
Malam yang panjang telah berlalu, pagi-pagi sekali Nathan bangun dan segera keluar dari kamar Evan.
Nathan pergi ke dapur, membuat minuman hangat lalu membawanya ke teras, menikmati udara pagi dengan kabut tipis yang masih terlihat di depan vila.
Di kepalanya masih terlintas semua kejadian yang semalam terjadi antara Evan dan Rania. Selama ini yang Nathan tahu, Evan dan Rania memang sangat dekat karena Evan sudah menganggap Rania seperti adiknya sendiri.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, membuat pola pikir Rania berubah, Rania mulai menganggap lebih perhatian Evan padanya.
Nathan menghela napasnya panjang lalu menyeruput minuman hangat buatannya.
"Apa yang membuatmu menghela napas panjang pagi-pagi seperti ini?" tanya Evan yang tiba-tiba datang dan duduk di samping Nathan.
"Apa Rania dan Aleea sudah bangun?" balas Nathan bertanya.
"Sepertinya Aleea di dapur bersama bibi dan Rania sepertinya masih tidur," jawab Evan.
"Ada apa denganmu? apa ada masalah? kau seperti sedang memikirkan sesuatu!" lanjut Evan bertanya.
"Evan, selama kita bersahabat, kenapa aku tidak pernah melihatmu memiliki kekasih, kau masih menyukai perempuan bukan?" tanya Nathan yang membuat Evan seketika menendang pelan kaki Nathan.
"Hahaha.... aku hanya baru terpikirkan hal itu saja, kau sangat baik, pintar, kaya dan cukup tampan, tapi kenapa kau tidak pernah memiliki kekasih?"
"Aku terlalu banyak menghabiskan waktu bersamamu, terlalu banyak hal yang kau perintahkan padaku yang membuatku tidak memiliki waktu luang untuk memikirkan hal itu," jawab Evan sekenanya.
"Apa sampai sekarang kau tidak memiliki waktu untuk itu?" tanya Nathan.
"Entahlah, aku sedang tidak memikirkannya, aku sudah terbiasa hidup sendiri seperti ini, menjalani apapun yang aku mau tanpa ada yang berusaha mengendalikanku," jawab Evan.
"Bagaimana jika aku mengenalkanmu pada seseorang?" tanya Nathan yang membuat Evan mengernyitkan keningnya.
"Kau tau bukan aku memiliki banyak klien perempuan, tidak sedikit dari mereka yang masih sendiri dan ingin memiliki pendamping hidup yang satu frekuensi dengan mereka jadi aku pikir kau akan cocok dengan salah satu dari mereka," jelas Nathan.
"Sejak kapan kau memikirkan hal itu Nathan? aku bahkan sama sekali tidak tertarik untuk membahas hal seperti itu!"
"Aku hanya sedang mengkhawatirkanmu saja, sebagai sahabat, aku takut sahabatku menjadi bujang tua nanti hahaha...." balas Nathan tertawa.
"Aku hanya akan memulai hubungan dengan seseorang yang benar-benar membuatku jatuh cinta padanya, aku tidak akan memulai jika aku tidak yakin dengan akhir dari hubungan itu," ucap Evan.
"Kau tidak akan mengetahuinya jika kau tidak mencobanya Evan!" ucap Nathan.
"Bagiku tidak ada coba-coba dalam memulai hubungan Nathan, jika aku sudah yakin maka aku akan memulainya dan mengakhirinya dengan pernikahan," balas Evan.
"Jadi... apa sampai sekarang kau belum berniat untuk memulainya?" tanya Nathan.
"Aku tidak akan memulai sebelum aku yakin jika apa yang aku mulai akan berakhir dengan bahagia, Nathan!" jawab Evan.
"Tapi bukankah kita tidak akan tau, bagaimana akhir dari sesuatu yang kita mulai?" tanya Nathan.
"Kau benar, tapi setidaknya kita bisa mengusahakannya jika kita sudah memiliki tujuannya," jawab Evan.
Nathan menganggukkan kepalanya pelan. Selama ini ia dan Evan memang tidak pernah membicarakan hal seperti itu dan Nathan baru mengerti tentang bagaimana Evan memikirkan tentang masa depannya bersama seseorang yang akan menjadi pasangan hidupnya.
