
Evan masih bersama Aleea di dalam kamar. Ia terdiam untuk beberapa saat sebelum ia menjawab pertanyaan Aleea.
"Aku sama sekali tidak mengingat bagaimana kita dulu bertemu dan seperti apa hubungan kita dulu, tapi kau sangat baik padaku Evan, bahkan terkadang aku merasa kau jauh lebih baik daripada Nathan," ucap Aleea membuyarkan lamunan Evan.
"Aku tidak sebaik itu Aleea dan Nathan juga tidak seburuk itu, bukankah kita semua memiliki sisi baik dan buruk dalam diri kita?" balas Evan.
"Kau benar, tapi sejauh yang aku tau aku hanya menemukan kebaikan dari dirimu Evan," ucap Aleea.
"Kau hanya belum banyak mengetahui tentangku Aleea," balas Evan dengan tersenyum.
"Katakan padaku Evan, apa saja yang harus aku tau tentangmu!" ucap Aleea.
"Kau akan tau seiring dengan berjalannya waktu Aleea, tapi yang pasti aku bisa mengenalmu karena kau adalah kekasih Nathan," balas Evan.
"Nathan yang mengenalku padamu?" tanya Aleea yang dibalas anggukan kepala oleh Evan.
"Aku sangat tau bagaimana keras kepalanya Nathan sejak dulu, itulah yang membuatnya tidak pernah memiliki kekasih selama ini, selain itu dia juga laki-laki yang hanya fokus dengan tujuannya, terutama karirnya dan kehadiranmu memberiku harapan baru Aleea," ucap Evan.
"Harapan baru? harapan apa maksudmu?" tanya Aleea tak mengerti.
"Harapan untuk membuat Nathan berubah," jawab Evan dengan membawa pandangannya pada Aleea.
"Berubah?" tanya Aleea mengulang ucapan Evan.
"Iya, dengan adanya kau di samping Nathan, aku sangat berharap kau akan bisa merubah sikap buruk Nathan, meskipun tidak mudah tapi aku yakin Nathan akan bisa berubah lebih baik selama ada kau di sampingnya," jelas Evan.
"Kau terlalu berharap Evan," balas Aleea dengan menundukkan kepalanya, mengingat bagaimana hubungannya dengan Nathan saat itu.
"Aku tau itu bukan hal yang mudah Aleea, itu kenapa aku selalu ada di antara kalian, aku hanya ingin memastikan kau akan selalu baik-baik saja dan Nathan tidak membuatmu bersedih, aku yakin Aleea sekeras apapun Nathan, dia akan luluh dengan cinta yang tumbuh dalam hatinya," ucap Evan.
"Dia bahkan dengan mudah melupakan cintanya padaku Evan, jadi sekarang sama sekali tidak ada harapan bagimu!" ucap Aleea.
"Harapan akan selalu ada Aleea, kau masih istri Nathan!" ucap Evan.
"Dan mungkin sebentar lagi dia akan menceraikanku," balas Aleea.
"Jangan berbicara seperti itu Aleea, saat ini mungkin Nathan sedang marah padamu, tapi aku yakin jika suatu saat nanti dia akan merasakan bagaimana sedihnya saat dia kehilangan perempuan yang dia cintai," ucap Evan.
"Dan perempuan itu bukanlah aku," balas Aleea dengan menatap Evan.
"Kenapa? apa kau juga sudah tidak mencintainya?" tanya Evan.
Aleea menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan lalu beranjak dari duduknya dan menggelengkan kepalanya.
"Entahlah Evan, aku bahkan ragu apakah dulu kita saling mencintai, tapi aku tidak bisa bermain-main dengan pernikahanku dan memutuskan untuk mempercayai semua ucapan Nathan, tapi pada akhirnya kepercayaan itu membuatku terluka," ucap Aleea.
Evan kemudian beranjak dari duduknya dan berdiri di depan Aleea dengan memegang kedua bahu Aleea.
"Aku yakin kalian masih saling mencintai, rasa sakit dan sedih yang kau rasakan adalah karena kau mencintainya Aleea," ucap Evan sambil menatap kedua mata Aleea.
Aleea kemudian melepaskan kedua tangan Evan dari bahunya dan kembali duduk di tepi ranjang.
