
Jam sudah menunjukkan pukul 6 petang tapi Nathan belum juga sampai di rumahnya, sedangkan Aleea masih menunggu kedatangan Nathan di teras rumahnya.
Bersama senja yang perlahan menjadi gelap, Aleea kemudian masuk ke kamarnya. Aleea memeriksa ponselnya dan sama sekali tidak ada pesan ataupun panggilan masuk dari Nathan.
"Apa dia akan terlambat pulang lagi hari ini?" batin Aleea bertanya dalam hati.
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, namun aleea yang duduk di balkon sejak tadi belum melihat tanda-tanda kepulangan Nathan.
Aleea kemudian menghubungi Nathan tetapi panggilannya tidak terjawab. Aleea juga mengirim pesan pada Nathan dan sampai lebih dari satu jam belum ada balasan apapun dari Nathan.
"Apa dia benar-benar marah padaku? bukankah aku yang seharusnya marah padanya?" tanya Aleea pada dirinya sendiri.
Aleea menghela nafasnya panjang lalu membawa dirinya duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu kepulangan Nathan.
"Ini bukan waktunya untuk mencari siapa yang salah, tapi setidaknya dia harus menjelaskan padaku tentang hubungannya dengan Vina," ucap Aleea dalam hati.
Berkali-kali Aleea melihat jam yang ada di ponselnya, namun sampai lebih dari jam 11 malam, Nathan belum juga pulang.
Tanpa Aleea tau, Nathan sedang berada di luar kota bersama Vina untuk urusan pekerjaan yang sebenarnya sudah mereka selesaikan sejak pukul 8 malam.
"Aku sedang tidak ingin pulang malam ini," ucap Nathan pada Vina saat mereka berada di dalam hotel.
"Bagaimana jika kita menginap di hotel saja?" tanya Vina memberi saran.
Nathan hanya menganggukkan kepalanya lalu mengendarai mobilnya ke arah hotel dan memesan 2 kamar untuk dirinya dan Vina.
"Aku belum mengantuk Nathan, apa sebaiknya kita pergi bar dulu?" ucap Vina sekaligus bertanya.
Lagi-lagi Nathan hanya menganggukkan kepalanya lalu pergi ke bar yang berada dalam satu gedung yang sama dengan hotel tempat mereka menginap.
Nathan sengaja menghabiskan malamnya bersama Vina karena ia masih merasa kesal pada Aleea.
Nathan merasa Aleea membuat hidupnya menjadi lebih rumit karena selalu mempersalahkan hal-hal yang Nathan anggap sepele dan selalu menanyakan banyak hal yang menurut Nathan tidak penting untuk dibahas.
"Bagaimana bisa aku bertahan dengan pernikahan ini, baru beberapa hari menikah dengannya saja sudah membuat hidupku lebih rumit," batin Nathan sambil menatap gelas kecil di tangannya.
"Apa yang sedang kau pikirkan Nathan? katakan saja padaku," tanya Vina pada Nathan.
__ADS_1
Nathan hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Setelah cukup lama berada di bar, Nathanpun membawa Vina meninggalkan bar setelah Vina tampak mabuk.
Nathan mengantar Vina ke kamar yang sudah Nathan pesan untuk Vina. Namun saat Nathan baru membaringkan Vina di ranjang, Vina menarik tangan Nathan, menahan Nathan agar tidak meninggalkannya.
"Tidak bisakah kau disini menemaniku Nathan? bukankah kau juga membutuhkan seseorang yang bisa menemanimu?" tanya Vina dengan kedua matanya yang sayu karena mabuk.
"Aku akan tidur di kamarku, kau tidurlah karena besok pagi kita harus pulang," balas Nathan sambil melepaskan tangannya dari Vina.
Namun saat Nathan akan keluar dari kamar Vina, Vina segera berlari dan memeluk Nathan dari belakang.
"Aku tidak peduli jika kau sudah memiliki istri Nathan, aku tidak peduli jika aku harus menjadi yang kedua dalam hidupmu, asalkan kau tetap bersamaku seperti ini," ucap Vina.
Nathan hanya tersenyum lalu mengangkat tubuh Vina dan membaringkan Vina di ranjang.
