Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Keputusan Aleea


__ADS_3

Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Aleea dan Tika sampai di ruko mereka.


Sepanjang jalan sampai mereka tiba di ruko, Aleea masih memikirkan tentang apa yang seharusnya ia lakukan, apakah membiarkan Nathan membantunya atau menolaknya.


Sesampainya di ruko, Aleea dan Tika membagi tugas seperti biasa, Aleea membersihkan ruko dan Tika menyiapkan adonan.


Waktupun berlalu, Aleea dan Tika sama-sama menata kue dan roti mereka di dalam etalase.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Tika berdering, sebuah pesan masuk dari grup kelas memasak mereka.


Setelah Tika membacanya, Tika memberikan ponselnya pada Aleea agar Aleea juga membacanya.


"Jangan lupa, ini hari terakhir untuk mendaftar bazar, siapa cepat dia dapat!"


Aleea dan Tika seketika saling pandang setelah Aleea membaca pesan itu.


"Keputusan ada padamu Aleea!" ucap Tika dengan tersenyum.


Aleea menghela napasnya panjang lalu membawa dirinya duduk, berusaha berpikir dengan jernih sebelum ia mengambil keputusan.


"Aku membutuhkan ponselku karena banyak hal penting disana, tetapi apa aku harus membiarkan Nathan membantuku?" batin Aleea bertanya dalam hati.


Aleea kemudian membawa pandangannya pada Tika yang sedang membersihkan meja, ia terdiam untuk beberapa saat dan kembali menghela napasnya panjang.


"Jangan terlalu terbebani dengan hal ini Aleea, aku akan menyetujui apapun keputusanmu, jika memang kita tidak bisa mengikuti bazar itu, mungkin akan ada bazar lain yang bisa kita ikuti, entah kapan itu!" ucap Tika yang mengerti kegelisahan Aleea saat itu.


"Kenapa kau sangat baik padaku Tika? kau membuatku sangat merasa bersalah jika kita tidak bisa mengikuti bazar Minggu nanti!"


"Hahaha.... jangan mengatakan hal itu Aleea, ini adalah toko kue kita, ini adalah bisnis kita berdua, aku tidak bisa egois dengan hanya mementingkan keinginanku sendiri, jadi aku memahami kesulitanmu Aleea, jangan khawatir!" ucap Tika.


"Egois? Tika benar, aku tidak boleh egois, ini adalah bisnis yang aku jalani bersama Tika, hanya karena masalah pribadiku dan Nathan, aku tidak boleh mengambil keputusan secara personal," ucap Aleea dalam hati.


"Aku tau apa yang harus aku lakukan sekarang," ucap Aleea.


"Benarkah? apa itu?" tanya Tika.


"Tapi sebelumnya aku harus pastikan dulu, apa kau sungguh tidak keberatan jika Nathan membantu kita di bazar nanti?"


"Tentu saja tidak, aku akan sangat berterima kasih pada siapapun yang mau membantu kita," jawab Tika tanpa ragu.


"Baiklah kalau begitu, aku akan membiarkan Nathan membantu kita," ucap Aleea.


"Benarkah? apa kau serius?" tanya Tika penuh semangat.


"Kenapa tiba-tiba kau sangat bersemangat?" balas Aleea bertanya.


"Asal kau tahu Aleea, sejak kemarin aku memikirkan masalah ini, aku berusaha menghubungi semua temanku disini tapi tidak ada yang bisa membantuku, aku benar-benar sangat stres, apa lagi saat mendengar pengumuman baru tadi pagi!" jelas Tika.


"Jadi aku sangat senang jika ada yang mau membantu kita, entah itu Nathan atau siapapun, aku akan benar-benar sangat berterima kasih padanya!" lanjut Tika.


"Maafkan aku Tika, aku tidak bisa banyak membantu untuk bisnis kita," ucap Aleea yang merasa bersalah.


"Justru kau yang banyak andil dalam bisnis ini Aleea, lebih dari 50% modal untuk bisnis ini adalah darimu, apa kau lupa itu?" balas Tika.


Aleea tersenyum lalu beranjak dari duduknya dan memeluk Tika yang berdiri di dekatnya.


"Aku benar-benar sangat beruntung karena bisa berteman denganmu, Tika!" ucap Aleea.


