Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Rasa Penasaran


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Evan keluar dari ruangannya dengan membawa tas jinjing milik Aleea yang berisi laptop.


Evan meninggalkan kantor, mengendarai mobilnya ke arah toko kue Aleea.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evanpun sampai dan segera keluar dari mobilnya.


"Kau pasti mencari Aleea!" ucap Tika yang menyadari kedatangan Evan setelah Tika memberikan pesanan pelanggannya.


"Aku kesini untuk mengantar laptop miliknya," balas Evan.


"Masuklah, dia sudah menunggumu di atas," ucap Tika.


Evan kemudian membawa langkahnya masuk lalu menaiki tangga dan berjalan ke arah balkon dimana sudah ada Aleea disana.


"Akhirnya kau datang, aku benar-benar membutuhkan laptop ini sejak pagi," ucap Aleea saat ia menyadari kedatangan Evan.


"Kenapa laptop ini bisa ada bersama Nathan?" tanya Evan.


"Panjang ceritanya tapi terima kasih sudah mengembalikannya padaku," ucap Aleea tanpa menjawab pertanyaan Evan.


"Dia tidak mengambilnya darimu bukan?" tanya Evan.


"Tidak, ada sesuatu yang terjadi tadi pagi yang membuatku masuk ke mobil Nathan dan tidak sadar jika aku meninggalkan laptopku disana," jawab Aleea.


"Apa yang terjadi Aleea? katakanlah padaku agar aku tidak khawatir!"


Aleea kemudian menceritakan pada Evan tentang apa yang terjadi tadi pagi, tentang ia yang berjalan sendirian sampai tiba-tiba ia merasa kepalanya begitu sakit.


"Tapi aku sudah baik-baik saja setelah aku minum obat," ucap Aleea di akhir ceritanya.


"Nathan pasti sangat mengkhawatirkanmu saat itu," ucap Evan.


"Entah dia memang khawatir atau dia hanya tidak ingin orang lain melihat keadaanku yang tidak baik-baik saja saat itu," balas Aleea dengan menghela napasnya.


"Baiklah lupakan hal itu, tapi apa kau sungguh baik-baik saja Aleea?" tanya Evan.


"Aku baik-baik saja Evan, aku juga tidak tahu kenapa kepalaku sering sakit sekarang, apa menurutmu itu karena ingatanku akan kembali?" balas Aleea.


"Bisa jadi, tapi kau jangan memaksakan dirimu untuk mengingatnya Aleea, suatu hari nanti pasti semua ingatanmu akan kembali," ucap Evan


Aleea hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Evan.


"Bagaimana dengan rencana mama Nathan Minggu depan Aleea? jika keadaanmu belum stabil, apa tidak sebaiknya kau menolaknya saja?" tanya Evan.


"Apa alasan yang akan aku katakan pada mama Nathan jika aku menolaknya Evan? aku tidak mungkin mengatakan keadaanku yang sebenarnya bukan?" balas Aleea.


"Kau benar, Tante Hanna akan semakin khawatir jika Tante Hanna tau keadaanmu saat ini," ucap Evan.


"Aaahhh ya, apa Nathan memintamu untuk mencari tahu tentang dokter Rizal?" tanya Aleea.


"Dari mana kau tau tentang dokter Rizal, Aleea?" balas Evan bertanya.


"Aku mendengarmu menyebut nama dokter Rizal saat kau menemaniku di rumah sakit dan saat aku sedang keluar dari ruanganku aku tidak sengaja bertemu dengan mama Nathan yang sedang bersama dokter Rizal saat itu," jelas Aleea.


"Apa itu dokter Rizal yang sama seperti yang kau bicarakan dengan Nathan?" lanjut Aleea bertanya.


"Sepertinya iya, apa kau mendengar apa yang Tante Hanna dan dokter Rizal bicarakan, Aleea?" jawab Evan sekaligus bertanya.


"Tidak, karena aku hanya melihat mama nathan keluar dari ruangan bersama dokter itu dan saat aku membaca nama pada name tagnya, aku ingat jika kau baru saja membicarakan nama itu bersama Nathan," jelas Aleea.


"Aaahhh begitu, apa kau tau Tante Hanna dan dokter Rizal keluar dari ruangan apa?" tanya Evan.


