Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Dibalik Mobil Mencurigakan


__ADS_3

Vina yang berada di ruangan Nathan hanya menghela nafasnya kesal melihat Nathan yang tampak begitu peduli pada Aleea, Nathan bahkan mengabaikannya begitu saja saat Nathan menghubungi Aleea.


Karena sudah sangat kesal dan tidak ingin mendengar bagaimana Nathan mengkhawatirkan Aleea, Vinapun beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Nathan dengan raut wajahnya yang kesal.


Vina bahkan tidak sengaja menabrak Evan yang akan masuk ke ruangan Nathan, namun bukannya meminta maaf, Vina justru memasang wajah kesalnya pada Evan dan berlalu pergi begitu saja.


Evanpun tidak menghiraukannya dan memilih untuk melanjutkan langkahnya masuk ke ruangan Nathan.


"Ada apa dengan Vina? apa kalian baru saja bertengkar?" tanya Evan sambil membawa dirinya duduk di hadapan Nathan.


"Tidak," jawab Nathan singkat sambil menghubungi satpam rumahnya.


Setelah panggilannya terjawab, Nathan kemudian menanyakan pada satpam rumahnya tentang mobil mencurigakan yang berada di seberang rumahnya.


Satpampun membenarkan tentang mobil mencurigakan itu. Nathan kemudian meminta satpam untuk membiarkan mobil itu berada disana selama mobil itu tidak melakukan pergerakan apapun yang membahayakan.


"Pastikan tidak ada siapapun yang masuk ke dalam rumah dan segera hubungi Nathan jika terjadi sesuatu!" ucap Nathan pada satpam rumahnya.


"Baik tuan," balas pak satpam.


Nathan menghela nafasnya panjang lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya sambil memikirkan kemungkinan tentang siapa yang berada di balik mobil mencurigakan itu.


"Ada apa Nathan? apa ada masalah?" tanya Evan.


"Sepertinya ada seseorang yang mengikuti Aleea," jawab Nathan.


"Seseorang? siapa?" tanya Evan terkejut.


"Aku juga tidak tahu, tapi yang pasti seseorang itu berada di dekat rumah sejak pagi, bahkan mengikuti Aleea pergi ke kelas memasaknya sampai Aleea pulang," jawab Nathan.


"Apa mungkin dia adalah seseorang yang mengenal Aleea?" tanya Evan.


"Aku juga tidak tahu Evan, tetapi sepertinya tidak mungkin, jika memang dia mengenal Aleea, bukankah seharusnya dia segera menghampiri Aleea, bukan diam-diam mengikutinya!" balas Nathan.


"Kau benar, lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? apa tidak sebaiknya kau mencari tahu siapa yang mengikuti Aleea?" tanya Evan.


Nathan kemudian mengambil ponselnya dan melihat foto yang Aleea kirimkan padanya, foto yang menunjukkan plat nomor mobil mencurigakan itu.


"Cari tahu pemilik mobil ini, hanya itu yang bisa menunjukkan siapa yang sebenarnya mengikuti Aleea sejak pagi!" ucap Nathan sambil menunjukkan foto plat mobil itu pada Evan.


"Baiklah, aku akan berusaha mencari tahunya," balas Evan lalu beranjak dari duduknya.


Evan kemudian kembali ke ruangannya, ia mulai mencari tahu tentang pemilik mobil yang sesuai dengan plat nomor yang Nathan berikan padanya.


Namun ternyata mobil itu berasal dari sebuah rental mobil yang siapapun bisa menyewanya. Evan kemudian meminta seseorang untuk mencari tahu tentang identitas penyewa mobil itu.


Setelah beberapa lama menunggu, orang suruhan Evan menghubungi Evan, memberitahu jika ia tidak bisa mengetahui identitas penyewa mobil itu dengan alasan kerahasiaan customer.


"Baiklah kalau begitu, aku sendiri yang akan menemui pemilik rental mobil itu," ucap Evan lalu mengakhiri panggilannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore saat Evan keluar dari ruangannya dan menemui Nathan.