"Aku juga sangat beruntung berteman denganmu, Aleea," balas Tika.


"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" lanjut Tika bertanya sambil melepaskan dirinya dari pelukan Aleea.


"Aku harus menemui Nathan, lagi pula aku juga sangat membutuhkan ponselku!" jawab Aleea.


"Apa kau tidak keberatan jika aku pergi menemui Nathan sekarang?" lanjut Aleea bertanya.


"Tidak, pergilah dan bawa kembali ponselmu!" jawab Tika dengan penuh senyum.


Aleea kemudian meminta tolong Tika untuk memesan taksi, setelah taksi datang, Aleeapun segera meninggalkan ruko, pergi ke kantor untuk menemui Nathan.


Aleea sengaja menemui Nathan secepat mungkin karena ia harus memastikan jika Nathan benar-benar mau membantunya agar ia bisa segera mendaftarkan toko kuenya untuk mengikuti bazar.


Sesampainya di kantor, Aleea segera membawa langkahnya masuk. Karena sudah mengetahui letak ruangan Nathan, Aleea segera masuk ke dalam lift yang membawanya ke ruangan Nathan berada.


TRIING


Pintu lift terbuka, Aleea keluar dari lift tanpa membawa pandangannya sedikitpun pada Vina yang berdiri di depan lift.


Vina yang melihat Aleea datang, segera membawa langkahnya mengikuti Aleea dan menahan tangan Aleea.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Vina sambil menahan tangan Aleea.


"Apa aku harus mengatakannya padamu?" balas Aleea sambil menarik tangannya dari Vina.


"Kau pasti ingin mempengaruhi Nathan bukan? kau pasti....."

__ADS_1


"Ini di kantor Vina, tolong jaga sopan santunmu, kau tau siapa aku bukan?" ucap Aleea memotong ucapan Vina lalu berjalan pergi meninggalkan Vina.


Sedangkan Vina masih berdiri di tempatnya dengan kesal.


"Semakin lama dia semakin sombong, sangat menyebalkan!" ucap Vina dalam hati dengan raut wajah yang terlihat kesal.


Di sisi lain, Nathan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya sengaja mengabaikan ketukan pintu yang ia dengar.


Namun saat pintu terbuka, Nathan begitu terkejut saat melihat Aleea yang masuk ke ruangannya.


"Akhirnya kau datang juga!" ucap Nathan dengan penuh senyum.


"Tidak perlu berbasa-basi, kembalikan ponselku!" ucap Aleea dengan tegas.


"Duduklah Aleea, jaga emosimu, kau akan semakin cepat tua jika terlalu sering marah!" ucap Nathan sambil menggeser kursi agar Aleea duduk.


"Aku tidak ingin berlama-lama disini Nathan, jadi....."


KRIIIING


Aleea menghentikan ucapannya saat telepon di atas meja Nathan berdering.


"Sebentar!" ucap Nathan pada Aleea lalu menerima panggilan itu.


"Meeting 5 menit lagi, jangan terlambat hanya karena ada istrimu disini!" ucap Vina dengan ketus.


"Tunda meeting setelah jam makan siang, aku tidak bisa meninggalkan istriku disini," balas Nathan dengan tersenyum pada Aleea, sedangkan Aleea yang melihatnya seketika mengalihkan pandangannya dari Nathan


"Tapi Nathan....."


"Ini perintah!" ucap Nathan memotong ucapan Vina lalu menutup teleponnya.


"Aku menunda meeting hanya untuk mengobrol denganmu Aleea, jadi jangan sia-siakan waktu yang sudah aku berikan padamu!" ucap Nathan pada Aleea.


"Kau sangat berlebihan Nathan, sangat kekanak-kanakan dan egois!" balas Aleea.


"Terserah apa yang kau katakan tentangku, sekarang katakan padaku apa keputusanmu!" ucap Nathan.


Aleea menghela napasnya panjang lalu membawa pandangannya menatap kedua mata Nathan.


"Apa kau sungguh ingin membantu acara bazar hari Minggu nanti?" tanya Aleea memastikan.


"Tentu saja, apa kau meragukanku?" balas Nathan penuh keyakinan.


"Aku bahkan sudah tidak mempercayaimu Nathan," ucap Aleea.


