Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Tanda Tanya Nathan


__ADS_3

Nathan yang sedang melamun seketika begitu terkejut saat ia baru menyadari keberadaan Evan di dalam ruangannya.


"Evan, sejak kapan kau ada disini?" tanya Nathan yang hanya dibalas senyum tipis oleh Evan.


Evan kemudian membawa langkahnya duduk di depan Nathan sambil memberikan sebuah map pada Nathan.


"Sepertinya ada sesuatu yang sangat mengganggu pikiranmu, ada apa?" ucap Evan sekaligus bertanya.


Nathan menghela napasnya panjang sebelum akhirnya menceritakan pada Evan tentang apa yang terjadi saat ia berada di rumah sakit.


Nathan menceritakan dari awal saat dia menjemput Vina di rumah sakit hingga akhirnya bertemu sang mama yang sedang bersama seorang dokter.


"Lalu apa yang Tante Hanna lakukan pada Vina? Tante Hanna juga pasti terkejut melihatmu bersama Vina disana bukan?" tanya Evan setelah mendengar semua cerita Nathan.


"Justru itu yang membuatku heran, mama hanya bertanya satu kali dan sama sekali tidak menghiraukan Vina sampai mama pergi, bukankah itu aneh?" balas Nathan.


"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan Nathan? kau tidak menuduh Tante Hanna melakukan sesuatu yang salah bukan?" tanya Evan yang tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya Nathan pikirkan saat itu.


"Entahlah, aku hanya merasa aneh saja melihat sikap mama, aku merasa mama seperti menyembunyikan sesuatu dariku" jawab Nathan.


"Menyembunyikan apa?" tanya Evan.


"Aku tidak tahu, apa mungkin mama sedang tidak baik-baik saja? apa mungkin mama sedang sakit dan sengaja tidak memberi tahuku? atau mungkin mama dan dokter Rizal memiliki hubungan yang sengaja mereka rahasiakan?"


"Jangan berpikir terlalu jauh Nathan, lebih baik persiapkan dirimu untuk meeting sebentar lagi," ucap Evan.


Nathan hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, dalam kepalanya masih dipenuhi banyak tanda tanya tentang sang mama.


"Aku akan mencari tahu tentang dokter Rizal, untuk saat ini lupakan apa yang baru saja terjadi, aku akan segera memberikan laporan padamu jika aku sudah mencari tahu semua hal tentang dokter Rizal," ucap Evan yang berusaha membuat Nathan fokus dengan pekerjaannya.


"Terima kasih Evan," ucap Nathan yang mulai mencoba untuk fokus dengan pekerjaannya.


"Tapi bagaimana dengan Vina? bukankah dia yang menyiapkan semuanya?" tanya Evan.


"Aku sudah mengurusnya, Vina akan tetap mengikuti meeting melalui live video," jawab Nathan.


"Tapi bukankah kau bilang dia baru saja mengalami kecelakaan?" tanya Evan.


"Dia hanya mengalami cidera di bagian kakinya, dia masih bisa berpikir dan berbicara dengan lancar, jadi tidak ada alasan untuk tidak mengikuti meeting hari ini," jawab Nathan.


"Waaaahh.... kau benar-benar keterlaluan Nathan," ucap Evan dengan menggelengkan kepalanya melihat sikap Nathan yang masih memaksa Vina untuk mengikuti meeting setelah Vina mengalami kecelakaan.


Nathan hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun lalu membuka map yang baru saja Evan berikan padanya.


Setelah menyelesaikan urusannya dengan Nathan, Evanpun keluar dari ruangan Nathan. Sedangkan Nathan mulai fokus dengan pekerjaannya.


Bagi Nathan, pekerjaannya adalah hal terpenting dan paling utama dalam hidupnya. Jadi, dia akan berusaha keras untuk bisa melakukan yang terbaik dalam pekerjaannya, tidak peduli pada masalah yang dihadapi oleh orang lain.


Rasa cintanya pada pekerjaan, tanpa sadar membuat hatinya semakin keras dan egois. Demi bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, demi bisa menjalankan rencananya, Nathan sama sekali tidak mempedulikan hal lainnya.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Aleea sudah berada di ruko bersama Tika. Karena masih harus mengikuti kelas memasak, setiap pagi Aleea dan Tika datang ke ruko untuk membuat kue dan roti yang akan mereka jual saat siang setelah mereka pulang dari kelas memasak.