"Aku merasa sedih dan terluka karena aku terlalu mempercayainya Evan dan kau benar, mungkin aku mencintainya bersama rasa percayaku padanya meskipun pada awalnya aku meragukan hubunganku dengannya" ucap Aleea.
"Untuk saat ini tetaplah disini Aleea, pikirkan semuanya baik-baik sebelum kau mengambil keputusan apapun dan kau harus ingat jika ada aku yang akan selalu siap membantu kapanpun kau membutuhkanku," ucap Evan.
Aleea hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum dan mendongakkan kepalanya menatap Evan yang berdiri di hadapannya.
"Sekarang beristirahatlah Aleea, malam ini giliranmu untuk tidur di kamar," ucap Evan yang kembali dibalas anggukan kepala oleh Aleea.
**
Di tempat lain, Nathan baru saja sampai di rumahnya. Ia berjalan masuk ke dalam rumah dan entah kenapa ia berhenti untuk beberapa saat, menatap sofa ruang tamu di rumahnya.
Tanpa Nathan sadar, ada sesuatu yang terasa hilang saat tidak ada Aleea yang biasanya selalu menyambut kepulangannya.
Nathan menghela napasnya kasar lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
"Apa dia belum kembali?" batin Nathan bertanya saat ia menatap pintu kamar Aleea untuk beberapa saat.
"Non Aleea belum pulang tuan, apa tidak sebaiknya kita lapor polisi saja!" ucap bibi yang tiba-tiba datang.
"Tidak perlu, dia pasti akan segera pulang," balas Nathan lalu berjalan masuk ke kamarnya.
Nathan menghempaskan badannya di atas ranjang lalu menatap langit-langit kamarnya. Selama ini Nathan memang terbiasa sendiri. Ia hanya akan sibuk dengan pekerjaannya dan berusaha memperluas bisnis yang ia kelola sendiri.
__ADS_1
Tidak waktu bagi Nathan untuk memikirkan perempuan, apa lagi berniat untuk memiliki hubungan serius dengan perempuan.
Ia masih tidak mengerti kenapa sang mama tiba-tiba memaksanya untuk segera menikah dan memberikan ancaman yang membuatnya tidak memiliki pilihan lain untuk mengikuti permintaan sang mama.
Pada akhirnya ia benar-benar harus menjalani hubungan dengan seorang gadis yang kehilangan ingatannya, Nathan pikir dengan hilangnya ingatan Aleea, itu akan mempermudah jalannya untuk mendapatkan perusahaan sang papa.
Nathan sama sekali tidak menyangka jika menjalani hubungan pernikahan pura-pura begitu sulit baginya.
Saat ia sudah berhasil meyakinkan Aleea, justru ia yang dengan cepat merasa muak dengan kepura-puraannya sendiri.
Nathan sadar, apa yang sudah ia lakukan pada Aleea pasti membuat Aleea terluka, namun Nathan tidak peduli karena ia sudah lelah berpura-pura.
Nathan pikir, dengan menunjukkan sikap aslinya pada Aleea akan membuat keadaan menjadi lebih baik, tapi pada kenyataannya itu tidak merubah apapun.
Masalah seperti datang silih berganti, seolah sedang gencar menguji Nathan. Kini, tak jarang Nathan memikirkan Aleea tanpa ia sadar, entah karena masalah yang sedang dia hadapi yang membuatnya stres atau karena ia mulai merindukan Aleea tanpa ia sadar.
Namun Nathan selalu menolak saat kepalanya sedang berusaha memikirkan Aleea. Nathan akan segera mengalihkan isi kepalanya untuk memikirkan hal yang lain sebelum Aleea benar-benar menguasai kepalanya.
Tapi entah kenapa, rumah yang sejak dulu selalu ia tempati seorang diri, kini terasa semakin sepi saat tidak ada Aleea.
Hatinya mulai merindukan Aleea, namun akalnya menolak dan berusaha untuk tidak mempedulikan Aleea.
Hal itu semakin membuat Nathan stres ditambah dengan segala macam masalah kantor yang sedang ia hadapi.
Nathan merasa dunia sedang ingin bermain-main dengannya.
**
Hari-hari telah berlalu. Sudah beberapa hari Aleea tinggal di apartemen Evan. Banyak hal yang Aleea dan Evan lakukan disana karena Evan belum memulai kegiatannya di kantor.
