
Mendengar apa yang Evan katakan memang membuat Nathan cukup terkejut, namun ia memilih untuk tidak peduli dan tidak terpengaruh dengan apa yang Evan katakan tentang Aleea.
"Dia memang bodoh dan aku tidak peduli," ucap Nathan lalu keluar dari ruangan Evan.
Evan hanya menghela napasnya panjang melihat sikap Nathan. Ia tidak menyangka jika Nathan akan benar-benar menunjukkan sifat aslinya pada Aleea yang masih menjadi istrinya.
Sebagai sahabat sekaligus satu-satunya orang yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara Nathan dan Aleea, Evan tahu jika Nathan tidak akan melepaskan Aleea dengan mudah meskipun Nathan tidak mencintai Aleea.
Membuat sang papa kecewa satu kali sudah cukup bagi Nathan, jadi tidak mungkin Nathan tiba-tiba menceraikan Aleea yang tentunya akan membuat kecewa mama dan papanya. Setidaknya itulah yang Evan pikirkan saat itu.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Evan berdering, sebuah pesan masuk dari Aleea.
"Hubungi aku jika tidak sedang sibuk."
Evan kemudian menghubungi Aleea dan Aleeapun dengan cepat menerima panggilannya.
"Halo Aleea, ada apa?" tanya Evan setelah panggilannya diterima.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu Evan, apa kita bisa bertemu hari ini?" balas Aleea.
"Baiklah, aku akan ke rumahmu sepulang kerja," ucap Evan.
"Tidak Evan, jangan kesini, lebih baik kita bertemu di luar saja," ucap Aleea.
"Kenapa?" tanya Evan dengan mengernyitkan keningnya.
"Aku ingin membicarakan sesuatu yang tidak boleh di dengar orang lain, jadi lebih baik kau tentukan saja dimana kita bisa bertemu, aku akan pergi kesana," jelas Aleea.
"Apa Nathan tidak boleh mengetahui pertemuan kita?" tanya Evan.
"Kau boleh mengatakan padanya jika dia bertanya padamu, tapi tentang apa yang akan kita bicarakan nanti, hanya kau dan aku yang boleh mengetahuinya, aku harap kau mengerti maksudku," jawab Aleea.
"Baiklah aku mengerti, aku akan menghubungimu lagi nanti," ucap Evan.
Setelah panggilan berakhir, Evan menerka-nerka tentang apa yang ingin Aleea bicarakan dengannya.
"Apa dia akan membicarakan hubungannya dengan Nathan?" batin Evan bertanya dalam hati.
"Entahlah, semoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi," ucap Evan lalu melihat jam di tangan kirinya.
"Masih ada waktu untuk makan siang," ucap Evan lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangannya.
Evan berjalan ke arah kantin lalu memesan makanan dan minuman. Tak lama kemudian Vina datang bersamaan dengan makanan dan minuman yang Evan pesan.
"Apa kau sedang bertengkar dengan Nathan?" tanya Vina pada Evan.
Evan hanya diam dengan membawa pandangannya pada Vina sekilas lalu menikmati makanannya.
"Waktu istirahat di luar jam kerja bukan? apa aku harus tetap memanggil dengan sopan?" tanya Vina yang masih diabaikan oleh Evan.
"Baiklah, apa pak Evan sedang bertengkar dengan pak Nathan?" tanya Vina mengulang pertanyaannya dengan kata-kata yang lebih sopan.
Namun tetap saja, Evan seolah tidak menganggap keberadaan Vina di dekatnya, membuat Vina menghela napasnya kesal melihat sikap Evan.
"Aku bertanya karena beberapa hari ini sikap Nathan sangat berbeda, dia menjadi lebih mudah emosi dan sering uring-uringan, sedikit saja kesalahan sudah membuat emosinya meledak, selama ini aku melihat sikap Nathan seperti itu hanya saat dia bertengkar denganmu," ucap Vina.
Evan masih menikmati makanannya tanpa mengatakan apapun. Meskipun terlihat mengabaikan Vina, namun sebenarnya Evan mendengarkan apa yang Vina katakan saat itu.
