
Nathan berjalan menaiki tangga, lagi-lagi matanya menoleh sekilas ke arah kamar Aleea sebelum ia masuk ke kamarnya.
"Dimana gadis bodoh itu?" tanya Nathan pada dirinya sendiri sambil membawa langkahnya masuk ke kamarnya.
Nathan terdiam menatap ponselnya, jauh dalam hatinya ia memikirkan Aleea, namun ia berusaha untuk menghalau apa yang ia pikirkan saat itu.
"Aku tidak mengkhawatirkannya, aku juga tidak peduli padanya, tapi aku tidak ingin dia membuat masalah di luar sana jika terlalu lama pergi dari rumah ini," ucap Nathan.
Nathan kemudian membaringkan dirinya, menatap langit-langit kamarnya sambil memikirkan banyak hal yang terjadi sejak ia mengenal Aleea.
"Bryan, ternyata dia memiliki kekasih dan mereka sudah bertunangan, tapi itu bukan masalah karena Bryan sendiri yang mencampakkan Aleea," ucap Nathan.
Tiba-tiba Nathan teringat sesuatu saat berada di apartemen Evan.
"Apa mungkin Aleea sedang bersama Evan?" tanya Nathan setelah ia mengingat banyak bekas makanan dan minuman yang ada di meja makan Evan.
"Tidak, itu tidak mungkin, Evan pasti memberi tahuku jika Aleea bersamanya, lagi pula dia makan dengan banyak karena bosan dengan makanan di rumah sakit," ucap Nathan.
Karena isi kepalanya yang terlalu banyak memikirkan hal tidak penting, Nathan kemudian beranjak dari ranjangnya dan pergi ke ruang kerjanya.
Nathan menyalakan laptopnya, mengambil beberapa berkas yang ada di atas meja lalu mengerjakan beberapa pekerjaan yang sebenarnya tidak harus ia kerjakan saat itu.
Nathan berusaha menyibukkan kepalanya karena tidak ingin terlalu memikirkan hal-hal yang dianggapnya tidak penting.
**
Di tempat lain, Aleea dan Evan sedang duduk di atas sofa dengan popcorn yang ada diantara mereka berdua.
Mereka sedang menonton film berdua sampai larut malam. Beberapa kali Aleea tampak menguap dan matanya sudah tampak merah.
"Tidurlah jika kau sudah mengantuk, Aleea," ucap Evan pada Aleea.
"Aku akan tidur disini malam ini, kau bisa tidur di kamar, Nathan tidak akan mungkin datang saat tengah malam bukan?"
"Kau yang tidur di kamar Aleea, aku...."
"Aku justru akan merasa tidak nyaman jika aku selalu tidur di kamar dan membiarkanmu tidur di sofa Evan," ucap Aleea memotong ucapan Evan.
"Baiklah, lebih baik kita bergantian saja, malam ini aku akan tidur di kamar dan besok kau yang harus tidur di kamar," ucap Evan.
"Oke!" balas Aleea.
"Jadi, apa kau akan tidur sekarang?" tanya Evan.
"Tidak, 15 menit lagi filmnya selesai," jawab Aleea.
"Oke baiklah," balas Evan.
Mereka kemudian kembali fokus pada film di hadapan mereka, sampai akhirnya Aleea benar-benar tidak bisa menahan rasa kantuknya sebelum film selesai.
Aleea yang memaksakan dirinya akhirnya terpejam dengan kepalanya yang hampir terjatuh ke samping, dengan sigap Evan segera menahan kepala Aleea dengan tangannya.
Evan tersenyum tipis melihat Aleea yang sudah terpejam. Dengan pelan Evan mengambil popcorn yang ada di antara mereka, menaruhnya di meja lalu membaringkan kepala Aleea di sofa.
Evan kemudian beranjak dari sofa dan menaikkan kaki Aleea agar Aleea nyaman. Evan lalu masuk ke kamarnya, mengambil selimut dan menutup tubuh Aleea dengan selimut miliknya.
"Good night," ucap Evan sambil mengusap pelan rambut Aleea.