"Bazar nanti adalah hal yang sangat penting untuk temanku Nathan, dia sangat berusaha keras untuk bisa membangun bisnis kecilnya itu, jadi aku mohon padamu, jangan mempermainkannya!" ucap Aleea.


"Aku sama sekali tidak berniat untuk mempermainkan siapapun Aleea, aku hanya ingin membantu!" balas Nathan.


"Apa kau bisa memberi tahuku alasanmu? pasti ada alasan kenapa kau mau membantu bukan?" tanya Aleea.


Nathan terdiam untuk beberapa saat. Pertanyaan yang Aleea tanyakan membuatnya bertanya pada dirinya sendiri.


"Alasan? alasan apa? aku juga tidak mengerti kenapa aku mau terlibat dengan urusannya!" batin Nathan dalam hati.


"Ingatanku memang belum kembali, tetapi semakin lama aku semakin mengerti dirimu Nathan, kau tidak mungkin membantu dengan tiba-tiba tanpa alasan yang pasti, benar bukan!"


Nathan masih terdiam, untuk beberapa saat ia merasa dirinya sangat bodoh saat itu. Ia berusaha keras untuk memberikan alasan yang masuk akal bagi Aleea.


"Kau benar, aku memang memiliki alasan kenapa aku mau terlibat dalam hal yang sangat tidak penting itu!" ucap Nathan.


"Sudah ku duga, jadi apa alasanmu?" tanya Aleea sebelum ia memutuskan untuk benar-benar membiarkan Nathan terlibat.


Aleea tidak ingin terlibatnya Nathan memberikan pengaruh yang buruk untuk bisnisnya bersama Tika karena Nathan memang selalu memiliki alasan atas apa yang ia lakukan.


"Sepertinya aku belum memberi tahumu jika mama menemuiku kemarin," ucap Nathan.


"Apa mama marah karena kita pulang lebih cepat?" tanya Aleea.


"Tentu saja, mama bahkan mencurigai kita, mama berpikir jika kita memang ingin pulang cepat karena hubungan kita yang tidak baik-baik saja dan kau tau bukan siapa yang akan mama curigai jika mama mengetahui hubungan kita tidak baik-baik saja!"


"Evan?" terka Aleea yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Nathan.


"Apa lagi mama tahu jika Vina juga berada di Paris saat itu, aku tidak mungkin memberi tahu mama jika kau yang membuat Vina mendatangiku dan sudah pasti mama menduga jika Evan yang memberi tahu Vina," ucap Nathan.


"Lalu apa yang kau katakan pada mama?" tanya Aleea penasaran, khawatir jika terjadi kesalahpahaman antara mama Nathan dan Evan.


"Aku berusaha untuk meyakinkan mama jika hubungan kita baik-baik saja dan Evan tidak hubungannya dengan adanya Vina di Paris," jawab Nathan.


"Jadi, aku sengaja ingin terlibat dengan kegiatanmu agar mama percaya jika hubungan kita baik-baik saja," lanjut Nathan.


"Aaahhh.... jadi itu alasanmu?"


"Aku tidak mungkin melakukan hal yang sia-sia Aleea, jadi yaaa...... itulah alasanku," ucap Nathan.


"Baiklah kalau begitu, kau bisa ikut membantu, asalkan kau kembalikan ponselku!" ucap Aleea.

__ADS_1


"Dengan senang hati," balas Nathan lalu mengambil ponsel Aleea di laci mejanya lalu memberikannya pada Aleea.


"Aku mohon padamu Nathan, jangan membuat masalah yang akan mempengaruhi bisnis temanku, meskipun itu bukan hal yang penting buatmu, tapi itu adalah hal yang sangat penting bagi temanku!" ucap Aleea.


"Aku harap aku bisa mempercayaimu, kali ini saja!" lanjut Aleea.


Nathan hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.


"Kau memang harus mempercayaiku Aleea dan aku akan membuatmu mempercayaiku sepenuhnya!" ucap Nathan dalam hati.


"Baiklah, sekarang aku harus pergi!" ucap Aleea lalu beranjak dari duduknya, namun Nathan segera memegang kedua bahu Aleea, membuat Aleea kembali terduduk di tempatnya.


"Apa lagi?" tanya Aleea dengan mendongakkan kepalanya menatap Nathan yang masih memegang kedua bahunya.


