Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Malam Pertama di Paris


__ADS_3

Di depan rumah, Aleea masih bersama Evan. Mereka mengobrol beberapa saat setelah mereka baru saja keluar dari mobil.


"Apa kau sudah memberi tahu Tika tentang rencana kepergianmu ke Paris, Aleea?" tanya Evan pada Aleea.


"Aku sudah memberi tahunya, aku sangat beruntung karena dia selalu memberikan pengertian padaku," jawab Aleea.


"Sepertinya dia teman yang baik," ucap Evan.


"Kau benar, dia memang sangat baik, itu kenapa aku sangat percaya padanya," balas Aleea.


"Tapi kau tidak bisa mempercayai orang lain sepenuhnya Aleea, agar kau tidak kecewa seperti sebelumnya," ucap Evan.


"Tapi aku yakin kau tidak akan mengecewakanku, benar begitu bukan?"


Evan hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.


"Baiklah, terima kasih sudah mengantarku, kau harus pulang sekarang!" ucap Aleea yang dibalas anggukan kepala oleh Evan.


Evan kemudian masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarai mobilnya pergi.


Sedangkan Aleea, masuk ke dalam rumah, tanpa ragu membawa langkahnya menaiki tangga ke arah kamarnya.


"Sepertinya kau bersenang-senang dengannya!" ucap Nathan yang berdiri di depan pintu kamarnya.


Aleea hanya diam, tidak mengindahkan ucapan Nathan yang ia tau tertuju padanya.


"Evan memang sangat baik, bahkan terlalu baik hingga bersikap bodoh, jadi berhentilah memanfaatkannya hanya untuk kepentinganmu!" ucap Nathan.


Aleea yang baru saja memegang handle pintu kamarnya seketika urung membuka pintu kamarnya.


Ucapan Nathan yang pada awalnya ia acuhkan mulai membuat Aleea tersinggung.


"Aku sama sekali tidak berniat memanfaatkan Evan, dia memang baik bahkan sangat baik padaku, sangat berbeda denganmu yang pernah mengaku mencintaiku!" ucap Aleea.


"Tapi aku tidak sejahat kau Nathan, aku tidak mungkin memanfaatkan seseorang hanya untuk kepentinganku sendiri!" lanjut Aleea dengan menatap kedua mata Nathan.


"Apa maksudmu? kau tidak tahu apapun tentang....."


"Aku memang tidak mengingat apapun Nathan, tapi dengan menahanku disini tanpa alasan sudah membuatku yakin jika pernikahan kita hanyalah untuk kepentinganmu sendiri yang bahkan aku tidak tahu," ucap Aleea memotong ucapan Nathan.


"Hilang ingatan sepertinya membuat ucapanmu melantur Aleea!" ucap Nathan lalu masuk ke dalam kamar dengan membanting pintunya.


Sedangkan Aleea masih berdiri di tempatnya, menghela napasnya panjang lalu masuk ke kamarnya. Tak lupa ia mengunci pintu kamarnya agar Nathan tidak sembarangan masuk ke kamarnya.


Aleea menaruh tasnya di meja lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Kedua matanya menatap langit-langit kamar yang semakin lama terlihat semakin samar karena genangan air mata di kedua matanya.


Meskipun ia selalu berusaha untuk terlihat tegar, namun kesedihan tetap selalu ada di dalam hatinya, membuat bulir bening akhirnya menetes dari kedua sudut matanya.


Menjalani hidupnya tanpa ingatan masa lalu seperti menjalani hidup tanpa arah bagi Aleea.


Hanya Nathan satu-satunya laki-laki yang ia percaya setelah ia membuka matanya di rumah sakit saat ia baru saja kehilangan ingatannya.


Namun semakin lama bersama Nathan membuat Aleea berpikir jika mereka tidak pernah saling mencintai.


Kesepakatan pernikahan konyol dan sikap Nathan yang berubah drastis membuat Aleea yakin jika ada sesuatu yang Nathan sembunyikan darinya.


Tapi meskipun ia tidak merasa mencintai Nathan, rasa sedih dan kecewa masih terpatri kuat dalam hatinya saat ia tahu jika Nathan tidak mencintainya.