"Tidurlah," ucap Nathan sambil menarik selimut untuk menutup tubuh Vina.
Nathan kemudian berjalan keluar dari kamar Vina dan masuk ke kamarnya sendiri. Meskipun pernikahannya dengan Aleea bukanlah pernikahan yang dia inginkan dan ia juga tidak mencintai Aleea sama sekali.
Tapi bukan berarti Nathan bisa melakukan hal di luar batas bersama perempuan lain, terlebih pada Vina yang selalu menggodanya.
Bagi Nathan, kebersamaannya bersama Vina selain karena pekerjaan hanyalah untuk bersenang-senang, tidak lebih dari itu.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi saat Nathan dan Vina keluar dari hotel.
"Aaahhh kepalaku pusing sekali," ucap Vina saat ia sudah berada di dalam mobil bersama Nathan.
"Kau terlalu banyak minum semalam," balas Nathan.
"Sepertinya begitu," ucap Vina.
"Aku akan mengantarmu pulang, kau bisa beristirahat seharian untuk memulihkan keadaanmu," ucap Nathan.
"Bagaimana dengan pertemuan dengan klien dari China?" tanya Vina.
"Aku akan pergi bersama Evan, sepertinya keadaanmu tidak cukup baik untuk menemaniku bertemu klien," jawab Nathan.
"Aku hanya perlu istirahat sebentar Nathan, aku akan mempersiapkan diriku dengan baik untuk pertemuan nanti siang," ucap Vina.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti, apa kau cukup siap untuk bertemu dengan klien nanti siang," balas Nathan.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nathanpun sampai di rumah Vina. Setelah mengantar Vina, Nathan mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.
Baru saja Nathan membuka pintu rumahnya, Aleea sudah berdiri di belakang pintu dengan raut wajahnya yang berusaha untuk menahan emosi yang ingin meledak.
Bagaimana tidak, semalaman Aleea menunggu Nathan di ruang tamu namun Nathan tidak juga pulang dan bahkan tidak memberinya kabar sama sekali.
"Seperti ini caramu menghargaiku sebagai istrimu, Nathan?" tanya Aleea dengan berjalan mengikuti Nathan.
"Aku sangat lelah Aleea, tolong jangan menggangguku," ucap Nathan dengan terus membawa langkahnya ke arah kamarnya.
"Apa kau pikir aku tidak lelah? semalaman aku menunggumu pulang Nathan, aku....."
Aleea menghentikan ucapannya saat Nathan menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menatap Aleea.
"Tidak ada yang memintamu untuk menungguku Aleea, jika kau lelah beristirahatlah, jangan mencari alasan untuk membuat keributan denganku," ucap Nathan dengan menatap kedua mata Aleea.
"Aku sudah sangat sibuk dengan pekerjaanku, aku kesana kemari untuk menyelesaikan pekerjaanku, tidak bisakah kau diam dan jangan menggangguku, Aleea?" lanjut Nathan.
"Apa keberadaanku disini mengganggumu Nathan? apa sebaiknya aku tidak berada disini?" tanya Aleea dengan membalas tatapan tajam Nathan padanya.
Nathan hanya menghela nafasnya panjang lalu melanjutkan langkahnya untuk masuk ke kamarnya dengan membanting pintu kamarnya.
Aleea hanya diam di tempatnya berdiri dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Aku tidak boleh menangis, entah seperti apa aku di masa lalu, tapi aku tidak akan menjadi perempuan lemah sekarang," ucap Aleea dengan menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.
Aleea kemudian berjalan pergi dari depan kamar Nathan dan memilih untuk menyibukkan dirinya dengan merawat tanaman miliknya yang ada di halaman rumahnya.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 1 siang saat Nathan berjalan menuruni tangga dengan pakaian rapinya.
"Apa kau mau pergi lagi? bersama Vina lagi?" tanya Aleea pada Nathan.
"Aku pergi untuk bertemu klien Aleea, bukan untuk bersenang-senang bersama Vina," balas Nathan.
"Pergilah dan segera pulang setelah kau menyelesaikan pekerjaanmu, ada banyak hal yang harus kita bicarakan," ucap Aleea.
__ADS_1
Nathan hanya diam dan berlalu pergi begitu saja.