Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Sama-Sama Berdebar


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam saat Aleea baru saja sampai di rumah setelah menyelesaikan kesibukannya di ruko bersama Tika.


Baru saja Aleea membawa langkahnya masuk ke dalam rumah, Aleea mendengar suara langkah yang mendekat ke arahnya dengan berlari.


Aleeapun membalikkan badannya dan melihat siapa yang berlari ke arahnya.


"Sudah ku duga, kau pasti memaksa Nathan untuk pulang lebih dulu!" ucap Vina pada Aleea dengan tatapan kesal.


"Jika kau kesini hanya untuk membuat keributan, lebih baik kau pulang, aku sangat lelah dan tidak ingin ada keributan disini!" balas Aleea yang tidak mengindahkan ucapan Vina.


"Aku kesini untuk menemui Nathan!" ucap Vina.


"Jika kau ingin bertemu dengannya secara pribadi, lakukan di luar rumah, jangan di rumah ini, itu juga jika kau masih memiliki rasa malu sebagai perempuan!" ucap Aleea.


"Aku tidak peduli, lagi pula Nathan tidak pernah mempermasalahkannya!" balas Vina.


"Tapi itu masalah buatku dan aku berhak untuk menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh datang kesini!" ucap Aleea.


"Berhak? apa kau yakin? sepertinya aku meragukannya!" balas Vina menantang.


Aleea menghela napasnya panjang lalu membawa langkahnya keluar dan memanggil satpam.


"Tolong usir dia dari sini pak dan jangan biarkan dia masuk ke rumah ini lagi!" ucap Aleea pada satpam.


"Bapak mengenal saya bukan? bapak tau jika saya dekat dengan Nathan bukan?" tanya Vina pada satpam yang menghampirinya.


Untuk beberapa saat satpam ragu, apakah harus mengusir Vina atau tidak karena satpam pun tau bagaimana kedekatan Vina dan Nathan sejak sebelum Nathan menikah dengan Aleea.


"Lihatlah Aleea, kau sama sekali tidak memiliki kuasa apapun disini!" ucap Vina dengan tersenyum penuh kemenangan.


"Kenapa hanya diam saja pak?" tanya Nathan yang tiba-tiba menuruni tangga, berjalan ke arah Aleea dan Vina.


"Kenapa bapak ragu untuk melakukan perintah Aleea? dia istri Nathan, dia berhak menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh datang ke rumah ini!" lanjut Nathan berbicara pada satpam.


"Tapi Nathan....."


"Bawa dia pergi pak, dia sangat mengganggu!" ucap Aleea pada satpam.


"Baik non," balas satpam.


"Tidak Nathan, kau tidak bisa seperti ini padaku, bukankah aku bebas kesini kapanpun aku mau, bagaimana jika ada masalah pekerjaan yang....."


"Berhenti membuat alasan untuk berusaha menemui suamiku Vina, kau bisa bertemu dengannya untuk membahas pekerjaan saat di kantor, bukan di rumah ini!" ucap Aleea memotong ucapan Vina.


"Kau memang dekat dengannya, bahkan sangat dekat dibanding dengan pegawai lain, tapi itu tidak merubah apapun, kau tetap pegawai yang bekerja di bawahnya, sedangkan aku, aku adalah istrinya!" lanjut Aleea dengan menatap tajam pada Vina.


Aleea kemudian membawa langkahnya pergi, sedangkan Vina hanya diam dengan menahan kekesalannya, terlebih saat satpam menarik tangannya agar keluar dari rumah itu.


"Jangan sentuh saya!" ucap Vina sambil menarik tangannya dari satpam dengan kasar.


Dengan kekesalan dan kemarahan yang memuncak, Vina membawa langkahnya keluar dari rumah Nathan.


"Kau memang dekat dengannya, bahkan sangat dekat dibanding dengan pegawai lain, tapi itu tidak merubah apapun, kau tetap pegawai yang bekerja di bawahnya!"


Ucapan Aleea kembali terngiang di kepalanya dan membuatnya semakin kesal.


Meskipun begitu, ucapan Aleea memang benar, sedekat apapun dia dan Nathan, dia hanya pegawai yang bekerja di bawah Nathan.


"Tunggu saja Aleea, kali ini aku akan membuat Nathan berlutut di bawahku dan memberikan semua yang aku inginkan, aku tidak akan melunak lagi kali ini!" ucap Vina penuh amarah.