Aleea yang sudah sangat nyenyak dalam tidurnya, sama sekali tidak merasakan apapun. Sedangkan Evan, ia segera mematikan tv nya dan masuk ke kamarnya.
Evan menghela napasnya panjang saat ia baru saja berbaring di atas ranjangnya.
"Aku pikir semuanya akan baik-baik saja Aleea, maafkan aku sudah membuatmu menderita seperti ini," ucap Evan dalam hati.
**
Waktu berlalu, Nathan mengerjapkan matanya dan tersadar jika ia masih berada di ruang kerjanya.
Nathan kemudian mengangkat kepalanya yang berbaring di atas meja kerjanya, mengangkat kedua tangannya dan menggerakkan pinggangnya karena merasa begitu lelah setelah ia tidur dengan posisi duduk di kursi kerjanya.
"Aaarrghh.... kenapa aku tidur disini? badanku sakit semua sekarang!" gerutu Nathan sambil beranjak dari duduknya.
Nathan kemudian keluar dari ruang kerjanya lalu bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Setelah mempersiapkan dirinya, Nathan berjalan ke arah meja makan seperti biasa.
Untuk beberapa saat Nathan hanya diam, entah kenapa tiba-tiba matanya menatap tangga seolah menunggu seseorang yang biasanya menuruni tangga saat ia sedang sarapan.
Nathan menghela napasnya kasar lalu mengambil minuman di hadapannya dan segera beranjak setelah ia meneguk segelas air putih.
__ADS_1
"Sesekali aku harus merubah rutinitasku," ucap Nathan sambil berjalan memasuki mobilnya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Nathan berdering, sebuah panggilan masuk dari Vina.
"Halo Vina, ada apa?" tanya Nathan setelah ia menerima panggilan Vina.
"Kau harus menjemputku hari ini, supir bus dan taksi sedang melakukan demo, jadi aku kesulitan untuk pergi ke kantor," jawab Vina.
"Baiklah," balas Nathan singkat lalu mengakhiri panggilan Vina.
Nathan kemudian mengendarai mobilnya ke arah rumah Vina. Sesampainya disana, sudah ada Vina yang menunggunya dan segera masuk ke dalam mobil Nathan.
"Untung saja kau menjemputku, aku hampir stres karena tidak mendapatkan taksi sejak tadi," ucap Vina.
Nathan hanya diam tanpa mengatakan apapun sampai akhirnya Nathan menghentikan mobilnya di sebuah kafe.
"Kenapa berhenti disini?" tanya Vina pada Nathan.
"Tunggu disini, aku harus membeli sesuatu," jawab Nathan lalu keluar dari mobil dan masuk ke dalam kafe.
Tak lama kemudian Nathan keluar dari kafe dengan membawa roti dan dua americano.
"Tidak biasanya kau membeli roti dan kopi untuk sarapan, apa Aleea tidak memasak untukmu? apa bibi....."
"Jangan banyak bertanya Vina," ucap Nathan memotong ucapan Vina sambil memberikan satu americano untuk Vina.
"Waahhh americano, kau memang selalu tau apa yang aku suka," ucap Vina senang, meskipun sebenernya ia tidak menyukai minuman pahit itu.
"Aku hanya membeli apa yang aku suka," balas Nathan lalu mengendarai mobilnya sambil menikmati sepotong roti yang baru saja ia beli.
Tanpa Nathan tau, Rania yang saat itu berada di kafe sempat memanggil Nathan, namun Nathan terus berjalan pergi karena tidak mendengar panggilan Rania.
Rania yang berlari kecil mengikuti Nathan seketika menghentikan langkahnya saat ia melihat seorang perempuan yang ada di dalam mobil Nathan.
"Siapa perempuan itu? aku yakin itu bukan kak Aleea, tapi siapa?" tanya Rania sambil memperhatikan Nathan yang tampak mengobrol dengan perempuan yang duduk di sampingnya.
Sebagai seorang adik yang tidak mengetahui banyak hal tentang kehidupan sang kakak, Rania hanya diam dengan banyak tanda tanya dalam kepalanya sampai akhirnya mobil yang Nathan kendarai pergi meninggalkan kafe itu.
