Cinta Tanpa Memori

Cinta Tanpa Memori
Diantara 2 Pilihan


__ADS_3

Nathan sedang makan siang bersama Vina dan Evan saat ia menerima pesan dari Aleea, Nathan kemudian membawa pandangannya pada Evan lalu menanyakan pada Evan tentang apa yang baru saja Aleea katakan padanya.


"Apa kau yang mendaftarkan Aleea di kelas memasak, Evan?" tanya Nathan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Evan.


"Baguslah kalau begitu, dia sudah bisa mulai mengikuti kelas pertamanya hari ini karena kau sudah mendaftarkannya," ucap Nathan.


"Ada pameran bunga yang akan dilakukan minggu depan, sepertinya Aleea akan senang jika kau mengajaknya untuk datang kesana," ucap Evan.


"Tidak bisa, Evan akan mengikuti outing yang diadakan divisi pemasaran!" sahut Vina.


"Apa itu benar, Nathan?" tanya Evan pada Nathan.


"Sebenarnya Aleea sudah memberitahuku tentang pameran itu dan kebetulan hari itu juga ada acara outing yang diadakan divisi pemasaran, aku ragu apakah aku harus pergi ke pameran itu atau pergi outing," jawab Nathan.


"Outing bukan hal yang terlalu penting Nathan, jadi lebih baik kau menemani Aleea untuk datang ke acara pameran itu," ucap Evan.


"Jika dibandingkan dengan hanya melihat pameran bunga, tentu saja outing lebih penting," sahut Vina yang tidak menyetujui ucapan Evan.


"Vina benar Evan, dengan mengikuti outing aku bisa mempererat hubungan baikku dengan para pegawai lain," ucap Nathan.


"Sejak kapan kau memikirkan hal itu Nathan? selama ini kau bahkan tidak pernah memikirkan tugas yang kau bebankan pada pegawai lain di bawahmu," tanya Evan.


"Aku hanya berusaha untuk membangun image yang baik di perusahaan, kau tahu bukan jika tahun depan akan ada pembaharuan pimpinan dan aku tidak ingin posisiku digeser oleh papa," balas Nathan.


"Bukankah kau tidak perlu takut hal itu terjadi, kau sudah memiliki kartu AS yang bisa membuatmu tetap bertahan di posisimu saat ini, bahkan mendapatkan apa yang selama ini kau inginkan!" ucap Evan.


"Kau benar, tapi....."


"Sudahlah, jangan mendebatkan hal ini, sekarang katakan saja apa keputusanmu Nathan!" ucap Vina memotong ucapan Nathan


"Kau jangan mencoba untuk mempengaruhi Nathan, Vina!" sahut Evan.


"Aku sama sekali tidak berusaha mempengaruhinya, aku hanya memberi saran yang terbaik untuk Nathan," ucap Vina.


"Aku akan memikirkannya dulu, aku masih belum bisa memutuskan apapun sekarang," ucap Nathan lalu beranjak dari duduknya yang segera diikuti oleh Vina.


Sedangkan Evan hanya menghela nafasnya panjang di tempat ia duduk. Setelah jam makan siang selesai, Evan meninggalkan kantin, bukan untuk ke ruangannya tetapi untuk pergi ke ruangan Nathan.

__ADS_1


"Outing bisa dilakukan kapanpun kau memiliki waktu luang Nathan, pegawai lain pasti akan setuju kapanpun kau mengadakan acara itu, sedangkan pameran bunga itu belum tentu terjadi setiap bulan atau bahkan dalam satu tahun," ucap Evan pada Nathan.


"Kenapa kau sangat ingin aku pergi bersama Aleea, Evan?" tanya Nathan.


"Bukankah kau sendiri yang pernah mengatakan padaku jika kau akan memperlakukannya dengan baik selama dia menjadi istrimu?" balas Evan.


"Aku memang pernah mengatakan hal itu, tapi bukan berarti aku harus selalu pergi bersamanya, aku juga memiliki hal lain yang aku prioritaskan Evan, lagi pula aku juga sudah memberinya cukup banyak uang selama dia menjadi istriku," ucap Nathan.


"Baiklah terserah kau saja," balas Evan lalu keluar dari ruangan Nathan.


Sedangkan Nathan masih memikirkan, kemana sebaiknya ia pergi saat weekend nanti, menemani Aleea atau outing bersama para pegawainya.


