
Di tengah kekesalan Aleea, Nathan tiba-tiba keluar dari rumah dengan pakaiannya yang rapi serta menenteng tas kerjanya.
"Sepertinya kau belum memberitahu istrimu jika kita akan pergi ke luar kota hari ini," ucap Vina pada Nathan.
"Aaahh iya aku lupa," balas Nathan lalu menarik tangan Aleea dan mengajaknya masuk ke dalam rumah, sedangkan Vina masih berdiri di teras.
Di dalam rumah, Nathan baru mengatakan pada Aleea jika dirinya harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama Vina.
"Tidak bisakah orang lain saja yang melakukan pekerjaan itu? kita baru menikah dan seharusnya kau masih mendapatkan cuti," tanya Aleea yang merasa keberatan dengan kepergian Nathan.
"Tidak ada orang lain yang bisa aku percaya untuk melakukan pekerjaan ini Aleea, bukankah kau juga tahu ini adalah bagian dari tanggung jawabku," balas Nathan.
"Tapi kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku sebelumnya? kenapa aku harus mengetahuinya tiba-tiba seperti ini?" tanya Aleea kesal.
"Maafkan aku, aku benar-benar lupa, sekarang aku harus pergi, kau harus tetap berada di rumah sampai aku pulang!" ucap Nathan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Sebelum Aleea sempat mengatakan apapun, Nathan sudah berjalan pergi meninggalkan Aleea begitu saja. Aleeapun hanya berdiri diam di tempatnya, menatap kepergian Nathan yang sudah meninggalkan rumah bersama Vina.
Aleea kemudian membawa langkahnya masuk ke dalam kamar, ia duduk di tepi ranjangnya dengan membaca kesepakatan yang sudah ia tanda tangani bersama Nathan.
"Bagaimana sebenarnya hubunganku dengan Nathan selama ini? kenapa aku merasa dia tidak benar-benar mencintaiku?" tanya Aleea pada dirinya sendiri.
Aleea terdiam untuk beberapa saat, berusaha menggali ingatannya tentang hubungannya dengan Nathan, namun sama seperti sebelumnya, ia tidak bisa mengingat apapun tentang masa lalunya, entah itu tentang Nathan atau tentang dirinya sendiri.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Suara ketukan pintu membuyarkan Aleea dari lamunannya, ia segera beranjak dari ranjangnya lalu membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Bi?" tanya Aleea pada bibi yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ada tamu non," jawab bibi yang membuat Aleea segera membawa langkahnya ke ruang tamu.
"Evan, ada apa? apa kau mencari Nathan?" tanya Aleea yang melihat Evan sudah duduk di ruang tamu.
"Iya aku mencarinya, tapi bibi bilang dia sudah pergi, jadi aku meminta bibi untuk memanggilmu," jawab Evan.
__ADS_1
"Apa kau tahu jika hari ini Nathan pergi ke luar kota bersama Vina?" tanya Aleea.
"Iya aku tahu, ini memang pekerjaan yang mendadak harus diselesaikan oleh Nathan, jadi dia harus merelakan cutinya untuk menyelesaikan pekerjaannya," jawab Evan.
"Jadi Nathan benar-benar lupa memberitahuku!" ucap Aleea dalam hati dengan menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku kesini untuk memberikan berkas ini pada Nathan, tapi karena Nathan tidak ada di rumah jadi aku memberikannya padamu dan tolong berikan pada Nathan jika dia sudah pulang," ucap Evan sambil memberikan sebuah map pada Aleea.
"Baiklah, aku akan memberikannya pada Nathan saat dia sudah pulang," balas Aleea.
"Apa kau sedang terburu-buru sekarang?" lanjut Aleea bertanya pada Evan.
"Tidak, kenapa?" jawab Evan sekaligus bertanya.
"Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu karena yang aku tahu hanya kau yang paling dekat dengan Nathan, jadi sepertinya aku harus menanyakannya padamu," ucap Aleea.
"Kau bertanya pada orang yang tepat Aleea, tanyakan saja padaku apa yang ingin kau ketahui," balas Evan.
"Karena kau sangat dekat dengan Nathan, kau pasti tahu bukan bagaimana hubungan Nathan dengan Vina?" tanya Aleea.
