.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Aleea kembali berdering, kali ini sebuah panggilan masuk dari Tika.
"Halo Tika," ucap Aleea setelah ia menerima panggilan Tika.
"Aku benar-benar merasa sangat putus asa Aleea, aku tidak bisa mendapatkan satu temanpun yang bisa membantu kita di bazar nanti," ucap Tika.
"Aaahhh begitu, apa sebaiknya kita mengikutinya pagi sampai siang saja?" tanya Aleea memberi saran.
"Sayang sekali jika kita tidak bisa mengikutinya sampai malam, karena ini adalah salah satu cara promosi yang cukup berpengaruh untuk toko kue kita," balas Tika.
"Kau benar, tapi kita tidak bisa mengikutinya dari pagi sampai malam jika kita hanya berdua Tika, harus ada setidaknya satu atau dua orang yang bisa membantu kita," ucap Aleea.
"Bagaimana jika kau meminta tolong pada Evan?" tanya Tika yang membuat Aleea seketika membawa pandangannya pada Evan.
"Aku sudah banyak merepotkannya Tika, lebih baik kita cari jalan keluar yang lain, kita bahas di ruko saja besok pagi!" ucap Aleea.
"Oke baiklah, bye!"
"Bye!"
Aleea kembali memasukkan ponselnya ke dalam tasnya setelah ia mengakhiri panggilan Tika.
"Ada apa Aleea? apa ada masalah?" tanya Evan pada Aleea.
"Tidak ada," jawab Aleea.
"Jangan berbohong Aleea, katakan saja padaku jika kau membutuhkan bantuanku!" ucap Evan yang seolah mengerti permasalahan Aleea.
"Kau sudah banyak membantuku Evan, kali ini aku akan berusaha menyelesaikannya sendiri bersama Tika," balas Aleea.
"Apa kau yakin?" tanya Evan memastikan yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Aleea.
"Kalau kau membutuhkan bantuanku, jangan ragu untuk mengatakannya padaku Aleea, aku akan merasa sangat bersalah jika membiarkanmu mengalami kesulitan!" ucap Evan.
"Aku pasti akan datang padamu jika aku sudah tidak memiliki jalan keluar lain, tapi untuk saat ini aku akan mengusahakannya sendiri bersama Tika," balas Aleea.
"Baiklah, semoga kau dan Tika bisa menyelesaikan masalah kalian," ucap Evan yang kembali dibalas anggukan kepala oleh Aleea.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evanpun sampai di rumah Nathan.
Saat Aleea dan Evan baru saja keluar dari mobil, mereka melihat Nathan yang duduk di kursi teras dengan laptop dan buku yang ada di hadapannya.
"Sepertinya dia menunggumu," ucap Evan pelan pada Aleea.
"Tidak mungkin," balas Aleea yang juga berbisik.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang Evan, aku masuk dulu!" ucap Aleea yang dibalas anggukan kepala oleh Evan.
Aleeapun masuk ke dalam rumah, mengabaikan Nathan yang sebenarnya memang menunggu kepulangan Aleea.
Sedangkan Evan, ia membawa dirinya duduk di hadapan Nathan yang tampak sibuk dengan laptopnya.
Tanpa Aleea dan Evan tahu, sebenarnya tidak ada hal penting yang Nathan lakukan saat itu. Ia sengaja membuat dirinya terlihat sibuk agar Aleea dan Evan tidak berpikir jika dirinya sedang menunggu Aleea.
"Tidak sengaja bertemu lagi?" tanya Nathan tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Maksudmu aku dan Aleea?" balas Evan bertanya, namun Nathan hanya diam tanpa mengatakan apapun.
"Aku memang menjemputnya, dia selalu pulang larut malam dan aku mengkhawatirkanya," ucap Evan menjelaskan.
"Pulanglah, aku sudah mengantuk!" ucap Nathan lalu menutup laptopnya kemudian beranjak dari duduknya.
"Baiklah!" balas Evan lalu ikut beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam mobilnya.
Sedangkan Nathan, membawa langkahnya masuk ke dalam rumah, menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.
