
Nathan masih bersama sang mama, ia berusaha untuk meyakinkan sang mama jika tidak ada hubungan apapun antara Aleea dan Evan.
"Nathan mohon agar mama tidak berpikiran terlalu jauh tentang Aleea dan Evan, mereka adalah dua orang yang sangat Nathan percaya dan Nathan harap mama juga bisa mempercayai mereka," ucap Nathan pada sang mama.
"Bukankah sebaiknya kita tidak terlalu mempercayai orang lain, Nathan? kita bahkan tidak tau apa yang ada dalam pikiran mereka!" balas Hanna.
"Mama benar, tetapi itu tidak berlaku untuk Aleea dan Evan, Aleea adalah perempuan yang Nathan cintai sedangkan Evan adalah sahabat terbaik Nathan, mama ingat bukan bagaimana Evan hampir kehilangan nyawanya demi Nathan?"
Hanna terdiam untuk beberapa saat, memorinya mengulas kembali kejadian di masa lalu yang tidak seharusnya terjadi.
Hanna sangat mengerti bagaimana kedekatan Nathan dan Evan sejak mereka berada di bangku sekolah. Ia juga tau jika Evan banyak membantu Nathan menyelesaikan masalahnya di sekolah.
**Flashback masa lalu Nathan dan Evan**
"Hari ini kau harus tetap berada di rumah Nathan, orang-orang itu akan mengincarmu untuk membalas dendamnya pada papa!" ucap Aryan pada Nathan yang saat itu masih duduk di bangku SMA.
"Tapi hari ini tim basket Nathan harus bertanding pa, Nathan harus tetap berangkat ke sekolah!" protes Nathan.
"Tidak Nathan, jika perlu mama dan papa akan mengirimmu ke luar negeri secepatnya!" sahut Hanna.
"Mama dan papa sangat berlebihan, Nathan akan bertanding basket dengan banyak orang di sekitar Nathan, tidak akan ada siapapun yang akan mencelakai Nathan!" ucap Nathan.
"Tidak, kau tidak boleh keluar dari kamar ini sebelum mama dan papa menyiapkan kepindahanmu ke luar negeri!" ucap Hanna lalu keluar dari kamar Nathan dengan menutup pintu dan menguncinya dari luar.
Nathan mengepalkan kedua tangannya dengan penuh amarah dalam dirinya. Ia merasa kedua orang tuanya sudah sangat berlebihan dalam menjaganya hanya karena ancaman rival perusahaan orang tuanya.
Tanpa berpikir panjang, Nathan segera menghubungi Evan dan memberi tahu Evan apa yang sedang terjadi padanya.
"Aku tidak mungkin berdiam diri disini Evan, kita sudah berlatih untuk bisa mengikuti kejuaraan ini!" ucap Nathan pada Evan.
"Tapi bagaimana jika apa yang orang tuamu khawatirkan benar-benar terjadi? bukankah memang sedang ada masalah besar di perusahaan papamu?" tanya Evan.
"Aku tidak peduli, itu masalah mereka, bukan masalahku, sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya agar aku bisa tetap mengikuti pertandingan basket itu!" balas Nathan.
Evan terdiam untuk beberapa saat, memikirkan cara untuk membantu sahabatnya itu.
"Apa kau bisa keluar dari kamarmu?" tanya Evan.
"Aku bisa saja keluar dari kamar, tapi aku tidak bisa keluar dari rumah karena banyak yang berjaga di depan rumah," jawab Nathan.
"Kalau begitu keluarlah dari kamarmu, aku akan kesana dengan menggunakan jersey hoodie milikku, setelah itu kita bertukar pakaian dan kau keluar dari rumah dengan menggunakan pakaian milikku," ucap Evan.
"Lalu kau akan keluar dengan menggunakan pakaian milikku setelah aku keluar?" tanya Nathan.
"Yaapp, betul sekali!" balas Evan.
"Good idea, aku akan bersiap sekarang, cepatlah berangkat sebelum kita terlambat!" ucap Nathan.
Setelah panggilannya berakhir, Nathan kemudian mengambil tasnya yang berisi pakaiannya untuk bermain basket lalu keluar dari kamarnya melalui jendela.