Melupakan Nathan adalah jalan satu-satunya bagi Aleea untuk menyamarkan kesedihan yang ia rasakan, menyibukkan dirinya di luar rumah dan banyak melakukan kegiatan bersama temannya.


Hanya itu yang bisa Aleea lakukan untuk menjaga pikirannya tetap waras dan beruntung ia memiliki teman yang baik, Evan dan Tika.


Aleea menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan, berusaha meleburkan semua rasa sedih yang menyesakkannya.


Aleea kemudian beranjak dari ranjangnya, masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah shower dalam waktu yang cukup lama.


"Semuanya akan baik-baik saja Aleea, jalani saja apa yang saat ini ada di depan mata, berbahagialah Aleea, bahagiakan hidupmu sendiri tanpa bergantung pada Nathan!" ucap Aleea pada dirinya sendiri.


Setelah puas menghabiskan waktu di bawah guyuran air shower, Aleea keluar dari kamar mandi, berganti pakaian lalu mengerjakan pekerjaannya yang tertunda.


**


Hari-hari telah berlalu, tiba waktunya bagi Aleea dan Nathan untuk pergi ke Paris.


Sebelumnya, Aleea sudah memberi tahu Tika tentang rencana kepergiannya. Meskipun berat untuk meninggalkan pekerjaannya, tetapi Aleea tidak memiliki pilihan lain selain harus tetap pergi bersama Nathan.


Tepat pukul 7 malam, Aleea dan Nathan sampai di bandara Paris. Mereka keluar dari bandara bersama seseorang yang sudah ditugaskan oleh Hanna untuk menjemput Aleea dan Nathan.

__ADS_1


Aleea dan Nathan kemudian diantarkan ke hotel, tempat mereka akan menginap selama satu minggu.


Sebelum pergi, orang suruhan Hanna memberikan kunci mobil pada Nathan dan memberi tahu Nathan jika mobil yang akan dipakai Nathan sudah ada di basement hotel.


Tanpa berbasa-basi lebih lama, Aleea dan Nathan kemudian masuk ke kamar mereka.


Saat pertama kali masuk ke kamar yang sudah dipesan oleh Hanna, Aleea begitu takjub dengan kamar mewah yang akan ia tempati selama satu minggu disana.


Terdapat sofa panjang serta meja dan beberapa rak kecil yang ada disana. Di sisi lain, ada ruangan terpisah yang berisi ranjang besar, meja serta lemari pakaian.


Bagian kamar mandi menjadi satu dengan kamar yang hanya dibatasi oleh dinding kaca tebal yang terlihat buram dengan bathub luas di dalamnya.


Tak hanya bagian dalam hotel yang membuat Aleea takjub, pemandangan luar dari dalam kamar hotelnya juga sangat indah.


Dari balkon kamar hotelnya, Aleea bisa melihat hamparan lampu-lampu yang menghiasi malam dan tak jauh dari matanya memandang, ia bisa melihat menara Eiffel yang menjulang tinggi dengan kerlip lampunya yang indah.


Berbeda dengan Aleea yang sangat antusias dengan kamar dan pemandangan dari kamar hotelnya, Nathan justru hanya diam di atas sofa sambil memeriksa ponselnya.


Kamar hotel mewah bukanlah hal baru bagi Nathan, bahkan ia sudah merasakan hal seperti itu sejak ia masih kecil.


"Tutup jendelanya Aleea, kau benar-benar norak sekali!" ucap Nathan dengan nada kesal.


"Pemandangan disini benar-benar indah, rasanya aku tidak akan bisa tidur malam ini!" ucap Aleea yang tidak menghiraukan ucapan Nathan.


Nathan kemudian beranjak dari sofa lalu berjalan ke arah balkon, bukan untuk menghampiri Aleea di balkon, tapi berniat untuk menutup pintu balkon.


"Nikmati malammu disana jika kau lebih senang berada disana!" ucap Nathan sambil menutup pintu balkon.


"Nathan, buka pintunya!" ucap Aleea sambil berusaha membuka pintu balkon yang ditahan oleh Nathan.


Karena pintu itu adalah pintu kaca yang tebal, Nathan bisa melihat raut wajah Aleea yang tampak kesal dan panik saat itu.


