Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Rencana Mama Nathan


__ADS_3

Sebelum bertemu Evan, Hanna yang sejak tadi memikirkan hubungan Nathan, Aleea dan Evan, tiba-tiba merasa pusing saat ia masih berada di dalam lift.


Di kepalanya banyak kekhawatiran akan hubungan pernikahan Nathan dan Aleea, meskipun Nathan dan Aleea selalu meyakinkannya jika semuanya baik-baik saja.


Tiba-tiba Hanna merasa sesuatu yang basah merembes keluar dari hidungnya, dengan cepat Hanna menahannya dengan tangannya yang membuat tangannya berlumuran darah.


Bersamaan dengan itu, pintu liftpun terbuka dan Evan melihat apa yang terjadi pada Hanna saat itu.


Hanna yang sudah merasa sangat pusing dan lemah akhirnya keluar dari lift dan pergi ke toilet dengan bantuan Evan.


Di toilet, Hanna segera membersihkan darah yang keluar dari hidungnya. Beruntung, darah itu sama sekali tidak mengenai pakaiannya.


Hanna berusaha untuk tenang dan segera mengambil obat di dalam tasnya. Tidak ada yang tau jika di dalam tas yang selalu Hanna bawa, selalu ada obat dan sebotol kecil air mineral.


Setelah meminum obatnya, Hanna memulas wajahnya dengan make up agar tidak terlihat pucat lalu keluar dari toilet.


Hanna berusaha meyakinkan Evan jika dirinya baik-baik saja dan meminta Evan untuk tidak mengatakan pada Nathan tentang apa yang baru saja terjadi.


Hanna kemudian meninggalkan toilet bersama Evan yang saat itu tampak mengkhawatirkan keadaannya.


"Evan, sekali lagi Tante mohon, jangan mengatakan apapun pada Nathan tentang apa yang baru saja terjadi," ucap Hanna sebelum ia masuk ke ruangan Nathan.


"Iya tante, Evan mengerti," balas Evan dengan menganggukkan kepalanya.


"Lanjutkan pekerjaanmu, Tante akan menemui Nathan," ucap Hanna yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Evan.


Evan kemudian berjalan pergi meninggalkan Hanna, sedangkan Hanna segera membawa langkahnya ke ruangan Nathan.


Hanna mengetuk pintu beberapa kali sebelum ia masuk ke ruangan Nathan dan mendapati Nathan yang tampak fokus dengan pekerjaannya.


"Apa mama mengganggu?" tanya Hanna.


Nathan yang mendengar suara sang mama seketika mengalihkan pandangannya dari komputer dan tersenyum melihat kedatangan sang mama.


Hanna kemudian membawa dirinya duduk di hadapan Nathan.


"Sepertinya kau sangat sibuk, kau bahkan mengabaikan istrimu di rumah sakit," ucap Hanna.


"Tidak ada Vina di kantor membuat Nathan semakin sibuk ma," balas Nathan.


"Aaahh ya, dari mana mama tau jika Aleea di rumah sakit?" lanjut Nathan bertanya karena berpura-pura tidak mengetahuinya.


"Mmmmm.... mama.... kebetulan mama sedang menjenguk teman mama disana dan bertemu dengan Aleea yang sedang berada di luar ruangannya," jawab Hanna beralasan.


"Aaahh menjenguk teman..... apa mama mengantar Aleea pulang?"


"Iya, mama mengantarnya pulang setelah mama selesai menjenguk teman mama," jawab Hanna.


"Tapi ada hal lain yang ingin mama bicarakan denganmu Nathan," lanjut Hanna.


"Ada apa ma?" tanya Nathan.


"Saat mama membayar administrasi rumah sakit, kenapa wali Aleea adalah Evan? apa Evan yang membawa Aleea ke rumah sakit?" tanya Hanna.


"Iya, semalam Nathan ada pertemuan penting dengan klien, jadi Nathan meminta tolong Evan untuk mengantar Aleea ke rumah sakit," jawab Nathan berbohong.


"Kenapa harus Evan, Nathan?" tanya Hanna.


"Apa yang salah dengan hal itu ma? Evan adalah teman Nathan dan satu-satunya orang yang Nathan percaya adalah Evan, itu kenapa Nathan meminta tolong pada Evan," jawab Nathan.