**


Hari- hari berlalu. Besok adalah hari dimana kegiatan outing akan dilaksanakan.


"Kapan acara pameran bunga itu dilaksanakan Aleea?" tanya Nathan pada Aleea saat mereka sedang makan malam di rumah.


"Hari Minggu pagi, kau bisa menemaniku untuk datang kesana bukan?" balas Aleea.


"Terima kasih Nathan," ucap Aleea penuh senyum.


Hari telah berganti, pagi-pagi sekali Nathan keluar dari kamarnya dengan membawa tas ransel.


"Apa kau akan berangkat sekarang?" tanya Aleea yang sengaja bangun lebih pagi dari biasanya.


"Iya, aku akan pulang nanti malam," jawab Nathan.


"Aku sudah membuat sandwich untukmu, kau....."


"Aku terburu-buru Aleea, aku harus menjemput Vina sebelum berangkat," ucap Nathan memotong ucapan Aleea.


"Vina? kalian......"


Nathan membawa dirinya menatap Aleea dan memegang kedua bahu Aleea sebelum Aleea mengatakan hal yang membosankan di telinga Nathan tentang hubungannya dengan Aleea.


"Outing kantor ini diadakan oleh divisi pemasaran, jadi aku tidak hanya pergi dengan Vina, kau bisa bertanya pada Evan jika kau tidak percaya," ucap Nathan pada Aleea.

__ADS_1


"Aku bukannya tidak percaya, tapi kenapa harus menjemputnya? apa dia tidak bisa berangkat sendiri?" tanya Aleea dengan kesal.


"Aku memintanya untuk membawa banyak barang, jadi aku harus menjemputnya, sekarang aku sudah terlambat Aleea, aku pergi dulu!" jelas Nathan lalu berjalan pergi begitu saja.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam saat Aleea masih menunggu Nathan di ruang tamu.


Sejak satu jam yang lalu Aleea berusaha menghubungi Nathan tapi tidak pernah terjawab, sampai akhirnya panggilannya terjawab, namun bukan oleh Nathan, melainkan Vina.


"Halo, dengan Vina disini," ucap Vina saat menerima panggilan Aleea di ponsel Nathan.


"Dimana Nathan? kenapa ponsel Nathan ada padamu?" tanya Aleea.


"Nathan sangat mabuk sekarang, sepertinya dia baru saja bersenang-senang," jawab Vina.


"Kau....."


"Tahan dulu, jangan terlalu emosi, Nathan disini tidak hanya bersamaku, ada banyak pegawai lain yang mengikuti acara ini, jadi tidak perlu khawatir," ucap Vina memotong ucapan Aleea.


"Berikan ponselnya pada Nathan!" ucap Aleea.


"Untuk apa? dia sama sekali tidak bisa diajak berbicara sekarang, dia benar-benar sangat mabuk hahaha....."


"Aku peringatkan padamu Vina, jangan pernah melakukan hal yang di luar batas pada Nathan, dia....."


"Hal yang di luar batas seperti apa maksudmu Aleea? jangankan melakukan hal yang kau maksud, menjadi istri keduanya pun aku mau hahaha...."


"Jangan harap itu akan terjadi, Nathan tidak akan pernah melakukan hal itu, dia hanya menganggapmu sebagai partner kerja, tidak lebih dari itu," ucap Aleea yang berusaha keras menahan emosinya.


"Kita lihat saja nanti, sudah dulu ya sepertinya dia memanggilku, bye nyonya Nathan," ucap Vina lalu mengakhiri panggilan Aleea dan menonaktifkan ponsel Nathan.


Aleea yang berusaha menghubungi Nathanpun hanya bisa menghela nafasnya kesal karena panggilannya tidak tersambung.


"Apa benar Nathan sedang mabuk? apa Vina hanya berbohong padaku?" tanya Aleea pada dirinya sendiri.


Aleea menghela nafasnya panjang dengan membawa pandangannya pada foto pernikahannya yang terpajang di dinding rumahnya.


"Aku tidak boleh menangis, aku bukan Aleea yang lemah, aku hanya perlu berpikir positif dalam menghadapi semua ini," ucap Aleea dengan menghapus air mata yang sempat menetes di pipinya.

__ADS_1


__ADS_2