Saat Aleea tengah berusaha menarik pintu, Nathan tiba-tiba melepasnya begitu saja, membuat pintu seketika terbuka dan Aleeapun jatuh terduduk di lantai balkon.


Melihat Aleea yang terjatuh, bukannya menolong, Nathan hanya tersenyum tipis lalu berlalu pergi begitu saja.


"Benar-benar laki-laki tidak punya hati!" gerutu Aleea kesal sambil beranjak dari lantai lalu meninggalkan balkon.


Tak lupa Aleea menutup pintu dan gorden lalu berjalan masuk ke kamar. Aleea berjalan masuk begitu saja dan begitu terkejut saat melihat Nathan yang tidak memakai sehelai benangpun di bagian atas tubuhnya.


Aleea seketika berteriak dan menutup kedua matanya dengan tangannya, namun masih berdiri di tempatnya.


"Pelankan suaramu Aleea, kau sangat berlebihan!" ucap Nathan yang segera mengenakan pakaiannya.


"Aku masih memakai celana Aleea, kenapa pikiranmu kotor sekali!" ucap Nathan lalu berjalan keluar dari kamar.


Menyadari Nathan yang sudah keluar dari kamar, Aleeapun segera masuk ke dalam kamar, mengambil pakaiannya dari dalam koper lalu masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


Tanpa ragu Aleea melepas pakaiannya di kamar mandi, karena tanpa ia tahu kaca tebal yang terlihat buram itu ternyata memberikan pantulan dirinya dengan jelas jika dilihat dari luar kamar mandi.


Di sisi lain, karena ponselnya tertinggal di kamar, Nathanpun masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya.


Saat baru saja masuk ke dalam kamar, Nathan yang tidak mendapati Aleea disana segera mengedarkan pandangannya dan begitu terkejut dengan apa yang ia lihat.


Untuk beberapa saat Nathan hanya terdiam, menatap Aleea yang sedang berganti pakaian di dalam kamar mandi.


Tanpa sadar Nathan menelan ludahnya sendiri saat melihat apa yang selama ini tidak pernah ia lihat.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Nathan berdering, menyadarkan Nathan dari pikiran liarnya. Nathanpun segera mengalihkan pandangannya, mengambil ponselnya lalu segera keluar dari kamar dan duduk di sofa.


Nathan menggenggam ponselnya di tangannya, degup jantungnya berdetak begitu cepat. Entah kenapa ia merasa gugup dan gelisah saat itu.


Tiba-tiba Aleea keluar dari kamar dan membawa dirinya duduk di sofa yang ada di depan Nathan.


"Ada apa denganmu? sepertinya disini cukup dingin, kenapa kau berkeringat?" tanya Aleea pada Nathan yang saat itu segera berpura-pura sibuk dengan ponselnya saat melihat Aleea keluar dari kamar.


"Aku..... aku tidak terbiasa tanpa AC," jawab Nathan.


"Hmmm.... lihatlah, siapa yang norak sekarang!" ucap Aleea dengan tersenyum tipis, mengejek.


Nathan seketika beranjak dari duduknya, membawa langkahnya keluar ke balkon untuk mencari udara segar.


"Ada apa denganku? aku pasti sudah gila!" batin Nathan dalam hati sambil menyeka keringat di keningnya.


"Nathan!" panggil Aleea dari pintu balkon yang membuat Nathan begitu terkejut.

__ADS_1


"Astaga, kau mengejutkanku Aleea!" ucap Nathan yang terlihat benar-benar terkejut saat itu.


"Kau berlebihan sekali, aku hanya memanggilmu!" balas Aleea.


"Aku lapar, tidak bisakah kau memesan makanan sekarang?" lanjut Aleea.


"Tidak," jawab Nathan singkat sambil membawa dirinya meninggalkan balkon lalu masuk ke dalam kamar.


"Malam ini aku yang tidur di kamar, kau tidur di sofa!" lanjut Nathan yang tidak mempedulikan Aleea yang sedang kelaparan saat itu.


Aleeapun hanya menghela napasnya kasar lalu menjatuhkan dirinya di sofa.


"Benar-benar laki-laki tidak berperasaan!" ucap Aleea kesal.


Nathan yang mendengar hal itu hanya diam. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya yang sedang kacau karena perasaan aneh yang ia rasakan saat itu.


