
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam saat Nathan baru saja keluar dari ruangannya.
Baru saja Nathan masuk ke dalam lift, tiba-tiba seseorang menahan pintu lift yang hampir tertutup dan segera masuk ke dalam lift.
Seseorang itu memamerkan senyum manisnya pada Nathan, sedangkan Nathan hanya tersenyum tipis dan segera mengalihkan pandangannya.
"Apa kau masih marah padaku?" tanya Vina dengan membawa pandangannya menatap Nathan dengan dekat.
"Aku hanya tidak suka jika kau bertindak melewati batas seperti kemarin," jawab Nathan.
"Aku hanya tidak ingin ada yang mengganggu kesenanganmu Nathan, aku....."
"Dan aku akan semakin marah jika kau terus saja mencari alasan meskipun kau tau jika kau bersalah," ucap Nathan memotong ucapan Vina.
"Oke baiklah, aku memang bersalah, maafkan aku," ucap Vina.
Nathan hanya diam tidak mengatakan apapun.
"Apa aku harus meminta maaf pada Aleea juga?" tanya Vina.
"Tidak perlu, kau hanya akan memperkeruh suasana jika kau melakukan hal itu," jawab Nathan.
"Oke baiklah," ucap Vina dengan menganggukkan kepalanya pelan.
TRIIIIIING
Pintu lift terbuka, Nathan dan Vina keluar dari lift lalu berjalan berbeda arah karena tujuan mereka yang berbeda.
Nathan kemudian mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya. Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nathanpun sampai di rumahnya dan segera membawa langkahnya masuk ke dalam rumah.
Seperti biasa, ada Aleea yang menyambut kedatangan Nathan.
"Sepertinya kau sangat sibuk, apa kau sudah makan malam?" tanya Aleea sambil membawa langkahnya mengikuti langkah Nathan.
Nathan hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, pekerjaan kantor benar-benar menguras energinya, membuatnya malas bahkan hanya sekedar berbicara.
"Kalau begitu mandilah, aku akan menyiapkan makan malam untukmu," ucap Aleea.
"Tidak perlu, aku ingin segera istirahat," ucap Nathan.
"Baiklah, aaahh ya bagiamana dengan kue yang aku antar ke kantor tadi? apa kau menyukainya? atau ada yang harus aku perbaiki agar sesuai dengan kesukaanmu?" tanya Aleea.
"Diamlah Aleea, aku sangat lelah hari ini, besok saja kita bicarakan hal itu," ucap Nathan dengan malas sambil membuka pintu kamarnya tanpa menutupnya kembali.
Aleeapun bisa melihat Nathan yang melempar tas kerjanya lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang tanpa melepas pakaian kerja dan sepatunya.
Aleea kemudian masuk ke kamar Nathan, mengambil tas kerja yang tergelatak di lantai lalu menaruhnya di atas meja.
__ADS_1
Aleea juga melepaskan sepatu dan kaos kaki yang Nathan kenakan, serta melepas jas yang Nathan pakai saat itu.
"Apa yang kau lakukan Aleea?" tanya Nathan sambil mendorong Aleea dengan kuat.
Karena terlalu lelah dan sudah sangat mengantuk, Nathan tidak bisa berpikir dengan jernih dan tanpa sadar mendorong Aleea terlalu kuat hingga membuat Aleea terjerembab di lantai.
"Aku.... hanya ingin melepas pakaian kerjamu, kau tidak mungkin tidur dengan pakaian seperti itu bukan?" balas Aleea yang terkejut dengan sikap Nathan, namun berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak marah, karena ia tau jika Nathan sedang sangat lelah saat itu.
Menyadari kesalahannya, Nathanpun segera beranjak dari ranjangnya dan membantu Aleea berdiri.
"Maafkan aku Aleea, aku tidak sengaja," ucap Nathan.
"Aku mengerti, jangan lupa berganti pakaian sebelum tidur, lebih baik cuci kaki dan wajahmu juga," balas Aleea lalu keluar dari ruangan Nathan.
Aleea berjalan masuk ke kamarnya dengan menarik napasnya dalam-dalam, berusaha menghalau rasa sedih yang menghampiri dirinya karena perlakukan Nathan padanya.
Sedangkan di sisi lain, Nathan yang baru saja masuk ke kamar mandi baru menyadari jika sepatunya sudah terlepas dari kedua kakinya.
"Dia bahkan melepas sepatuku," ucap Nathan dengan menghela nafasnya.
Nathan kemudian menyalakan shower di kamar mandinya, mengguyur badannya yang lelah dengan air hangat.
**
Hari telah berganti, Nathan sedang berada di meja makan bersama Aleea pagi itu.
