Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Me Time


__ADS_3

Vina yang kesal karena tidak bisa bertemu dengan Nathan akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel.


Ia berusaha untuk memikirkan cara yang bisa ia lakukan agar ia bisa bertemu dengan Nathan, setidaknya waktu dan uang yang ia habiskan tidak sia-sia meskipun ia tidak benar-benar bisa menghabiskan waktu bersama Nathan.


"Apa aku harus bertanya pada Evan? Tapi tidak mungkin dia mengatakan padaku dimana Nathan sekarang, jika aku membuka blokir kontaknya justru dia akan menerorku karena aku pergi begitu saja tanpa persetujuannya!"


Vina menghela napasnya panjang, mengacak-acak rambutnya kesal karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang ia rencanakan.


"Oohh Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Batin Vina dengan membawa pandangannya menatap langit-langit kamarnya.


Tiba-tiba Vina beranjak dari ranjangnya karena ia mulai terpikirkan sesuatu.


"Aleea, aku harus menghubunginya dan memberi tahunya jika aku disini, entah dia akan menerima panggilanku atau tidak, tapi aku akan mencobanya!" ucap Vina lalu meraih ponselnya dan segera mencari nama Aleea.


Setelah menunggu beberapa lama, panggilannya pun terjawab.


"Aleea......" panggil Vina untuk memastikan jika Aleea yang benar-benar menerima panggilannya.


"Tidak perlu berbasa-basi, ada apa kau menghubungiku?" tanya Aleea.


"Aku hanya ingin memberi tahumu jika aku berada di Paris sekarang," jawab Vina yang tentu saja membuat Aleea begitu terkejut.


"Di Paris?" tanya Aleea mengulang ucapan Vina.


Nathan yang saat itu mendengar hal itu segera membawa pandangannya pada Aleea.


"Apa kau kesini untuk mencari Nathan?" lanjut Aleea bertanya yang membuat Nathan semakin yakin jika seseorang yang sedang berbicara dengan Aleea melalui ponselnya saat itu adalah Vina.


"Tidak, aku sudah bertemu dengannya, bahkan dia sudah menyiapkan hotel untuk aku tinggal disini," jawab Vina.


"Baguslah kalau begitu, itu artinya kau tidak perlu menguras tabunganmu untuk bisa sampai disini," ucap Aleea.


"Jangan terlalu sombong Aleea, apa yang kau miliki saat ini adalah milik Nathan, kau bukan siapa-siapa jika Nathan tidak menikahimu!" ucap Vina kesal.


"Apa salahnya menyombongkan apa yang aku miliki? apa kau merasa iri?" tanya Aleea.


"Kau......"


"Katakan saja kenapa kau menghubungiku, tidak perlu bertele-tele!" ucap Aleea memotong ucapan Vina.


"Aku hanya ingin tau dimana Nathan sekarang karena ada beberapa masalah kantor yang harus aku diskusikan dengannya," balas Vina beralasan.


"Dia di rumah sakit, datanglah jika ingin bertemu dengannya!" ucap Aleea lalu mengakhiri panggilan Vina.


Aleea kemudian mengirim pesan pada Vina, memberi tahu Vina nama rumah sakit tempat Nathan dirawat.


"Siapa yang menghubungimu, Aleea? siapa yang kau suruh datang kesini?" tanya Nathan setelah Aleea mengakhiri panggilan Vina.


"Wanitamu," jawab Aleea singkat lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Nathan.


"Mama sudah menyiapkan liburan ini dan kita sudah bersepakat untuk menerimanya meskipun harus terus bersandiwara, tetapi kau malah meminta perempuan itu datang kesini!" ucap Aleea dengan raut wajah kesal.


"Aku tidak pernah memintanya datang kesini, dia sendiri yang....."


"Kau pasti memberi tahunya jika kita berlibur kesini bukan?" tanya Aleea.


Nathan hanya terdiam, ia merasa bodoh dan menyesal karena sudah memberi tahu Vina tentang hal itu.


"Aku sudah mendapat jawabannya, sekarang nikmati waktumu bersamanya, aku juga akan menikmati waktuku sendiri disini," ucap Aleea lalu berjalan pergi, namun Nathan segera menahan tangan Aleea.


"Bagaimana dengan orang suruhan mama?" tanya Nathan.