"Sengaja menjemputnya karena khawatir? kenapa? kenapa kau terlalu mengkhawatirkannya, Evan?" tanya Nathan lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya dengan kesal.
Entah kenapa mendengar jawaban Evan membuatnya kesal, ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya ingin marah.
__ADS_1
**
Hari telah berganti. Pagi itu Aleea bangun dari tidurnya seperti biasa. Setelah mempersiapkan dirinya, ia pergi ke dapur untuk membuat jus sebagai sarapannya.
Aleea menikmati jus buatannya sembari membalas pesan Tika. Setelah menghabiskan jusnya, Aleea meraih tas selempangnya lalu keluar dari rumah karena taksi yang dipesannya sudah menunggu di depan.
Di sisi lain, bibi yang baru saja selesai memasak, membawa hasil masakannya ke meja makan seperti biasa dan mendapati ponsel Aleea yang tertinggal di meja makan.
Bibi kemudian berlari keluar dengan membawa ponsel Aleea, namun taksi sudah membawa Aleea pergi.
Bibi pun kembali masuk dan menaruh ponsel Aleea di meja makan seperti sebelumnya.
Tak lama kemudian Nathan menuruni tangga dan membawa langkahnya ke arah meja makan.
"Apa Aleea belum berangkat bi?" tanya Nathan pada bibi setelah Nathan melihat ponsel Aleea yang ada di meja makan.
"Baru saja berangkat tuan, sepertinya non Aleea tidak tahu jika ponselnya tertinggal," jawab bibi.
"Dasar ceroboh," ucap Nathan pelan lalu membawa dirinya duduk untuk menikmati sarapannya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Aleea berdering, membuat Nathan seketika membawa pandangannya ke arah ponsel Aleea dan melihat nama Tika disana.
Pada awalnya Nathan mengabaikannya, tetapi ponsel Aleea terus berdering yang membuat Nathan akhirnya menerima panggilan Tika.
"Halo Aleea, sepertinya kita dalam masalah, pendaftar yang mengikuti bazar sangat banyak jadi ada beberapa seleksi agar kita bisa mengikuti bazar, salah satunya bersedia untuk mengikuti kegiatan dari pagi sampai malam," ucap Tika.
Nathan yang mendengar apa yang Tika katakan hanya diam, meskipun ia tidak mengerti apa yang sedang Tika katakan saat itu.
"Kita tidak bisa melewatkan bazar ini Aleea, tapi kita harus mendapatkan satu anggota lagi atau kita tidak akan bisa mengikuti bazar hari Minggu besok!" ucap Tika.
"Bazar? bazar apa?" batin Nathan bertanya dalam hati.
"Halo Aleea, apa kau mendengarku?" tanya Tika yang tidak mendengar apapun dari Aleea.
"Halo Aleea....."
Tiba-tiba terdengar suara langkah yang berlari memasuki rumah, Nathanpun segera membawa pandangannya ke arah sumber suara dan melihat Aleea yang berlari ke arahnya.
Seketika Nathan mengakhiri panggilan Tika lalu memamerkan ponsel Aleea yang ia pegang.
"Apa kau berlari untuk mengambil ini?" tanya Nathan.
"Kembalikan ponselku!" ucap Aleea yang berusaha merebut ponselnya dari tangan Nathan, namun Nathan justru mengangkat tangannya agar Aleea tidak bisa mengambilnya.
"Jelaskan dulu padaku apa maksud bazar yang akan kau lakukan hari Minggu nanti!" ucap Nathan yang membuat Aleea begitu terkejut.
"Apa kau membuka ponselku?" tanya Aleea dengan raut wajahnya yang emosi.
"Tidak," jawab Nathan.
"Lalu darimana kau mengetahui tentang bazar itu?" tanya Aleea.
"Temanmu mengatakan semuanya," jawab Nathan.
"Nathan, kau sama sekali tidak berhak membuka isi ponselku apa lagi menerima panggilan temanku, kau....."
"Jelaskan saja Aleea!" ucap Nathan memotong ucapan Aleea.
"Kau benar-benar keterlaluan Nathan, kau tidak hanya merampas hidupku tapi juga merampas privasiku!" ucap Aleea yang enggan untuk menjawab. pertanyaan Nathan.
