
Akhirnya Nathan bisa bernafas lega karena ia berhasil meyakinkan Rania tentang semua rencananya yang tentu saja dibubuhi dengan kebohongan kecil agar Rania mempercayai semua ucapannya dan mendukung kebohongannya.
Setelah menjelaskan semuanya pada Rania, Nathan kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan taman untuk mengantarkan Rania pulang ke rumah orang tuanya.
"Jadi bagaimana hubunganmu dengan Bryan, Rania?" tanya Nathan.
"Sejak saat itu Rania sudah tidak berhubungan lagi dengan Bryan, meskipun beberapa kali Bryan berusaha menemui Rania tetapi Rania tetap bersikukuh untuk menjauhinya," jawab Rania.
"Jangan mudah percaya pada siapapun laki-laki yang mendekatimu Rania, kau harus benar-benar tahu alasan mereka mendekatimu dan jangan mudah menjatuhkan hatimu pada laki-laki manapun," ucap Nathan.
"Rania mengerti kak," balas Rania dengan menganggukkan kepalanya.
"Kau juga harus menjelaskan pada Aleea tentang pertanyaanmu saat Aleea di kamarmu, kakak hanya tidak ingin Aleea terlalu memikirkannya karena itu bisa membuat keadaan semakin memburuk," ucap Nathan yang dibalas anggukan kepala oleh Rania.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Nathanpun sampai di rumah orang tuanya lalu keluar dari mobilnya bersama Rania.
"Kemana saja kalian berdua? kenapa kalian tidak menerima panggilan mama?" tanya Hanna khawatir.
"Rania tidak membawa ponsel ma," jawab Rania santai.
"Ponsel Nathan lowbat," ucap Nathan beralasan.
"Apa kalian berdua bertengkar? Mama melihatmu menarik tangan Rania dari taman belakang tadi?" tanya Hanna pada Nathan.
"Apa kita bertengkar Rania?" tanya Nathan pada Rania yang berdiri di sebelahnya.
"Tentu saja tidak, kita sudah bukan anak kecil lagi ma, jadi tidak mungkin Rania dan kak Nathan bertengkar," jawab Rania sambil memeluk Nathan.
"Tapi bagi kakak kau masih adik kecil kakak, Rania," balas Nathan yang segera mendapat pukulan dari Rania.
Nathanpun hanya tertawa kecil sambil menggosok tangannya yang baru saja mendapat pukulan dari Rania.
"Kalian berdua membuat mamang khawatir, karena Mama pikir kalian berdua baru saja bertengkar," ucap Hanna.
"Mama terlalu banyak berpikir, sekarang Nathan harus pergi ma, Aleea pasti sudah menunggu Nathan di rumah," ucap Nathan pada sang mama.
__ADS_1
"Baiklah, sampaikan salam Mama untuk Aleea," balas Hanna.
Nathan hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya meninggalkan rumah orang tuanya.
Sepeninggalan Nathan, Raniapun segera masuk ke dalam rumah bersama sang mama.
"Ada yang ingin Rania tanyakan pada mama," ucap Rania yang berjalan di samping sama mama.
"Sejauh mana mama mengenal kak Aleea, ma?" lanjut Rania bertanya.
"Mama tidak terlalu mengenalnya karena Nathan baru mengenalkannya pada Mama tepat beberapa hari sebelum mereka menikah," jawab Hanna.
"Lalu apa yang membuat Mama menerima kak Aleea sebagai istri kak Nathan? bukankah selama ini Mama sangat pemilih?" tanya Rania.
"Selain karena mama melihat Aleea adalah perempuan yang cantik dan baik, Mama juga ingin melihat Nathan agar segera menikah," jawab Hanna.
"Sebenarnya apa yang membuat Mama sangat mendesak kak Nathan untuk segera menikah? Mama bahkan harus mengancam kak Nathan dengan menggunakan nama Rania agar kak Nathan segera menikah!"
"Selain papamu, mama hanya memilikimu dan Nathan dalam hidup mama, kau sedang fokus dengan kuliahmu saat ini jadi tidak mungkin mama memaksamu untuk segera menikah, jadi hanya Nathan yang bisa Mama desak untuk segera menikah, setidaknya mama bisa melihat salah satu anak mama menikah sebelum mama meninggalkan dunia ini," ucap Hanna.