Di sisi lain, Evan yang akan menemui Nathan seketika terdiam saat melihat Nathan dan Aleea dari depan ruangan Nathan yang hanya terhalang dinding kaca.


Meskipun tidak mendengar dan mengetahui apa yang terjadi di dalam, tetapi melihat Nathan dan Aleea dengan jarak yang sangat dekat membuatnya kesal.


Evanpun segera membawa langkahnya pergi, masuk ke ruangannya dengan melempar map ke atas mejanya.


"Apa yang Aleea lakukan disini?" Tanya Evan pada dirinya sendiri.


Evan menghela napasnya panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri yang sedang kesal tanpa alasan.


Di tempat lain, Nathan sengaja menahan Aleea di ruangannya.


"Aku harus pergi Nathan!" Ucap Aleea kesal.


"Aku akan mengantarmu," balas Nathan.


"Tidak perlu, aku sudah terbiasa kemanapun sendirian!" Ucap Aleea sambil mendorong Nathan agar menjauh darinya.


"Kalau begitu aku akan memesan taksi untukmu," ucap Nathan lalu mengambil ponselnya untuk memesan taksi.


"Tidak perlu Nathan, aku bukan Vina, aku bisa memesan taksi sendiri!" Ucap Aleea yang segera beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Nathan.


Nathanpun segera berlari kecil mengikuti Aleea lalu meraih tangan Aleea dan menggenggamnya.


"Apa ini perlu?" Tanya Aleea berbisik.


"Tentu saja," jawab Nathan dengan penuh senyum.


Aleea hanya menghela napasnya dan membiarkan Nathan menggenggam tangannya.


"Ada apa sebenarnya dengan laki-laki dingin ini?" Batin Aleea bertanya dalam hati.


Nathan menggenggam Aleea sampai mereka melewati lobby, tidak peduli pada beberapa pasang mata yang menatap ke arah mereka.


"Kau yakin tidak ingin aku antar?" Tanya Nathan pada Aleea.


"Iya, lanjutkan saja pekerjaanmu, aku bisa pulang sendiri," jawab Aleea.


"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan!" Ucap Nathan sambil membawa Aleea ke dalam dekapannya.


Aleea yang terkejutpun berusaha untuk sedikit meronta, namun Nathan semakin erat memeluknya.


"Jangan membuat orang lain curiga Aleea!" Bisik Nathan dengan sangat pelan.


Aleeapun hanya diam, menunggu Nathan melepaskan dirinya dari pelukan Nathan.


"Istri yang baik," ucap Nathan pelan sambil menepuk kepala Aleea setelah ia melepaskan Aleea dari pelukannya.


Aleea hanya tersenyum tipis lalu berjalan pergi begitu saja. Saat baru saja melewati pintu utama, tiba-tiba seseorang dengan sengaja menabrak Aleea, membuat Aleea mundur beberapa langkah hingga hampir terjatuh.


"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Vina dengan tersenyum lalu berjalan pergi begitu saja.


Aleea menghela napasnya kesal lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan kantor Nathan.


Di sisi lain, Nathan sudah membawa langkahnya pergi, kembali ke ruangannya, membuatnya tidak melihat apa yang Vina lakukan pada Aleea.


Tak lama setelah Nathan duduk di kursi kerjanya, Evan masuk ke ruangannya.


"Kenapa meeting tiba-tiba ditunda?" tanya Evan pada Nathan.


"Ada hal yang lebih penting yang harus aku selesaikan," jawab Nathan.


"Lebih penting dari pekerjaan?" tanya Evan.


"Iya, kau tau aku tidak mungkin melakukan sesuatu yang sia-sia bukan!" jawab Nathan.


"Sejak kapan Aleea menjadi hal yang penting untukmu?" tanya Evan.


"Aaahh kau mengetahuinya rupanya, aku sedang menjalankan rencanaku Evan dan seperti yang kau tau, Aleea adalah bagian dari rencana besarku!" ucap Nathan.


"Apa sebenarnya rencanamu Nathan? kenapa kau sama sekali tidak memberi tahuku?" tanya Evan.


"Karena aku tau kau sudah melibatkan perasaanmu dalam hal ini," jawab Nathan dalam hati tanpa mengatakan apapun pada Evan.

__ADS_1


__ADS_2