**


Di tempat lain, Nathan mengikuti langkah Aleea menaiki tangga setelah Aleea meninggalkan Vina.


"Kau dari mana?" tanya Nathan pada Aleea.


"Bukan urusanmu," jawab Aleea yang terdengar masih kesal.


"Tunggu!" ucap Nathan dengan menarik tangan Aleea agar Aleea menghentikan langkahnya.


"Jika kau kesal pada Vina, jangan melampiaskannya padaku!" ucap Nathan.


"Aku memang tidak peduli bagaimana hubunganmu dengannya, tapi jika dia bisa datang kesini sesukanya dan tiba-tiba mama melihatnya, itu hanya akan membuat masalah baru Nathan, jadi berusahalah untuk tegas padanya!" balas Aleea.


"Aku mengerti, aku akan berbicara padanya!" ucap Nathan.


"Setidaknya jangan melakukannya di rumah ini, lakukan di tempat yang tidak ada siapapun yang melihatnya," ucap Aleea lalu menarik tangannya dari Nathan.


"Melakukan apa maksudmu, Aleea? bukankah kau tau aku sama sekali tidak menyukainya, bukankah kemarin kau sudah mempercayaiku dan menyadari kesalahpahaman itu?" tanya Nathan yang kembali berlari mengejar Aleea.

__ADS_1


"Entahlah, aku sangat lelah, tolong jangan menggangguku!" ucap Aleea yang akan membuka pintu kamarnya.


Namun tiba-tiba Nathan menahan tangan Aleea, menarik tangan Aleea dan membuat Aleea melangkah mendekat padanya.


"Kau harus percaya jika aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya Aleea, tidak ada satupun perempuan di dunia ini yang pernah membuatku jatuh cinta selain kau, jadi jangan pernah berpikir jika aku melakukan hal yang salah dengan Vina di belakangmu!" ucap Nathan


Suara Nathan yang tegas dan tatapan matanya yang tajam untuk beberapa saat membuat Aleea terdiam.


Jarak mereka yang sangat dekat dan tangan Nathan yang menggenggam tangan Aleea tidak membuat Aleea bergerak sedikitpun.


"Aku hanya pernah jatuh cinta satu kali dan itu hanya padamu Aleea, tidak peduli bagaimana Vina berusaha menggodaku, aku hanya mencintaimu.... hanya kau, Aleea," ucap Nathan.


DEGH... DEGH.... DEGH.....


Detak jantung keduanya berdetak cepat, debaran dalam dada seperti genderang yang siap untuk berperang.


Meskipun Aleea tidak pernah yakin dengan hubungannya dengan Nathan, namun ucapan Nathan yang baru saja ia dengar membuatnya berdebar.


Sama halnya dengan Aleea, Nathan merasa dadanya berdebar saat ia mengatakan apa yang baru saja ia katakan pada Aleea.


Meskipun ia tidak merasa mengatakan hal itu dengan jujur, namun dadanya terus berdebar bersama detik jam yang seperti berjalan sangat lambat.


Setelah beberapa lama hanya diam dengan kedua mata yang saling menatap, Aleea akhirnya tersadar dari apa yang sedang terjadi.


Aleea kemudian menarik tangannya dari Nathan lalu berjalan masuk ke kamarnya begitu saja.


Sedangkan Nathan hanya diam dengan memegang dadanya yang masih berdebar.


"Perasaan aneh apa ini? apa aku gugup karena terlalu banyak berbohong padanya?" batin Nathan bertanya dalam hati lalu membawa dirinya masuk ke dalam kamar.


"Aaarrgghh sial, sepertinya aku sangat berlebihan dalam berbohong!" ucap Nathan yang merasa debar dalam dadanya tidak kunjung mereda.


Di sisi lain, Aleea masih berdiri di belakang pintu kamarnya. Ia terdiam dengan memegang dadanya yang terus berdebar.


"Kenapa Nathan tiba-tiba mengatakan hal itu? bukankah dia sudah tidak mencintaiku lagi? tapi kenapa dia terlihat sangat yakin dengan ucapannya, apa mungkin dia......"


Aleea menggelengkan kepalanya, berusaha untuk mengabaikan apa yang baru saja Nathan katakan padanya.


Aleea menaruh tasnya di meja lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang.


