
Evan masih berada di basement bersama Rania, ia sedang berusaha memikirkan jawaban atas pertanyaan Rania tentang tas bekal yang ada di mobilnya.
Namun sebelum Evan sempat mengatakan apapun, sebuah mobil memasuki basement dengan membunyikan klakson beberapa kali, membuat Evan dan Rania seketika membawa pandangan mereka ke arah mobil yang mereka kenal itu.
Tak lama kemudian Nathan keluar dari mobilnya dan segera menghampiri Evan yang sedang bersama Rania.
"Tidak ada waktu untuk mengobrol, ayo naik!" ucap Nathan lalu berjalan pergi diikuti Evan dan Rania.
"Ini masih pagi kak, kenapa kakak berangkat sepagi ini?" tanya Rania pada Nathan.
"Bukankah kau tau jawabannya? karena hari ini ada event besar!" balas Nathan.
"Tapi kakak adalah bos disini, ada banyak orang-orang di bawah kakak yang akan menyiapkan semuanya," ucap Rania.
"Kau pikir tugas bos hanya duduk dan menunggu hasil? tidak Rania!" ucap Nathan.
"Kakak terlalu keras pada diri kakak sendiri, cobalah untuk menikmati hidup dengan santai kak!" ucap Rania.
"Tidak ada waktu untuk bersantai, kau setuju denganku bukan?" balas Nathan sekaligus bertanya dengan membawa pandangannya pada Evan.
"Kali ini aku setuju dengan Rania, kau harus memiliki waktu untuk bersantai Nathan, terus menerus bekerja akan membuatmu stres dan lebih cepat tua hehe...." balas Evan.
"Kalian berdua ternyata sudah bersekongkol!" ucap Nathan dengan menghela napasnya.
"Bagaimana jika kita pergi berlibur? kak Nathan, Rania, kak Evan dan kak Aleea!" tanya Rania memberi saran.
"Tidak," jawab Nathan dengan cepat.
"Setuju," jawab Evan yang tak kalah cepat dengan Nathan.
"Oke sekarang dua orang setuju, tinggal meminta jawaban kak Aleea, jika kak Aleea setuju berarti kak Nathan kalah dan harus mau pergi berlibur, oke?"
"Kakak sibuk Rania, kakak tidak memiliki waktu untuk bermain-main seperti itu!" ucap Nathan beralasan.
"Apa benar kak Nathan sesibuk itu kak?" tanya Rania pada Evan.
"Untuk saat ini sampai beberapa hari ke depan memang sibuk, tapi semuanya akan selesai sebelum weekend, jadi kita bisa pergi berlibur saat weekend!" jelas Evan.
"Rania setuju, sangat setuju!" balas Rania penuh semangat.
"Tidak bisa Evan, aku......"
"Kau tidak bisa berbohong padaku Nathan, anggap saja ini adalah waktu istirahat kita setelah beberapa hari kemarin kita menghabiskan banyak waktu untuk mempersiapkan event ini," ucap Evan memotong ucapan Nathan.
"Hmmm.... baiklah, hanya jika Aleea menyetujuinya, aku tidak akan berangkat jika Aleea juga tidak setuju dan aku yakin Aleea tidak akan setuju," ucap Nathan dengan tersenyum.
"Kakak terlalu yakin!" ucap Rania mencibir.
TRIIIING
Pintu lift terbuka, Rania membawa langkahnya keluar terlebih dahulu.
"Kak Evan bukannya turun disini?" tanya Rania pada Evan yang masih berada di dalam lift.
"Ada sesuatu yang harus aku ambil di ruanganku, kau pergi saja dulu!" jawab Evan beralasan.
Sebenernya Evan harus turun di lantai yang sama dengan Rania, tetapi Evan sengaja mengikuti Nathan karena ada sesuatu yang harus Evan katakan pada Nathan.
"Tentang liburan yang Rania bicarakan, jika kau tidak setuju, jangan memaksa Aleea untuk sependapat denganmu Nathan, apa lagi sampai melakukan kekerasan padanya!" ucap Evan pada Nathan.
"Tanpa aku memaksanya dia pasti tidak akan setuju, pasti sangat tidak nyaman karena harus berpura-pura di depan Rania," balas Nathan.