Mereka menghabiskan waktu bersama selama 24 jam setiap hari sampai beberapa hari dan hal itu membuat mereka semakin dekat satu sama lain.
Tentu saja kedekatan dan canda tawa mereka perlahan membuat Aleea melupakan masalahnya dengan Nathan.
Meskipun tidak benar-benar melupakannya, tetapi Aleea sudah lebih bisa mengendalikan suasana hatinya dan bisa berpikir dengan jernih tentang apa yang sedang terjadi dalam hidupnya dan bagaimana ia menghadapi masalah-masalahnya.
Pagi itu, Aleea baru saja keluar dari kamar dan segera membawa langkahnya ke arah dapur saat melihat Evan yang tampak sibuk di dapur.
"Selamat pagi Aleea," sapa Evan sambil meletakkan masakannya di atas piring.
Sejak mereka tinggal bersama dan setalah masalah yang terjadi antara Aleea dan Nathan, Evan sudah tidak pernah lagi memanggil Aleea dengan panggilan "Nyonya Nathan".
Bukan karena kemauan Evan, tapi karena permintaan Aleea yang merasa tidak nyaman dengan panggilan itu.
Setelah Evan menyiapkan masakannya, Aleea kemudian membantu Evan membawanya ke balkon.
Seperti biasanya, setiap pagi mereka akan menikmati sarapan mereka di balkon dan setiap hari juga mereka selalu bergantian memasak.
"Hari ini aku harus pergi ke rumah sakit Aleea, kau akan baik-baik saja bukan jika disini sendirian?" ucap Evan sekaligus bertanya.
"Apa terjadi sesuatu padamu?" balas Aleea bertanya dengan khawatir.
"Tidak, semalam Nathan memberi tahuku jika hasil CT scanku sudah keluar, dokter meminta Nathan untuk mengajakku ke rumah sakit dan melihat hasil CT scannya," jelas Evan.
"Aaahhh begitu, jangan mengkhawatirkanku, aku akan baik-baik saja disini, kau bisa pergi dan tidak perlu terburu-buru pulang," ucap Aleea.
"Aku hanya akan ke rumah sakit dan segera pulang Aleea, kau pasti akan sangat bosan jika berada disini sendirian," ucap Evan.
Aleea hanya tersenyum sambil menikmati makanannya. Aleea sudah tidak heran lagi, Evan memang selalu tau apa yang ia pikirkan dan bagaimana cara memperlakukannya dengan sangat baik.
Setelah menyelesaikan sarapannya, mereka segera membawa masuk piring dan gelas kotor mereka lalu mulai mencucinya.
"Biarkan aku sendiri yang mencucinya Evan, kau bersiap-siaplah!" ucap Aleea pada Evan.
"Tidak Aleea, aku tidak akan membiarkan tanganmu kering karena terlalu banyak bersentuhan dengan sabun cuci," balas Evan.
Aleea hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Evan.
"Aku mengajakmu kesini agar kau bisa tinggal dengan nyaman Aleea, tapi setiap hari kau selalu menyibukkan dirimu dengan membersihkan setiap sudut apartemen ini, padahal ada orang lain yang bisa melakukannya!" ucap Evan.
"Aku tidak bisa hanya menumpang disini Evan, setidanya aku harus membantu walaupun hanya sekedar membersihkannya," balas Aleea.
"Kau memang istri yang baik," ucap Evan pelan dengan menyembunyikan senyumnya.
"Apa?" tanya Aleea yang tidak begitu jelas mendengar ucapan Evan.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mengatakan apapun," balas Evan berbohong dengan menggelengkan kepalanya.
"Aku tau kau berbohong, asal kau tau Evan, hidungmu akan semakin besar jika kau berbohong!" ucap Aleea sambil menyentuh hidung Evan dengan telunjuknya.
"Dan hidungku akan kembali kecil saat kau menyentuhnya," balas Evan dengan tersenyum sambil memegang jari telunjuk Aleea.
Mereka saling tersenyum dengan kedua mata yang bertatapan untuk beberapa saat. Tiba-tiba.....
BIIIIIPPP BIIIIPP BIIIIIPPP
Ponsel Evan berdering, membuat Aleea terkejut dan segera menarik jari telunjuknya yang masih Evan pegang.
