
Langit sudah tampak gelap saat Aleea baru saja sampai di rumah. Aleea berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Nathan yang duduk di teras rumah sejak tadi.
"Aleea tunggu!" ucap Nathan yang segera beranjak dari duduknya saat Aleea melewatinya begitu saja, bahkan tanpa menoleh sedetikpun.
Aleea yang sebenarnya mendengar panggilan Nathan hanya diam dan melanjutkan langkahnya karena memang sengaja mengabaikan Nathan.
Nathanpun berlari kecil lalu meraih tangan Aleea dengan kasar agar Aleea menghentikan langkahnya.
Aleea yang terkejut segera menarik tangannya dari Nathan dan kembali melanjutkan langkahnya, namun Nathan segera meraih tangan Aleea kembali dan kali ini mencengkeramnya dengan kuat agar Aleea benar-benar menghentikan langkahnya.
"Lepaskan aku Nathan!" ucap Aleea dengan berusaha menarik tangannya dari cengkeraman Nathan.
"Kita harus bicara Aleea!" ucap Nathan yang masih mencengkeram tangan Aleea dengan kuat.
"Tidak ada yang harus kita bicarakan selain untuk membicarakan perceraian kita," balas Aleea.
"Tidak akan ada perceraian dalam pernikahan ini Aleea, jadi jangan pernah berharap untuk bisa lepas dariku!" ucap Nathan.
Aleea hanya diam dengan terus berusaha meronta dari cengkeraman Nathan yang semakin kuat.
"Dengarkan aku Aleea, kita harus bicara!" ucap Nathan dengan meninggikan suaranya tepat di hadapan Aleea.
"Apa kau tidak bisa berkomunikasi dengan baik? apa harus dengan cara seperti ini kita berbicara?" tanya Aleea dengan menatap tajam kedua mata Nathan.
Nathan kemudian berjalan ke arah ruang tengah dengan menarik paksa Aleea lalu menjatuhkan Aleea di sofa ruang tengah dengan kasar.
"Dengarkan aku baik-baik jika kau tidak ingin aku melakukan hal yang buruk padamu!" ucap Nathan yang berdiri di depan Aleea.
"Lusa adalah hari ulang tahun pernikahan mama dan papa, kita harus datang dan berusaha untuk tidak menunjukkan masalah diantara kita berdua!" ucap Nathan pada Aleea.
"Kenapa aku harus melakukannya?" tanya Aleea dengan berusaha menahan emosi dalam dirinya.
"Karena masalah akan semakin runyam jika mama dan papa tahu apa yang terjadi pada pernikahan kita," jawab Nathan.
"Itu masalahmu, bukan masalahku," ucap Aleea.
"Apa kau ingat Aleea, ada seseorang yang sengaja mengikutimu sepanjang hari bahkan sampai kau kembali ke rumah, apa kau tau siapa dia? dan siapa yang menyuruhnya?" tanya Nathan yang membuat Aleea segera mendongakkan kepalanya menatap Nathan, seolah meminta jawaban.
"Mereka adalah orang-orang suruhan mama," lanjut Nathan yang membuat Aleea begitu terkejut.
"Tidak mungkin, kenapa mama melakukan hal itu?" tanya Aleea tak percaya.
"Karena mama mencurigai hubunganmu dengan Evan, mama beberapa kali melihatmu berdua dengan Evan dan hal itu membuat mama curiga, itu kenapa mama meminta seseorang mengikutimu untuk memastikan apa saja yang kau lakukan bersama Evan di belakangku!" jelas Nathan.
"Bukankah kau sendiri yang selalu meminta Evan untuk menggantikanmu? kenapa kau tidak mengatakannya sendiri pada mama?" tanya Aleea.
"Aku sudah mengatakannya, tetapi mama tidak mempercayaiku, terlebih setelah mama melihat kau dan Evan bergandengan tangan saat di kantor," jawab Nathan.
"Bergandengan tangan? kapan aku dan Evan....."
"Itu tidak penting Aleea, aku sudah berusaha menjelaskan pada mama tentang apa yang terjadi, aku juga sudah berusaha membuat mama percaya jika tidak ada hubungan apapun antara kau dan Evan," ucap Nathan memotong ucapan Aleea.