"Itu masalahmu, aku tidak peduli bahkan jika mama berpikir aku bukan istri yang baik untukmu," jawab Aleea sambil menarik tangannya dengan kasar lalu berjalan pergi meninggalkan Nathan.


Nathanpun hanya bisa menghela napasnya panjang, membiarkan Aleea pergi dari ruangannya.


"Bagaimana dengan orang suruhan mama? dia hanya memikirkan hal itu, bukan mengkhawatirkanku yang keluar sendiri dan membiarkannya berdua dengan Vina!" batin Aleea kesal sambil membawa langkahnya meninggalkan rumah sakit.


Aleea memilih untuk pergi karena ia tidak ingin bertemu dengan Vina yang hanya membuatnya emosi.


"Lebih baik aku bersenang-senang sendiri disini!" ucap Aleea dengan menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan.


Aleea kemudian memesan taksi yang akan membawanya pergi kemanapun ia mau.


Sedangkan di tempat lain, Vina segera bersiap-siap untuk bertemu dengan Nathan setelah Aleea memberi tahunya dimana Nathan berada saat itu.


"Kenapa Nathan ada di rumah sakit? ada perlu apa dia disana? dia tidak sakit bukan?" tanya Vina pada dirinya sendiri sambil mengenakan pakaian luarnya yang sedikit tebal.


"Aaahh entahlah, yang penting aku bisa bertemu dengannya hari ini!" ucap Vina lalu keluar dari kamarnya dan meninggalkan hotel.


Bersama taksi yang dipesannya, Vina pergi ke rumah sakit dengan penuh senyum, berharap ia bisa bertemu dan bersenang-senang bersama Nathan.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Vinapun sampai di rumah sakit tujuannya. Vina kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Nathan, namun lagi-lagi panggilannya tidak terjawab.


Vina kemudian masuk ke dalam rumah sakit, mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya untuk mencari keberadaan Nathan.

__ADS_1


"Apa dia pasien disini?" batin Vina bertanya dalam hati.


Pada akhirnya Vina menanyakan tentang pasien bernama Nathan dan ia begitu terkejut setelah ia mengetahui jika ternyata Nathan memang pasien disana.


Vinapun segera membawa langkahnya ke arah ruangan Nathan, berharap jika Nathan akan baik-baik saja.


"Ini ruangannya!" ucap Vina saat ia sudah berdiri di depan ruangan Nathan.


Vina kemudian membuka pintu ruangan itu dan mendapati Nathan yang sedang duduk di atas ranjang sambil membaca majalah.


"Nathan, apa yang terjadi padamu?" tanya Vina yang segera berlari kecil menghampiri Nathan.


"Kenapa kau ada disini?" balas Nathan bertanya tanpa menjawab pertanyaan Vina.


"Aleea yang memberi tahuku jika kau ada disini, dimana dia sekarang?" jawab Vina sambil mengendarakan pandangannya mencari keberadaan Aleea.


"Dia tidak ada disini, dia...."


"Tega sekali istrimu itu, bisa-bisanya dia membiarkanmu disini sendirian!" ucap Vina memotong ucapan Nathan.


"Dia pergi karena dia tau kau akan kesini, Vina!" ucap Nathan kesal.


"Kenapa dia harus pergi? dia sendiri yang memberi tahuku jika kau ada disini!"


"Berhentilah menggangguku Vina, pergilah dan nikmati liburanmu disini, kau harus pulang besok pagi!" ucap Nathan.


"Aku akan menemanimu disini, aku akan tunjukkan padamu jika aku jauh lebih baik dibanding Aleea, aku akan menjagamu disini," balas Vina.


"Tidak Vina, kau harus pergi!" ucap Nathan.


"Tidak Nathan, aku tidak akan pergi sebelum kau meninggalkan rumah sakit," balas Vina.


"Tunggu sebentar, apa kau berada disini karena kau meminum minuman bersoda?" lanjut Vina bertanya saat ia melihat bercak kemerahan di wajah dan tangan Nathan.


"Aku tidak sengaja meminumnya," jawab Nathan.


"Astaga, kenapa kau ceroboh sekali? Aleea juga sangat ceroboh karena....."