"Mmmmm.... aku tidak tau, karena saat itu jarakku dengan mama Nathan cukup jauh, saat aku menghampiri mereka, mereka juga sudah berjalan cukup jauh dari ruangan tempat mereka keluar dan aku tidak sempat melihat dari ruangan apa mereka keluar," jawab Aleea menjelaskan.


Evan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan mendengar penjelasan Aleea.


"Apa ada masalah Evan? apa ada sesuatu yang berhubungan dengan dokter Rizal?" tanya Aleea penasaran.


"Tidak ada, Tante Hanna dan dokter Rizal hanyalah teman lama saat mereka masih kuliah, hanya itu yang aku tau," jawab Evan.


"Tapi kenapa Nathan memintamu untuk mencari tahu tentang dokter Rizal?" tanya Aleea.


"Kalau itu..... sebaiknya kau tanyakan sendiri pada Nathan hehehe....." jawab Evan dengan terkekeh yang membuat Aleea memutar kedua bola matanya.


"Apa kau sudah makan siang? bagaimana jika kita makan siang sekarang?" tanya Evan.


"Apa kau tidak segera kembali ke kantor?" balas Aleea bertanya.

__ADS_1


"Tidak akan ada masalah jika aku terlambat kembali, jadi jangan khawatir," jawab Evan.


"Makan siang datang!" ucap Tika yang tiba-tiba datang dengan membawa satu kantong yang berisi dua makanan dan dua minuman.


"Aaahhh.... kalian akan makan siang bersama rupanya," ucap Evan yang berpikir jika Tika akan makan siang bersama Aleea.


"Aku akan makan dibawah, ini untuk kalian berdua," balas Tika sambil meletakkan kantong yang ia bawa di meja.


"Waaahhh.... kebetulan sekali, aku baru saja mengajak Aleea makan siang," ucap Evan.


"Makan saja disini, bukankah kau tidak memiliki jam makan siang yang cukup lama!" balas Tika.


"Kau benar, terima kasih Tika," ucap Evan yang hanya dibalas senyum oleh Tika.


"Terima kasih banyak Tika," ucap Aleea yang juga dibalas senyuman oleh Tika.


Tika kemudian kembali turun, Sedangkan Aleea dan Evan menikmati makan siang mereka berdua di balkon.


"Apa yang akan kau lakukan jika ingatanmu sudah kembali Aleea?" tanya Evan pada Aleea di sela-sela makan siang Meraka.


"Entahlah, aku tidak mengingat apapun tentang hidupku di masa lalu Evan, jadi aku sama sekali tidak bisa memikirkan apa yang akan aku lakukan nanti saat semua ingatanku kembali," jawab Aleea.


"Ada satu hal yang selalu ingin aku tanyakan padamu Aleea, tentang hubunganmu dengan Nathan," ucap Evan.


"Hubungan apa yang kau maksud Evan? saat ini aku hanyalah mainannya, setelah dia puas bermain denganku, dia akan membuangku dan saat itulah aku akan bisa merasakan kebebasan yang selama ini aku inginkan," balas Aleea.


"Tapi bagaimana jika Nathan tidak pernah melepaskanku Aleea?" tanya Evan.


"Itu benar-benar menjadi neraka bagiku, entah dosa besar apa yang sudah aku perbuat di masa lalu sehingga aku harus menjalani hidupku seperti ini," jawab Aleea.


"Kau sama sekali tidak bersalah Aleea, semua ini adalah kesalahan Nathan dan akupun juga bersalah dalam hal ini," ucap Evan dalam hati.


"Seandainya benar jika aku dan Nathan adalah pasangan kekasih yang saling mencintai dan memutuskan untuk menikah, kenapa dengan mudah dia melupakan cintanya padaku? apa yang terjadi saat ini semakin membuat aku berpikir jika semua yang Nathan katakan padaku hanyalah sandiwara!"


Mendengar ucapan Aleea seketika membuat Evan membawa pandangannya pada Aleea.


"Sandiwara? apa maksudmu Aleea?" tanya Evan berpura-pura tak mengerti.


