Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Menyukai Aleea?


__ADS_3

Aleea masih bersama Evan. Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di tempat tujuan yang sudah Evan tentukan.


"Perhiasan seperti apa yang ingin kau beli Aleea?" tanya Evan.


"Aku belum tau Evan, aku akan mencari yang mungkin akan disukai mama," jawab Aleea.


"Bagaimana jika membelinya satu set? cincin, gelang dan kalung, mereka pasti akan memberikan rekomendasi yang terbaik untukmu!"


"Ide bagus, aku setuju," balas Aleea.


Merekapun sampai di depan meja yang dipenuhi dengan bermacam-macam perhiasan mewah. Aleea kemudian mengatakan jika ia mencari satu set perhiasan yang akan ia berikan pada sang mama.


Aleea kemudian diberikan beberapa pilihan rekomendasi oleh si pegawai, beberapa set perhiasan mahal dengan model yang berbeda-beda.


"Tante Hanna suka memakai sesuatu yang terlihat mewah Aleea, kau pasti tau itu!" ucap Evan.


"Iya aku tau, bagaimana dengan yang ini? permatanya terlihat mewah bukan?" balas Aleea sambil menunjuk salah satu rekomendasi si pegawai.


"Dari 3 yang direkomendasikan, memang ini yang terlihat paling mewah, desainnya juga terlihat elegan," ucap Evan.


"Baiklah, saya ambil yang ini kak, tapi saya ingin memilih jam tangan dulu," ucap Aleea pada si pegawai.


"Silakan kak, sebelah sini," balas si pegawai menunjukkan bermacam-macam jam tangan yang ada di meja yang berbeda.


"Aku sangat jarang melihat papa berganti jam tangan, hanya satu jam tangan yang sering papa pakai setiap aku bertemu papa," ucap Aleea sambil memperhatikan satu per satu jam tangan di hadapannya.


"Om Aryan dan Tante Hanna memang sangat berbeda, om Aryan kebalikan dari tante Hanna yang justru tidak begitu menyukai barang-barang mewah," balas Evan.


"Aaahhh begitu, pantas saja papa selalu memakai jam tangan yang sama," ucap Aleea.


"Om Aryan lebih suka berpenampilan sederhana Aleea, tetapi jika sedang bekerja atau bertemu klien penting, om Aryan akan benar-benar memperhatikan penampilannya, kau tau bukan jika beberapa orang akan lebih menghargai orang-orang dengan status sosial yang tinggi!"


"Iya aku tau," balas Aleea dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Jadi, jam tangan seperti apa yang ingin kau beli Aleea? jam tangan mewah yang akan om Aryan kenakan di saat-saat tertentu? atau jam tangan sederhana yang akan lebih sering om Aryan kenakan?" tanya Evan.


"Hmmm.... aku masih bingung Evan," jawab Aleea yang belum memiliki keputusan tentang jam tangan seperti apa yang ingin ia beli untuk papa Nathan.


"Bagaimana jika yang ini? orang-orang yang mengerti tentang barang mewah akan dengan cepat mengetahui jika jam tangan ini adalah jam tangan mahal, tetapi orang-orang biasa yang tidak terlalu memahaminya tidak akan sadar jika ini adalah jam tangan mewah," ucap Evan sambil menunjuk salah satu jam tangan disana.


"Benar sekali, orang biasa akan berpikir jika ini jam tangan biasa, tapi orang-orang yang terbiasa dengan barang mewah akan segera menyadari jika jam tangan ini sangat mahal hanya dengan melihat desain dan logo kecilnya yang tidak terlalu menonjol," sahut si pegawai.


"Aaahhh begitu, baiklah, saya ambil ini," ucap Aleea menyetujui pilihan Evan.


Akhirnya Aleea mendapatkan apa yang dia inginkan, satu set perhiasan mewah dan jam tangan untuk orang tua Nathan.


Mereka kemudian meninggalkan tempat itu dan memutuskan untuk pergi ke kafe sebelum mereka pulang.