"Kenapa Mama berbicara seperti itu? Mama masih sangat muda, umur Mama masih panjang, jadi pasti Mama bisa melihat anak-anak Mama menikah dan mama bisa menimang cucu dari kak Nathan ataupun Rania," ucap Rania.
**
Hari telah berganti, pagi itu Rania sengaja mendatangi rumah tempat tinggal Nathan dan Aleea.
Ia sampai disana Nathan baru saja meninggalkan rumah untuk berangkat bekerja, membuatnya hanya bertemu Aleea saat itu.
"Selamat pagi kak Aleea," sapa Rania dengan membawa langkahnya pada Aleea yang sedang menyiram tanamannya pagi itu.
"Hai Rania, bagaimana kabarmu?" tanya Aleea sambil meletakkan alat penyiram tanamannya lalu mencuci tangannya sebelum ia menghampiri Rania.
"Baik kak, apa kak Nathan sudah berangkat ke kantor?"
"Dia baru saja berangkat, apa kau kesini untuk mencarinya?" balas Aleea.
__ADS_1
"Tidak, Rania kesini karena memang ingin menemui kak Aleea," jawab Rania.
Aleea dan Rania kemudian duduk di teras rumah dan tak lama kemudian bibi datang dengan membawa dua minuman dan beberapa makanan ringan lalu menaruhnya di atas meja.
"Waktu pertama kali Rania bertemu dengan kak Aleea, Rania pikir Rania mengenal kakak, itu kenapa Rania bertanya pada kak Aleea saat itu," ucap Rania.
"Aaaahh begitu, apa kau memiliki teman yang mirip denganku?" tanya Aleea.
"Untuk sekilas mirip, tapi setelah Rania perhatikan ternyata berbeda hehe.... lagipula dia hanya teman masa kecil Rania," jawab Rania beralasan.
"Mungkin dulu kita saling mengenal saat masih kecil," ucap Aleea.
"Tidak mungkin kak, karena sampai sekarang Rania masih sering berhubungan dengan teman Rania yang sedikit mirip kak Aleea itu," balas Rania yang tidak ingin membuat Aleea curiga.
"Aaahh begitu, mungkin memang wajah sepertiku ada dimana-mana hehe.... "
"Mungkin seperti itu hehe...." balas Rania.
Setelah membicarakan banyak hal dengan Aleea, Rania kemudian berpamitan untuk pulang.
Setelah kepergian Rania, Aleeapun melanjutkan untuk menyiram tanamannya. Setelah semua tanamannya basah, Aleea kemudian masuk ke dalam rumah dan mengambil ponselnya yang ada di meja kamarnya.
Karena merasa bosan, Aleea kemudian menghubungi salah satu temannya, namun beberapa kali ia mencoba panggilannya tetap tidak terjawab.
Aleea kemudian mencoba untuk menghubungi temannya yang lain dan sama seperti sebelumnya, panggilannya juga tidak terjawab.
Sudah beberapa kali Aleea mencoba menghubungi satu persatu teman-temannya yang datang ke pesta pernikahannya, namun tidak ada satupun dari mereka yang menerima panggilan Aleea.
"Apa mereka sangat sibuk sampai tidak menghiraukan panggilanku?" tanya Aleea kesal.
Aleea kemudian menghubungi Nathan, meminta izin pada Nathan untuk pergi membeli beberapa peralatan bercocok tanam yang ia butuhkan.
Setelah Nathan mengizinkannya, iapun segera mempersiapkan dirinya untuk keluar dari rumah bersama sopir yang selalu siap untuk mengantarnya kemanapun dia pergi.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Aleeapun sampai di tempat tujuannya, sebuah toko yang menjual berbagai macam peralatan bercocok tanam mulai dari yang terkecil sampai yang paling besar.
__ADS_1
Saat tengah memilih beberapa peralatan yang ia butuhkan, tiba-tiba sebuah pot plastik yang tergantung di atas Aleea terjatuh dan mengenai tepat di kepala Aleea.
Untuk beberapa saat Aleea masih terjaga, namun tak lama kemudian semua yang ada di sekitarnya terlihat gelap dan hanya dalam hitungan detik Aleea tak sadarkan diri.