
Malam yang panjang telah berlalu, Nathan keluar dari kamarnya pagi-pagi sekali karena sejak semalam ia merasa kesulitan tidur.
Saat tengah menuruni tangga, bersamaan dengan itu Aleea baru saja keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi seperti biasa.
"Kau mau kemana?" tanya Nathan sambil menahan tangan Aleea saat Aleea menuruni tangga.
"Bukan urusanmu, bukankah kau sudah tidak peduli lagi padaku!" balas Aleea dengan menarik tangannya dari Nathan.
"Meskipun kau menamparku, aku tidak akan mengatakan apapun padamu," lanjut Aleea lalu membawa langkahnya pergi.
Nathanpun segera berlari kecil mengejar Aleea dan kembali menahan tangan Aleea.
"Ada yang ingin aku bicarakan!" ucap Nathan.
"Katakan saja," balas Aleea dengan kembali menarik tangannya dari Nathan.
"Rania mungkin akan mengajakmu pergi berlibur, aku kau Rania dan Evan, Evan sudah menyetujui rencana Rania tapi keputusan ada padamu," ucap Nathan.
"Hanya itu?" tanya Aleea.
"Aku tidak akan memaksamu untuk menolak ajakan Rania, tapi aku yakin kau pasti akan merasa tidak nyaman jika harus berlama-lama bersandiwara di depan Rania, jadi pikirkan baik-baik, aku....."
"Tenang saja, aku akan menolaknya," ucap Aleea memotong ucapan Nathan lalu berjalan pergi begitu saja.
Nathan hanya diam di tempatnya, menatap Aleea yang berjalan pergi meninggalkannya.
"Kemana dia pergi sepagi ini? apa dia memang biasa pergi sepagi ini dan pulang sangat malam?" batin Nathan bertanya dalam hati.
"Entahlah, aku tidak peduli, asalkan dia tidak melakukan hal yang merugikanku!" ucap Nathan lalu membawa langkahnya ke taman belakang, menyempatkan waktunya berenang untuk menyegarkan badannya.
Di sisi lain, Aleea sudah berada di dalam taksi yang mengantarnya ke ruko. Sesampainya di ruko sudah ada Evan yang menunggunya disana.
"Sejak kapan kau disini?" tanya Aleea pada Evan yang sudah berdiri di depan rukonya.
"Beberapa menit yang lalu," jawab Evan.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" tanya Aleea.
"Tidak, aku hanya ingin mengembalikan sesuatu," jawab Evan lalu membuka mobilnya dan mengambil tas bekal milik Aleea kemudian memberikannya pada Aleea.
"Kenapa berat? apa kau mengisinya dengan makanan lagi?" tanya Aleea sambil menimbang-nimbang tas bekal di tangannya.
Evan hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum menjawab pertanyaan Aleea.
"Apa kau mau kita makan ini bersama?" tanya Aleea.
"Jika kau tidak keberatan," jawab Evan.
"Tentu saja tidak, ayo masuklah!" ucap Aleea lalu membuka rukonya.
Aleea menutup kembali rukonya dan membiarkannya sedikit terbuka. Aleea kemudian naik ke lantai dua bersama Evan dan menikmati sarapan mereka di balkon lantai dua.
"Waaahh.... kau memasak dengan lebih baik dibanding aku!" ucap Aleea setelah ia mencoba masakan Evan.
"Tidak Aleea, kau selalu memujiku dengan berlebihan," balas Evan.
"Aku tidak berlebihan Evan, ini memang jauh lebih baik dibanding masakanku!" ucap Aleea.
"Bagaimana acara di kantor kemarin? apa semuanya berjalan dengan lancar?" lanjut Aleea bertanya.
"Iya semuanya berjalan sesuai dengan rencana bahkan memberikan hasil di atas perkiraanku," jawab Evan.
"Waaaahhh, kau melakukan pekerjaanmu dengan sangat baik Evan," ucap Aleea memuji.
"Berhentilah memujiku Aleea, apa kau tidak melihat kepalaku yang semakin besar ini?" ucap Evan yang membuat Aleea terkekeh.