"Mungkin itu hanya teman kak Nathan yang menumpang mobil kak Nathan," ucap Rania dengan menganggukkan kepalanya pelan, memilih untuk berpikir positif tentang apa yang baru saja ia lihat.
**
"Tidak ada banyak bahan makanan yang bisa aku masak," ucap Aleea sambil memikirkan menu apa yang bisa ia buat dengan bahan seadanya.
"Aku tau," ucap Aleea dengan penuh senyum setelah ia mendapatkan ide tentang menu yang bisa ia masak pagi itu.
Beberapa lama berkutat di dapur, nasi goreng dengan telur mata sapi akhirnya tersaji di atas dua piring.
Aleea kemudian membawanya ke balkon dan menaruhnya di meja yang ada di balkon. Saat Aleea kembali masuk untuk mengambil minuman, Evan baru saja keluar dari kamarnya.
"Aleea, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Evan sambil menguap saat melihat Aleea membawa botol minuman dan 2 gelas ke arah balkon.
"Aku baru saja selesai memasak, kemarilah!" balas Aleea.
Evanpun membawa langkahnya mengikuti Aleea dan melihat 2 porsi nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi dan minuman yang ada di atas meja.
"Aku tidak tahu apakah ini sesuai dengan seleramu atau tidak, tapi aku rasa ini tidak begitu buruk," ucap Aleea.
Dengan penuh senyum Evanpun membawa dirinya duduk di kursi balkon.
"Hanya ini yang bisa aku masak dengan bahan yang ada di dapur, semoga kau menyukainya," balas Aleea lalu mengisi gelas Evan dengan air putih.
"Terima kasih Aleea," ucap Evan.
Mereka berduapun menikmati sarapan mereka di balkon, sesuatu yang belum pernah Evan lakukan sebelumnya.
"Kau semakin pandai memasak Aleea, sepertinya aku akan menyukai semua makanan yang kau masak," ucap Evan memuji masakan Aleea.
"Ini hanya nasi goreng Evan, semua orang bisa membuatnya," balas Aleea.
"Tapi tidak semua orang berhasil membuat dengan rasa yang seenak ini Aleea," ucap Evan yang membuat Aleea tersipu.
"Lain kali kau tidak perlu repot seperti ini Aleea, kita bisa memesan makanan dari luar," lanjut Evan.
"Aku sama sekali tidak merasa repot Evan, hanya ini yang bisa aku lakukan sebagai bentuk terima kasihku," ucap Aleea.
__ADS_1
"Melihatmu baik-baik saja sudah cukup untukku Aleea," balas Evan.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Aleea dan Evan mencuci piring dan membersihkan dapur bersama sebelum akhirnya mereka kembali duduk di balkon.
"Kau tidak akan pergi ke kantor bukan?" tanya Aleea memastikan.
"Tidak, Nathan melarangku pergi ke kantor sampai hasil CT scanku keluar," jawab Evan.
"Semoga semuanya baik-baik saja karena Nathan sangat mengkhawatirkanmu, Evan," ucap Aleea.
"Aku juga tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu yang buruk padamu," lanjut Aleea.
"Semuanya akan baik-baik saja Aleea, percaya padaku!" ucap Evan yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Aleea.
Evan kemudian membawa langkahnya masuk dan tak lama kemudian kembali dengan membawa kotak P3K.
"Kemarilah Aleea!" ucap Evan yang meminta Aleea untuk duduk.
"Kau harus rajin membersihkan dan mengobati lukamu Aleea, jangan sampai terjadi infeksi!" ucap Evan.
"Ini hanya luka kecil Evan, pasti akan sembuh dengan sendirinya," balas Aleea.
"Sekecil apapun lukamu, kau harus tetap mengobatinya Aleea, agar tidak semakin buruk dan semakin sulit untuk mengobatinya," ucap Evan sambil melepas plester yang ada pada kening Aleea.
Evan kemudian membersihkan luka Aleea dan mengobatinya lalu kembali menutupnya dengan plester.