Meskipun berada di lantai dua, Nathan bisa menuruni balkon dengan pelan dan hati-hati sampai akhirnya ia menjatuhkan dirinya di halaman samping rumahnya tanpa ada siapapun yang mengetahuinya.
Di sisi lain, Evan yang baru saja tiba segera diberi tahu oleh satpam jika Nathan tidak diperbolehkan mengikuti pertandingan basket hari itu.
"Evan harus bertemu dengannya pak, hanya untuk memastikan, Nathan masih boleh menemui temannya bukan?"
"Baiklah, tapi jangan terlalu lama," balas satpam.
Setelah diizinkan masuk, diam-diam Evan berjalan ke arah halaman yang ada di samping rumah Nathan dimana sudah ada Nathan yang menunggunya disana.
Evanpun segera melepas pakaiannya dan memberikannya pada Nathan.
"Apa aku sudah mirip denganmu?" tanya Nathan setelah ia memakai jersey hoodie dengan nama Evan di bagian belakangnya.
Evan hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum sambil menutup kepala Nathan dengan tudung hoodienya.
"Tundukkan kepalamu dan berlari pelan saja, sudah ada taksi yang menunggu tepat di depan gerbang," ucap Evan.
"Terima kasih Evan, kau memang selalu bisa diandalkan, setelah aku pergi kau juga harus cepat pergi, aku menunggumu di tempat pertandingan!" ucap Nathan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Evan.
__ADS_1
Nathan kemudian berjalan pergi, ia berlari kecil melewati beberapa penjaga yang ada di pos satpam rumahnya lalu segera masuk ke dalam taksi tanpa dicurigai siapapun yang ada disana.
Setelah memastikan jika Nathan sudah berhasil pergi, Evanpun segera mengenakan jersey hoodie yang bertuliskan nama Nathan di bagian belakang lalu menutup kepalanya dengan tudung dan berlari cepat melewati pos satpam yang tentu saja segera ditahan oleh para penjaga disana.
Namun saat Evan melepas tudung hoodienya dan menegakkan kepalanya, seketika semua yang ada disana terkejut karena mereka mengira jika seseorang yang mereka tahan saat itu adalah Nathan.
"Hehe.... maaf, permisi!" ucap Evan dengan terkekeh lalu segera berlari pergi.
Sedangkan pak satpam dan para penjaga segera memberi tahu orang tua Nathan tentang hal itu.
Orang tua Nathanpun segera meminta para penjaga yang ada di rumah untuk mencari keberadaan Nathan yang mereka duga berada di tempat pertandingan basket.
Namun saat baru saja mobil para penjaga itu keluar dari gerbang rumah, terlihat sebuah mobil yang melaju kencang dan menabrak seorang laki-laki dengan jersey hoddie yang bertuliskan nama Nathan di bagian belakangnya.
Melihat hal itu, para penjaga segera memanggil satpam yang berada di pos satpam untuk memeriksa keadaan Evan yang sudah tergelatak dengan berlumuran darah.
Setelah Evan ditangani oleh satpam, para penjagapun segera mengejar mobil yang menabrak Evan.
Singkat cerita, mobil yang menabrak Evan itu mengira jika yang berlari keluar rumah dengan menggunakan jersey hoodie itu adalah Nathan, mereka sengaja menabraknya atas perintah seseorang yang merupakan rival perusahaan orang tua Nathan.
Karena hal itu Evan mengalami kritis di rumah sakit selama lebih dari satu bulan, sedangkan rival perusahaan orang tua Nathan berhasil dijebloskan ke penjara bersama anak buahnya yang terlibat dengan kejadian itu.
"Jika bukan karena Nathan yang meminta tolong, pasti Nathan yang seharusnya terbaring kritis di rumah sakit, bukan Evan," ucap Nathan menyesali apa yang sudah terjadi.
"Evan sangat bodoh, dia hanya memikirkan bagaimana cara membantu Nathan tanpa memikirkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi padanya," lanjut Nathan dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Berjanjilah untuk menjaga persahabatan kalian Nathan, tidak mudah mendapatkan sahabat setulus Evan," ucap Aryan sambil menepuk pelan bahu Nathan.