Aleea dan Evan menikmati sarapan mereka berdua sambil mengobrol dan sesekali bercanda.
"Aku akan mencucinya sendiri, kau pergilah sebelum terlambat!" ucap Aleea.
"Baiklah, aku akan pergi karena kau mengusirku," balas Evan dengan menghela napasnya.
Aleea hanya tersenyum sambil memukul pelan bahu Evan.
"Nathan tidak menyakitimu lagi bukan?" tanya Evan sambil mengenakan jasnya yang beberapa saat lalu ia lepas.
"Tidak," jawab Aleea dengan menggelengkan kepalanya.
"Ingat Aleea, kau harus memberi tahuku jika Nathan menyakitimu lagi, oke?"
Aleea hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu mengantar Evan turun dan keluar dari ruko.
"Terima kasih sudah membuat perutku kenyang pagi ini," ucap Aleea penuh senyum.
__ADS_1
Setelah kepergian Evan, Aleeapun mulai menyibukkan dirinya di dalam ruko sembari menunggu kedatangan Tika.
**
Di kantor. Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang saat Evan sedang mengerjakan pekerjaannya.
Setelah mencetak beberapa dokumen, Evan kemudian merapikannya, memeriksa ulang lalu membawanya keluar dari ruangannya.
Jika biasanya Evan akan langsung memberikan laporannya pada Nathan, hari itu Evan memberikannya pada Vina.
"Laporan event kemarin," ucap Evan sambil menaruh sebuah map di meja kerja Vina.
"Bukankah seharusnya pak Evan memberikannya pada pak Nathan?" tanya Vina.
"Bukankah kau sekertarisnya!" balas Evan lalu berjalan pergi begitu saja.
Vina menghela napasnya lalu beranjak dari duduknya dan membawa map itu ke ruangan Nathan.
Vina mengetuk pintu beberapa kali sebelum membukanya dan masuk ke ruangan Nathan.
"Ini laporan event kemarin dari pak Evan," ucap Vina sambil memberikan sebuah map pada Nathan.
"Kenapa Evan memberikannya padamu?" tanya Nathan.
Vina hanya menggelengkan kepalanya dengan menaikkan kedua bahunya.
"Apa ada hal lain lagi?" tanya Nathan.
"Tidak, permisi," jawab Vina lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Nathan.
"Bersikap seperti pegawai sungguhan rasanya menyebalkan, membuat jarak antara aku dan Nathan semakin terasa jauh," ucap Vina dalam hati dengan menghela napasnya panjang.
Di sisi lain, Nathan keluar dari ruangannya untuk menemui Evan. Ia merasa ada banyak hal yang harus mereka bicarakan agar tidak membuat persahabatan mereka renggang.
Namun saat baru saja duduk di hadapan Evan, Evan sudah berniat mengusir Nathan bahkan sebelum Evan membawa pandangannya pada Nathan sedikitpun.
"Pergilah jika bukan masalah pekerjaan yang ingin kau bicarakan!" ucap Evan pada Nathan dengan kedua matanya yang fokus pada berkas dan laptop di hadapannya.
"Jangan bersikap seperti anak kecil Evan, kita....."
"Ini masih jam kerja dan aku sedang mengerjakan pekerjaanku, aku harap kau tidak menggangguku!" ucap Evan memotong ucapan Nathan.
"Baiklah, aku menunggumu di rooftop saat jam makan siang nanti," ucap Nathan lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Evan.
Evan hanya diam namun ekor matanya menatap langkah Nathan yang keluar dari ruangannya.
Tanpa Nathan tahu, sebenarnya Evan hanya asal mengetik sejak Nathan masuk ke ruangannya. Evan hanya berusaha terlihat sibuk dengan pekerjaannya dan sengaja mengabaikan Nathan.
"Ini bukan hal yang kekanak-kanakan, aku hanya tidak ingin kau bertindak terlalu jauh pada Aleea, Nathan!" ucap Evan dengan menghela napasnya panjang.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, namun Evan masih duduk di kursi kerjanya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk dari Nathan. Evan hanya tersenyum tipis lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangannya menuju ke arah lift untuk pergi ke rooftop.