"Terima kasih sudah menemaniku Evan, jika tidak bersamamu, mungkin aku akan kebingungan saat mencari hadiah untuk papa," ucap Aleea pada Evan saat mereka sudah duduk di kafe.


"Aku akan berusaha membantumu sebisaku Aleea," balas Evan.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang, dua minuman dan beberapa makanan ringan.


"Sebagai seseorang yang berstatus sebagai sahabat Nathan, kau sangat memahami tentang keluarga Nathan, Evan!" ucap Aleea.


"Aku sudah sangat lama mengenal Evan dan keluarganya Aleea, mereka juga sangat baik padaku, aku berhutang banyak pada mereka," balas Evan.


"Berhutang? seberapa banyak?" tanya Aleea terkejut yang membuat Evan tertawa.


"Hahaha.... sepertinya kau salah paham, maksudku bukan berhutang uang, tapi berhutang kebaikan," ucap Evan menjelaskan.


"Aaahhh begitu, memangnya apa yang sudah keluarga Nathan lakukan sampai kau merasa berhutang pada mereka?" tanya Aleea.


"Sesuatu yang sangat berarti untukku Aleea, aku tidak tau bagaimana aku akan menjalani hidupku jika tidak ada keluarga Nathan yang membantuku saat itu," jawab Evan.


"Sepertinya itu hal yang serius," ucap Aleea yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Evan.

__ADS_1


"Jadi itu yang membuatmu selama ini bertahan dengan Nathan? meskipun Nathan memperlakukanmu dengan tidak baik!" tanya Aleea.


Evan tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Aleea.


"Nathan tidak seburuk itu Aleea, dia laki-laki yang sangat baik, hanya saja terkadang bersikap egois," ucap Evan.


"Kau selalu membelanya Evan, apa kau tidak pernah marah padanya?" tanya Aleea.


"Tentu saja pernah, saat dia tidak bisa mengendalikan keegoisannya," jawab Evan.


"Aku tidak yakin jika kau bisa memarahinya, kau seperti bukan laki-laki yang suka marah," ucap Aleea.


"Aku hanya manusia biasa Aleea, sama seperti Evan, aku juga memiliki kekurangan dan keburukan dalam diriku," balas Evan.


"Aku tidak percaya, di mataku kau adalah malaikat pelindungku, aku benar-benar sangat bersyukur karena bisa mengenalmu," ucap Aleea.


"Kau sangat berlebihan Aleea," ucap Evan sambil menyeruput minumannya.


"Sungguh, terkadang aku heran kenapa aku bisa menjalani hubungan dengan Nathan yang sangat egois, bukan denganmu yang sangat baik padaku!" ucap Aleea.


Evan yang mendengar hal itupun begitu terkejut dan seketika tersedak minumannya.


"Hahaha.... maafkan aku, itu hanya pikiran liarku saat aku sudah sangat muak dengan sikap Nathan," ucap Aleea dengan tertawa saat melihat Evan tersedak minumannya.


Evanpun hanya tersenyum canggung sambil berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Tentang apa yang pernah kau katakan padaku mengenai modal yang butuhkan, aku sudah membicarakannya dengan Tika dan dia menyetujuinya, dia menyerahkan semuanya padaku tentang kontrak kita ke depannya," ucap Aleea.


"Jadi kau akan menerima modal dariku?" tanya Evan memastikan.


"Iya, sebagai investor," jawab Aleea.


"Baiklah, aku akan menyiapkan dokumennya, kau dan Tika harus membacanya sebelum kalian menandatanganinya, aku pastikan aku tidak akan mengambil terlalu banyak keuntungan kalian hehe...." ucap Evan.


"Kau harus membuatnya dengan profesional Evan, jangan membuat dirimu sendiri rugi karena membantuku, apa lagi aku juga belum tau bagaimana bisnis ini akan berjalan ke depannya nanti," ucap Aleea.


"Kau harus optimis Aleea, lakukan dengan baik maka hasilnya juga akan baik, jika belum mendapatkan hasil yang kau inginkan, tetaplah berusaha untuk menjemput kata 'berhasil'!" ucap Evan memberi semangat pada Aleea.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evan sampai di rumah Nathan. Evan dan Aleea keluar dari mobil lalu berjalan ke arah teras dimana sudah ada Nathan yang sedang membaca buku disana.