Pada akhirnya, Evan berhasil melewati masa kritisnya dan kembali menjalani hari-harinya dengan menyenangkan bersama Nathan.
Mereka berdua benar-benar menjadi sahabat dekat yang tidak terpisahkan bahkan sampai mereka lulus dari SMA hingga mereka kuliah dan memasuki dunia kerja.
**Flashback off**
Aleea yang baru saja kembali dari halaman belakang segera berjalan menghampiri Nathan yang sedang duduk berdua dengan Hanna.
Melihat Aleea yang berjalan ke arahnya, Nathan segera beranjak dari duduknya, menarik tangan Aleea lalu mendaratkan kecupan singkatnya di kening Aleea yang tentu saja membuat Aleea begitu terkejut.
"Nathan dan Aleea pulang dulu ma," ucap Nathan pada sang mama lalu berjalan pergi dengan menggandeng tangan Aleea.
"Apa yang kau bicarakan dengan mama, Nathan?" tanya Aleea saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Hanya membahas masalah kantor, kenapa?" balas Nathan.
"Aku hanya.... sedikit terkejut, karena kau tiba-tiba....."
"Maafkan aku jika apa yang aku lakukan tadi berlebihan," ucap Nathan memotong ucapan Aleea.
"Tidak ada yang berlebihan Nathan, kau juga tidak harus meminta maaf karena melakukan hal itu, bukankah itu hal yang wajar di lakukan apa lagi oleh suami istri?" balas Aleea.
"Apa kau menyesalinya?" lanjut Aleea bertanya dengan raut wajahnya yang berubah.
"Tidak, aku hanya.... tidak terbiasa melakukan hal itu karena kita memang bukan tipe pasangan yang suka melakukan hal itu, kau mengerti maksudku bukan?"
"Tapi apa yang kau lakukan bukan hal yang salah Nathan, justru aku merasa sangat senang," ucap Aleea.
"Aleea yang aku kenal tidak seperti itu, dia akan merasa risih dengan hal-hal semacam itu!" ucap Nathan beralasan karena sebenarnya ia sengaja melakukan hal itu di depan sang mama untuk meyakinkan sang mama jika dia benar-benar mencintai Aleea.
"Bagaimana jika aku sudah berubah? bagaimana jika aku merasa senang dengan hal itu? apa kau mau melakukannya setiap hari?" tanya Aleea.
Nathan menggelengkan kepalanya pelan dengan tersenyum yang tentu saja membuat Aleea memanyunkan bibirnya karena merasa mendapat penolakan dari Nathan.
"Tetap jadi dirimu sendiri Aleea, kita hanya akan merasa tidak nyaman jika memaksakan sesuatu yang tidak kita suka," ucap Nathan dengan pandangannya fokus pada jalan di hadapannya meskipun ia tahu jika Aleea sedang kesal saat itu.
"Aku tidak akan memaksamu Nathan, tapi apa kau akan merasa tidak nyaman jika aku yang melakukannya?" tanya Aleea.
"Mmmm.... mungkin seperti itu, karena sejak dulu kita tidak terbiasa melakukan hal itu," jawab Nathan.
Aleea hanya menghela nafasnya panjang lalu mengalihkan pandangannya dari Nathan. Dalam hatinya ia hanya berpikir jika laki-laki di sampingnya itu memang sangat dingin, jauh lebih dingin dibanding saat sebelum mereka menikah.
__ADS_1
"Apa kehilangan ingatan membuatku kehilangan jati diriku yang sebenarnya? kenapa aku bisa memutuskan untuk menikah dengan laki-laki seperti Nathan? apa sebesar itu cintaku padanya?" batin Aleea bertanya dalam hati.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di rumah. Nathan berjalan di depan Aleea tanpa sedikitpun menoleh ke arah Aleea yang berjalan di belakang Nathan.
"Dia benar-benar laki-laki yang dingin," ucap Aleea dalam hati.
**
Hari-hari telah berganti. Tiba waktunya dimana Nathan harus pergi ke luar pulau untuk memantau perkembangan proyek baru yang ada disana.