"Aku belum bisa mengetahui siapa penyewa mobil itu, sepertinya dia memiliki cukup uang untuk bisa membungkam pemilik rental mobil itu, jika sudah tidak ada yang harus aku kerjakan, aku akan pergi sendiri ke rental mobil itu," ucap Evan pada Nathan.


"Pergilah dan dapatkan informasi yang aku butuhkan!" balas Nathan.


"Baiklah, tapi sebaiknya kau pulang sekarang, mungkin saat ini Aleea sedang ketakutan di rumah!" ucap Evan lalu keluar dari ruangan Nathan.


Nathan kemudian menyimpan semua filenya dan bersiap untuk keluar dari ruangannya. Namun saat ia baru saja beranjak dari duduknya, Vina masuk ke ruangannya.


"Apa kau akan pulang sekarang?" tanya Vina pada Nathan yang sedang mengenakan jasnya.


"Iya, aku harus pulang sekarang," jawab Nathan.


"Kenapa? apa karena kau mengkhawatirkan Aleea?" tanya Vina dengan nada kesal.


"Dia istriku Vina, tentu saja aku mengkhawatirkannya," jawab Nathan.


"Bukankah sudah ada satpam di rumahmu, pasti satpam tidak akan mengizinkan orang asing masuk ke dalam rumahmu bukan?" tanya Vina.


"Kau benar, tapi aku harus tetap pulang, Aleea pasti ketakutan di rumah karena ada orang asing yang mengikutinya sejak pagi," jawab Nathan yang akan keluar dari ruangannya namun segera ditahan oleh Vina.

__ADS_1


"Tidak perlu berlebihan Nathan, Aleea pasti baik-baik saja, jika memang ada seseorang yang berniat jahat padanya pasti seseorang itu sudah melakukannya sejak pagi," ucap Vina.


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi Vina, aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Aleea," balas Nathan sambil menarik tangannya dari Vina lalu keluar dari ruangannya begitu saja.


Vina hanya mendengus kesal di tempatnya berdiri, ia kemudian keluar dari ruangan Nathan lalu segera merapikan meja kerjanya.


"Apa kau akan pulang sekarang?" tanya teman Vina yang melihat Vina sedang merapikan meja kerjanya.


Vina hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.


"Tumben sekali, biasanya kau pulang larut malam, apa karena Pak Nathan sudah pulang?" goda teman Vina.


"Diamlah, kau membuatku semakin kesal," balas Vina lalu beranjak dari duduknya dan segera meninggalkan meja kerjanya.


Di sisi lain, Nathan segera mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya. Satu-satunya hal yang membuatnya khawatir adalah jika seseorang yang mengikuti Aleea itu ternyata seseorang yang mengenal Aleea.


Meskipun logikanya memiliki pemikiran yang berbeda dengan apa yang ia khawatirkan, tetapi tidak menutup kemungkinan jika apa yang ia takutkan itu benar-benar terjadi.


"Bisa jadi seseorang itu memantau Aleea untuk memastikan jika Aleea adalah orang yang dikenalnya, aku tidak boleh membiarkan Aleea bertemu seseorang dari masa lalunya, siapapun itu!" ucap Nathan dengan mempercepat laju mobilnya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nathan akhirnya sampai di rumahnya dan segera membawa langkahnya masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Aleea.


Nathan berlari kecil ke arah kamar Aleea lalu mengetuk pintu beberapa kali sampai Aleea membuka pintu kamarnya.


"Nathan, kau sudah pulang?"


"Aku pulang lebih cepat karena mengkhawatirkanmu, kau sungguh baik-baik saja bukan?" balas Nathan dengan memegang kedua bahu Aleea.


Aleea hanya tersenyum lalu membawa dirinya memeluk Nathan.


"Aku baik-baik saja," ucap Aleea yang semakin erat memeluk Nathan.


"Tidak ada siapapun yang menemuimu bukan? tidak ada orang asing yang menanyakan sesuatu padamu?" tanya Nathan.


"Tidak ada, aku hanya pergi ke kelas memasak, bertemu dengan teman-temanku di kelas memasak lalu pulang dan berdiam diri di dalam rumah seperti yang kau perintahkan," jawab Aleea dengan masih menyandarkan kepalanya di dada Nathan.