Evanpun segera mengalihkan pandangannya dengan gugup lalu mengambil ponselnya yang ada di meja ruang tamu.
"Halo, apa kau sudah sampai?" tanya Evan setelah ia menerima panggilan di ponselnya.
"Baiklah, aku akan segera turun," ucap Evan lalu menaruh kembali ponselnya di meja.
"Aleea, aku harus pergi, Nathan sudah menungguku di bawah!" ucap Evan pada Aleea sambil mengenakan kemeja di luar kaos putih yang ia kenakan tanpa menutup kancing kemejanya.
Karena terburu-buru, Evan lupa untuk membawa ponselnya yang ia letakkan di meja ruang tamu.
Beberapa saat setelah Evan pergi, Aleea baru saja membereskan dapur. Saat ia akan membersihkan meja, Aleea melihat ponsel Evan yang tergeletak di atas meja.
"Dia pasti terburu-buru sampai lupa membawa ponselnya," ucap Aleea lalu membersihkan meja ruang tamu, sofa dan setiap sudut apartemen itu.
**
Di tempat lain, Evan sedang berada dalam perjalanan ke rumah sakit bersama Nathan yang menjemputnya.
"Apa semuanya baik-baik saja Nathan? kau terlihat seperti sedang memikirkan banyak hal," tanya Evan pada Nathan.
"Everything oke, aku hanya sedang kesulitan tidur beberapa hari ini," jawab Nathan.
"Kenapa? apa karena Aleea?" tanya Evan.
"Tidak, justru hidupku semakin damai karena tidak melihatnya beberapa hari ini," jawab Nathan.
"Apa kau tidak berusaha mencarinya Nathan? apa kau tidak mengkhawatirkannya sama sekali?" tanya Evan.
"Tidak, aku bahkan tidak sempat memikirkannya," jawab Nathan.
Evan hanya menghela napasnya mendengar ucapan Nathan. Sesampainya di rumah sakit, mereka segera menemui dokter untuk melihat hasil CT scan Evan.
"Berdasarkan hasil CT scan, keadaan pasien baik-baik saja, semuanya normal dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jelas dokter.
Nathanpun bisa bernapas lega setelah ia mendengar penjelasan dokter. Kekhawatirannya tentang keadaan Evan kini sudah musnah setelah ia yakin jika Evan memang baik-baik saja.
"Bagaimana jika kita merayakannya? aku akan mentraktir....."
"Tidak Nathan, aku harus pulang," ucap Evan memotong ucapan Nathan.
"Kenapa?" tanya Nathan.
"Kita bisa merayakannya nanti, sekarang aku harus pulang," jawab Evan.
"Oke baiklah," balas Nathan lalu mengendarai mobilnya ke arah apartemen Evan untuk mengantar Evan pulang.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nathanpun mengendarai mobilnya ke arah basement apartemen Evan.
"Kau tidak perlu mengantar sampai kesini Nathan, aku....."
"Kita merayakannya di apartemenmu, aku akan memesan banyak makanan dan minuman!" ucap Nathan memotong ucapan Evan lalu keluar dari mobilnya.
Evan terdiam untuk beberapa saat lalu segera mengikuti langkah Nathan yang sudah berjalan pergi.
Evan tidak ingin membuat Nathan curiga jika ia terlalu banyak beralasan. Evanpun mencari ponselnya ke semua saku pakaiannya, berniat untuk menghubungi Aleea karena ia harus memberi tahu Aleea jika Nathan akan datang.
"Sial, aku lupa membawa ponselku," ucap Evan dalam hati saat ia menyadari jika ponselnya tertinggal.
Nathan dan Evanpun sampai di lantai 25, dalam hatinya Evan berharap agar Nathan tidak bertemu dengan Aleea saat mereka tiba di apartemen Evan.
Dengan ragu Evan mulai memasukkan password pada pintu apartemennya, saat Evan baru saja menyentuh handle pintu, tiba-tiba saja pintu terbuka dari dalam dan terlihat Aleea yang berdiri dengan penuh senyum sebelum Aleea menyadari jika ada Nathan disana.
"Aleea!" ucap Nathan yang begitu terkejut dengan keberadaan Aleea di apartemen Evan.
__ADS_1