Setelah memastikan semuanya siap, Aleea dan Tikapun mulai membuka toko kue mereka.


Karena pengelolaan yang terencana dengan baik, Aleea dan Tika tidak banyak mengalami kesulitan untuk menjalankan bisnis mereka.


Meskipun sesekali terjadi perbedaan pendapat, tetapi mereka berdua bisa mengatasinya dengan baik tanpa emosi.


Aleea dan Tika benar-benar menjadi partner bisnis yang saling mengerti dan melengkapi satu sama lain.


Sama seperti sebelumnya, hari itu pelanggan yang datang cukup banyak. Mereka juga menerima beberapa pesanan dari para pelanggan mereka.


Waktupun berlalu, matahari yang sebelumnya bersinar terik kini mulai kembali pulang, meninggalkan sinar jingga yang tergores cantik di ujung langit barat.


Sore itu, Aleea menghabiskan waktunya di balkon untuk mengurus sosial media toko kuenya. Ia memposting beberapa foto dan video serta menyempatkan waktu untuk membalas beberapa pesan yang masuk.


"Aaaaahh rasanya badanku lelah sekali," ucap Aleea sambil memutar badannya ke kanan dan kiri.


Aleea kemudian membuka salah satu aplikasi yang biasanya digunakan Tika untuk menonton film. Aleea ingin merefresh pikirannya dengan menonton film yang ia suka.


Setelah menemukan film yang menarik untuknya, Aleeapun mulai menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi lalu memfokuskan pandangannya pada film di hadapannya.


Saat di menit kesepuluh film itu, terlihat tokoh utama yang berjalan masuk ke dalam bar. Gelap ruangan di bar yang dipadukan dengan dentuman musik dan beberapa lampu sorot seketika membuat Aleea merasa pusing.


Aleeapun segera menekan tombol untuk menghentikan film itu sejenak. Aleea menundukkan kepalanya, memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.

__ADS_1


Saat tengah memejamkan matanya, tiba-tiba memori singkat membawa Aleea merasa menjadi bagian dari film yang baru saja dilihatnya.


Aleea merasa tidak asing dengan tempat dan situasi yang ada pada film di layar laptopnya. Perasaan aneh yang Aleea rasakan semakin membuat kepala Aleea sakit, saat kedua telinganya seperti mendengar kembali dentuman musik keras dan langkah kaki yang berjalan diantara banyaknya orang disana.


"Ada apa denganku? apa yang sebenarnya terjadi?" batin Aleea bertanya sambil terus memegangi kepalanya yang semakin terasa sakit.


"Aleea!"


Suara samar terdengar diantara banyak orang yang ada di tempat itu dan semakin lama Aleea semakin mengerti jika saat itu ia benar-benar berada di dalam bar, sama persis seperti adegan di film yang baru saja dilihatnya.


"Aaaarrghhhhh!!"


Aleea mengerang kesakitan dan tanpa sengaja tangannya menyenggol gelas yang ada di meja hingga gelas itu terjatuh pecah di lantai.


"Aaaarrghhhhh.... kenapa sakit sekali!!!!"


Aleea masih mengerang kesakitan sambil berusaha untuk beranjak dari duduknya.


"Aleea, apa yang terjadi?" tanya Tika yang tiba-tiba datang ke balkon setelah ia mendengar suara gelas pecah.


Bersamaan dengan itu, Aleea tiba-tiba kehilangan keseimbangan tubuhnya dan mulai lemas. Dalam hitungan detik, Aleea sudah jatuh terkapar di lantai, dekat dengan pecahan gelas yang berserakan di lantai.


"Astaga, Aleea!"


Tika yang terkejut dan panik segera membawa langkahnya ke arah Aleea dan berusaha untuk menyadarkan Aleea.


"Aleea, bangunlah Aleea!" ucap Tika sambil menepuk pelan pipi Aleea.


"Astaga apa yang harus aku lakukan sekarang!"


Tika membawa pandangannya ke sekitarnya, ia merasa tidak cukup kuat untuk bisa membawa Aleea turun dari lantai dua.