"Tapi..... aku tidak bisa berjanji untuk tidak memaksanya agar sependapat denganku," lanjut Nathan.
TRIIIING
Pintu lift terbuka, Nathan berjalan keluar namun segera dicegah dan kembali ditarik masuk oleh Evan.
"Ada apa Evan?" tanya Nathan terkejut dengan apa yang Evan lakukan padanya.
Evan kemudian memencet tombol yang akan membawa mereka ke rooftop.
"Kenapa kita ke rooftop?" tanya Nathan.
"Aku tidak mungkin melakukannya di depan orang lain," jawab Evan.
"Melakukan apa?" tanya Nathan tak mengerti.
__ADS_1
Evan hanya diam sampai lift berhenti dan terbuka di lantai paling atas gedung itu. Evan kemudian keluar dari lift dan berjalan ke arah rooftop.
Dengan ragu, Nathanpun mengikuti langkah Evan meskipun ia tidak tahu apa yang sebenarnya ingin Evan lakukan dengannya disana.
"Apa kau ingat pertemuan pertamamu dengan Aleea, Nathan?" tanya Evan pada Nathan.
"Ingat, kenapa kau tiba-tiba membahasnya? kita tidak punya waktu untuk membahas hal ini Evan!" balas Nathan.
"Kau menabraknya dan membuatnya hilang ingatan," ucap Evan.
"Dia yang berlari ke arah jalan raya saat lampu penyebrangan masih menyala merah, jadi itu bukan salahku!" balas Nathan.
"Aleea tidak akan tertabrak olehmu jika kau fokus mengendarai mobilmu saat itu Nathan, kau pasti memikirkan ucapan orang tuamu tentang pernikahan yang membuatmu tidak bisa fokus dan akhirnya menabrak Aleea, benar begitu bukan?"
Nathan menghela napasnya kasar dengan mengalihkan pandangannya dari Evan.
"Aleea hanya gadis biasa yang kau paksa masuk dalam kehidupanmu Nathan, menyelematkannya saat itu adalah tanggung jawabmu karena kau menabraknya dan menunggunya sampai dia sadar itu adalah pilihanmu, pilihan yang kau buat untuk memenuhi keegoisanmu!" ucap Evan.
"Ada apa denganmu Evan? kenapa kau tiba-tiba membicarakan hal ini? apa dia mengatakan sesuatu padamu?" tanya Nathan.
"Kau hanya perlu ingat Nathan, kau yang membawa Aleea ke dalam hidupmu, kau yang memulai semua kebohongan ini dan berpura-pura mencintainya adalah keputusan yang kau buat sendiri tanpa paksaan siapapun, jadi bukankah sudah seharusnya kau bertanggung jawab dengan keputusanmu itu!"
"Aku membawanya dalam hidupku hanya karena untuk memanfaatkannya Evan, kau tau itu!" balas Nathan.
"Aku tau, jika kau masih memanfaatkannya untuk kepentinganmu sendiri, jaga dia dengan baik Nathan, dia akan pergi jika kau terus menerus menyakitinya!" ucap Evan.
"Dia tidak akan bisa pergi, dia akan tetap bersamaku sampai aku tidak membutuhkannya lagi, dengan kontrak yang kau buat, aku bisa melakukan apapun padanya sampai aku bosan," ucap Nathan dengan tersenyum tipis lalu berbalik dan hendak pergi.
Namun dengan cepat Evan menarik bahu Nathan dan mendorongnya ke arah dinding. Dengan penuh emosi Evan mencengkeram kerah kemeja Nathan.
Nathan yang terkejutpun hanya diam, ia tidak menyangka jika Evan akan melakukan hal itu padanya.
"Selama ini aku selalu menuruti semua perintahmu tanpa ada penyesalan sama sekali, tapi kali ini kau membuatku hidup bersama rasa bersalah yang sangat menggangguku Nathan!" ucap Evan penuh emosi.
Nathan tersenyum tipis mendengar ucapan Evan. Meksipun terkejut dengan apa yang Evan lakukan, Nathan berusaha untuk tetap tenang.
"Sepertinya dia sudah berhasil menggodamu, apa dia menggodamu dengan tubuhnya? apa dia....."