"Tolong jangan menyembunyikan apapun dariku Evan, aku melihat sendiri bagaimana mereka sangat dekat," ucap Aleea.
"Mereka sudah lama bekerja sama Aleea, bahkan Nathan lebih dulu mengenal Vina daripada mengenalmu, tapi sejauh yang aku tahu Nathan dan Vina hanya dekat sebatas partner kerja, tidak lebih dari itu," jelas Evan.
"Apa mereka memang sering pergi ke luar kota berdua?" tanya Aleea.
"Karena Vina adalah sekretaris pribadi Nathan, jadi mereka memang sering pergi berdua, tapi tidak jarang juga kita pergi bersama tim jika memang pekerjaan itu membutuhkan beberapa orang yang menjadi satu tim," jelas Evan.
"Kenapa kau menanyakan hal itu padaku Aleea? apa kau takut jika Nathan berselingkuh darimu?" lanjut Evan bertanya.
"Aku hanya merasa mereka sangat dekat, bahkan terkadang aku merasa Nathan tidak benar-benar mencintaiku," jawab Aleea.
"Kenapa kau berpikir seperti itu Aleea? tidak mungkin Nathan menikahimu jika dia tidak mencintaimu!"
"Aku juga tidak tahu kenapa aku berpikir seperti itu, tapi itulah yang aku rasakan sampai sekarang, bahkan terkadang aku masih berpikir apa yang membuatku memutuskan untuk menikah dengan Nathan," ucap Aleea.
__ADS_1
"Pasti semua ini karena kau kehilangan ingatanmu Aleea, aku sangat tahu bagaimana kalian berdua sangat mencintai, jadi aku harap kau tidak meragukan perasaan Nathan padamu," ucap Evan.
Aleea tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan, ia baru sadar jika ia terlalu banyak bercerita pada Evan.
"Maaf Evan, sepertinya aku terlalu banyak menceritakan hal yang tidak penting padamu," ucap Aleea.
"Kau bisa menceritakan apapun padaku Aleea, mungkin aku bisa membantumu jika kau memiliki kesulitan," balas Evan.
Setelah beberapa lama mengobrol, Evan kemudian meninggalkan rumah Nathan.
Namun belum lama Evan berkendara, ia segera menepikan mobilnya lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Nathan.
"Halo Nathan, kau dimana sekarang?" tanya Evan setelah Nathan menerima panggilannya.
"Aku masih ada di jalan, ada apa?" jawab Nathan sekaligus bertanya.
"Sepertinya kau harus ekstra memberikan perhatianmu pada Aleea, jangan sampai apa yang kau lakukan membuatnya meragukan hubungan kalian," ucap Evan.
"Apa maksudmu? kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?" tanya Nathan tak mengerti.
Evan kemudian menjelaskan pada Nathan tentang apa yang baru saja Aleea tanyakan padanya dan bagaimana Aleea berpikir tentang hubungannya dengan Nathan.
"Baru beberapa hari kau menikah dengannya dan dia sudah meragukanmu, aku tidak yakin jika dia akan bertahan lama dengan semua kebohongan ini, karena lambat laun dia pasti akan menyadari jika kau memang tidak mencintainya," ucap Evan di akhir penjelasannya.
"Perempuan memang selalu membuat masalah menjadi rumit, jangan khawatir aku akan membuat Aleea selalu mempercayaiku," ucap Nathan kesal.
Tak lama kemudian pintu mobil Nathan terbuka dan Vinapun masuk ke dalam mobil setelah ia membeli beberapa makanan ringan dan minuman di minimarket.
"Aku harus melanjutkan perjalananku, aku akan segera pulang setelah aku menyelesaikan pekerjaanku," ucap Natan lalu mengakhiri panggilan Evan.
"Siapa? istrimu?" tanya Vina.
"Evan," jawab Nathan singkat.
Dalam hatinya Nathan berpikir tentang bagaimana caranya agar ia selalu bisa membuat Aleea yang mempercayainya, karena untuk sementara ia tidak boleh membuat Aleea ragu tentang hubungan mereka berdua.
__ADS_1