"Ini tidak ada hubungannya dengan Aleea, ini murni karena kesalahanku sendiri Vina, jadi berhentilah menyalahkan Aleea di depanku!" ucap Nathan memotong ucapan Vina.


"Oke baiklah, tidak perlu membahasnya lagi!" balas Vina.


"Apa kau akan tetap disini, Vina?" tanya Nathan.


"Tentu saja, aku tidak akan meninggalkanmu sendirian disini," jawab Vina tanpa ragu.


"Apa kau akan tidur?" tanya Vina.


"Aku harus beristirahat!" jawab Nathan.


"Baiklah, aku akan tetap disini menunggu dan menjagamu, kau bisa memberi tahuku jika kau membutuhkan sesuatu!" ucap Vina.


"Aku hanya butuh kau diam!" balas Nathan.


"Oke," ucap Vina dengan suara yang sangat pelan.


**


Di tempat lain, Aleea sedang duduk di taman, menikmati kesendiriannya bersama guguran daun-daun yang sesekali mengenai dirinya.


"Ini tidak terlalu buruk, aku sama sekali tidak merasa kesepian disini," ucap Aleea dalam hati dengan tersenyum menikmati waktunya sendiri.


Aleea kemudian beranjak dari duduknya, berjalan-jalan sendiri mengelilingi taman.


Setelah puas berjalan-jalan di taman, Aleea kemudian pergi ke salah satu pusat perbelanjaan disana.


Aleea membeli beberapa barang yang akan ia bawa pulang untuk ia berikan pada Tika dan Evan.


Aleea juga pergi ke sebuah tempat yang menjual berbagai macam produk coklat, seperti ice cream, permen, cookies, kue dan banyak lagi makanan manis lainnya.


Aleea benar-benar menikmati waktunya sendiri, bersenang-senang dan melakukan apapun yang ia inginkan tanpa ada siapapun yang mengekangnya.


"Waaahhh rasanya sangat unik, manis dan sedikit rasa pahit," ucap Aleea saat ia baru saja mencoba salah satu produk coklat yang ia beli.


"Apa yang harus aku beli untuk Tika dan Evan?" tanya Aleea pada dirinya sendiri sambil mengamati berbagai macam pernak pernik di hadapannya.


Mata Aleea kemudian tertuju pada gantungan kunci berbentuk tabung kecil yang di dalamnya terdapat bunga matahari kecil.


Seketika Aleea mengingat Evan dan memutuskan untuk membelinya, sedangakn untuk Tika, Aleea membeli sebuah kalung titanium berwarna putih.


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Aleea kemudian pergi ke food corner untuk mengisi perutnya yang sudah terasa lapar.


Aleea memilih satu set makan siang dengan tambahan beberapa desert yang menarik perhatiannya.


Setelah menghabiskan semua makanannya, Aleeapun meninggalkan pusat perbelanjaan itu.

__ADS_1


"Waaahhh..... sepertinya aku sudah menghabiskan banyak waktu di dalam sana, aku bahkan tidak sadar jika matahari sudah terbenam," ucap Aleea yang menyadari jika hari mulai gelap.


Aleea kemudian berjalan di trotoar jalan raya sambil bersenandung ringan. Saat berada di persimpangan jalan, pandangan Aleea tertuju pada deretan street food yang berjajar dengan beberapa pengunjung yang hampir memadati tempat itu.


Aleea kemudian membawa langkahnya mendekat, Aleea memperhatikan satu per satu makanan yang dijual disana sampai akhirnya ia bertemu makanan yang menarik perhatiannya.


"Sandwich ice cream, sepertinya menarik," ucap Aleea lalu mulai mengantri untuk membeli.


Setelah mendapatkan makanan yang ia inginkan, Aleeapun segera mencobanya.


"Sudah ku duga, ice cream tidak pernah gagal membuatku jatuh cinta," ucap Aleea dengan menganggukkan kepalanya pelan.


Untuk beberapa lama Aleea menghabiskan banyak waktunya disana, mencoba apapun yang menarik perhatiannya.


Meksipun ia baru saja makan, tetapi perutnya menolak untuk kenyang, ditambah matanya yang selalu tertuju pada makanan-makanan yang ada disana.


**


Di rumah sakit, Vina mendengus kesal karena Nathan yang hanya tidur selama ia menemani Nathan disana.