"Aku tidak akan mengembalikan ponsel ini jika kau tidak menjelaskannya padaku!" ucap Nathan lalu membawa langkahnya pergi dengan masih memegang ponsel Aleea.
"Apa yang harus aku jelaskan? bukankah kau sudah mendengar semuanya?" tanya Aleea dengan berlari kecil mengejar Nathan.
"Aku harus pastikan dulu, sejauh apa dia mengetahuinya," ucap Aleea dalam hati.
"Temanmu itu hanya mengatakan jika kalian kekurangan anggota untuk membantu kalian di bazar yang diadakan hari Minggu nanti, bazar apa yang dia maksud dan kenapa kau terlibat dengan acara bazar itu?" tanya Nathan.
"Kembalikan dulu ponselku, aku akan menjelaskan semuanya padamu," ucap Aleea.
"Tidak, jelaskan dulu maka aku akan mengembalikannya!" balas Nathan.
Aleea menghela napasnya panjang, menundukkan kepalanya sebentar lalu membawa pandangannya pada Nathan yang berdiri di hadapannya.
"Kelas memasakku mengadakan bazar hari Minggu besok, karena temanku memiliki toko kue, jadi dia mengikuti bazar itu dan aku membantunya, tetapi seperti yang kau dengar, kita kekurangan orang untuk membantu kita," jelas Aleea.
"Hanya itu?" tanya Nathan.
"Iya, karena kita hanya berdua, kemungkinan kita hanya akan mengikuti bazar itu dari pagi sampai siang," jawab Aleea yang berusaha membuat Nathan mempercayainya.
"Apa kau sangat ingin membantu temanmu itu?" tanya Nathan.
"Tentu saja, dia adalah teman yang baik yang pertama kali aku kenal saat di kelas memasak," jawab Aleea.
__ADS_1
"Tapi sepertinya kalian tidak akan bisa mengikuti bazar," ucap Nathan.
"Kenapa?" tanya Aleea.
"Kau bisa bertanya sendiri pada temanmu, tapi aku bisa membantu jika kau mau!" ucap Nathan tanpa menjawab pertanyaan Aleea.
"Aku tidak membutuhkan bantuanmu!" balas Aleea tanpa ragu.
"Baiklah, dengarkan aku baik-baik Aleea, aku akan membantu temanmu di acara bazar itu, jika kau setuju aku akan mengembalikan ponselmu, jika kau tidak setuju maka aku tidak akan mengembalikannya!" ucap Nathan yang membuat Aleea membulatkan matanya kesal.
"Kau sudah berjanji akan mengembalikannya setelah aku menceritakan semuanya padamu, Nathan!" ucap Aleea yang mulai emosi karena Nathan mengingkari janjinya.
"Aku sudah berubah pikirkan, jadi apa keputusanmu?"
"Aku dan temanku sama sekali tidak membutuhkan bantuanmu, kita bisa melakukannya sendiri meskipun hanya mengikutinya dari pagi sampai siang, jadi kembalikan ponselku sekarang juga!" ucap Aleea dengan tegas sambil berusaha merebut ponselnya dari tangan Nathan.
"Tidak semudah itu Aleea, ponsel ini akan kembali padamu jika aku bisa ikut berpatisipasi dalam bazar itu!" balas Nathan lalu membawa langkahnya pergi begitu saja.
"Nathaaaannn!!!!"
"Jangan khawatir, aku tidak akan membuka ponselmu, aku akan menonaktifkannya karena aku membawanya hanya untuk berjaga-jaga jika mungkin kau berubah pikiran!" ucap Nathan dengan tersenyum tipis.
"Aku tidak akan berubah pikiran jadi percuma saja kau membawanya, kau....."
"Kau masih ingat alamat kantorku bukan? kau bisa datang kesana untuk mengambil ponselmu!" ucap Nathan memotong ucapan Aleea lalu masuk ke dalam mobil dan mengendarainya pergi begitu saja.
Nathan tertawa puas di dalam mobilnya, sedangkan Aleea hanya diam dengan raut wajah yang penuh emosi.
