
Aleea masih berada di rumah Nathan pagi itu, ia sempat merasa kesal pada Nathan yang melarangnya untuk sekedar membantu bibi.
Namun setelah mendengar apa yang Nathan katakan padanya, membuatnya mengerti kenapa Nathan melarangnya untuk melakukan banyak hal.
Meskipun begitu ia tidak bisa membiarkan Nathan terlalu membatasi dirinya, terlebih jika ia hanya ingin melakukan hal-hal kecil yang sepele.
"Maaf Nathan, aku tidak tahu jika....."
Aleea menghentikan ucapannya saat tiba-tiba Nathan memeluknya dengan erat.
"Aku yang minta maaf karena sudah berlebihan dalam menjagamu Aleea, aku ingin kau tahu jika aku benar-benar takut kehilanganmu," ucap Nathan.
"Aku mengerti," balas Aleea dengan menganggukkan kepalanya pelan dalam pelukan Nathan.
"Lebih baik aku membahas hal ini lain kali saja, sepertinya ini bukan waktu yang tepat," ucap Aleea dalam hati.
"Ayo kita makan, aku akan mengantarmu pulang setelah kita makan," ucap Nathan sambil menggenggam tangan Aleea. mengajaknya untuk kembali ke meja makan.
Setelah selesai menghabiskan makanannya, merekapun keluar dari rumah. Nathan mengendarai mobilnya meninggalkan rumah bersama Aleea yang duduk di sampingnya.
"Kau tidak marah padaku bukan?" tanya Nathan sambil menggenggam tangan Aleea.
"Tidak," jawab Aleea singkat dengan menggelengkan kepalanya.
"Aku berusaha memberikan yang terbaik untukmu Aleea, aku berusaha untuk menjadi laki-laki yang terbaik untukmu, tetapi maafkan aku jika masih ada beberapa hal dariku yang membuatmu tidak suka," ucap Nathan.
"Aku mengerti Nathan, aku hanya sedikit bingung dengan diriku sendiri karena aku sama sekali tidak bisa mengingat apapun bahkan tentang hubungan kita," balas Aleea.
"Dengan kita saling mengerti kita akan tetap bisa menjalani hubungan kita dengan baik seperti dulu, kau percaya padaku bukan?"
Aleea menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nathanpun sampai di rumah tempat tinggal Aleea.
"Aku akan menemuimu setelah aku pulang dari kantor," ucap Nathan sambil memeluk Aleea setelah mereka keluar dari mobil.
__ADS_1
Aleea hanya menganggukkan kepalanya. Nathan kemudian masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarainya pergi.
Sedangkan Aleea segera membawa langkahnya masuk ke dalam rumah. Namun ia menghentikan langkahnya saat ia melewati satpam yang berjaga di rumahnya.
Aleea kemudian membawa langkahnya mendekat pada satpam itu.
"Selamat pagi pak Edi," ucap Aleea menyapa dengan tersenyum ramah.
Aleea mengetahui nama satpam di rumahnya karena name tag yang tertulis di seragam satpamnya.
"Selamat pagi mbak," balas satpam.
"Aleea ingin menanyakan sesuatu pada pak Edi, mungkin ini terdengar konyol tapi Aleea butuh jawaban pak Edi," ucap Aleea.
"Apa yang ingin mbak Aleea tanyakan?"
"Apa benar selama ini Aleea tinggal disini pak?" tanya Aleea.
Pak Edi tersenyum dengan menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Aleea. Ia sudah bisa menerka apa saja yang mungkin Aleea tanyakan padanya karena memang ia dipekerjakan disana oleh Nathan.
Tanpa sepengetahuan Aleea, Nathan sudah bekerja sama dengan pak Edi dan memberi tahu apa saja yang harus dilakukan dan dikatakan pada Edi jika Aleea bertanya.
"Aaahh..... jadi pak Edi sudah tau?"
"Iya mbak, mas Nathan khawatir jika saya akan terkejut melihat perubahan sikap mbak Aleea, jadi mas Nathan memberi tahu saya hal itu," balas pak Edi.
"Sepertinya pak Edi cukup mengenal Aleea, apa pak Edi sudah lama bekerja disini?"