"Mama memang berkata jika mama mempercayaiku, tapi aku tidak tahu bagaimana jadinya jika mama mengetahui hubungan kita yang sekarang, bukankah mama akan mencurigai Evan? bisa jadi mama akan berpikir jika masalah diantara kita berdua adalah karena Evan yang diam-diam berhubungan dengan istri sahabatnya!" lanjut Nathan.
"Apa maksudmu Nathan? jangan mencoba untuk membodohiku dengan semua ucapanmu!"
"Jika kau tidak percaya kau bisa bertanya pada Evan, dia sendiri yang mencari tahu tentang seseorang yang mengawasimu sepanjang hari dan dia sendiri yang lebih dulu tahu jika dalang dibalik semua itu adalah mama," ucap Nathan.
Aleea terdiam untuk beberapa saat, ucapan Nathan membuatnya berpikir, tetapi ia tidak ingin mempercayai ucapan Nathan begitu saja.
"Kau harus tau Aleea, Evan sudah seperti saudara bagiku, mama dan papa juga sudah menganggap Evan seperti bagian dari keluarga Kalandra, hubungan kita sangat dekat bahkan lebih dekat dibandingkan hubungan pernikahan kita," ucap Nathan.
"Tidak bisakah kau bayangkan apa yang akan terjadi nanti jika mama dan papa benar-benar berpikir jika Evan adalah penyebab masalah dalam pernikahan kita? bukankah itu akan membuat hubungan Evan dan keluargaku akan rusak karenamu?" lanjut Nathan.
"Aku hanya perlu mengatakan yang sebenarnya, Evan juga pasti akan berusaha mengatakan yang sebenarnya!" balas Aleea.
"Apa kau yakin mama dan papa akan mempercayaimu? mama bahkan sudah meragukanmu sejak melihatmu bergandengan tangan dengan Evan dan apa menurutmu mama dan papa akan lebih mempercayai Evan dibanding aku?" tanya Nathan.
Aleea menghela napasnya kasar lalu beranjak dari duduknya.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan Nathan? jika kau sudah tidak mencintaiku lagi ceraikan saja aku dan kita tidak perlu bersandiwara di depan semua orang!"
__ADS_1
"Sudah ku katakan Aleea, aku tidak akan menceraikanmu dan sekarang yang aku inginkan adalah kau berpura-pura di depan mama, papa dan semua orang jika hubungan kita baik-baik saja!" balas Nathan.
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Nathan, kau benar-benar sangat egois!" ucap Aleea dengan menatap Nathan penuh kebencian.
Nathan hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun, sedangkan Aleea segera membawa langkahnya pergi dengan sengaja menabrakkan bahunya pada Nathan.
"Pikirkan baik-baik Aleea, aku yakin kau tidak akan membuat Evan kehilangan satu-satunya keluarga baginya!" ucap Nathan setengah berteriak.
Aleea hanya diam meskipun ia mendengar apa yang Nathan katakan. Aleea berjalan masuk ke kamarnya dengan gemuruh emosi dalam dadanya yang siap meledak.
Ia benar-benar tidak menyangka jika ia akan bertemu dengan laki-laki yang sangat egois seperti Nathan.
Aleea kemudian menjatuhkan tasnya di lantai kamarnya lalu membaringkan badannya di ranjang. Isi kepalanya masih dipenuhi oleh semua ucapan Nathan yang baru saja ia dengar.
Aleea mengerti jika mama Nathan memang pernah salah paham pada hubungannya dengan Evan, tetapi Aleea tidak menyangka jika mama Nathan akan melakukan hal yang sejauh itu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Evan sudah tidak mempunyai keluarga lagi selain keluarga Nathan yang sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga Kalandra!"
Aleea menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Ia tidak mungkin menempatkan Evan dalam posisi yang sulit setelah Evan banyak membantunya selama ini.
Namun di sisi lain, Aleea juga tidak mengerti kenapa Nathan tidak segera menceraikannya jika memang Nathan sudah tidak mencintainya.