"Kenapa aku masih berdebar? ini seperti hal baru yang aku rasakan selama aku bersama Nathan, aaargghhh..... ini sangat mengganggu!"


**


Hari telah berganti. Aleea bangun dari tidurnya pagi-pagi sekali. Hari itu ia siap untuk memulai kembali kegiatannya seperti biasa.


Setelah selesai bersiap, Aleea mengambil tas selempangnya lalu membawanya keluar dari kamar.


Setelah menutup pintu kamarnya, untuk beberapa saat Aleea terdiam. Kejadian semalam antara dirinya dan Nathan tiba-tiba mengulas kembali di kepalanya tanpa ia minta.


"Lupakan Aleea, mungkin dia hanya ingin meyakinkan jika dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Vina!" ucap Aleea dalam hati.


Aleea kemudian berjalan menuruni tangga, keluar dari rumah dan berangkat ke ruko bersama taksi yang sudah dipesannya.


Di sisi lain, Nathan sengaja bangun lebih pagi, berharap untuk bertemu Aleea sebelum Aleea meninggalkan rumah.


Dengan mengenakan kemeja putihnya, Nathan keluar dari kamarnya. Nathan mengentikan langkahnya tepat di depan kamar Aleea, membawa pandangannya menatap pintu kamar Aleea.


"Apa dia kasih tidur?" batin Nathan bertanya dalam hati.


Nathan kemudian membawa langkahnya turun, memastikan jika Aleea belum meninggalkan rumah.


"Pagi bi," sapa Nathan pada bibi yang baru saja menata makanan di atas meja makan.


"Pagi Tuan," balas bibi.


"Apa Aleea belum keluar kamar bi?" tanya Nathan.


"Non Aleea sudah pergi sejak tadi Tuan," jawab bibi yang membuat Nathan begitu terkejut.


"Sejak tadi?" tanya Nathan mengulang ucapan bibi.


"Iya, non Aleea memang biasa pergi pagi-pagi sekali," jawab bibi.


"Jam berapa sebenarnya dia pergi? ini bahkan masih sangat pagi tapi dia sudah pergi sejak tadi!" batin Nathan bertanya dalam hati.


"Entahlah, aku tidak mau tau!" gerutu Nathan dengan menggelengkan kepalanya lalu menikmati sarapannya dengan sedikit kesal.


Setelah menghabiskan sarapannya, Nathan kembali ke kamarnya, mengenakan jasnya, mengambil tas kerjanya lalu keluar dari kamarnya untuk segera berangkat ke kantor.

__ADS_1


Baru saja Nathan melewati pintu utama rumahnya, ia melihat mobil sang mama yang memasuki halaman rumahnya.


Nathan menghela napasnya panjang, siap untuk menjawab semua pertanyaan sang mama yang sudah pasti akan menanyakan banyak hal padanya.


"Kenapa kau sudah ada di rumah Nathan? bukankah seharusnya kau masih ada di Paris?" tanya Hanna tanpa basa-basi setelah ia keluar dari mobilnya.


"Ada masalah yang mengharuskan Nathan pulang ma, lagi pula Nathan dan Aleea juga sudah merasa cukup berlibur di Paris meskipun hanya beberapa hari," jawab Nathan.


"Masalah apa yang mengharuskanmu pulang, Nathan? Evan dan papamu sudah mengatasi semua masalah kantor, jadi jangan mencari alasan hanya untuk ingin pulang lebih cepat dari yang seharusnya!"


"Nathan akan menjelaskannya nanti, sekarang Nathan harus berangkat ke kantor!" ucap Nathan.


"Tidak, jelaskan pada mama sekarang juga!" ucap Hanna yang menahan langkah Nathan.


"Tapi ma....."


"Sekarang Nathan!" ucap Hanna dengan tegas.


Nathan menghela napasnya lalu mengatakan pada sang mama alasannya pulang dari Paris lebih cepat.


"Nathan bertemu Vina disana, Nathan tidak tahu bagaimana Vina bisa menemukan Nathan tapi pada intinya Nathan sangat terganggu dengan keberadaan Vina, jadi Nathan memaksa Aleea untuk pulang," jelas Nathan beralasan.


"Vina? tapi mama sudah meminta Evan untuk menahan Vina dengan memberinya banyak pekerjaan, apa mungkin Evan berbohong? apa mungkin Evan yang memberi tahu keberadaan kalian pada Vina?" tanya Hanna menerka.