"Apa lantai kamar mandinya sangat licin sampai kau terpeleset di kamar mandi?" tanya Evan sambi membereskan kotak P3Knya.
Aleea hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Ia kembali teringat tentang kejadian saat itu, dimana ia tanpa sadar menghabiskan waktunya satu malam di bawah shower yang terus menyala.
"Aleea, sepertinya kita melupakan sesuatu!" ucap Evan yang membuat Aleea segera membawa pandangannya pada Evan.
"Apa?" tanya Aleea.
"Bukanlah kita berbelanja di supermarket beberapa hari yang lalu? apa kau sudah mengambilnya dari mobilku?" balas Evan.
"Aaahh iya, aku belum mengambilnya," ucap Aleea yang baru teringat tentang hal itu.
"Ayo kita mengambilnya, sepertinya akan menyenangkan jika kita membuat kue bersama," ucap Evan yang dibalas anggukan kepala oleh Aleea.
Evan dan Aleea kemudian keluar dan berjalan ke arah basement untuk mengambil barang belanjaan mereka di mobil Evan lalu membawanya masuk ke apartemen Evan.
"Pisahkan barang-barang pribadimu dengan bahan-bahan kue Aleea, aku akan mencari jenis kue apa yang bisa kita buat dengan bahan-bahan kue yang sudah kita beli!" ucap Evan pada Aleea.
Aleea menganggukkan kepalanya lalu mengambil satu kantong besar diantara kantong yang lain dan menggesernya menjauh.
"Ini adalah bahan-bahan kue yang sudah kita beli," ucap Aleea sambil menaruh beberapa kantong lainnya di atas sofa ruang tamu.
"Oke baiklah, mari kita bagi tugas!" ucap Evan lalu membawa semua bahan kue itu ke dapur.
"Aleea, kau lelehkan coklat padat, margarin dan sedikit minyak, aku akan mengocok telur dan gula," ucap Evan pada Aleea.
"Oke siap," balas Aleea lalu menyiapkan mangkok untuk melelehkan coklat padat di atas air mendidih.
Setelah selesai mengocok telur dan gula, Evan kemudian memasukkan coklat bubuk dan tepung dengan diayak lalu mengaduknya sampai rata.
Setelah itu Evan memasukkan coklat padat yang sudah meleleh dengan sempurna dan kembali mengaduknya.
Tak lupa Aleea memanaskan oven terlebih dahulu lalu mengoleskan margarin pada loyang persegi kemudian menaruh kertas roti sebagai alasnya.
Selama mereka membuat kue, mereka membicarakan banyak hal yang sesekali membuat Aleea tertawa.
Melihat Aleea yang tertawa benar-benar membuat Evan merasa lega, setidaknya kesedihan yang Aleea rasakan sudah membaur seiring dengan berjalannya waktu.
Setelah mendapatkan suhu oven yang sesuai, Evanpun memasukkan adonan fudgy brownies nya ke dalam loyang lalu memanggangnya di dalam oven selama kurang lebih 35 menit dengan suhu yang diturunkan setelah 10 menit pertama pemanggangan.
**
Di kantor, Nathan berdiri di ruangan meeting dengan raut wajah menegang karena menahan emosinya.
"Kenapa kalian bisa mengabaikan hal kecil itu? bukankah sudah jelas jika masalah kecil itu akan menjadi besar jika tidak segera kalian selesaikan!"
"Maaf pak Nathan, tim marketing dan produksi sudah berusaha untuk berkoordinasi tentang masalah ini, tapi....."
"Tapi apa? tidak ada hasil dan solusi lalu kalian membiarkannya?" tanya Nathan memotong ucapan Vina.
"Maafkan kami pak," ucap Vina dengan sedikit menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Saya menyerahkan tanggung jawab ini pada kamu karena saya mempercayai kamu Vina, tapi jika seperti ini lebih baik bubarkan saja tim yang sudah kamu bentuk!" ucap Nathan lalu melemparkan berkas yang ia pegang.
"Meeting selesai, kembali ke tempat kalian masing-masing!" lanjut Nathan lalu berjalan keluar dari ruangan meeting dengan penuh emosi.