**
Malam semakin larut, Aleea duduk di tepi ranjangnya sambil mencari nama Evan di penyimpanan kontaknya.
Aleea kemudian menghubungi Evan.
"Halo Evan, apa aku mengganggu?" tanya Aleea saat Evan sudah menerima panggilannya.
"Tidak Aleea, ada apa?" balas Aleea.
"Apa besok pagi kau sibuk, Evan?" tanya Aleea.
"Besok... mmmmm.... tidak, ada apa? apa kau mau bertemu denganku?" balas Evan.
"Aku ingin membeli perhiasan dan jam tangan untuk laki-laki, aku membutuhkanmu untuk memberikan sudut pandangmu sebagai laki-laki agar aku tidak salah memilih, apa kau bisa?"
"Apa kau akan membelinya untuk Nathan?" balas Evan bertanya.
"Aaahh begitu, apa tidak sebaiknya kau mencari hadiah bersama Nathan, Aleea?"
"Kau seperti tidak mengenalnya Evan, bahkan sejak dulu dia selalu memintamu untuk mengantarku kemanapun aku ingin pergi," balas Aleea.
"Tapi mungkin kali ini dia akan mengantarmu Aleea, bukankah kau pergi untuk mencari hadiah mama dan papanya?"
"Baiklah jika kau tidak bisa mengantarku, lebih baik aku pergi sendiri daripada harus pergi bersama Nathan, aku juga yakin jika dia tidak akan mau mengantarku!" balas Aleea.
"Apa kau marah padaku?" tanya Evan.
"Tidak, aku mengerti jika kau tidak bisa membantuku kali ini, lagi pula kau sudah banyak membantuku selama ini," jawab Aleea.
"Aku akan mencoba menghubungi Nathan, akan membicarakan hal ini dengannya, jika memang dia tidak bisa mengantarmu, maka aku yang akan mengantarmu," ucap Evan.
"Oke baiklah," balas Aleea.
Panggilanpun berakhir.
Di sisi lain, Nathan baru saja keluar dari kamarnya lalu mengendarai mobilnya meninggalkan rumah.
Malam itu ia akan bertemu dengan Evan untuk menghadiri opening restoran baru milik salah satu teman mereka.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nathanpun sampai di depan apartemen Evan dan segera menghubungi Evan agar Evan segera keluar.
Tak lama menunggu, Evanpun datang. Nathan segera mengendarai mobilnya pergi ke arah restoran teman barunya.
"Kau sudah memiliki istri tapi selalu pergi bersamaku, teman-teman kita pasti akan menanyakan hal itu untuk berbasa-basi denganmu," ucap Evan.
"Aku tidak peduli," balas Nathan dengan tersenyum tipis.
Merekapun sampai di tujuan, mereka disambut oleh teman mereka yang merupakan pemilik restoran itu.
__ADS_1
Mereka kemudian diajak duduk bersama teman-teman mereka yang lain dan benar saja, beberapa dari mereka menanyakan keberadaan Aleea yang notabene adalah istri Nathan.
Mereka bertanya-tanya karena Nathan selalu bersama Evan, bahkan setelah Nathan memiliki istri.
Namun Nathan hanya membalas semua pertanyaan itu dengan gurauan yang membuat suasana disana menyenangkan tanpa ada lagi yang membahas masalah pribadi Nathan.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam saat Nathan dan Evan meninggalkan restoran itu. Nathan kembali mengendarai mobilnya ke arah apartemen Evan untuk mengantar Evan pulang.
"Aleea menghubungiku sebelum kita pergi," ucap Evan.
Nathan hanya diam tanpa mengatakan apapun, karena ia sama sekali tidak peduli dengan hal itu.
"Dia memintaku untuk menemaninya membeli hadiah untuk orang tuamu, tetapi aku menolaknya karena mungkin dia bisa pergi denganmu," lanjut Evan.
"Tidak, aku tidak akan pergi dengannya," ucap Nathan.
"Kenapa? bukankah kalian akan pergi bersama ke acara ulang tahun pernikahan orang tuamu?" tanya Evan.
"Aku memang memaksanya untuk pergi ke acara itu denganku dan berpura-pura tidak ada masalah diantara kita berdua, tetapi aku tidak akan mengantarnya kemanapun," jawab Nathan.