"Tidak mungkin Evan melakukan hal itu ma, Evan memang sudah memberikan banyak pekerjaan pada Vina, dia bahkan menolak izin cuti Vina, tetapi Vina tetap libur meskipun Evan melarangnya," jelas Nathan.


"Lalu kenapa Vina bisa bertemu denganmu disana, Nathan? Paris luas, tidak mungkin dia menemukanmu dengan mudah!"


Nathan terdiam untuk beberapa saat, ia tidak mungkin memberi tahu sang mama jika Aleea lah yang memberi tahu Vina dimana keberadaan Nathan saat itu.


"Mungkin ada seseorang yang mengenal Nathan disana dan menyebarkan berita jika Nathan berada disana bersama Aleea," ucap Nathan berusaha mempengaruhi sang mama.


Hanna mendengus kesal, rencananya untuk memberikan waktu Nathan dan Aleea berlibur gagal.


"Sekarang Nathan harus berangkat, mama tidak perlu khawatir, Nathan akan mempersiapkan liburan yang lain untuk Nathan dan Aleea!" ucap Nathan sambil membawa langkahnya meninggalkan sang mama.


"Jangan hanya berlibur Nathan, kau juga harus memberi kabar gembira pada mama, kau mengerti maksud Mama bukan?"


Nathan hanya melambaikan tangannya pada sang mama tanpa mengatakan apapun dengan tetap melanjutkan langkahnya lalu masuk ke dalam mobil.


"Kabar gembira? mustahil!" batin Nathan dengan tersenyum tipis lalu mengendarai mobilnya meninggalkan rumah.


Sesampainya di kantor, Nathan segera membawa langkahnya ke ruangannya dan mendapati Vina yang sudah duduk di ruangannya.


"Ada apa?" tanya Nathan tanpa rasa bersalah setelah apa yang terjadi semalam.


"Apa kau masih membutuhkanku disini?" balas Vina bertanya.


"Tentu saja, kau salah satu yang terbaik selain Evan disini," jawab Nathan lalu membawa dirinya duduk di kursi kerjanya.


"Apa kau akan mempertahankanku disini?" tanya Vina yang membawa pandangannya mengikuti Nathan.


"Tentu saja, apa yang kau inginkan? kenaikan gaji? cuti panjang? voucher belanja?" balas Nathan santai sambil menyalakan komputer di hadapannya.


Vina hanya diam, ia kemudian meletakkan sebuah amplop di atas meja kerja Nathan.


"Apa ini? tiket liburan?" tanya Nathan sambil membuka isi amplop itu dan membacanya.


"Aaahhh... surat pengunduran diri," ucap Nathan setelah membaca sekilas surat pengunduran diri Vina.


"Apa yang kau inginkan agar kau tetap berada di perusahaan ini?" tanya Nathan dengan membawa pandangannya pada Vina.


"Hubungan kita," jawab Vina tanpa ragu.


"Hubungan apa maksudmu Vina? bukankah sudah sering ku katakan bagaimana hubungan kita selama ini!"


"Mungkin kemarin aku terlalu lengah dan meremehkan diriku sendiri, tapi sekarang aku tidak akan mudah luluh lagi padamu, Nathan!" ucap Vina.


"Jadi, apa yang kau mau?" tanya Nathan.


"Aku mau kita lebih dari sekedar partner kerja, lebih dari sekedar atasan dan bawahan, kau tau selama ini aku menyukaimu dan kau tau bagaimana aku bekerja sangat keras untuk semua projek kita, bukankah semua itu menguntungkan untukmu!"


Nathan menganggukkan kepalanya pelan lalu beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Vina.


Nathan membawa dirinya duduk di sudut mejanya, menatap Vina yang duduk di kursi di hadapannya dengan tersenyum.


"Kau benar Vina, kau memang menguntungkan untukku, semua projek yang kau kerjakan selalu memuaskanku, kau juga perempuan yang cantik dan nyaris sempurna," ucap Nathan sambil memegang ujung dagu Vina.


Vina tersenyum lalu meraih tangan Nathan dan menggenggamnya, Nathanpun hanya tersenyum, menatap perempuan yang sejak lama ia ketahui menyukainya.

__ADS_1


__ADS_2