"Jika kalian tidak sedang bertengkar, apa mungkin dia sedang ada masalah dengan Aleea? apa mereka bertengkar dan akan bercerai?" lanjut Vina yang membuat Evan segera membawa pandangannya pada Vina dengan tatapan tajam
"Aku hanya bercanda," ucap Vina tersenyum sambil menepuk bahu Evan lalu beranjak dari duduknya.
"Tapi memang itu yang aku harapkan hehe...." ucap Vina lalu berjalan pergi meninggalkan Evan.
"Perempuan gila!" ucap Evan pelan lalu menyeruput minumannya dan meninggalkan kantin.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan lebih dari pukul 4 sore. Evan merapikan berkas yang baru saja ia kerjakan lalu membawanya ke ruangan Nathan.
"Ini berkas yang kau minta, apa ada yang harus aku kerjakan lagi?" ucap Evan sekaligus bertanya.
"Tidak ada," jawab Nathan.
"Baiklah," ucap Evan lalu keluar dari ruangan Nathan.
Evan merapikan meja kerjanya lalu mengirim pesan pada Aleea, memberikan alamat kafe tempat mereka akan bertemu.
__ADS_1
Evan kemudian meninggalkan ruangannya, keluar dari kantor dan mengendarai mobilnya ke arah kafe.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evan sampai di kafe tujuannya. Tak lama kemudian terlihat Aleea memasuki kafe, Evan yang melihatnya segera melambaikan tangannya pada Aleea.
Aleea yang melihat keberadaan Evanpun segera membawa langkahnya ke arah meja Evan dengan penuh senyum.
Evan kemudian memanggil waiters lalu memesan makanan ringan dan minuman sesuai dengan yang Aleea inginkan.
"Apa semuanya baik-baik saja Aleea?" tanya Evan pada Aleea.
"Aku tidak bisa mengatakan semuanya baik-baik saja, tapi aku rasa aku sudah merasa lebih baik sekarang," jawab Aleea dengan tersenyum.
"Yaaaahhh.... terkadang kita memang harus memaksakan diri untuk baik-baik saja agar bisa melanjutkan hidup," ucap Evan yang dibalas anggukan kepala oleh Aleea.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang saat mereka masih berbasa-basi.
"Sebenarnya aku ingin bertemu denganmu karena ada sesuatu yang ingin aku diskusikan denganmu Evan," ucap Aleea.
"Diskusi? tentang apa?" tanya Evan.
Aleea kemudian menceritakan tentang seminar di kelas memasaknya dan rasa tertariknya untuk mencoba hal baru yang sesuai dengan apa yang ia pelajari.
Tetapi Aleea mengatakan jika dirinya ragu untuk melakukan hal itu, selain karena statusnya sebagai istri Nathan yang bisa jadi menimbulkan masalah, ia juga tidak memiliki pengalaman apapun dalam hal itu.
"Aku rasa itu bukan hal yang buruk untuk dicoba, aku akan membantu apapun yang kau butuhkan," ucap Evan setelah mendengar semua cerita Aleea.
"Apa menurutmu aku bisa menjalaninya dengan baik Evan?" tanya Aleea ragu.
"Tentu saja, asalkan kau yakin dan berusaha untuk memberikan yang terbaik, jika kau khawatir tentang statusmu sebagai istri Nathan, sebaiknya kau membangun bisnismu bersama teman yang kau percaya," jawab Evan.
"Bersama teman? sepertinya aku tau siapa yang bisa aku ajak kerja sama," ucap Aleea.
"Jika kau sudah yakin dengan temanmu, bicarakan detail bisnis kalian berdua, setelah kalian bersepakat, kalian bisa membuat kontrak kerja sama yang akan kalian sepakati," ucap Evan.
Aleea terdiam untuk beberapa saat, memikirkan apa yang Evan katakan padanya.
"Aku akan membantumu sebisaku Aleea, jadi jangan ragu untuk meminta tolong padaku," ucap Evan.
"Tapi bisakah kau berjanji untuk merahasiakan hal ini dari Nathan, Evan?" tanya Aleea.
"Terima kasih Evan, pasti tidak akan sulit menyembunyikan hal ini dari Nathan karena dia sama sekali tidak peduli padaku!" ucap Aleea.