"Mungkin kau harus segera menemukan seseorang itu Evan, agar Rania bisa berhenti berharap padamu," ucap Nathan dalam hati.
Tak lama kemudian Aleea datang, meminta Nathan dan Evan untuk masuk karena bibi baru saja selesai menyiapkan sarapan.
"Apa Rania belum bangun?" tanya Evan pada Aleea.
"Bibi baru saja membangunkannya, mungkin sebentar lagi akan keluar," jawab Aleea.
Benar saja, tak lama kemudian terlihat Rania yang berjalan ke arah meja makan dengan raut wajahnya yang masih tampak mengantuk.
Dengan menguap, Rania membawa dirinya duduk di samping Aleea.
"Kau sangat jelek Rania, apa kau tidak membasuh wajah sebelum keluar kamar?" ucap Nathan meledek.
"Diamlah kak, Rania sedang tidak ingin bercanda," balas Rania ketus.
"Kau cantik dengan apa adanya dirimu Rania, tidak perlu berusaha menjadi orang lain hanya untuk menarik perhatian seseorang," ucap Evan.
"Mata kak Evan memang memiliki pandangan yang bagus, tidak seperti kak Nathan yang hanya bisa melihat hal-hal buruk!" ucap Rania mencibir Nathan.
"Sudah... sudah.... ayo kita makan," ucap Aleea.
Merekapun menikmati sarapan mereka dengan tenang.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu Aleea? apa sudah lebih baik?" tanya Evan pada Aleea.
"Aku sudah bisa berjalan dengan baik Evan, sudah tidak terasa sakit sama sekali," jawab Aleea penuh senyum.
"Itu artinya pagi ini kita bisa pergi ke kebun strawberry bersama!" ucap Rania senang.
Setelah menghabiskan makanan mereka, mereka duduk di teras untuk menikmati udara pagi sembari menunggu kabut pergi.
"Rania tidak bisa tidur nyenyak kak," ucap Rania pada Evan.
"Kenapa? apa karena kejadian se...."
"Ssssstttt......" Rania menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, memberikan kode pada Evan agar tidak melanjutkan ucapannya.
"Rania kedinginan walaupun sudah memakai pakaian dan selimut tebal," ucap Rania beralasan.
"Apa seperti ini lebih baik?" tanya Evan sambil memeluk Rania dari belakang.
"Lebih erat kak!" ucap Rania senang.
Evanpun memeluk Rania dengan semakin erat lalu mengangkatnya dan memutar tubuhnya beberapa kali.
"Aaaaaa..... kak......." Rania berteriak kegirangan dengan apa yang Evan lakukan padanya.
"Aaahh rasanya sedikit pusing, tapi menyenangkan hehe....." ucap Rania sambil memegangi kepalanya.
Evan kemudian menepuk pelan kepala Rania dengan tersenyum. Ia sengaja melakukan hal itu untuk membuat Rania kembali ceria setelah apa yang terjadi semalam.
Evan berpikir jika mungkin Rania sedang menyembunyikan kesedihannya karena Rania yang sedang berusaha menarik perhatian seseorang, namun dengan menjadikan dirinya sosok yang lain dari dirinya yang sebenarnya.
Sebagai seseorang yang menempatkan dirinya sebagai kakak untuk Rania, Evan hanya berusaha untuk membuat Rania tetap menjadi gadis manja yang ceria tanpa beban berat yang dipikirkannya.
Di sisi lain, Aleea hanya tersenyum melihat apa yang Evan dan Rania lakukan. Sedangkan Nathan hanya menatap diam dengan raut wajah yang datar.
Sedekat apapun Nathan dan Evan, Nathan tidak akan setuju jika Rania benar-benar memiliki hubungan khusus dengan Evan.
Bagi Nathan, cukup Evan menjadi bagian dari keluarganya, menjadi kakak bagi Rania tanpa harus memiliki hubungan yang lebih jauh dari itu.
Bukan karena Evan tidak cukup baik menurut Nathan, tapi Nathan berpikir jika hal itu terjadi, maka akan ada kecanggungan dan masalah-masalah lain antara mereka akan lebih mungkin terjadi.
Apapun yang terjadi, Nathan hanya ingin menjaga persahabatannya dengan Evan tetap baik-baik saja tanpa melibatkan hubungan yang terlalu jauh antara Evan dan Rania.