"Iyaa..... sandiwara..... aku sama sekali tidak pernah merasa jika aku dan Nathan saling mencintai, aku hanya mempercayainya dan mengikuti apa yang dia katakan sampai akhirnya dia memperlihatkan sendiri bagaimana dia dengan mudahnya mengatakan jika dia tidak mencintaiku," jawab Aleea.


Evan hanya terdiam. Ia tidak menyangka jika Aleea berpikir seperti itu.


"Aku.... aku hanya tau jika kalian adalah sepasang kekasih," balas Evan yang berusaha menutupi kegugupannya.


"Yaaa.... aku mengerti, sedekat apapun kalian berdua, pasti ada beberapa hal yang tidak Nathan katakan padamu," ucap Aleea lalu menyeruput minumannya.


Setelah menghabiskan makanannya, Evanpun berpamitan untuk kembali ke kantor. Tak lupa ia berterima kasih pada Tika atas makan siang yang Tika berikan padanya.


Sepanjang perjalanan, Evan masih memikirkan apa yang Aleea katakan padanya.


Tak dapat dipungkiri, keadaan Aleea yang mulai mengingat kilasan memori di masa lalunya membuat Evan semakin khawatir.


Semakin lama Evan mengenal Aleea, ia merasa semakin nyaman dan baginya Aleea adalah sosok yang menyenangkan. Ia tidak ingin kehilangan Aleea saat ingatan Aleea kembali.


Sesampainya di kantor, Evan segera membawa langkahnya ke ruangan Nathan, namun tidak menemukan Nathan disana.


"Dimana dia?" batin Evan bertanya dalam hati sambil berjalan masuk ke ruangannya.


**


Di tempat lain, Nathan sedang berada di rumah Vina. Ia sedang membantu Vina menyiapkan beberapa hal karena 2 jam lagi, mereka akan melakukan meeting melalui live video seperti yang sudah pernah Vina lakukan sebelumnya.


"Tidak bisakah kau membiarkanku libur Nathan? sejak aku mengalami kecelakaan, kau tetap memaksaku untuk bekerja, mengerjakan beberapa laporan bahkan live video seperti ini!" gerutu Vina.


"Masih ada tanggung jawab yang harus kau kerjakan Vina, setelah semuanya selesai, kau boleh libur!" balas Nathan.


"Kalau begitu, maukah kau berlibur denganku?" tanya Vina dengan penuh senyum.


"Tidak bisa, banyak hal yang harus aku kerjakan karena satu Minggu lagi aku akan pergi ke Paris bersama Aleea," jawab Nathan.


"Pergi ke Paris? berdua?" tanya Vina yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Nathan.


"Apa kau tidak bisa membawaku ikut bersamamu? kita bisa berlibur disana seperti saat kita di luar pulau!"


"Tidak bisa Vina, aku pergi dengan Aleea, lagi pula aku tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kali karena pergi denganmu!" balas Nathan.


"Kesalahan? jadi kau pikir apa yang kita lakukan kesalahan? padahal aku hanya....."

__ADS_1


"Sudah, jangan dibahas lagi, persiapkan dirimu dengan baik, jadi jangan mengecewakanku!" ucap Nathan memotong ucapan Vina.


"Aku tidak akan pernah mengecewakanmu Nathan, bukankah seharusnya kau juga tidak mengecewakanku!" balas Vina.


"Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik dengan menempatkan suster yang menjagamu selama 24 jam disini," ucap Nathan.


"Tapi....."


"Aku harus pergi sekarang, pastikan untuk terus melatih langkah kakimu agar kau bisa segera kembali ke kantor!" ucap Nathan lalu berjalan pergi begitu saja.


Vinapun hanya menghela napasnya kesal melihat kepergian Nathan.


"Jika kau pergi ke Paris bersama Aleea, maka aku juga akan pergi kesana untuk menemuimu Nathan, aku yakin kau tidak akan membiarkanmu disana sendirian!" ucap Vina dalam hati dengan tersenyum tipis.


"Aaahhh sepertinya aku harus memeriksa tabunganku!' ucap Vina sambil memeriksa tabungannya melalui ponselnya.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat Nathan dan Evan baru saja menyelesaikan meeting mereka.


Seperti biasa, Nathan dan Evan keluar dari ruangan meeting belakangan.