**
Hari-hari berlalu, setiap hari Aleea membicarakan tentang rencana bisnisnya dengan temannya, Tika.
Mereka sudah bersepakat untuk bekerja sama dan sedang melakukan banyak diskusi untuk pengajuan proposal mereka.
Masing-masing dari mereka akan mendapatkan bantuan pinjaman modal yang mereka gunakan untuk memulai bisnis mereka.
Namun masalah timbul saat mereka mendapati fakta bawa pinjaman modal yang mereka dapatkan tidak cukup untuk dijadikan modal bisnis yang sudah mereka rencanakan.
Aleea dan Tika sudah berusaha memangkas pengeluaran untuk beberapa hal yang mereka anggap tidak begitu penting, namun itu tidak cukup membantu.
Aleea sangat nyaman berteman dengan Tika karena selain dia perempuan yang baik, Tika juga tidak banyak mempertanyakan kehidupan pribadi Aleea sebagai istri Nathan.
Saat mereka tengah kekurangan modal, sama sekali tidak terbesit di kepala Tika untuk membuat Aleea meminta tolong pada Nathan, meskipun Tika tau jika Nathan pasti bisa membantu Aleea.
Tika bahkan rela mengeluarkan uang pribadinya untuk menambah modal mereka yang masih jauh dari cukup. Sedangkan Aleea, ia tidak cukup berani untuk menggunakan uang yang Nathan berikan padanya.
Nathan memang memberikan beberapa kartu kredit dan ATM pada Aleea, setiap bulannya Nathan akan mentransfer sejumlah uang pada ATM yang Aleea bawa yang Aleea gunakan untuk membeli kebutuhannya.
Namun setelah apa yang terjadi, Aleea tidak ingin bisnis yang dirintisnya dari 0 itu melibatkan uang pemberian Nathan. Aleeapun berusaha berpikir keras untuk bisa mendapatkan solusi dari masalah yang sedang ia hadapi.
Hari itu, sepulang dari kelas memasaknya, Aleea pergi ke kafe bersama Tika untuk membahas tentang masalah mereka.
Mereka berada di kafe cukup lama, sampai akhirnya mereka meninggalkan kafe tepat pukul 3 sore.
Saat tengah menunggu taksi di depan kafe, Aleea menghubungi Evan, ia merasa harus bertemu dengan Evan saat itu.
"Halo Evan, apa kau masih ada di kantor?" tanya Aleea setelah Evan menerima panggilannya.
"Iya, ada apa Aleea? apa kau mau bertemu?" balas Evan.
"Iya, aku akan menunggumu di tempat biasa," jawab Aleea.
"Baiklah, aku akan segera kesana setelah jam kerjaku selesai," ucap Evan.
__ADS_1
Panggilan berakhir bersamaan dengan taksi yang Aleea tunggu tiba. Aleea kemudian pergi ke kafe tempat ia bertemu dengan Evan.
Sejak Aleea kembali tinggal di rumah Nathan setelah ia meninggalkan apartemen Evan, Aleea memang sering bertemu dengan Evan dan tentunya tanpa Nathan tahu.
Bukan karena Evan menyembunyikannya dari Nathan atau sengaja bertemu diam-diam di belakang Nathan, tetapi memang Nathan sendiri yang tidak pernah menanyakan hal itu dan Evan memilih untuk tidak memberi tahu Nathan sebelum Nathan sendiri yang bertanya.
Sedangkan Aleea, ia menemui Evan karena banyak hal yang ia tanyakan pada Evan tentang dunia bisnis yang merupakan hal baru baginya.
Dari Evan, Aleea belajar banyak hal dan dari Evan juga Aleea mendapat masukan-masukan yang berarti untuknya. Ia sengaja meminta untuk bertemu di luar rumah, bukan untuk bersembunyi dari Nathan tapi karena ia tidak ingin rencananya diketahui oleh Nathan.
Selama ini Nathan tidak mengetahui apapun yang Aleea lakukan selama Nathan bekerja, karena Nathan yang memang sama sekali tidak peduli pada Aleea.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Aleeapun sampai di kafe tempat ia biasa bertemu Evan.
Aleea memilih bangku yang biasa ia tempati bersama Evan, bangku di sudut ruangan dengan dinding kaca di dekatnya.
