
Aleea dan Nathan masih berada di kafe. Aleea begitu antusias dengan beberapa jenis pastry di hadapannya. Ia memakannya sedikit demi sedikit untuk mengetahui beberapa komposisi yang bisa ia rasakan lalu mencatatnya untuk ia diskusikan bersama Tika.
Sedangkan Nathan, tidak banyak yang ia lakukan. Ia hanya menikmati pesanannya sambil sesekali mencuri pandang pada Aleea.
"Seharusnya aku kesini bersama Evan," ucap Aleea yang membuat Nathan mengernyitkan keningnya.
"Kenapa Evan?" Tanya Nathan.
"Karena dia mengetahui banyak hal tentang makanan, termasuk kue dan pastry, aku pasti bisa berdiskusi banyak hal dengannya jika aku bersama dengannya sekarang," jelas Aleea.
"Kau bisa mengajaknya kesini jika kau mau!" Ucap Nathan dengan raut wajah kesal.
"Tidak mungkin, Evan juga tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya begitu saja," balas Aleea dengan menghela napasnya.
"Siapapun yang menjadi suamimu saat ini pasti akan sangat marah padamu," ucap Nathan.
"Kenapa?" Tanya Aleea yang sibuk dengan catatannya, tanpa sedikitpun membawa pandangannya pada Nathan.
"Bagaimana tidak? Semua suami akan kesal dan marah saat istrinya membicarakan laki-laki lain di depannya," jelas Nathan.
"Apa kau sedang kesal karena aku membicarakan Evan?" Tanya Aleea yang kini membawa pandangannya pada Nathan.
Seketika Nathan segera mengalihkan pandangannya sambil menyeruput minumannya.
"Tentu saja tidak," ucap Nathan tanpa menatap Aleea.
"Sudah ku duga," balas Aleea yang kembali sibuk dengan ponselnya.
"Jika kau ingin tau resep kue yang kau makan, aku bisa menanyakannya pada pemilik kafe ini!" Ucap Nathan.
Seketika Aleea kembali membawa pandangannya pada Nathan, menatap Nathan dengan tatapan tak percaya.
"Apa kau serius?" Tanya Aleea.
"Tentu saja, apa kau tidak mempercayaiku?" Balas Nathan.
"Mempercayaimu adalah hal paling mustahil dalam hidupku, Nathan!" Ucap Aleea lalu mencoba kue lain yang ia pesan.
"Aku mengenal pemilik kafe ini, dulu dia menjual kuenya di food truck lalu membuat kafenya sendiri sekitar 3 tahun yang lalu," jelas Nathan.
"Kau tidak sedang membodohiku bukan?" Tanya Aleea ragu.
"Terserah jika kau tidak mempercayaiku, tidak ada rugi dan untungnya juga buatku," jawab Nathan.
Aleea terdiam untuk beberapa saat, memikirkan apa yang Nathan katakan padanya.
"Jika dia benar-benar mengenal pemilik kafe ini, itu artinya aku akan mengetahui dengan pasti komposisi, trik dan tips untuk membuat pastry yang sama seperti ini, tapi..... Tidak, aku tidak akan membiarkan Nathan mencampuri bisnisku, aku tidak ingin berhutang budi padanya," ucap Aleea dalam hati.
Aleea kemudian menyeruput minumannya, mengangguk-anggukkan kepalanya mengiyakan apa yang ada dalam kepalanya.
"Lagi pula aku akan membuat produkku sendiri bersama Tika, aku hanya akan mengambil beberapa hal yang bisa aku jadikan inspirasi dan membuatnya dengan cara dan resepku sendiri," ucap Aleea dalam hati.
"Jika kau sudah selesai, ayo kita pergi!" Ucap Nathan.
"Baiklah, ayo pergi," balas Aleea.
Aleea dan Nathan beranjak dari kursi lalu berjalan keluar dari kafe. Tak lupa Nathan meraih tangan Aleea dan menggenggamnya.
Meskipun merasa tidak nyaman dengan hal itu, namun Aleea hanya diam karena tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerimanya.
"Tunggu sebentar!" ucap Aleea sebelum mereka masuk ke dalam mobil.
"Kenapa?" tanya Nathan.