"Berhentilah menyibukkan dirimu di kantor Nathan, perhatikan Aleea agar Aleea tidak tergoda oleh laki-laki lain, pernikahan kalian bukan main-main, apa yang terjadi pada kalian berdua akan membawa nama baik mama dan papa, kau tau itu bukan!"


"Iya ma, Nathan mengerti," balas Nathan.


"Mama sudah menyiapkan tiket untuk kalian berdua ke Paris, mama juga sudah menyiapkan hotel dan akomodasi selama kalian disana, jadi pastikan Minggu depan kau mengosongkan jadwalmu selama satu minggu!" ucap Hanna.


"Satu Minggu? di Paris? tidak mungkin ma!" balas Nathan yang terkejut dengan apa yang sang mama katakan.


"Tidak ada yang tidak mungkin Nathan, ada Evan yang akan menghandle pekerjaanmu disini, jadi nikmati liburanmu bersama Aleea tanpa memikirkan pekerjaan dan yang paling penting, kembalilah dengan membawa kabar bahagia, kau mengerti maksud Mama bukan!"


"Nathan tidak bisa meninggalkan kantor dengan tiba-tiba apa lagi dalam waktu yang lama ma, bagaimana dengan tanggung jawab Nathan sebagai....."


"Jangan hanya fokus dengan pekerjaanmu Nathan, kau harus bisa membagi waktumu dengan baik, untuk keluarga dan pekerjaan!" ucap Hanna memotong ucapan Nathan.


"Tapi...."

__ADS_1


"Mama sudah menyiapkan semuanya Nathan, jadi jangan mencari alasan untuk menolaknya, katakan hal ini pada Aleea karena mama belum sempat memberi tahunya," ucap Hanna sambil beranjak dari duduknya.


Nathan hanya menghela napasnya kasar saat melihat sang mama yang berjalan keluar dari ruangannya.


Ia tidak mengerti kenapa sang mama terlalu mengkhawatirkan hubungannya dengan Aleea, bahkan sampai melakukan hal sejauh itu yang tentunya tidak akan disukai olehnya dan juga Aleea.


Di sisi lain, setelah keluar dari ruangan Nathan, Hanna membawa langkahnya menghampiri Evan di ruangannya.


"Tante, silakan duduk Tante!" ucap Evan saat melihat Hanna yang masuk ke ruangannya.


"Tante baru saja menemui Nathan, Tante memintanya untuk libur selama satu minggu mulai Minggu depan," ucap Hanna.


"Satu Minggu? sepertinya itu cukup lama, apa ada sesuatu yang sangat penting Tante?" tanya Evan.


"Tante sudah menyiapkan kepergian Nathan ke Paris bersama Aleea, Tante rasa mereka harus lebih banyak meluangkan waktu bersama karena sepertinya Nathan terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja," jelas Hanna.


"Satu Minggu bersama di Paris pasti membuat mereka merasa tidak nyaman satu sama lain, tapi mungkin dengan begitu mereka bisa menjadi dekat," ucap Evan dalam hati.


"Bagaimana menurutmu, Evan?" tanya Hanna membuyarkan lamunan Evan.


"Evan setuju Tante, Evan akan berusaha menghandle semuanya disini dan membiarkan Nathan menikmati liburannya bersama Aleea," jawab Evan.


"Baguslah kalau begitu, Tante harap kau juga bisa menasehati Nathan agar tidak terlalu berlebihan dalam pekerjaannya, Tante khawatir kesibukannya akan mempengaruhi hubungannya dengan Aleea," ucap Hanna.


"Iya Tante, tapi Tante juga tau bukan bagaimana keras kepalanya Nathan, dia tidak akan mudah menuruti ucapan Evan, tapi Tante tidak perlu mengkhawatirkan hubungannya dengan Aleea karena Aleea bisa memahami kesibukan dan tanggung jawab Nathan di kantor," balas Evan.


"Kau benar, Nathan memang sangat keras kepala, dia selalu merasa jika apa yang ia pikirkan itu benar walaupun sebenarnya ada kebenaran lain yang tidak dia ketahui," ucap Hanna.


"Apa Tante sungguh baik-baik saja Tante? jika tidak, Evan bisa....."


"Tante baik-baik saja Evan, Tante hanya kelelahan saja, kau tidak akan mengatakan kejadian tadi pada Nathan bukan?"