Kedua mata Tika kemudian menangkap sebuah ponsel yang ada di atas meja. Sambil menahan kepala Aleea, Tika berusaha meraih ponsel Aleea yang ada di atas meja.


"Apa aku harus menghubungi Nathan? tidak...... aku tidak mungkin menghubungi Nathan, apa yang akan aku katakan padanya jika dia datang ke tempat ini dan menanyakannya banyak hal padaku?"


Tika kemudian mencari nama Evan pada penyimpan kontak Aleea lalu segera menghubungi Evan dan tak butuh waktu lama, Evanpun menerima panggilan Tika.


"Halo Aleea, ada....."


"Halo Evan, ini aku Tika, maaf mengganggumu karena aku tidak mungkin menghubungi Nathan!" ucap Tika memotong ucapan Evan.


"Aleea pingsan di balkon Evan, aku tidak bisa membawanya turun, jadi aku menghubungimu dan...."


"Hubungi ambulans Tika, aku sedang ada di perbatasan kota dan tidak bisa segera sampai disana, jadi tolong hubungi ambulans agar Aleea segera dibawa ke rumah sakit, aku usahakan agar aku segera sampai disana!" ucap Evan dengan tegas.


"Aaahh iya ambulans, aku terlalu panik sampai tidak terpikirkan hal itu," ucap Tika lalu segera mengakhiri panggilannya pada Evan.


Dengan menggunakan ponsel Aleea, Tikapun segera menghubungi ambulans. Tak lama kemudian ambulans datang dan segera membawa Aleea ke rumah sakit setelah memberikan penanganan pertama pada Aleea yang masih tak sadarkan diri saat itu.


Tika kemudian menutup tokonya dan segera ikut ke rumah sakit untuk menemani Aleea sekaligus mendengar penjelasan dari dokter tentang keadaan Aleea saat itu.


Setelah beberapa lama memeriksa keadaan Aleea, dokterpun memberi tahu Tika jika Aleea baik-baik saja.


"Kemungkinan pasien pingsan karena terlalu lelah, jadi sebaiknya pasien dibiarkan berisitirahat dulu selama beberapa hari dan tidak terlalu menyibukkan diri sampai keadaannya kembali pulih," jelas dokter.


"Baik dok, terima kasih," ucap Tika yang dibalas anggukan kepala oleh dokter.


Waktu berlalu, sudah cukup lama Tika duduk di samping ranjang Aleea, menunggu Aleea yang tidak kunjung membuka matanya.


"Apa dia benar baik-baik saja? kenapa dia belum juga bangun?" batin Tika bertanya dalam hati.


Tak lama kemudian, Evanpun datang dengan raut wajahnya yang tampak khawatir saat itu.


"Bagaimana keadaan Aleea, Tika? apa yang terjadi padanya?" tanya Evan khawatir.


"Dokter bilang dia baik-baik saja, mungkin dia pingsan karena kelelahan, tapi sejak tadi dia belum membuka matanya sama sekali," jelas Tika.


"Aku akan menjaganya disini, kau bisa kembali ke ruko," ucap Evan.


"Baiklah, segera hubungi aku jika terjadi sesuatu padanya," ucap Tika yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Evan.


Sepeninggalan Tika, Evan kemudian meminta suster untuk memindahkan Aleea ke ruangan lain dimana tidak ada pasien lain yang berada satu ruangan dengan Aleea.


Setelah Aleea dipindahkan, Evanpun duduk di samping ranjang Aleea, diam dan hanya menatap Aleea yang masih terpejam.


"Kau terlalu bekerja keras untuk melupakan masalahmu Aleea, masalah yang seharusnya tidak kau hadapi saat ini," ucap Evan dengan menghela napasnya panjang.

__ADS_1


Saat kedua matanya menatap tangan Aleea, entah kenapa Evan ingin menggenggam tangan itu, namun hatinya ragu, tidak ingin membuat Aleea salah paham jika tiba-tiba Aleea bangun.


Setelah beberapa waktu berlalu, Aleeapun mulai mengerjapkan matanya dan mendapati Evan yang duduk di dekatnya.


"Evan....." panggil Aleea dengan suara yang begitu lirih, hampir tak terdengar.