Waktu berlalu dan Vina sudah sangat bosan duduk di samping ranjang Nathan tanpa melakukan apapun.


"Astaga, kapan Nathan akan bangun?" gerutu Vina kesal.


"Apa kau bosan?" tanya Nathan dengan kedua matanya yang masih terpejam.


"Nathan, kau sudah bangun?" tanya Vina yang terkejut mendengar pertanyaan Nathan.


"Pergilah jika kau bosan, aku tidak pernah memintamu untuk datang kesini," ucap Nathan.


"Tidak Nathan, aku akan tetap disini, jangan khawatir!" balas Vina dengan tersenyum meskipun sebenarnya ia benar-benar merasa bosan saat itu.


"Kalau begitu aku akan tidur lagi," ucap Nathan.


"Mmmm.... sepertinya..... aku juga sedikit lelah, Nathan," ucap Vina.


"Lalu?"


"Aku akan kembali ke hotel dan kesini lagi besok pagi, apa kau tidak keberatan?"


"Tentu saja tidak, kau memang harus pergi dari sini dan besok kau harus pulang, bulan kesini!" balas Nathan.


"Aku masih memiliki waktu dua hari disini, kapan kau akan keluar dari rumah sakit? sepertinya kau sudah cukup sehat!"


"Dokter masih memintaku untuk berada disini sampai beberapa hari ke depan, jadi kau tidak perlu datang kesini lagi karena kau pasti akan sangat bosan menemani orang sakit sepertiku!" ucap Nathan.


"Jangan berbicara seperti itu, aku pasti akan kembali besok pagi, sekarang aku harus pulang dulu!" ucap Vina lalu beranjak dari duduknya.


"Cepat sembuh Nathan!" lanjut Vina kemudian keluar dari ruangan Nathan.


Sepeninggalan Vina, Nathanpun bisa bernapas lega karena sebenarnya keberadaan Vina disana sangat mengganggunya.


**


Malam semakin larut, Aleea masih bersenang-senang, menikmati waktunya sendiri.


Tiba-tiba mata Aleea tertuju pada keramaian yang ada di sudut jalan dan ternyata ada seorang peramal jalanan yang sedang meramal beberapa orang yang ada disana.


Aleeapun membawa langkahnya mendekat dan mengantri untuk bisa meminta peramal itu meramalkan masa depannya.


Setelah beberapa lama mengantri, peramal itu mulai menanyakan nama Aleea, usianya dan beberapa hal lainnya.


Meskipun tidak mempercayai ramalan, tetapi Aleea senang berinteraksi dengan peramal yang seolah-olah bisa membaca masa depan seseorang.


Lebih dari 5 menit peramal itu menjelaskan beberapa hal pada Aleea dan Aleeapun mendengarkannya dengan baik meskipun ia tidak mempercayainya.


Aleea kemudian membawa langkahnya pergi setelah peramal itu selesai meramal Aleea.


Aleea berjalan di gang dengan lampu temaram di bagian kanan dan kirinya. Meskipun itu jalanan yang cukup lebar, tetapi tidak banyak orang yang melaluinya.


Aleea yang sudah merasa sangat kenyang, sengaja memilih melewati jalan itu agar ia cepat sampai di rumah sakit untuk memastikan apakah Vina masih berada disana atau tidak.


Namun saat baru setengah perjalanannya di gang itu, Aleea merasa seorang laki-laki berjalan mengikutinya di belakangnya.


Saat Aleea mempercepat langkahnya, seseorang itu juga ikut mempercepat langkahnya, membuat Aleea ketakutan dan semakin mempercepat langkahnya.


Sampai akhirnya seseorang itu berhasil meraih tangan Aleea.


"Aleea!"


BUUUGGGHHH


Aleea menendang bagian perut laki-laki itu dan segera menarik tangannya lalu berlari cepat meninggalkan gang sepi itu.


Aleea belum sempat melihat seperti apa wajah laki-laki itu karena Aleea terlalu takut dan terkejut yang membuatnya reflek menendang perut laki-laki itu.

__ADS_1


"Dia pasti mengikutiku sejak aku berada di tempat peramal tadi, itu kenapa dia bisa mengetahui namaku!" ucap Aleea sambil terus berlari.


__ADS_2