Nathan kemudian masuk ke kamar mandi, memeriksa dinding kaca pemisah kamar dengan kamar mandi.


"Apa yang dipikirkan oleh orang yang mendesain kamar mandi ini? kenapa dari dalam tidak terlihat apapun sedangkan dari luar terlihat begitu jelas? benar-benar aneh, desain yang tidak masuk akal!" gerutu Nathan.


Nathan kemudian membasuh wajahnya di wastafel beberapa kali sebelum ia menjatuhkan dirinya di ranjang.


"Tidurlah Nathan, jangan memikirkan apapun!" batin Nathan pada dirinya sendiri.


Namun bukannya tidur, kepala Nathan justru memutar kejadian yang sejak tadi membuatnya gugup dan gelisah.


Nathan kemudian mengambil laptopnya, membaca beberapa laporan yang Evan kirimkan padanya, berniat untuk melupakan apa yang baru saja dilihatnya dan mengalihkan pikirannya pada pekerjaannya.


Namun beberapa kali kedua mata Nathan mengarah pada dinding kaca kamar mandi, seolah bayangan Aleea masih ada disana.


Menyadari apa yang terjadi, Nathan segera menggelengkan kepalanya, berusaha mengembalikan fokusnya pada laporan pekerjaan yang ada pada laptopnya.


Entah karena sudah mengantuk atau karena terlalu lelah, Nathanpun terpejam dengan posisi duduk di atas ranjang dan laptop yang masih berada di pangkuannya.


Tak lama kemudian Nathan merasa seseorang menyentuh tangannya, mengambil laptop dari pangkuannya lalu berbisik padanya.


"Berbaringlah Nathan, tidurlah dengan nyaman!"


Nathan mendengar suara samar itu sambil merubah posisinya untuk berbaring di ranjangnya.


Saat baru saja membaringkan badannya, Nathan segera menarik tangan seseorang yang ada di samping ranjang dengan cepat.


Karena terkejut, seseorang itupun terjatuh dan wajahnya tepat berada di atas wajah Nathan.


Nathan membuka matanya dan melihat gadis cantik tepat di depan kedua matanya. Jarak mereka berdua sangat dekat saat itu dan entah mendapat bisikan dari mana, kedua tangan Nathan memeluk punggung gadis cantik itu dan sedikit menekannya.


Alhasil, kedua bibir mereka saling bersentuhan untuk waktu yang cukup lama.


Nathan kemudian membawa tangannya mengusap punggung gadis cantik itu, namun seketika si gadis segera beranjak dan menjauh dari Nathan.


"Aleea!" panggil Nathan.


Aleea kemudian segera berlari keluar dari kamar, sedangkan Nathan segera beranjak dari ranjangnya untuk mengejar Aleea.


Nathan sudah tidak memikirkan apapun lagi saat itu, ia hanya mengikuti apa yang ada di kepalanya saja.


Melihat pintu balkon terbuka, Nathan segera membawa langkahnya ke arah balkon dan melihat Aleea yang berdiri disana.


Nathanpun segera menarik tangan Aleea dan membawa Aleea mendekat padanya.


Kedua mata mereka saling bertemu dan mereka hanya terdiam tanpa mengatakan apapun.


Nathan kemudian mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupannya di bibir Aleea.


Aleea yang tidak merespon membuat Nathan semakin menekan Aleea agar mendekat padanya.


Malam yang cukup dingin akhirnya membawa mereka saling bertaut dengan kedua tangan yang saling memeluk.


Nathan kemudian mengangkat tubuh Aleea, membawa Aleea masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan Aleea di atas ranjang.


Lagi-lagi tidak ada satu katapun yang terucap dari mereka berdua, nathan segera melepas satu per satu kancing piyamanya dan menjatuhkan dirinya di atas Aleea yang sudah berbaring.


"Kau.... milikku!" ucap Nathan dengan nafasnya yang mulai berat.


Aleea hanya diam, namun mengalihkan pandangannya dari Nathan, membuat Nathan memegang wajah Aleea dan mengarahkan pandangan Aleea padanya.


"Hanya aku yang bisa memilikimu, Aleea!" ucap Nathan dengan degup jantungnya yang semakin tak terkendali.

__ADS_1


__ADS_2