"Apa yang dia mau sebenarnya? sangat menyebalkan!" gerutu Aleea sambil membawa langkahnya keluar dari rumah.
Saat baru saja melewati gerbang, saat itu juga sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang dan seorang perempuan keluar dari mobil itu.
"Aleea, apa kau baik-baik saja?" tanya Tika yang membawa langkahnya menghampiri Aleea dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja, tapi kenapa kau tiba-tiba kesini?" balas Aleea.
"Aku tadi menghubungimu tapi kau hanya diam, aku berusaha menghubungi lagi tapi tidak tersambung, aku khawatir terjadi sesuatu padamu!" jelas Tika.
"Aaahh dia benar-benar menonaktifkannya rupanya," ucap Aleea dengan menghela nafasnya.
"Dia? dia siapa maksudmu Aleea?" tanya Tika tak mengerti.
"Aku akan menjelaskannya di jalan, kita ke ruko sekarang," ucap Aleea.
Mereka kemudian masuk ke dalam mobil dan Tikapun segera mengendarai mobilnya ke arah ruko.
"Apa yang terjadi Aleea? apa kau sungguh baik-baik saja?" tanya Tika yang masih mengkhawatirkan Aleea.
"Sebenarnya tidak sepenuhnya baik-baik saja karena yang menerima panggilanmu tadi pagi adalah Nathan," jawab Aleea.
"Nathan? kenapa bisa?" tanya Tika terkejut.
"Aku tidak sengaja meninggalkan ponselku di meja makan, saat aku kembali ke rumah, aku melihat Nathan membawa ponselku dan sepertinya saat itu dia baru saja menerima panggilanmu," jelas Aleea.
"Aaahh pantas saja aku tidak mendengar suaramu sama sekali," ucap Tika.
"Apa saja yang kau bicarakan tadi Tika?" tanya Aleea.
Tika kemudian menjelaskan pada Aleea tentang apa yang tadi dia katakan saat menghubungi Aleea, tentang syarat untuk bisa mengikuti bazar yang diharuskan untuk mengikutinya dari pagi sampai malam.
"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah Aleea? apa Nathan memarahimu karena perkataanku tadi?" tanya Tika di akhir penjelasannya.
"Tidak ada yang salah Tika dan yang paling penting Nathan tidak mengetahui tentang toko kue kita, aku hanya mengatakan jika toko kue itu milikmu," jawab Aleea.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Tika lega.
"Tapi ada satu masalah lagi Tika," ucap Aleea.
"Masalah apa Aleea?" tanya Tika.
"Nathan membawa ponselku, dia tidak akan mengembalikan ponselku jika aku tidak mengizinkannya untuk ikut membantu di acara bazar Minggu nanti," jelas Aleea.
"Memangnya dimana letak masalahnya Aleea? bukankah kita memang memerlukan bantuan? kita mendapatkan bantuan, ponselmu dikembalikan dan semua masalah selesai!" balas Tika.
"Apa kau yakin akan membiarkan Nathan membantu kita?" tanya Aleea.
"Apa aku tidak boleh membiarkannya?" balas Tika bertanya.
Aleea menghela napasnya panjang lalu mengalihkan pandangannya dari Tika.
"Dia tidak mungkin mau berurusan dengan urusanku, jika dia tiba-tiba ingin terlibat dengan urusanku, pasti ada sesuatu yang dia rencanakan dan aku tidak tahu apa yang sebenarnya dia rencanakan!" ucap Aleea dalam hati.
"Aku tidak akan memaksamu untuk menerima bantuan Nathan, tapi kau juga harus ingat Aleea, bazar ini hanya dilakukan satu kali dan kita tidak akan bisa mengikutinya jika kita tidak bisa mendapatkan teman yang bisa membantu kita!" ucap Tika.
"Kita berdua tidak akan bisa mengatasinya sendiri Aleea, kita membutuhkan bantuan," lanjut Tika.
__ADS_1
Aleea membawa pandangannya pada Tika dengan tatapan nanar. Apa yang Tika katakan memang benar, tetapi ia ragu untuk mengiyakan bantuan Nathan.