Hampir 30 menit Aleea menunggu, akhirnya ia melihat Evan yang berjalan masuk ke dalam kafe.
"Apa kau sudah menunggu sejak tadi?" tanya Evan sambil menggeser kursi untuk ia duduk.
"Hampir 30 menit," jawab Aleea dengan tersenyum.
"Astaga Aleea, seharusnya kau menunggu di rumah saja, kau pasti sangat bosan menungguku disini selama itu!" ucap Aleea.
"Aku baru saja selesai berdiskusi dengan Tika, jadi aku sekalian menunggumu disini," balas Aleea.
Mereka kemudian memesan makanan dan minuman sebelum Aleea mulai bercerita pada Evan tentang masalah yang sedang ia hadapi.
"Berapa yang kau butuhkan Aleea?" tanya Evan tanpa basa-basi setelah mendengar cerita Aleea yang sedang kekurangan modal untuk membuka bisnisnya.
"Aku menceritakan semua ini padamu untuk meminta saran darimu Evan, bukan untuk meminjam uangmu," ucap Aleea tanpa menjawab pertanyaan Evan.
"Aku memang tidak sekaya Nathan, tapi aku pasti bisa membantumu Aleea," ucap Evan berusaha meyakinkan Aleea.
"Aku tau kau memang sangat baik Evan, kau sudah banyak membantuku selama ini, tapi akan sangat berlebihan jika aku juga menerima uang pinjaman darimu!" balas Aleea.
Evan terdiam untuk beberapa saat, memikirkan cara lain yang bisa ia lakukan untuk membantu Aleea.
"Apa kau sudah membuat proposalnya?" tanya Evan.
"Sudah, tetapi pinjaman modal dari kelas memasakku jauh dari cukup dan seperti yang aku katakan, aku tidak mungkin menggunakan uang yang Nathan berikan padaku, aku tidak ingin berhutang budi padanya," jelas Aleea.
"Besok kita bertemu disini, kau bisa membawa proposalmu dan aku akan memeriksanya, aku akan menjadi investor pada bisnismu, bagaimana?"
Aleea tersenyum dengan menggelengkan kepalanya pelan, seolah tidak menyetujui ucapan Evan.
"Kenapa Aleea?" tanya Evan.
"Aku dan Tika hanya akan membuat toko kue Evan, bukan perusahaan!" balas Aleea.
"Tapi tidak ada salahnya bukan jika ada investor yang memberi modal untuk usahamu?"
"Memang tidak salah, tapi....."
"Dengarkan aku Aleea, aku tidak memiliki saran apapun untukmu karena satu-satunya yang bisa membantu masalahmu adalah uang, aku tau kau akan menolak jika aku memberinya cuma-cuma, jadi pilihanmu hanya dua, menerima modal pinjaman dariku atau membiarkanku menjadi investor!" ucap Evan memotong ucapan Aleea.
"Mmmm..... aku akan membicarakannya dengan Tika lebih dulu," balas Aleea.
"Baiklah, diskusikan hal ini dengannya, jika kalian setuju, aku akan menyiapkan kontraknya," ucap Evan.
"Oke," balas Aleea dengan menganggukkan kepalanya.
Aleea dan Evan kemudian membicarakan banyak hal sebelum akhirnya mereka meninggalkan kafe.
"Aku akan mengantarmu pulang!" ucap Evan.
"Tidak perlu Evan, aku sudah terbiasa pergi kemanapun sendiri sekarang," balas Aleea.
"Kau selalu seperti itu Aleea," ucap Evan.
"Aku sedang belajar untuk bisa lebih mandiri Evan, meskipun pada kenyataannya aku masih banyak merepotkanmu hehe," balas Aleea.
"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan olehmu Aleea, aku senang jika aku bisa membantumu," ucap Evan.
Mereka kemudian berpisah di depan kafe saat Aleea masuk ke dalam taksi yang sudah dipesannya. Sedangkan Evan baru mengendarai mobilnya pergi setelah taksi membawa Aleea pergi.
"Kau harus membiarkanku membantumu Aleea, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menebus rasa bersalahku," ucap Evan dengan menghela napasnya panjang.
__ADS_1