"Aku masuk dulu Evan, terima kasih sudah menemaniku," ucap Aleea yang hanya dibalas senyum dan anggukan kepala oleh Evan.


Aleea kemudian masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Nathan yang duduk di teras, sedangkan Evan membawa dirinya duduk di hadapan Nathan.


"Apa kau menungguku? atau mungkin menunggu Aleea?" tanya Evan pada Nathan.


"Jangan konyol Evan," balas Nathan dengan kedua matanya yang terlihat fokus dengan buku di tangannya.


"Apa yang kau lakukan saat ini hanyalah menyia-nyiakan apa yang kau miliki Nathan, dia perempuan yang baik, dia bahkan masih peduli pada orang tuamu," ucap Evan.


"Jika bukan karena aku yang memaksanya, dia tidak akan datang ke acara mama dan papa, jadi jangan terlalu berlebihan menilainya Evan," balas Nathan.


"Aku tidak berlebihan Nathan, aku hanya...."


"Apa kau menyukainya?" tanya Nathan memotong ucapan Evan.


"Menyukai Aleea? tentu saja," balas Evan yang membuat Nathan seketika menatap kosong buku di tangannya, tetapi Nathan berusaha untuk tidak terlalu menunjukkan responnya atas ucapan Evan yang membuatnya cukup terkejut.


"Dia perempuan yang menyenangkan Nathan, tidak hanya aku, orang lain juga pasti akan suka berteman dengannya, itu kenapa dia memiliki banyak teman baru di kelas memasaknya," lanjut Nathan.


"Berteman?" tanya Nathan yang kembali berpura-pura fokus pada bukunya.


"Iya berteman, apa kau akan cemburu jika aku menyukainya lebih dari teman?" balas Evan dengan membawa pandangannya pada Nathan.


"Tidak ada kata cemburu dalam kamus hidupku Evan, kau tau aku sama sekali tidak peduli padanya," ucap Nathan.


"Kenapa kau tidak berusaha membuka hatimu untuknya Nathan? sampai kapan kau akan terus seperti ini? apa kau tidak sadar jika hal buruk yang terjadi padamu adalah karma yang kau dapatkan atas apa yang sudah kau lakukan padanya?" tanya Evan.

__ADS_1


"Membuka hati? pada seseorang yang hanya membuat hidupku semakin rumit? itu adalah hal terbodoh yang tidak akan pernah aku lakukan Evan!" balas Nathan lalu menutup bukunya.


"Kau harus tau Evan, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan waktuku untuk hal konyol yang hanya akan membuatku menyesal, mengenalnya dan membawanya ke dalam hidupku adalah hal bodoh yang pernah aku lakukan dan aku benar-benar sangat menyesalinya!" lanjut Nathan lalu beranjak dari duduknya.


Namun Evan segera menahan tangan Nathan sebelum Nathan benar-benar pergi.


"Kau juga harus tau Nathan, mengenalmu dan mempercayaimu mungkin juga hal bodoh yang membuatnya menyesal, sangat menyesal sampai dia menyerah dan berniat untuk mengakhiri hidupnya," ucap Evan lalu beranjak dari duduknya.


"Kau harus mengingatnya Nathan, kau sudah membuatnya mendekat pada kematian hanya karena rasa percayanya padamu, jika bukan karena mengenalmu, dia tidak akan mungkin berniat untuk mengakhiri hidupnya dengan cepat!" lanjut Evan.


Evan kemudian melepaskan tangan Nathan lalu berjalan pergi meninggalkan Nathan, masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya pergi.


Sedangkan Nathan, ia masih berdiri di tempatnya sampai mobil Evan benar-benar keluar dari gerbang rumahnya.


Entah kenapa apa yang baru saja Evan katakan padanya membuatnya berdebar, seperti ada jarum kecil yang menusuk hatinya saat itu.