"Jangan lupa memberi kabar padaku setiap hari, setidaknya aku tau jika kau baik-baik saja disana," ucap Aleea pada Nathan.
"Aku mengerti, jika ada sesuatu kau bisa menghubungi Evan karena aku pasti sangat sibuk disana dan mungkin aku akan jarang memeriksa ponselku," balas Nathan.
"Kau suamiku, kenapa aku harus menghubungi Evan?" protes Aleea.
"Evan bisa datang kapanpun kau membutuhkannya Aleea, aku juga sudah meminta tolong padanya untuk menjagamu selama aku berada di luar pulau," balas Nathan.
Aleea hanya menghela napasnya tanpa mengatakan apapun, wajahnya tertunduk lesu karena Nathan harus pergi selama beberapa hari.
"Aku akan segera pulang setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku pergi dulu!" ucap Nathan dengan memegang bahu Aleea lalu berjalan pergi begitu saja.
"Apa kau tidak ingin memelukku sebelum pergi?" tanya Aleea setengah berteriak.
Nathan menghentikan langkahnya, menghela napasnya kesal lalu membalikkan badannya dan tersenyum.
"Merepotkan sekali," ucap Nathan dalam hati sambil membawa langkahnya menghampiri Aleea.
"Jaga dirimu baik-baik, hubungi saja Evan jika membutuhkan sesuatu karena aku akan sangat sibuk selama aku berada disana," ucap Nathan sambil memeluk Aleea.
"Kau juga harus menjaga dirimu baik-baik, jaga hatimu juga, jangan biarkan siapapun menggodamu!" balas Aleea yang semakin erat memeluk Nathan.
"Jangan khawatir, aku tidak akan tergoda oleh siapapun!" ucap Nathan lalu melepaskan Aleea dari pelukannya.
Tiba-tiba Aleea berjinjit dan mendaratkan kecupan singkatnya di pipi Nathan yang tentu saja membuat Nathan membeku saat itu.
"Jaga hatimu hanya untukku!" ucap Aleea berbisik di telinga Nathan yang membuat Nathan segera tersadar.
Nathan hanya tersenyum canggung, menepuk pelan kepala Aleea lalu berjalan pergi begitu saja.
"Apa yang baru saja dia lakukan? dia pasti sudah gila!" batin Nathan sambil mengusap pipinya saat ia sudah berada di dalam mobil.
Entah kenapa Nathan merasa dadanya tiba-tiba berdegup kencang, ia merasa gugup tanpa alasan yang ia ketahui.
**
Di tempat lain, Vina baru saja mencetak hasil kerjanya lalu membawanya ke ruangan Evan. Vina mengetuk pintu beberapa kali sebelum ia masuk dan memberikan hasil kerjanya pada Evan.
Evan kemudian mengambil sebuah map dan memberikannya pada Vina.
"Tidak perlu diselesaikan hari ini, tapi besok sore laporannya harus sudah ada disini!" ucap Nathan.
"Tapi besok saya cuti pak, jadi saya akan mengerjakannya hari ini juga," balas Vina.
"Cuti? berapa lama?" tanya Nathan.
"Hanya satu hari," jawab Vina.
"Kalau begitu kerjakan sekarang juga!" ucap Evan.
"Baik pak, permisi!"
Evan hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Ada apa dengannya? kenapa sikapnya tiba-tiba berubah? apa karena Nathan menegurnya?" batin Evan bertanya dalam hati.
"Tapi tumben sekali dia cuti, Nathan pergi ke luar pulau hari ini, bisa jadi selama 2 atau 3 hari Nathan berada disana dan tiba-tiba Vina mengambil cuti, tidak mungkin mereka merencanakan hal ini bukan?"
Evan menggelengkan kepalanya, berusaha untuk tidak berpikir negatif meskipun sebagain besar dirinya menyakini apa yang ia pikirkan saat itu.
__ADS_1
"Kau sangat keterlaluan jika kau benar-benar merencanakan semua ini untuk pergi berdua bersama Vina, Nathan!" ucap Evan dalam hati.