"Aku ingin berjalan-jalan di sekitar sini sebelum kita pulang," jawab Aleea.
"Berjalan?" tanya Nathan memastikan sambil memperagakan dengan menggunakan jarinya.
"Iya," jawab Aleea dengan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, lagi pula kita juga tidak ada tujuan lain," ucap Nathan.
__ADS_1
Aleea dan Nathanpun urung masuk ke dalam mobil, mereka membiarkan mobil mereka di tempat parkir kafe, sedangkan mereka berjalan-jalan di trotoar jalan raya yang cukup lebar.
"Sepertinya bukan masalah jika kita tidak selalu bergandengan tangan," ucap Aleea.
"Oke," balas Nathan lalu melepaskan tangan Aleea dari genggamannya.
Aleea kemudian berjalan lebih cepat, ia berlari kecil ke arah daun-daun yang sudah berguguran dan hampir memenuhi trotoar.
Sesekali dia memutar badannya dan menendang daun-daun yang berserakan di sekitarnya.
Tanpa ia sadar, ia mulai menikmati liburannya. Merasakan hal baru yang belum pernah ia rasakan cukup membuatnya senang, membuatnya lupa akan masalahnya bersama Nathan dan rasa sakitnya karena Nathan.
Sedangkan di sisi lain, Nathan hanya tersenyum tipis melihat apa yang Aleea lakukan. Untuk pertama kalinya Nathan melihat Aleea tampak begitu bahagia hanya karena hal kecil yang Aleea lakukan.
"Sangat norak!" ucap Nathan saat berjalan melewati Aleea yang asik dengan dunianya sendiri.
"Kau perlu tahu Nathan, hal kecil yang kau anggap remeh bisa jadi merupakan hal besar yang diinginkan orang lain dan hal yang kau anggap remeh itu bisa menjadi bagian dari kebahagiaan orang lain," ucap Aleea yang mulai berjalan mengikuti langkah Nathan.
"Hanya orang yang tidak memiliki kepercayaan diri tinggi yang bisa bahagia hanya dengan hal kecil Aleea, dia terlalu malas untuk meraih hal besar hanya karena rasa bahagia yang tidak seberapa itu!" balas Nathan.
"Apa kau bahagia Nathan? apa kau sudah benar-benar bahagia dengan hidupmu saat ini?" tanya Aleea.
"Aku senang dengan apa yang aku miliki saat ini, tapi aku belum benar-benar merasa bahagia karena banyak hal lain yang harus aku dapatkan untuk bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya," jawab Nathan.
"Aku mungkin tidak memahami caramu berpikir Nathan dan aku tidak tahu bagaimana aku bisa menjatuhkan hatiku padamu di masa lalu dengan sifat dan sikapmu yang seperti ini, tapi jika aku boleh memilih, aku sama sekali tidak ingin jatuh cinta dengan orang sepertimu!" ucap Aleea.
Nathan seketika menghentikan langkahnya, diikuti Aleea yang juga menghentikan langkahnya dengan membawa pandangannya menatap Nathan.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam dengan saling menatap.
"Aku bukan laki-laki seburuk yang kau kira Aleea, mungkin kau berpikir jika aku egois tapi seperti itulah kehidupan yang sebenarnya Aleea, kebahagiaan hanya milik mereka yang berkuasa dan fokus dengan tujuannya sendiri," ucap Nathan.
"Manusia tidak akan bisa berhenti dengan satu tujuannya Nathan, dia akan menjadi serakah dan memperjuangkan banyak hal bahkan setelah dia tau jika hal itu tidak ditakdirkan untuknya dan kau harus tau, keserakahan itu yang akan menghancurkannya!" balas Aleea lalu melanjutkan langkahnya.
"Bukankah semua orang memang harus terus memperjuangkan tujuannya, Aleea? bukankah kita memang harus terus berjuang dan tidak mudah puas dengan apa yang kita dapatkan? bukankah hal itu yang membuat kita maju dan hidup dengan lebih baik?" tanya Nathan.
"Hidup lebih baik seperti apa yang kau maksud Nathan? kau bahkan tidak tau sampai dimana kau akan berhenti berjuang demi ambisimu!" balas Aleea.
