Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Berteman


__ADS_3

Di sisi lain, Evan yang akan ke ruangan Nathan, melihat apa yang Nathan lakukan lalu segera menghampiri Nathan dan Aleea.


"Kau membuatku sangat marah Aleea!" ucap Nathan dengan jari telunjuknya yang menunjuk tepat di depan wajah Aleea.


"Jaga sikapmu Nathan!" ucap Evan sambil menepis tangan Nathan yang menunjuk wajah Aleea.


"Suruh dia pergi, aku tidak ingin melihatnya lagi disini!" ucap Nathan lalu mendorong Aleea dan menutup pintu ruangannya.


Aleea yang hampir terjatuh karena dorongan Nathan seketika ditahan dengan cepat oleh Evan.


"Tidak disini Aleea, jaga air matamu," ucap Evan sambil sedikit menekan bahu Aleea, berusaha menguatkan Aleea agar tidak menangis.


Evan kemudian mengambil kotak kue yang ada di lantai lalu meraih tangan Aleea dan membawanya pergi.


Aleeapun hanya menundukkan kepalanya dan mengikuti langkah Evan tanpa ia tahu kemana Evan membawanya pergi.


Evan kemudian membuka sebuah pintu lalu menaiki tangga sampai akhirnya mereka sampai di rooftop.


Evan kemudian menaruh kotak kue itu di meja lalu menggeser sebuah kursi dan menekan kedua bahu Aleea agar duduk disana.


Aleea hanya diam, berusaha keras untuk menahan air matanya agar tidak tumpah. Sedangkan Evan, berdiri di samping Aleea dengan menepuk-nepuk pelan kepala Aleea.

__ADS_1


"Jangan menahannya lagi Aleea, kau bisa menuntaskan semuanya disini, tidak akan ada yang melihatmu menangis disini," ucap Evan


Seketika Aleea menundukkan kepalanya, menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis dengan suara yang tertahan.


Setelah beberapa lama menangis, Aleeapun mulai bisa mengendalikan perasaannya saat itu.


Ia menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya, namun tiba-tiba Evan memberinya sebuah sapu tangan kecil yang akhirnya Aleea gunakan untuk menghapus sisa air matanya.


"Apa sudah lebih baik?" tanya Evan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Aleea.


Evan tersenyum lalu membuka kotak kue yang ada di meja dan melihat kue hancur yang sudah tidak berbentuk.


"Jangan, ini sudah sangat hancur dan tidak layak untuk dimakan," ucap Aleea.


"Meskipun bentuknya hancur, belum tentu rasanya juga akan hancur bukan?" balas Evan yang melepaskan tangan Aleea darinya lalu menjilat krim yang ada di ujung jarinya.


"Hmmm.... sepertinya rasanya sedikit berbeda dengan kue yang pertama dulu!" ucap Evan.


"Aku memang membuatnya dengan sedikit gula, aku pikir Nathan akan menyukainya jika itu tidak terlalu manis, tapi....."


Aleea menghentikan ucapannya, matanya kembali berkaca-kaca mengingat perlakuan Nathan padanya.

__ADS_1


"Sepertinya kau datang di waktu yang tidak tepat Aleea, Nathan sedang sibuk dan pusing dengan pekerjaannya, mungkin itu yang membuatnya emosi," ucap Evan.


"Tapi bukankah dia sangat keterlaluan? aku istrinya, Evan!"


"Aku mengerti, itulah sikap buruk Nathan yang sulit mengendalikan emosinya, apa lagi jika sedang banyak masalah di kantor," balas Evan.


Aleea hanya diam, hatinya masih terasa sakit dengan apa yang baru saja Nathan lakukan padanya.


"Tidak perlu terlalu memikirkannya Aleea, aku yakin dia akan segera meminta maaf padamu setelah dia menyadari kesalahannya," ucap Evan.


Aleea mendongakkan kepalanya, menatap Evan yang berdiri di hadapannya.


"Terima kasih Evan, kau selalu bersikap baik padaku," ucap Aleea.


"Itulah gunanya teman," balas Evan dengan tersenyum.


"Teman?" tanya Aleea mengulang ucapan Evan.


"Iya, kita berteman bukan?" balas Evan.


Aleea menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2