Mereka berempat pun berjalan ke arah belakang vila untuk menuju ke kebun strawberry yang ada disana.
"Perhatikan langkah kalian, jalannya sedikit licin karena embun," ucap Evan saat mereka melewati jalan berbatu di belakang vila.
"Bagaimana jika kak Evan menggendong Rania saja?" tanya Rania.
"Itu hanya akan membuat kita jatuh bersama-sama Rania," balas Evan yang membuat Rania terkekeh.
Akhirnya, merekapun sampai di kebun strawberry. Evan dan Rania berjalan ke arah salah satu jalur setapak dan mulai memetik strawberry dan menaruhnya pada keranjang kecil yang Rania bawa.
Sedangkan Nathan dan Aleea berjalan di jalur yang lain dengan Aleea yang membawa keranjang kecil di tangannya.
Berbeda dengan Evan dan Rania yang sering mengobrol bahkan bercanda sampai tertawa, Aleea dan Nathan justru lebih banyak diam tanpa mengobrol.
"Sikapmu yang dingin akan membuat Rania curiga, Aleea!" ucap Nathan pelan.
Aleea hanya diam, setalah semua perlakuan Nathan padanya, Aleea sudah tidak menganggap Nathan sebagai seseorang yang pernah dicintainya, apa lagi suami baginya.
Ia terlalu malas untuk bersandiwara layaknya suami istri yang romantis bersama Nathan. Apa yang Nathan lakukan padanya tidak bisa hilang sedetikpun dari ingatannya.
Bahkan bagi Aleea, memorinya lebih banyak mengingat hal-hal yang menyakitkan dan menyedihkan tentang hubungannya dengan Nathan daripada hubungan percintaan yang romantis.
"Aku akan memaksamu jika kau tidak bisa bekerja sama dengan baik Aleea, bukankah kau sendiri yang menyetujui hal ini?"
"Aku menyetujuinya demi Rania, bukan....."
"Kaakkk, apa kalian baik-baik saja? kenapa kalian berbisik?" tanya Rania dengan membawa pandangannya pada Aleea dan Nathan.
"Sudahlah Rania, biarkan mereka dengan dunianya sendiri, kau tidak tau bagaimana bahasa cinta mereka," ucap Evan yang segera merangkul bahu Rania dan membawa Rania menjauh dari Aleea dan Nathan.
"Memangnya seperti apa bahasa cinta itu kak?" tanya Rania pada Evan.
"Kau akan tau setelah kau menemukan laki-laki yang tepat untukmu," jawab Evan.
__ADS_1
Evan sengaja membawa Rania menjauh dari Aleea dan Nathan karena ia tahu, pasti sulit bagi Aleea dan Nathan untuk bersandiwara setelah apa yang mereka berdua alami.
Setelah cukup lama memetik strawberry, mereka berempat pun membawanya ke gazebo yang ada di dekat kebun strawberry.
Aleea dan Rania mencuci strawberry yang sudah mereka petik lalu membawanya kembali ke gazebo dan menikmatinya bersama Nathan dan Evan.
"Rasanya sangat menyenangkan bisa tinggal disini walaupun hanya beberapa hari," ucap Rania sambil menikmati strawberry.
"Mungkin kita bisa kembali lagi kesini jika ada waktu," ucap Evan.
"Setuju!" balas Rania penuh semangat.
"Jadi, kapan kau akan kembali ke Paris, Rania?" tanya Aleea.
"Mmmm.... untuk Rania belum bisa memastikan kak," jawab Rania.
"Tapi bukankah kemarin kau bilang......"
"Hehe.... maaf kak, Rania hanya berusaha membuat kak Aleea menyetujui ajakan Rania hehe...." ucap Rania memotong ucapan Aleea.
"Kau berbohong padaku?" tanya Aleea.
"Tidak sepenuhnya berbohong, Rania memang ingin berlibur kesini sebelum Rania kembali ke Paris, hanya saja Rania belum tau kapan akan kembali ke Paris," jawab Rania beralasan.
Aleea hanya menghela napasnya mendengar jawaban Rania. Jika tau begitu, Aleea tidak akan mau menerima ajakan Aleea untuk pergi berlibur.