Di rooftop, sudah ada Nathan yang menunggu kedatangan Evan. Nathan duduk di kursi panjang yang ada disana dan tak lama kemudian Evan datang lalu duduk di samping Nathan.
"Maafkan aku, aku tidak tahu jika apa yang terjadi antara aku dan Aleea ternyata sangat mengganggumu," ucap Nathan sambil menatap gedung-gedung tinggi di hadapannya.
Evan hanya diam, membiarkan Nathan mengatakan apapun yang ada dalam kepalanya saat itu.
"Semua yang terjadi adalah kesalahanku Evan, kau hanya membantuku untuk menyempurnakan kebohonganku, aku janji jika suatu saat Aleea mengetahui hal ini, aku akan mengatakan padanya jika kau sama sekali tidak bersalah atas apa yang terjadi pada hidupnya," ucap Nathan.
"Hubunganku dengan Aleea memang tidak baik, tapi aku tau kau berhubungan baik dengannya, entah sedekat apa hubungan kalian yang sebenarnya, aku tidak akan ikut campur, aku juga tidak akan peduli dengan apapun yang Aleea lakukan selama dia tidak mencoreng nama baik keluarga dan perusahaan," lanjut Nathan.
Nathan menghela napasnya panjang lalu membawa pandangannya pada Evan yang sejak tadi hanya diam.
"Katakan sesuatu Evan, aku tidak ingin persahabatan kita berantakan hanya karena seorang perempuan!" ucap Nathan.
"Aku tau kau tidak mencintainya Nathan, aku tau kau membawanya dalam hidupmu hanya untuk memanfaatkannya, aku tidak peduli apa niatmu sebenarnya karena aku akan tetap membantumu, tapi hanya satu yang aku minta darimu Nathan, jangan pernah menyakitinya," ucap Evan.
"Apa kau menyukainya? atau bahkan mencintainya?" tanya Nathan.
"Ini bukan tentang suka atau cinta, dia hanya gadis biasa yang sempat mempercayakan hidupnya padamu Nathan, rasanya sangat tidak adil jika dia harus mendapat perlakuan burukmu setelah kau memanfaatkan dia hanya untuk kepentinganmu sendiri!" balas Evan.
"Aku peduli padanya, aku mengkhawatirkanya karena aku merasa bersalah padanya, aku ikut membawanya masuk ke dalam kebohongan ini bahkan aku yang membuat kontrak konyol itu dan jika dia mengakhiri hidupnya dengan semua ingatan kebohongan ini, aku akan benar-benar hidup dengan rasa bersalah Nathan!" lanjut Evan.
Nathan menganggukkan kepalanya pelan lalu beranjak dari duduknya.
"Aku mengerti," ucap Nathan.
"Aku tidak akan memaksamu untuk mempertahankannya, aku juga tidak akan memaksamu untuk mencintainya, aku hanya memintamu untuk tidak menyakitinya Nathan, jadi aku mohon berhentilah berbuat kasar padanya selama kau masih bersamanya," ucap Evan.
__ADS_1
Nathan menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis.
"Mulai sekarang aku akan benar-benar tidak mempedulikannya, aku hanya membutuhkannya tetap berstatus sebagai istriku, tapi di rumah dia hanya orang lain bagiku," ucap Nathan.
Evan hanya diam, apa yang Nathan katakan memang bukan hal yang baik, namun itu lebih baik daripada Nathan yang terus menerus menyakiti Aleea.
"Aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi Evan, persahabatan kita jauh lebih penting dibanding seorang gadis yang hilang ingatan, aku harap kau juga memikirkan hal yang sama sepertiku," ucap Nathan dengan membawa pandangannya pada Evan yang masih duduk.
Evan hanya diam dengan menatap kedua mata Nathan, tatapan matanya saja sudah mengisyaratkan ucapan Evan yang tidak terdengar namun bisa dimengerti oleh Nathan.
Nathan tersenyum tipis lalu membawa langkahnya pergi, meninggalkan Evan yang masih duduk di rooftop seorang diri.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 8 malam saat Aleea dan Tika baru saja menutup ruko mereka.