"Tidak Tante, Evan tidak akan mengatakan apapun pada Nathan tentang kejadian tadi," balas Evan.


"Tante hanya tidak ingin Nathan khawatir dan berpikir terlalu jauh, Evan," ucap Hanna.


"Evan mengerti Tante," balas Evan.


"Tante mempercayaimu Evan, kalau begitu tante pergi dulu!" ucap Hanna sambil beranjak dari duduknya.


Waktu berlalu, Nathan sudah meninggalkan kantor karena ia harus pergi untuk meninjau proyek barunya di perbatasan kota.


Nathan menghabiskan banyak waktunya disana sampai matahari perlahan mulai terbenam.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya disana, Nathanpun mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.


"Bagaimana aku harus mengatakannya pada Aleea? dia pasti tidak akan setuju, satu Minggu berada di Paris adalah waktu sangat lama, apa yang akan kita berdua lakukan disana?"


Nathan menggerutu kesal, ucapan sang mama padanya membuat kepalanya dipenuhi oleh banyak pertanyaan dan kemungkinan-kemungkinan yang tidak menyenangkan jika dirinya benar-benar pergi ke Paris bersama Aleea.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nathanpun sampai di rumahnya. Ia berjalan masuk ke dalam rumah sembari memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikan pesan sang mama pada Aleea.


Saat akan menaiki tangga, Nathan menghentikan langkahnya karena melihat Aleea yang sedang duduk dengan memangku laptopnya di atas sofa ruang tengah.


Nathan kemudian menghampiri Aleea dan duduk di sofa yang berbeda dengan Aleea. Menyadari kedatangan Nathan, Aleeapun segera menyimpan file yang ia kerjakan lalu menutup laptopnya dan beranjak dari duduknya.


Aleea sengaja menghindar dari Nathan karena tidak ingin membicarakan apapun dengan Nathan yang pada akhirnya hanya akan membuat suasana hatinya buruk.


"Ada yang ingin aku bicarakan, penting!" ucap Nathan yang membuat Aleea mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Ada apa?" tanya Aleea.


"Duduklah dan dengarkan dengan baik!" ucap Nathan.


Aleeapun kembali duduk dan meletakkan laptopnya di meja.


"Mama meminta kita untuk pergi ke Paris selama satu minggu," ucap Nathan tanpa basa-basi.


"Kau bisa menolaknya bukan?" tanya Aleea yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Nathan.


"Kenapa tidak bisa? satu Minggu di Paris itu waktu yang sangat lama nathan, kau seorang CEO, pekerjaan dan tanggung jawabmu di kantor pasti besar, kau tidak mungkin meninggalkan kantor selama itu bukan?" tanya Aleea.


"Aku sudah mengatakan hal itu pada mama tetapi mama sudah menyiapkan semuanya sebelum mama memberi tahuku, mama sama sekali tidak menerima apapun alasan penolakanku!" jelas Nathan.


"Dan kau menerimanya begitu saja?" tanya Aleea.

__ADS_1


"Aku sudah berusaha menolak dan mencari alasan Aleea, tetapi mama memaksa dan aku tidak punya alasan lagi untuk menolak!" jawab Nathan.


"Satu minggu di Paris hanya akan menjadi neraka untuk kita berdua Nathan, kau tau itu!" ucap Aleea.


"Aku tau, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan karena sepertinya mama mempunyai alasan yang cukup kuat kenapa mama memaksa kita untuk pergi ke Paris dengan waktu yang cukup lama," ucap Nathan


"Alasan? alasan apa?" tanya Aleea.


"Mama masih memikirkan hubunganmu dengan Evan, mama berpikir jika aku terlalu banyak bekerja dan khawatir jika kau terlalu dekat dengan Evan karena kesibukanku, itu kenapa mama menyiapkan liburan kita ke Paris agar kita mempunyai lebih banyak waktu untuk berdua," jelas Nathan.


"Astaga..... bukankah masalah itu sudah selesai? kenapa mama masih mencurigaiku dan Evan?" tanya Aleea yang sedikit kesal.


"Entahlah, mungkin karena mama merasa Evan banyak terlibat denganmu," balas Nathan.


"Bukankah alasannya sudah jelas? bahkan sejak awal pernikahan kita, Evan yang selalu banyak membantuku karena perintah darimu!"


