
Setelah Aleea bertemu dengan teman-temannya, ia mulai memikirkan tentang hubungannya dengan Nathan.
Ia berpikir jika kecelakaan yang membuatnya hilang ingatan ternyata juga mempengaruhi cara berpikirnya yang merubah beberapa hal dalam dirinya.
Aleea berjalan memasuki rumahnya lalu menaiki tangga dan berdiri di hadapan pintu ruang kerja Nathan.
"Nathan, apa aku boleh masuk?" tanya Aleea setelah ia mengetuk pintu beberapa kali.
"Masuklah," jawab Nathan dari dalam ruang kerjanya.
Aleea kemudian membuka pintu ruang kerja Nathan dan membawa langkahnya ke arah Nathan yang sedang fokus dengan komputer di hadapannya.
Menyadari Aleea yang sudah masuk ke ruang kerjanya, Nathanpun segera beranjak dari duduknya lalu membawa langkahnya pada Aleea.
"Apa kau sudah bertemu dengan teman-temanmu?" tanya Nathan sambil memeluk aleea.
"Sudah," jawab Aleea dengan menganggukkan kepalanya dalam pelukan Nathan.
"Jika kau sudah tidak sibuk, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Aleea sambil melepaskan dirinya dari pelukan Nathan.
"Tunggulah disini, aku akan segera menyelesaikannya," ucap Nathan sambil membawa Aleea duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya.
Nathan kemudian kembali ke meja kerjanya, menyimpan file hasil pekerjaannya lalu segera membawa dirinya duduk di samping Aleea.
"Apa yang ingin kau katakan padaku Aleea?" tanya Nathan sambil menggenggam tangan Aleea.
"Tolong katakan padaku bagaimana dulu kita menjalani hari-hari kita sebagai pasangan kekasih, aku ingin mengingat semuanya Nathan," ucap Aleea.
"Aku akan memberitahumu semuanya tetapi aku tidak ingin jika kau terlalu memaksakan dirimu untuk mengingat semuanya, karena bagaimanapun keadaanmu tidak akan ada yang berubah dari hubungan kita Aleea," ucap Nathan yang dibalas anggukan kepala oleh Nathan.
Nathan kemudian memberitahu Aleea tentang bagaimana hubungan mereka berdua sejak dulu yang tentu saja semua itu hanyalah kebohongan belaka.
Nathan menjelaskan pada Aleea jika mereka sudah berhubungan sangat lama dan sejak mereka memiliki hubungan sebagai pasangan kekasih, mereka sangat jarang menunjukkan kemesraan mereka di depan umum.
Sebagai pasangan kekasih mereka berdua juga bukan tipe pasangan yang saling menunjukkan perhatian dan kasih sayang melalui kata-kata, tetapi mereka adalah pasangan kekasih yang saling memahami dan mengerti kesibukan masing-masing.
__ADS_1
"Dan yang paling membuatku bangga karena memilikimu adalah karena kau selalu memahami kesibukanku, meskipun terkadang aku tidak memiliki banyak waktu untukmu tetapi kita tidak pernah bertengkar karena hal itu," ucap Nathan di akhir penjelasannya.
"Hubungan kita mungkin tidak seperti pasangan yang lainnya yang sering menunjukkan bagaimana mereka saling mencintai, tetapi itulah yang membuat kita tetap bersama sampai saat ini bahkan saat kau sama sekali tidak mengingat tentangku dan tentang kebersamaan kita," lanjut Nathan.
"Maafkan aku Nathan, keadaanku membuatku bingung, aku seperti orang lain yang tidak mengenal diriku sendiri," ucap Aleea yang merasa bersalah atas apa yang sudah ia katakan pada Nathan beberapa saat yang lalu.
"Aku mengerti Aleea, sejak aku memutuskan untuk tetap menjaga hubungan kita aku sudah siap menerima resiko apapun karena ingatanmu yang hilang," balas Nathan.
"Terima kasih Nathan, terima kasih karena tetap bersamaku dalam keadaanku yang seperti ini," ucap Aleea sambil memeluk Natan yang duduk di sampingnya
Nathanpun hanya tersenyum sambil membelai pelan rambut Aleea.