"Tentu saja tidak, tapi ada kalanya kau harus berhenti Nathan, nikmati apa yang sudah kau miliki, syukuri apa yang kau dapatkan maka kau akan benar-benar merasakan kebahagiaan," jawab Aleea.
"Menyerah memang bukan hal yang baik, tapi terkadang kita harus mundur untuk bisa menang, seperti perlombaan tarik tambang, kau tau bukan?" lanjut Aleea.
Nathan hanya diam, ia tidak menyangka jika ia bisa membicarakan hal seperti itu dengan Aleea.
Selama ini Nathan berpikir jika Aleea adalah gadis bodoh yang bisa dengan mudah ia pengaruhi, namun ternyata Aleea tidak sebodoh yang ia pikirkan.
"Memperjuangkan apa yang menjadi tujuanmu memang hal yang baik Nathan, tapi tidak harus bisa memeluk gunung agar kita bisa bahagia bukan? mendaki dengan perlahan sembari menikmati pemandangannya adalah hal yang membuat kita bahagia," ucap Aleea.
"Jadi jangan lupa untuk sekedar melihat ke sekitarmu Nathan, banyak hal yang harus kau syukuri dalam hidupmu meskipun mungkin kau belum benar-benar bisa mendapatkan apa yang kau inginkan saat ini!" lanjut Aleea.
Nathan masih terdiam, gadis cantik di hadapannya seperti bukan Aleea yang ia kenal atau mungkin ia memang belum benar-benar mengenal Aleea.
"Aaahh maafkan aku, sepertinya ucapanku terlalu melantur!" ucap Aleea.
Nathan hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan tersenyum tipis.
"Kau tersenyum? apa baru saja kau tersenyum?" tanya Aleea yang melihat Nathan tersenyum.
"Tidak," jawab Nathan dengan menggelengkan kepalanya cepat.
"Aku yakin kau baru saja tersenyum Nathan, benarkan?"
"Tidak Aleea!" ucap Nathan sambil mempercepat langkahnya meninggalkan Aleea.
"Hahaha.... aku sungguh melihatmu tersenyum tadi, kau tersenyum padaku hahaha....." ucap Aleea sambil berlari kecil mengejar Nathan.
Setelah beberapa lama berjalan di trotoar, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kafe. Nathanpun mengendarai mobilnya pergi meninggalkan kafe bersama Aleea yang duduk di sampingnya.
"Sepertinya kau sangat menyukai musim gugur!" ucap Nathan.
"Aku rasa begitu, apa kau baru mengetahuinya?" balas Aleea.
__ADS_1
"Aku....."
"Aaahh ya aku ingat, kita pernah berfoto di taman saat musim gugur, apa kau lupa?" ucap Aleea sekaligus bertanya.
"Tentu saja aku mengingatnya, tapi dulu kau tidak mengatakan secara langsung jika kau menyukainya," balas Nathan berbohong.
"Bukankah tidak semua hal harus dikatakan secara langsung? apa kau tidak bisa mengerti hanya dengan memperhatikan saja? apa mungkin sejak dulu kau memang tidak begitu memperhatikanku?" tanya Aleea.
"Sudahlah Aleea, berhenti membahas masa lalu," ucap Nathan yang tidak ingin menjawab pertanyaan Aleea.
"Masa lalu? aaahh.... jadi sekarang aku adalah masa lalu buatmu? baiklah," ucap Aleea lalu membawa pandangannya ke arah jalan di sampingnya.
Entah kenapa ada rasa sesak di dadanya saat Nathan mengatakan jika dirinya hanyalah masa lalu bagi Nathan.
"Ternyata hubungan kita benar-benar berakhir, hubungan yang bahkan belum sempat aku ingat," ucap Aleea dalam hati.
Diam-diam Nathan membawa ekor matanya melihat ke arah Aleea. Ia bisa melihat raut wajah Aleea yang tampak murung saat itu, sangat berbeda dengan saat Aleea berada di kafe dan trotoar.
"Apa dia masih mengharapkan hubungannya denganku?" batin Nathan bertanya dalam hati.
"Aaahhh lupakan saja, dia juga tidak mungkin mencintaiku, kita bahkan tidak saling mengenal satu sama lain!" ucap Nathan dalam hati lalu kembali fokus mengendarai mobilnya.