"Aleea bukan perempuan rendahan seperti itu Nathan!" ucap Evan yang semakin emosi dengan semakin erat mencengkeram kerah kemeja Nathan.
"Kau hanya mengatakan padaku jika kau membutuhkannya untuk mendapatkan perusahaan ini, aku membantumu tanpa banyak bertanya seperti biasanya, tapi bukan berarti kau bisa melakukan semua hal sesukamu padanya Nathan!" ucap Evan pada Nathan.
"Dia hanya gadis sial yang bertemu denganmu, bukankah berbohong tentang kehidupannya sudah cukup bagimu? kenapa kau juga harus menyakitinya secara fisik Nathan?" lanjut Evan bertanya.
Nathan hanya diam, tidak ada sepatahkatapun yang ia katakan saat itu. Evan menghela napasnya kasar lalu melepaskan cengkeramannya pada kerah kemeja Nathan dengan sedikit mendorong tubuh Nathan sampai terbentur dinding.
"Aku tidak akan seperti ini jika kau tidak menyakitinya Nathan, aku membantumu menyempurnakan kebohonganmu bukan untuk melihatnya lebam dan memar setiap hari, apa yang terjadi padanya semakin membuatku merasa bersalah dan itu sangat menggangguku!" ucap Evan.
"Aku benar-benar bisa gila jika berlama-lama hidup dengan rasa bersalah ini!" lanjut Evan sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
Nathan hanya diam, memperhatikan dan mendengarkan semua yang Evan katakan padanya.
Selama mereka bersahabat, Nathan tidak pernah melihat Evan tampak sekacau saat itu.
"Aku tidak peduli apakah kau mencintainya atau tidak, apakah kau peduli padanya atau tidak, tapi aku hanya minta satu Nathan, jangan menyakitinya, melihatnya terluka dan bersedih karenamu benar-benar membuatku tersiksa dengan rasa bersalah ini, aku mohon mengertilah Nathan," ucap Evan.
Evan memohon dengan menatap kedua mata Nathan lalu berjalan pergi meninggalkan Nathan begitu saja. Sedangkan Nathan masih berdiri di tempatnya, diam tanpa mengatakan apapun.
"Apa kau benar-benar sudah jatuh cinta padanya Evan?" batin Nathan bertanya dalam hati.
Nathan menghela napasnya panjang, menjatuhkan dirinya dengan berjongkok bersandar pada dinding, menatap jauh dengan pandangan matanya yang kosong.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Nathan berdering, sebuah panggilan dari rekan kerjanya.
"Aku akan segera kesana," ucap Nathan lalu beranjak dan meninggalkan rooftop dengan merapikan kerah kemejanya yang sudah tampak kacau.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Evan masih sibuk memeriksa satu per satu persiapan event yang beberapa jam lagi akan diadakan.
Tiba-tiba Rania datang dengan mengenakan pakaian yang cukup terbuka.
"Rania, kenapa kau memakai pakaian seperti ini?" tanya Evan terkejut.
"Bagaimana kak? apa Rania sudah terlihat dewasa sekarang?" balas Rania bertanya sambil memutar tubuhnya di depan Evan.
__ADS_1
"Tidak, aku sangat tidak menyukai pakaian seperti ini," jawab Evan sambil melepas jasnya lalu memakaikannya pada Rania.
"Kenapa kak? Rania harus mengenakan pakaian ini untuk tampil di acara nanti!"
"Tidak, kau harus mengganti pakaianmu sekarang juga!" ucap Evan sambil memegang kedua bahu Rania dan membawanya berjalan ke arah ruangan wardrobe.
"Ganti pakaiannya dengan pakaian yang sesuai dengan usianya, dia bahkan belum berusia 20 tahun!" ucap Evan pada penanggung jawab wardrobe.
"Baik pak."
"Tapi kaakk....."
"Tidak ada tapi Rania, jangan coba-coba untuk mengenakan pakaian seperti itu lagi di depanku!" ucap Evan memotong ucapan Rania.
Rania hanya mendengus kesal lalu berjalan mengikuti perempuan yang akan mengganti pakaiannya.
Sedangkan Evan, membawa langkahnya keluar untuk menyelesaikan pekerjaannya yang lain.