"Aaahh ya, kue yang kau berikan padaku saat di kantor, aku sudah mencobanya," lanjut Nathan yang membuat Aleea segera membawa pandangannya pada Nathan.
"Apa kau menyukainya?" tanya Aleea yang tiba-tiba bersemangat.
"Mmmm..... sebenernya enak, tapi aku tidak begitu menyukai makanan manis, jadi sebaiknya kau tidak perlu lagi membuat kue atau sejenisnya untukku," jawab Nathan.
"Aaaahh begitu, maaf aku tidak mengingat hal itu," ucap Aleea.
"Tapi aku sangat menghargai pemberianmu, terima kasih Aleea," ucap Nathan yang membuat Aleea tersenyum senang.
"Ternyata sangat mudah meluluhkan hatinya," ucap Nathan dalam hati dengan tersenyum tipis.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Nathan kemudian berangkat ke kantor, sedangkan Aleea mulai menyibukkan dirinya dengan tanaman dan bunga-bunganya sebelum ia bersiap untuk pergi ke kelas memasaknya.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi saat Aleea baru saja keluar dari pintu rumahnya. Namun saat akan masuk ke dalam mobil, Aleea mengurungkan niatnya saat ia melihat sebuah mobil yang memasuki halaman rumahnya.
Tak lama kemudian seorang laki-laki keluar dari mobil itu dan menghampiri Aleea.
"Selamat pagi nyonya Nathan," sapa Evan dengan penuh senyum.
"Pagi Evan, ada perlu apa kau kesini?" balas Aleea.
__ADS_1
"Aku ingin mengambil berkas Nathan yang tertinggal, apa aku boleh masuk?"
"Tentu saja, masuklah!" jawab Aleea.
Evan kemudian masuk untuk mengambil berkas yang ia butuhkan dan tak lama kemudian keluar dengan membawa sebuah map.
"Apa kau sudah mendapatkan yang kau butuhkan?" tanya Aleea.
"Sudah," jawab Evan sambil memamerkan map yang ia bawa.
"Aaahhh ya, tentang kue yang kau bawa kemarin, apa kau baru membuatnya?" lanjut Evan bertanya.
"Darimana kau tau?" balas Aleea bertanya.
"Hanya menebaknya," jawab Evan dengan tersenyum.
"Apa kau juga mencoba kuenya? apa ada yang aneh dengan rasanya?" tanya Aleea.
"Iya aku mencobanya, Nathan memberikan sedikit padaku," jawab Evan berbohong.
"Sebenarnya tidak ada yang aneh dari rasanya, hanya saja hiasannya terlihat kurang rapi, tapi itu tidak begitu buruk, kau pasti bisa melakukannya lebih baik dari yang kemarin jika kau sering berlatih," lanjut Evan.
"Aaahh iya kau benar, aku belum berhasil membuat konsistensi krimnya dengan benar, tanganku juga masih kaku jika harus membuat hiasan menggunakan krim," ucap Aleea dengan menghela nafasnya.
"Tidak perlu berkecil hati Aleea, semakin sering kau membuatnya, kau akan semakin banyak belajar dari kesalahan yang sebelumnya dan seiring berjalannya waktu kau akan bisa membuatnya dengan sempurna," ucap Evan.
"Kau benar, aku harus memperbaiki kesalahanku dan sering melatih tanganku agar tidak kaku saat menghiasnya," balas Aleea dengan penuh senyum.
"Apa kau akan pergi sekarang?" tanya Evan.
"Astaga, aku sudah terlambat, aku harus pergi ke kelas memasak sejak tadi!" ucap Aleea sambil melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Hehe..... Cepat pergilah, aku juga harus kembali ke kantor," ucap Evan dengan terkekeh.
"Mengobrol denganmu memang selalu menyenangkan Evan, aku pergi dulu!" ucap Aleea lalu masuk ke dalam mobil dan meminta pak supir untuk segera mengendarai mobil meninggalkan rumah.
Evanpun hanya tersenyum menatap kepergian mobil Aleea dan berdiri beberapa saat sampai mobil Aleea benar-benar menghilang dari pandangannya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Evan berdering, sebuah panggilan masuk dari Nathan, menyadarkan Evan dari lamunannya.
Evanpun segera menerima panggilan Nathan.
"Halo Evan, kau dimana? apa kau sudah menemukannya?" tanya Nathan.
"Aku baru saja menemukannya, aku akan segera kembali ke kantor," jawab Evan sambil berjalan masuk ke dalam mobilnya lalu segera mengendarainya meninggalkan rumah Nathan setelah ia mengakhiri panggilan Nathan.
__ADS_1