Nathan mengendarai mobilnya ke arah taman besar yang ada disana. Sesampainya disana, ia memarkirkan mobilnya lalu turun dari mobil bersama Aleea.
"Kenapa kita kesini?" tanya Aleea.
"Mungkin kau akan menyukainya," jawab Nathan lalu berjalan masuk ke dalam taman diikuti Aleea.
Saat berada di tengah taman, Aleea terdiam menatap pepohonan di sekitarnya yang daunnya sudah mengering dengan didominasi warna kuning dan merah.
Aleea dan Nathan kemudian duduk di salah satu kursi yang ada disana. Terlihat beberapa pasangan yang juga sedang duduk di sekitar taman.
Hembusan angin pelan dengan pemandangan air mancur di hadapannya bersama daun-daun yang menguning benar-benar membuat Aleea hanyut dalam ketenangan.
Di sisi lain, Aleea melihat seorang laki-laki yang berjalan dengan membawa dua ice cream di tangannya lalu memberikannya pada seorang perempuan yang sudah bisa Aleea terka jika perempuan itu adalah kekasihnya.
Perempuan itupun terlihat begitu bahagia dan memberikan kecupan singkatnya di pipi si laki-laki.
"Lihatlah Nathan, laki-laki itu hanya memberikan ice cream pada pasangannya, tapi pasangannya terlihat sangat bahagia!" ucap Aleea pada Nathan.
"Belilah jika kau juga ingin ice cream!' balas Nathan.
"Bukan itu maksudku, aku hanya ingin memberimu contoh secara langsung jika kebahagiaan tidak hanya datang dari kesuksesan yang kau raih, tapi juga dari hal kecil yang dilakukan orang yang kau cintai," jelas Aleea.
"Mereka hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan Aleea, mereka hanya bersenang-senang dengan uang yang mereka dapatkan dari orang tua mereka!" ucap Nathan.
"Apa selama ini kehidupanmu sangat sulit Nathan?" tanya Aleea.
"Tentu saja tidak, aku hidup dengan berkecukupan!" jawab Nathan.
"Apa kau bahagia dengan hal itu? apa kau sudah merasa cukup? aku yakin belum!'
"Tentu saja belum, aku....."
"Itulah perbedaannya, kau tidak bisa benar-benar merasa bahagia karena kau tidak pernah merasa cukup, orang-orang di luar sana juga menghadapi hidup dengan pahit Nathan, tetapi mereka masih menikmatinya," ucap Aleea memotong ucapan Nathan.
"Orang-orang yang kau remehkan, orang-orang yang kau anggap rendah, mereka juga memiliki kesulitan dalam hidupnya, hanya saja mereka memiliki waktu untuk bersyukur dan menikmati apa yang mereka jalani dengan bahagia," lanjut Aleea.
"Apa kau berpikir jika hidupku sangat menyedihkan?" tanya Nathan.
"Tidak, aku yakin banyak yang merasa iri denganmu, kau tumbuh di keluarga yang harmonis dengan keadaan ekonomi yang sangat baik, kau juga memiliki teman baik dan banyak orang di sekitarmu yang menghormatimu, hidupmu benar-benar seperti tokoh utama dalam novel, Nathan!"
"Kau hanya melihat luarnya tanpa kau tau bagaimana aku berjuang untuk bisa berada di titik ini, Aleea!" ucap Nathan.
"Kau benar, aku hanya melihatmu dari luar karena aku merasa tidak mengenalmu dengan baik, yang aku tau kau hanya seorang laki-laki egois yang hanya peduli pada keinginan dan tujuanmu sendiri!" balas Aleea dengan tersenyum.
"Tidak ada yang salah dengan hal itu!" ucap Nathan.
"Tidak ada yang salah sampai suatu saat nanti kau akan sadar saat kau kehilangan sesuatu atau seseorang yang selama ini kau anggap tidak penting," balas Aleea.
"Saat itulah kau akan sadar dan menyesal karena terlalu fokus dengan dirimu sendiri," lanjut Aleea.
__ADS_1
Nathan hanya terdiam. Ucapan Aleea seperti menusuk ke dalam hatinya.