Waktu berlalu, event yang sudah Evan dan timnya siapkan akhirnya berlangsung dengan lancar sesuai dengan rencana.
Tidak ada masalah serius yang terjadi, semuanya bisa diatasi dengan mudah oleh Evan dan timnya karena kerja keras dan kekompakan mereka.
Mama dan papa Nathan bahkan secara langsung mengucapkan terima kasih pada Evan karena Evan bisa menghandle acara itu dengan sangat baik dan memberikan hasil yang jauh melebihi ekspektasi mama dan papa Nathan.
Di sisi lain, Nathan hanya tersenyum tipis saat melihat mama dan papanya yang sedang memuji Evan.
Tak dapat dipungkiri, Evan memang selalu melakukan pekerjaannya dengan sangat baik dan teliti.
Malam semakin larut, Evan dan timnya berkumpul setelah acara benar-benar selesai.
"Terima kasih atas kerja keras kalian semua, keberhasilan kita kali ini adalah karena kerja keras dan kekompakan kita!" ucap Evan yang disambut tepuk tangan semua yang ada disana.
Setelah mengatakan beberapa hal pada seluruh timnya, Evan dan yang lainnyapun meninggalkan tempat acara itu.
"Akhirnya semua kesibukan ini selesai," ucap Vina yang berada satu lift dengan Evan.
"Terima kasih atas kerja kerasmu Vina, aku tau event hari ini sudah banyak menyita waktumu selama beberapa hari ini," ucap Evan.
"Aku memang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk pekerjaanku," balas Vina.
Lift berhenti, pintu lift terbuka dan Nathan masuk ke dalam lift.
"Kita berhasil Nathan, event kali ini sukses besar!" ucap Vina pada Nathan dengan penuh semangat.
"Aku sudah melihatnya, terima kasih atas kerja keras kalian!" balas Nathan.
"Apa hanya terima kasih saja? apa tidak ada hal lain yang ingin kau berikan?" tanya Vina dengan manja.
Evan kemudian memencet tombol lift dan tak lama kemudian pintu lift terbuka. Evanpun keluar dari lift meskipun sebenarnya masih ada beberapa lantai lagi yang harus ia lewati untuk sampai di basement.
Melihat sikap Evan, Nathan hanya diam dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Apa yang sudah terjadi diantara mereka berdua di rooftop membuat mereka tiba-tiba merasa canggung satu sama lain.
Tepat pukul 11 malam, Nathan baru saja meninggalkan kantor dan mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.
Sejak kejadian di rooftop, Nathan selalu memikirkan apa yang Evan katakan padanya. Sama sekali tidak ada perasaan marah dalam dirinya setelah apa yang Evan lakukan padanya, justru ia merasa bersalah karena sudah membuat Evan tersiksa dengan rasa bersalah yang Evan rasakan selama ini.
Sesampainya di rumah, Nathan segera membawa langkahnya masuk dan menaiki tangga.
Nathan berjalan ke arah kamar Aleea lalu mengetuk pintunya beberapa kali hingga tiba-tiba bibi datang menghampirinya.
"Maaf tuan, non Aleea belum pulang," ucap bibi pada Nathan.
"Belum pulang?" tanya Nathan mengulang ucapan bibi sambil melihat jam tangannya.
"Kenapa Aleea selalu pulang malam akhir-akhir ini?" batin Nathan bertanya dalam hati.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang menaiki tangga dan terlihat Aleea yang berjalan dengan raut wajahnya yang tampak lesu.
"Dari mana saja kau Aleea?" tanya Nathan pada Aleea.
"Aku sangat lelah Nathan, jangan mengajakku ribut sekarang, tampar aku lalu biarkan aku berisitirahat!" balas Aleea.
"Aku tidak peduli apa yang kau lakukan di luar sana, tapi kau harus ingat jika semua orang mengenalmu sebagai istriku, jadi jaga sikapmu dan jangan melakukan hal yang bisa mencoreng nama baikku dan keluarga!" ucap Nathan.
"Aku mengerti," balas Aleea sambil membuka pintu kamarnya lalu masuk dan menutupnya begitu saja.
Ia sangat lelah dan sudah tidak mempunyai tenaga untuk berdebat dengan Nathan.
__ADS_1