Nathan kemudian memegang kedua bahu Aleea, melepaskan pelukan Aleea dan menatap kedua mata Aleea.


Aleea hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun, perhatian dan kepedulian Nathan padanya benar-benar membuat Aleea senang hingga tidak bisa menyembunyikan senyumnya.


"Kenapa sejak tadi kau hanya tersenyum Aleea? apa kau tidak takut jika ada orang yang berniat jahat padamu?" tanya Nathan.


"Aku sama sekali tidak memikirkan hal itu, aku hanya sedang senang dan bahagia karena kau mempedulikanku," jawab Aleea dengan penuh senyum.


"Tentu saja aku peduli padamu, kau adalah istriku dan aku mencintaimu," ucap Nathan sambil membawa Aleea ke dalam dekapannya.


"Aku peduli padamu karena aku tidak ingin seseorang dari masa lalumu menghancurkan rencanaku Aleea," ucap Nathan dalam hati.


**


Di tempat lain, Evan sudah sampai di tempat penyewaan mobil dimana mobil yang digunakan untuk mengikuti Aleea disewakan.


"Sebenarnya ada apa dengan mobil itu? kenapa hari ini ada banyak orang yang mencari mobil itu?" tanya si pemilik persewaan mobil saat Evan menanyakan tentang mobil yang mengikuti Aleea.


"Sepertinya sangat sulit untuk menjawab siapa yang menyewa mobil itu, apa karena seseorang itu sudah memberikan cukup banyak uang padamu?" balas Evan.


"Dia menyewa mobilku, tentu saja dia memberiku cukup banyak uang dan aku tidak bisa memberitahumu tentang siapa penyewa mobil itu karena memang itu adalah salah satu kewajibanku untuk tetap merahasiakan identitasnya," ucap si pemilik persewaan. mobil.


"Oke baiklah, tapi mungkin ini akan merubah keputusanmu!" ucap Evan sambil melemparkan sebuah map di atas meja di hadapannya.


"Apa ini?" tanya si pemilik persewaan mobil itu sambil membuka map yang ada di hadapannya.


"Apa-apaan ini? ini pasti palsu, apa kau sedang mengancamku dengan berkas palsu ini?" tanya si pemilik persewaan mobil dengan meninggikan suaranya.


"Kenapa kau tiba-tiba terlihat emosi? apa kau takut jika aku membocorkan rahasiamu?" balas Evan bertanya dengan tersenyum tipis.


"Tidak, aku sama sekali tidak takut, ini palsu dan aku yakin tidak akan ada yang mempercayainya!" ucap si pemilik persewaan mobil.


"Baiklah, mari kita buktikan saja apa yang tertulis pada berkas itu palsu atau tidak, satu-satunya cara untuk membuktikannya adalah menunjukkannya pada DJP, Direktorat Jenderal Pajak!" ucap Evan dengan menekankan kalimat terakhirnya.


Seketika raut wajah pemilik persewaan itu tampak panik, namun ia hanya diam tanpa mengatakan apapun.

__ADS_1


Evan kemudian membawa berkas itu pergi, namun baru beberapa langkah pemilik persewaan mobil itu segera menahan Evan.


"Baiklah aku akan mengatakannya," ucapnya yang membuat Evan tersenyum tipis.


"Tapi aku mohon jangan ikut campur dalam bisnis persewaan mobilku, aku akan memberitahu apapun yang kau inginkan asalkan kau berjanji untuk tidak membahas masalah pajak itu lagi!" ucap si pemilik persewaan mobil.


"Baiklah, sekarang katakan padaku siapa yang menyewa mobil itu!" ucap Evan.


"Tunggu sebentar, aku akan memeriksanya dan memberikan seluruh datanya padamu," balas pemilik persewaan mobil lalu segera memeriksa komputernya dan memperlihatkan pada Evan data-data si penyewa mobil itu.


"Oke, terima kasih atas kerja samanya," ucap Evan lalu meninggalkan tempat itu.


Evan kemudian meminta seseorang untuk mencari tahu semua hal tentang dua orang yang menyewa mobil itu.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam saat orang suruhan Evan memberi tahunya tentang dua orang yang mengikuti Aleea sejak pagi.