"Apa yang akan kau lakukan jika ingatan Aleea sudah kembali Nathan? mungkin tidak akan menjadi masalah jika dia tidak menyadari tentang kontrak palsu itu, tapi bagaimana jika dia menyadarinya?" tanya Evan pada Nathan.


"Kau terlalu mengkhawatirkan hal itu Evan," jawab nathan.


"Tentu saja aku khawatir, bagaimana jika dia melakukan sesuatu yang bisa merusak nama perusahaan dan keluargamu karena merasa sudah dibohongi olehmu?"


"Itu tidak akan terjadi, aku masih mempunyai kuasa untuk bisa menahannya dan aku akan mencari cara agar hal itu tidak terjadi," jawab Nathan.


"Tapi....."


"Apa kau takut akan kehilangan Aleea jika ingatan Aleea kembali?" tanya Nathan memotong ucapan Evan.


Untuk beberapa saat Evan hanya diam, ia tidak menyangka jika Nathan akan menanyakan hal itu padanya.


"Sadarlah Evan, dia hanya gadis asing yang kebetulan aku temui, dia bukan siapa-siapa dan jangan biarkan dia mempengaruhimu Evan!" ucap Nathan.


"Setelah aku mendapatkan apa yang aku mau, aku akan menceraikannya dan kita tidak perlu lagi memikirkan apapun yang berkaitan dengannya," lanjut Nathan.


"Kau mungkin bisa dengan mudah mempermainkan hidup orang lain Nathan, tapi tidak denganku!" balas Evan lalu beranjak dan keluar dari ruangan meeting lebih dulu.


Waktupun berlalu, Nathan mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Nathan menanyakan pada bibi tentang keberadaan Aleea.


"Apa Aleea sudah pulang bi?" tanya Nathan pada bibi.


"Belum Tuan," jawab bibi.


"Apa dia memang jarang di rumah bi?" tanya Nathan.


"Iya tuan, non Aleea pergi pagi-pagi sekali dan pulang larut malam setiap hari," jawab bibi.


Nathan hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu melanjutkan langkahnya untuk masuk ke kamarnya.


"Apa yang baru saja aku lakukan? kenapa aku mencari tau tentangnya? lupakan saja Nathan, tidak perlu mempedulikannya!" batin Nathan dalam hati.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Nathan masuk ke ruang kerjanya dan baru keluar dari ruang kerjanya tepat pukul 11 malam.


Untuk beberapa saat, Nathan berdiri di depan kamar Aleea dan menyadari jika lampu kamar Aleea masih padam.


"Kenapa dia belum pulang juga? jam berapa dia akan pulang?" tanya Nathan kesal sambil membawa dirinya menuruni tangga.


Nathan kemudian menemui supir pribadi yang dulu selalu mengantar Aleea pergi.


"Apa Aleea tidak pernah meminta bapak untuk menjemputnya?" tanya Nathan.


"Tidak pernah Tuan, non Aleea juga tidak pernah meminta tolong saya untuk mengantarnya," jawab sang supir.


Nathan kemudian kembali masuk ke dalam rumah, baru saja ia masuk, terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumahnya.


Nathanpun melihatnya dari celah gorden jendela ruang tamunya dan melihat Aleea yang keluar dari mobil bersama Evan.


Meskipun tidak mendengar apa yang Aleea dan Evan bicarakan, tetapi Nathan bisa melihat dengan jelas jika Aleea dan Evan tampak sangat akrab bahkan mereka terlihat tertawa berdua.


"Akhir-akhir ini Aleea sangat sering bersama Evan, apa itu artinya Evan tahu apa yang Aleea lakukan di luar rumah? aku harus menanyakannya pada Evan!" batin Nathan dalam hati.

__ADS_1


Namun dengan cepat Nathan menggelengkan kepalanya.


"Aaahhhh tidak..... aku tidak bisa menanyakannya pada Evan, dia pasti akan berpikir jika aku peduli pada Aleea, aku juga tidak perlu mencari tahu tentang kegiatan Aleea di luar rumah, sama sekali tidak penting!" ucap Nathan lalu berjalan meninggalkan ruang tamu.


__ADS_2