"Kau di rumah sakit Aleea, Tika yang membawamu kesini bersama ambulans," ucap Evan.


Aleea terdiam untuk beberapa saat, berusaha mengingat apa yang terjadi padanya sebelum ia berada di rumah sakit.


"Kenapa kau bisa tiba-tiba pingsan Aleea? apa kau berusaha mengingat masa lalumu?" tanya Evan pada Aleea.


"Aku hanya..... mengingat sesuatu yang tidak begitu jelas, aku tidak mengerti apa yang sebenarnya aku ingat saat itu dan kepalaku terasa sangat sakit," jawab Aleea.


"Kau harus berhenti memaksakan dirimu Aleea, kau hanya akan membahayakan dirimu jika kau berusaha mengingatnya," ucap Evan.


"Aku tau," balas Aleea dengan sedikit menganggukan kepalanya.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Evan berdering, sebuah panggilan dari Nathan.


"Kau dimana Evan? kenapa belum kembali ke kantor?" tanya Nathan setelah Evan menerima panggilannya.


"Aku..... aku sedang berada di rumah sakit," jawab Evan ragu.


"Di rumah sakit? kenapa? apa yang terjadi?" tanya Nathan khawatir.


"Aku menemani Aleea disini, dia pingsan dan berada di rumah sakit sekarang," jelas Evan.


"Aleea? apa dia pingsan karena mengingat sesuatu?" tanya Nathan.


"Datanglah jika kau ingin tau keadaannya, aku akan mengirimkan alamat rumah sakitnya padamu," ucap Evan tanpa menjawab pertanyaan Nathan.


"Tidak perlu," balas Nathan.


"Tapi....."


"Selesaikan saja pekerjaanmu dan segera berikan laporannya padaku, aku tidak peduli apa yang terjadi padanya selama itu tidak merugikanku!" ucap Nathan memotong ucapan Evan lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.


Evan hanya menghela napasnya kasar lalu mengembalikan ponselnya ke dalam saku jasnya.


"Kapan aku boleh keluar dari sini Evan?" tanya Aleea.


"Besok pagi dokter akan memeriksa keadaanmu lagi Aleea, jika sudah membaik, kau boleh pulang besok pagi," jawab Evan.


"Aaahh begitu, kalau begitu sekarang pulanglah Evan, terima kasih sudah menemaniku disini," ucap Aleea.


"Jika aku pulang, bagaimana denganmu?" tanya Evan.


"Aku akan baik-baik saja disini, jangan khawatir!" jawab Aleea.


"Aku akan meminta Nathan untuk datang, jika perlu aku akan memaksanya," ucap Evan yang akan beranjak dari duduknya, namun Aleea segera mencegahnya dengan menahan tangan Evan.


"Jangan Evan," ucap Aleea.


"Keberadaan Nathan disini hanya akan membuatku tidak nyaman, jadi lebih baik aku sendirian disini daripada harus bersama Nathan," lanjut Aleea.


"Kalau begitu aku yang akan menemanimu disini," ucap Evan yang kembali duduk.


Aleea tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.


"Kau harus pulang Evan, aku baik-baik saja dan besok pagi pasti dokter sudah memperbolehkanku pulang," ucap Aleea.


"Aku tidak mungkin membiarkanmu disini sendirian Aleea," ucap Evan.


"Tapi....."


"Kau hanya mempunyai dua pilihan, disini bersamaku atau bersama Nathan," ucap Evan memotong ucapan Aleea.


"Pilihan yang sangat mudah Evan, tentu saja aku memilih bersamamu," balas Aleea dengan penuh senyum.


"Kalau begitu biarkan aku disini menemanimu, oke?"


Aleeapun hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum, ia sudah tidak bisa memaksa Evan untuk meninggalkannya di rumah sakit sendirian.


"Jangan pernah bosan untuk mendengarku berterima kasih padamu Evan, karena aku benar-benar merasa sangat beruntung karena bisa mengenalmu, entah bagaimana hidupku jika tidak kau di sampingku," ucap Aleea.

__ADS_1


Evan hanya tersenyum canggung tanpa mengatakan apapun. Ia merasa senang sekaligus takut, takut jika tiba-tiba ingatan Aleea kembali dan mengetahui semua kebohongan Evan selama ini.


__ADS_2