"Kita mulai semuanya dari awal Nathan, aku akan berusaha untuk menjadi istri yang terbaik untukmu meskipun aku sama sekali tidak mengingat apapun tentang hubungan kita di masa lalu," ucap Aleea hanya dibalas anggukan kepala oleh Nathan.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 05.00 sore saat Nathan mengajak Aleea untuk pergi ke bandara.
"Kenapa kita kesini?" tanya Aleea pada Nathan saat mereka sudah berada di bandara.
"Sepertinya aku ingin pergi ke toilet," ucap Aleea sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan toilet di sekitarnya.
"Pergilah, aku akan menunggumu disini," ucap Nathan.
Aleea kemudian berlari kecil ke arah toilet sedangkan Nathan masih berdiri di tempatnya menunggu kedatangan sang adik.
Setelah beberapa lama menunggu, Nathanpun melambaikan tangannya pada gadis cantik berambut pirang yang berjalan ke arahnya dengan membawa koper yang cukup besar.
Gadis cantik itupun segera mempercepat langkahnya lalu menghambur dalam pelukan Nathan.
"Kakak masih tidak mengerti kenapa Mama dan papa berniat memberikan perusahaan pada anak kecil sepertimu," ucap Nathan sambil mengacak-acak rambut pirang Rania.
"Tenang saja, Rania sama sekali tidak berminat untuk mengelola perusahaan papa," balas Rania.
"Ayo pulang, Rania sudah sangat merindukan mama dan papa," lanjut Rania sambil menarik tangan Nathan, namun Nathan masih berdiri tegak di tempatnya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, ada yang masih harus kita tunggu disini," ucap Nathan.
"Siapa?" tanya Rania.
"Kakak iparmu," jawab Nathan singkat.
"Kakak ipar? aaahh iya.... Rania baru ingat jika kakak sudah menikah, selamat kak dan maaf karena Rania belum bisa pulang saat pernikahan kakak."
"Tidak masalah, sekarang kau sudah ada disini jadi kakak akan memperkenalkannya padamu," ucap Nathan.
"Apa dia sangat cantik? apa dia adalah perempuan yang mama jodohkan dengan kakak?" tanya Rania penasaran.
"Dia memang sangat cantik, tapi kita menikah bukan karena perjodohan mama, dia adalah kekasih kakak," jawab Nathan.
"Kekasih kak Nathan? tidak mungkin, bukankah selama ini kakak tidak pernah memiliki kekasih? pasti kak Nathan berbohong bukan? apa jangan-jangan kak Nathan menyewa perempuan untuk kak Nathan jadikan istri?"
"Husshh jaga ucapanmu Rania, kau bisa membuatnya tersinggung jika dia mendengarnya!" ucap Nathan sambil menutup mulut Rania.
"Tapi selama ini kak Nathan memang tidak pernah memiliki kekasih bukan?" tanya Rania sambil menarik tangan Nathan yang membungkamnya.
"Kakak memilikinya, tetapi kakak sengaja menyembunyikannya dari semua orang, kakak hanya ingin mengenalkannya pada mama dan papa saat kakak sudah berhasil meyakinkannya untuk menikah," balas Nathan beralasan.
"Benarkah? memangnya sudah berapa lama kakak berhubungan dengannya?" tanya Rania yang masih ragu untuk mempercayai ucapan Nathan.
"Kau tidak perlu banyak tahu, kau hanya harus tahu jika sekarang kakak sudah menikah dengan perempuan yang sudah lama menjadi kekasih kakak," jawab Nathan.
"Itu dia....." lanjut Nathan sambil melambaikan tangannya pada Aleea yang berjalan ke arahnya.
Raniapun membawa pandangannya ke arah Nathan menunjuk dan untuk beberapa saat Rania terdiam melihat gadis cantik yang berjalan ke arahnya.
"Apa perempuan dengan pakaian berwarna biru itu maksud kakak?" tanya Rania memastikan.
"Iya, sangat cantik bukan?" balas Nathan.
Seketika Rania segera membalikkan badannya, ia ingin segera berlari dari tempat itu tetapi tidak mungkin ia melakukannya.
__ADS_1
"Perempuan itu..... apa dia perempuan yang sama seperti yang aku lihat dulu? atau mungkin mereka dua orang yang berbeda? tapi wajahnya benar-benar sangat mirip," batin Rania bertanya dalam hati dengan gugup.