Namun Nathan segera menghilangkan pikiran itu dari kepalanya dan memilih untuk mengabaikan apa yang Evan katakan padanya.


**


Hari telah berganti. Pagi itu Nathan mengetuk pintu kamar Aleea lalu memberikan sebuah paper bag pada Aleea yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Jangan berpikir terlalu jauh, aku memberimu pakaian ini agar kita terlihat kompak di depan mama dan papa!" ucap Nathan pada Aleea.


"Aku tidak peduli," balas Aleea lalu menutup pintu kamarnya setelah ia menerima paper bag pemberian Nathan.


Di dalam kamarnya, Aleea menatap gaun yang ia ambil dari dalam paper bag pemberian Nathan.


"Gaun ini indah, bahkan sangat indah, tapi sayang, keindahan gaun ini sama sekali tidak membuatku suka karena gaun ini adalah pemberian Nathan," ucap Aleea dengan menghela napasnya.


Aleea kemudian mandi dan mempersiapkan dirinya dengan baik. Ia mengenakan gaun pemberian Nathan yang sangat cocok dengan ukuran tubuhnya.


Aleea kemudian memilih high heels untuk menunjang penampilannya agar semakin terlihat menarik. Tak lupa Aleea mengambil tas mungilnya yang tidak pernah ia pakai sebelumnya.


Tas mungil dengan harga ratusan juta itu sejak lama tersimpan di kamar Aleea sejak ia tinggal di rumah itu dan tidak pernah sekalipun Aleea memakainya.


Aleea juga menata rambutnya dengan membiarkannya tergerai panjang tetapi di bagian kanan dan kirinya sedikit ia kepang lalu menyatukan kepangannya di bagian tengah dan membiarkan sisanya tergerai.


Sebuah penjepit berbentuk mutiara-mutiara kecil tak lupa ia sematkan di bagian kanan rambutnya untuk menambah kecantikannya.


Aleea kemudian mengambil anting-anting di dalam kotak perhiasannya lalu memakainya. Untuk beberapa saat Aleea hanya diam menatap pantulan cermin di hadapannya.


"Sepertinya sudah sangat lama aku tidak berdandan seperti ini," ucap Aleea dengan penuh senyum.


Setelah selesai bersiap, Aleea kemudian membawa dirinya keluar dari kamar lalu menuruni tangga.


Di sisi lain, Nathan yang sudah menunggu Aleea di ruang tamu mulai merasa kesal karena Aleea yang tak kunjung keluar dari kamarnya.


Saat Nathan mendengar suara langkah yang menuruni tangga, seketika Nathan membawa pandangannya ke arah tangga dan saat itu juga Nathan hanya terdiam, membeku menatap perempuan cantik yang berjalan ke arahnya.


"Sangat cantik," ucap Nathan dalam hati yang tanpa sadar mengagumi kecantikan Aleea.


"Apa lagi yang kau tunggu?" tanya Aleea dengan membawa langkahnya berjalan melewati Nathan begitu saja.


Seketika Nathan tersadar dari lamunannya dan segera berjalan mengikuti Aleea.


"Aku pasti sudah gila!" ucap Nathan dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


Dengan mengenakan pakaian yang senada, Nathan dan Aleea meninggalkan rumah untuk pergi ke gedung tempat mama dan papa Nathan menggelar acara ulang tahun pernikahan mereka.


"Kau sangat berlebihan!" ucap Nathan pada Aleea.


"Bukankah kau sendiri yang mengatakan jika acara ini akan didatangi oleh teman-teman mama dan papa dari kalangan atas? aku tidak ingin membuat mama dan papa malu jika aku hanya berpenampilan seadanya," balas Aleea.


"Tapi....."


"Kau juga mengatakan padaku untuk tidak membuat malu dirimu bukan? apa kau memintaku untuk merubah penampilanku sekarang?" tanya Aleea memotong ucapan Nathan.

__ADS_1


"Tidak perlu, kau juga harus menjaga sikap agar tidak membuat mama dan papa curiga," balas Nathan.


"Aku tau," balas Aleea singkat.


__ADS_2