"Membahas hal ini tidak akan ada habisnya Aleea, sekarang pikirkan apa yang harus kita lakukan untuk menolak permintaan mama!" ucap Nathan.


Aleea terdiam. Ia tidak tau bagaimana harus menolak permintaan mama Nathan, terlebih jika mama Nathan sudah menyiapkan semuanya untuknya dan Nathan.


"Entahlah Nathan, kau membuatku semakin pusing," ucap Aleea sambil memijit kepalanya.


"Aaahh ya, kenapa kau tiba-tiba berada di rumah sakit kemarin? apa kau pingsan lagi?" tanya Nathan.


"Kenapa kau peduli padaku? bukankah....."


"Tidak bisakah kau menjawabnya saja? aku tidak peduli padamu, aku hanya ingin memastikan apakah kau sudah mengingat masa lalumu atau belum!" ucap Nathan memotong ucapan Aleea.


"Apa pentingnya bagimu jika aku sudah mengingat masa laluku atau belum, bukankah sama saja, hidupku akan terus berada dalam genggamanmu sampai kau bosan padaku!" balas Aleea sambil beranjak dari duduknya.


"Setidaknya jangan membahayakan dirimu dengan memaksa untuk mengingat semuanya," ucap Nathan lalu beranjak dan berjalan pergi begitu saja.


"Apa yang aku katakan bukan karena aku peduli, aku hanya tidak ingin kau mengingat semuanya Aleea!" batin Nathan sambil berjalan menaiki tangga.


Sedangkan Aleea masih berada di tempatnya berdiri, menatap Nathan yang sudah berjalan meninggalkannya.


"Setidaknya jangan membahayakan dirimu dengan memaksa untuk mengingat semuanya,"


Ucapan Nathan yang baru saja Aleea dengar kembali terngiang di telinganya. Kata-kata singkat yang terucap dari laki-laki dingin itu membuat Aleea tersenyum tipis tanpa ia sadar.


"Astaga, kenapa aku tersenyum!" ucap Aleea sambil memukul pelan bibirnya sendiri.


Aleea menggelengkan kepalanya dengan cepat lalu berjalan menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya.


Di dalam kamarnya, Aleea mencari nama Evan di ponselnya dan segera menghubungi Evan, menceritakan pada Evan tentang apa yang baru saja Nathan katakan padanya, tentang rencana mama Nathan.


"Aku tau kalian pasti akan merasa tidak nyaman dengan hal itu, tapi jika kalian menolaknya, Tante Hanna pasti akan semakin merasa curiga," ucap Evan.


"Tapi aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti jika aku benar-benar berada disana selama satu minggu bersama Nathan, Evan!" balas Aleea.


"Karena semua itu sudah dipersiapkan oleh Tante Hanna, aku yakin Tante Hanna juga meminta seseorang untuk selalu mengawasi kalian, jadi kalian berdua harus benar-benar terlihat seperti pasangan suami istri yang bahagia selama kalian berada disana," ucap Evan.


"Astaga, kau membuatku semakin ingin menghilang dari dunia ini!" ucap Aleea mengeluh yang membuat Evan terkekeh.


"Nikmati saja Aleea, berlibur di Paris adalah keinginan banyak orang," ucap Evan.


"Bagaimana aku bisa menikmatinya jika aku disana bersama Nathan, Evan!" balas Aleea.


Saat Aleea menyebut nama Evan, saat itulah pintu kamar Aleea tiba-tiba terbuka.


"Tidak bisakah kau mengetuk pintu?" tanya Aleea pada Nathan yang berdiri di celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka.


"Ada yang ingin aku bicarakan, aku tunggu di bawah!" ucap Nathan lalu berjalan pergi begitu saja.


"Menyebalkan sekali!" gerutu Aleea kesal.


"Siapa Aleea? Nathan?" tanya Evan menerka.


"Iya, temanmu itu selalu membuatku kesal setiap aku melihatnya," jawab Aleea.


Di sisi lain, Nathan duduk di ruang tengah untuk menunggu Aleea.


"Sejak kapan mereka menjadi semakin dekat?" batin Nathan bertanya dalam hati.


Entah kenapa ada sebuah perasaan yang mengganggu dalam hatinya yang membuatnya kesal tanpa alasan yang jelas.

__ADS_1


__ADS_2