Dari orang suruhannya, Evan mendapat informasi jika dua orang itu adalah orang-orang suruhan yang bekerja di bawah Hanna Kalandra, mama Nathan.


Evan yang mengetahui hal itupun begitu terkejut dan segera menghubungi Nathan untuk memberi tahu Nathan tentang hal itu.


"Mama? untuk apa mama meminta seseorang untuk mengikuti Aleea?" tanya Nathan terkejut setelah ia mendengar penjelasan Evan.


"Apa mungkin ini ada hubungannya denganku?" balas Evan bertanya.


"Apa maksudmu?" tanya Nathan tak mengerti.


"Seperti yang kau tau, beberapa hari ini Tante Hanna melihatku bersama Aleea, Tante Hanna juga berpikir jika aku dekat dengan Aleea, mungkin Tante Hanna curiga jika Aleea berhubungan denganku di belakangmu," jelas Evan.


"Jadi Mama meminta seseorang mengikuti Aleea untuk memastikan kecurigaannya?"


"Iya, itu yang aku pikirkan saat ini," balas Evan.


"Astaga.... Mama sangat berlebihan, apa mungkin mama juga meminta seseorang untuk mengikutimu?"


"Sepertinya tidak, aku tidak merasa ada yang mengikutiku," jawab Evan.


"Baguslah kalau begitu, setidaknya aku lega karena ternyata seseorang yang mengikuti Aleea bukan seseorang yang mengenalnya," ucap Nathan.


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang Nathan? sepertinya Tante Hanna berpikiran terlalu jauh tentang aku dan Aleea!"


"Aku akan membicarakannya dengan mama, aku akan berusaha membuat mama mengerti dan berhenti mencurigai kalian berdua," jawab Nathan.


"Baiklah kalau begitu, pastikan semuanya baik-baik saja, aku tidak ingin hubunganku dengan keluargamu menjadi canggung karena hal ini," ucap Evan.


"Aku mengerti," balas Nathan.


Panggilan berakhir, Nathan akhirnya bisa memejamkan matanya dengan tenang karena ternyata apa yang ia takutkan tidak terjadi.


**


Hari telah berganti, pagi itu Nathan sengaja mengajak Aleea untuk ke rumah orang tuanya. Saat Aleea sedang bersama Rania, Nathan menggunakan waktunya untuk mengobrol berdua dengan sang mama.


"Nathan sudah mengetahui apa yang mama lakukan diam-diam dan Nathan sangat kecewa dengan apa yang mama lakukan itu!" ucap Nathan pada Hanna.


"Apa maksudmu Nathan? mama tidak mengerti!" balas Hanna yang berpura-pura tidak mengerti maksud Nathan.


"Nathan sudah tahu jika mama menyuruh orang untuk mengikuti Aleea, kenapa ma? apa karena mama mencurigai hubungan Aleea dan Evan?"


Hanna terdiam untuk beberapa saat. Ia tidak menyangka jika apa yang ia lakukan sudah diketahui oleh Nathan meskipun Nathan tidak mengetahui tujuan Hanna yang sebenarnya.


"Kenapa ma? kenapa mama melakukan hal itu? Nathan mempercayai Aleea sepenuhnya ma, dia tidak mungkin berhubungan dengan Evan dan Evan juga tidak mungkin memiliki hubungan dengan istri sahabatnya!"


"Mama hanya ingin memastikan apa yang tidak mama ketahui Nathan, mama....."


"Apa yang mama lakukan sudah keterlaluan ma, Aleea pasti sangat sedih jika dia tau apa yang sudah mama lakukan padanya!" ucap Nathan memotong ucapan sang mama.


"Nathan menikahi Aleea karena Nathan percaya jika Aleea adalah perempuan yang terbaik untuk Nathan ma, jika mama tidak mempercayai Aleea, apa mama juga tidak mempercayai Nathan?" lanjut Nathan.


"Maafkan mama Nathan," ucap Hanna yang sudah kehilangan kata-katanya.

__ADS_1


Melihat Nathan yang tampak emosi, membuat Hanna urung memberi tahu Nathan tentang tujuan sebenarnya meminta seseorang untuk mengikuti Aleea.


__ADS_2