"Sejak mbak Aleea tinggal disini satu tahun yang lalu saya sudah bekerja disini mbak, jadi saya tau bagaimana kebiasaan mbak Aleea," jawab pak Edi yang tentu saja berbohong.
"Jadi Aleea sudah tinggal disini selama satu tahun pak?" tanya Aleea yang dibalas anggukan kepala oleh pak Edi.
"Apa selama Aleea tinggal disini, tidak ada kegiatan apapun yang Aleea lakukan? berkerja? atau hal lain yang...."
"Tidak," jawab pak Edi memotong ucapan Aleea.
__ADS_1
"Mbak Aleea tidak bekerja karena mbak Aleea mengalami trauma dengan lingkungan kerja mbak Aleea yang dulu, walaupun saya belum tau bagaimana jelasnya tapi mbak Aleea sendiri yang mengatakan pada saya jika mbak Aleea sudah tidak ingin bekerja," lanjut pak Edi menjelaskan.
"Trauma? trauma seperti apa sebenarnya yang pernah terjadi padaku?" batin Aleea bertanya dalam hati.
"Tapi ada satu hal yang sangat mbak Aleea sukai, mbak Aleea sangat suka merawat taman, semua bunga dan tanaman di taman ini mbak Aleea sendiri yang menanam dan merawatnya," ucap pak Edi.
Aleea kemudian membawa pandangannya ke arah taman kecil yang ada di halaman rumahnya. Terlihat berbagai jenis bunga dan tanaman yang ada disana.
Aleea tersenyum senang lalu berterima kasih pada pak Edi sebelum ia pergi. Aleea kemudian membawa langkahnya ke arah taman kecil itu.
Aleea mengambil beberapa daun kering yang ada disana lalu membuangnya.
"Mulai sekarang aku akan menyibukkan diriku disini," ucap Aleea dalam hati.
Di sisi lain, pak Edi segera menghubungi Nathan, memberi tahu Nathan tentang apa yang baru saja terjadi, tentang apa saja yang Aleea tanyakan padanya.
"Lakukan saja apa yang sudah kita sepakati dan jangan sampai membuatnya curiga," ucap Nathan setelah mendengar laporan pak Edi.
"Baik bos," balas pak Edi lalu mengakhiri panggilannya.
Tanpa Aleea tahu, semua hal tentangnya sudah ada di bawah kendali Nathan. Kehidupan palsu Aleea sudah dimulai sejak dia berada di rumah sakit bersama Nathan.
Dengan kekuasaan yang Nathan miliki, ia bisa melakukan banyak hal hanya untuk menyembunyikan masa lalu Aleea.
Entah sampai kapan Nathan akan memperalat Aleea hanya untuk kepentingannya sendiri.
Nathan sama sekali tidak memikirkan hal itu karena yang ada dalam kepalanya hanyalah cara untuk bisa dengan cepat memiliki seutuhnya perusahaan sang papa yang sudah lama dia kelola.
Di sisi lain, orang tua Nathan memiliki alasan yang tidak mereka katakan pada Nathan tentang kenapa mereka meminta Nathan untuk segera menikah.
Mereka hanya memberi ancaman pada Nathan jika Nathan tidak segera menikah dalam waktu dekat, perusahaan utama sang papa akan diberikan pada adik Nathan yang sedang kuliah di luar negeri saat itu.
Nathan yang merasa sudah menghabiskan banyak waktu dan tenaganya demi perusahaan utama sang papa merasa tidak terima jika adiknya yang masih kuliahlah yang harus mendapatkan perusahaan utama itu.
Sedangkan di sisi lain, sang adik yang sebenarnya tidak berminat untuk terjun di dunia perkantoran menolak mentah-mentah keputusan orang tuanya.
__ADS_1
Namun Hanna dan Ryan tidak merubah pikiran mereka dan tetap dengan keputusan mereka.
"Perusahaan utama akan menjadi milikmu jika kau bisa menikah bulan ini, jika tidak maka adikmulah yang akan mendapatkan perusahaan utama itu, sedangkan kau hanya akan menjadi CEO disana," ucap Hanna pada Nathan satu bulan yang lalu.