"Tapi dia ingin membeli hadiah untuk orang tuamu Nathan, bukankah seharusnya kau....."
"Tidak Evan, aku tidak mau berurusan dengannya selain untuk hal-hal penting, terutama di depan orang tuaku, selain itu aku sama sekali tidak peduli padanya," ucap Nathan memotong ucapan Evan.
"Baiklah kalau begitu, jadi apa kau mengizinkanku menemaninya besok?" tanya Evan.
"Semua keputusan ada padamu Evan, jika kau merasa dia sangat merepotkan, kau bisa menolaknya," jawab Nathan.
"Tapi aku tidak pernah merasa dia merepotkanku," ucap Evan.
"Kalau begitu pergi saja dengannya, aku tidak peduli dengan apa yang kalian berdua lakukan dan kau tidak perlu meminta izin padaku atau memberi tahuku jika kau ingin bertemu dengannya atau melakukan hal lain dengannya, karena aku sama sekali tidak peduli," ucap Nathan.
"Tapi Nathan....."
"Sudahlah Evan, aku sangat muak mendengar ceritamu tentangnya, terserah apa yang kalian berdua lakukan, aku sama sekali tidak peduli, jadi berhenti menyebut nama Aleea di depanku, okay?"
"Oke baiklah," balas Evan dengan menganggukkan kepalanya pelan.
**
Hari telah berganti. Pagi itu Evan mengendarai mobilnya ke arah rumah Nathan untuk menjemput Aleea setelah sebelumnya Evan memberi tahu Aleea jika ia akan mengantar Aleea pagi itu.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evanpun sampai di rumah Nathan. Evan membawa langkahnya masuk dan mendapati Nathan yang baru saja menuruni tangga.
"Aku tidak akan melakukan hal ini jika kau mau menemaninya Nathan," ucap Evan pada Nathan.
"Aku tidak peduli Evan, berapa kali aku harus mengatakannya padamu," balas Nathan
"Tapi kau sahabatku Nathan, bagaimana jika ada orang lain atau mungkin keluargamu yang melihatku bersama Aleea?" tanya Evan.
"Katakan saja jika aku yang menyuruhmu, masalah selesai," jawab Nathan dengan tersenyum tipis.
Evan hanya menghela napasnya melihat sikap Nathan. Tak lama kemudian terlihat Aleea yang menuruni tangga dengan membawa tas selempangnya.
"Ayo Evan!" ucap Aleea sambil membawa langkahnya keluar tanpa menoleh sedikitpun pada Nathan saat ia melewati Nathan.
"Aku pergi dulu!" ucap Evan sambil menepuk bahu Nathan.
Nathan hanya diam tanpa mengatakan apapun, namun ekor matanya mengikuti langkah Evan yang keluar dari rumahnya bersama Aleea.
Entah kenapa Nathan tiba-tiba mendengus kesal lalu membawa langkahnya kembali menaiki tangga untuk masuk ke ruang kerjanya.
Di sisi lain, Evan sudah mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Nathan bersama Aleea yang duduk di sebelahnya.
"Sikapmu sangat dingin pada Nathan, Aleea," ucap Evan pada Aleea.
"Jika dia bisa seperti itu padaku, kenapa aku tidak?" balas Aleea.
"Apa kau sedang balas dendam padanya?" tanya Evan.
"Tidak, aku hanya melakukan apa yang menurutku benar, bukan hal yang mudah untuk menyembuhkan kesedihanku Evan, bahkan aku masih sering menangisi takdir hidupku setiap malam, tapi aku tidak akan menunjukkan kelemahanku di hadapan Nathan atau dia akan melakukan hal yang semena-mena padaku," balas Aleea.
__ADS_1
"Apa kau membencinya Aleea?" tanya Evan.
"Iya, terkadang aku sangat membencinya, tapi terkadang aku masih bertanya-tanya kenapa kita harus saling membenci jika kita pernah saling mencintai dan tanpa sadar aku masih berharap jika semua hal buruk ini hanyalah mimpi burukku saja," jawab Aleea dengan menghela napasnya panjang.