"Kau harus meminta maaf Rania, kau sudah membuat Aleea salah paham!" ucap Evan pada Rania.
"Maafkan Rania kak, Rania tidak bermaksud untuk berbohong pada kak Aleea," ucap Rania sambil memeluk Aleea.
Aleea hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun karena bagaimanapun juga semuanya sudah terjadi.
Waktu berlalu, tepat pukul 2 siang, mereka meninggalkan vila. Evan duduk di belakang bersama Rania, sedangkan Aleea duduk di depan bersama Nathan yang mengemudikan mobilnya.
Mereka mengobrol dan sesekali bercanda tawa selama dalam perjalanan pulang. Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba sebuah mobil dari arah berlawanan memakan jalan yang membuat Nathan seketika menekan klaksonnya karena terkejut.
Jarak mobil Nathan dan mobil di hadapannya yang memakan jalan sangat dekat saat itu, membuat Aleea yang berada di depan seketika berteriak saat mobil hampir saja bertabrakan.
Aleea memejamkan matanya, menundukkan kepalanya dengan menutup kedua telinganya. Saat itulah tiba-tiba sekilas memori berputar di kepala Aleea.
Ia seperti berada dalam kejadian yang sama, namun di waktu yang berbeda. Rasa takut yang sama kembali Aleea rasakan saat itu, saat memori membawa Aleea kembali pada detik-detik Aleea mengalami kecelakaan.
Samar-samar Aleea mengingat kejadian itu, ia berjongkok untuk mengambil sesuatu dan tiba-tiba terdengar klakson panjang yang membuat Aleea membawa pandangannya ke samping dan detik berikutnya tubuhnya sudah terpental lalu menghantam trotoar.
Riuh suara klakson dan teriakan orang-orang di sekitarnya masih sangat jelas terdengar meskipun pandangan Aleea mulai samar, bahkan ia tidak bisa melihat dengan jelas seorang laki-laki yang keluar dari mobil dan menghampirinya.
Nathan yang berhasil meloloskan mobilnya dari mobil yang hampir menabrak mobilnya, seketika membawa mobilnya menepi.
Tidak hanya Nathan dan Aleea, Evan dan Raniapun tidak kalah terkejutnya dengan apa yang baru saja terjadi.
Namun yang lebih terlihat syok saat itu adalah Aleea, ia memegangi kepalanya yang terasa sakit dengan terus menundukkan kepalanya bahkan setelah Nathan menepikan mobilnya.
Kilas memori yang berputar di kepalanya, membuat Aleea merasa kepalanya begitu sakit, terlebih saat dia berusaha keras untuk menggali lebih jauh ingatannya tentang kecelakaan yang pernah terjadi padanya.
"Aleea, apa kau baik-baik saja?" tanya Nathan dengan memegang bahu Aleea.
"Kepalaku..... sakit," jawab Aleea merintih dengan masih memegangi kepalanya.
Melihat hal itu, Evan segera keluar dari mobil dengan mengajak Rania untuk pindah posisi duduk.
Evan segera membuka pintu di samping Aleea dan membantu Aleea untuk keluar dari mobil.
"Duduklah di belakang bersama Nathan, Aleea!" ucap Evan sambil membantu Aleea untuk duduk di bangku belakang.
Nathanpun keluar dan pindah posisi duduk di samping Aleea. Sedangkan Evan kini duduk di belakang kemudi bersama Rania yang duduk di sampingnya.
"Apa kau terbentur sesuatu? apa kau terluka?" tanya Nathan pada Aleea yang masih memegangi kepalanya.
"Tidak..... aku hanya..... aku.... mengingat kecelakaan itu," jawab Aleea.
Nathan seketika membawa pandangannya pada Evan yang saat itu juga tengah memperhatikan keadaan Aleea.
Mereka saling pandang untuk beberapa saat, khawatir jika Aleea akan mengingat semuanya.
"Apa yang kau ingat Aleea? apa kau melihat siapa yang menabrakmu saat itu?" tanya Nathan.
__ADS_1
"Aku tidak bisa melihatnya, semuanya terlihat samar dan....."
Ucapan Aleea terhenti saat tiba-tiba Aleea tumbang dan dengan sigap Nathanpun menahan tubuh Aleea yang pingsan di sampingnya.