"Sebenarnya aku akan mengantarmu pulang, tapi sepertinya sudah ada yang menjemputmu!" ucap Tika dengan membawa pandangannya pada mobil yang baru saja berhenti di depan ruko.
Tak lama kemudian si pemilik mobil keluar lalu menghampiri Aleea dan Tika.
"Apa kalian akan pulang?" tanya Evan pada Aleea dan Tika.
"Iya, antarkan Aleea dengan selamat Evan, aku pergi dulu, bye Aleea!" balas Tika sambil melambaikan tangannya pada Aleea.
"Hati-hati di jalan," ucap Aleea sambil membalas lambaian tangan Tika.
"Apa kau kesini untuk menjemputku?" tanya Aleea pada Evan.
"Apa kau sudah makan malam?" balas Evan bertanya.
"Sudah," jawab Aleea dengan tersenyum karena ia mengerti maksud dari pertanyaan Evan yang sebenarnya ingin mengajaknya makan malam.
"Yaaahhh aku terlambat, ayo masuklah!" ucap Evan sambil membuka pintu mobilnya untuk Aleea.
Evan kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan ruko bersama Aleea yang duduk di sampingnya.
Sepanjang jalan mereka membicarakan banyak hal dengan sesekali bercanda yang membuat mereka tertawa.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Evanpun sampai di rumah Nathan.
"Terima kasih sudah mengantarku Evan," ucap Aleea sebelum ia keluar dari mobil Evan.
"Sepertinya kita harus membuat alasan lagi," ucap Evan dengan menatap satu titik di hadapannya.
Seketika Aleea membawa pandangannya ke arah Evan menatap dan mendapati Rania yang berdiri di teras rumahnya.
"Rania!"
"Ayo keluar sebelum dia salah paham!" lanjut Aleea lalu keluar dari mobil Evan.
"Rania, apa yang kau lakukan disini? apa kau mencari kakakmu?" tanya Aleea pada Rania.
"Tidak, Rania kesini untuk mencari kak Aleea," jawab Rania.
"Aaahhh begitu, masuklah!" ucap Aleea.
"Kenapa kak Aleea bersama kak Evan lagi? kalian berdua dari mana malam-malam seperti ini?" tanya Rania dengan menatap Aleea dan Evan bergantian.
Aleea dan Evan seketika saling pandang sebelum mereka menjawab pertanyaan Rania.
"Kakak yang meminta Evan menjemput Aleea," sahut Nathan yang baru saja keluar dari rumah, membuat semua yang ada disana seketika membawa pandangan mereka ke arah Nathan.
"Aleea mengikuti kelas memasak dan hari ini dia pulang terlambat, karena kakak sibuk jadi kakak meminta Evan menjemputnya," jelas Nathan yang berusaha membuat Rania percaya padanya.
"Kelas memasak sampai malam seperti ini?" tanya Rania dengan membawa pandangannya pada Aleea.
"Ada seminar yang diadakan mentor di kelas memasak, jadi aku pulang malam karena mengikuti seminar itu," jawab Aleea beralasan.
"Masuklah sayang, kau pasti lelah!" ucap Nathan sambil merangkul bahu Aleea.
"Tapi Rania menungguku, apa ada yang ingin kau bicarakan denganku Rania?" ucap Aleea sekaligus bertanya pada Rania.
"Besok saja, Rania akan menemui kak Aleea besok pagi," jawab Rania.
"Oke baiklah," ucap Aleea dengan menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih sudah menjemput Aleea, Evan!" ucap Nathan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Evan.
"Kau juga harus pulang Rania!" ucap Nathan pada Rania lalu masuk ke dalam rumah bersama Aleea.
"Ayo pulang!" ucap Evan pada Rania sambil membawa langkahnya pergi, namun Rania segera berlari kecil mengejar Evan dan menahan tangan Evan.
"Kenapa? apa kau memintaku untuk mengantarmu pulang lagi?" tanya Evan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Rania.
__ADS_1
Rania kemudian memberi tahu supirnya jika ia akan pulang bersama Evan. Ia kemudian membuka pintu mobil Evan dan duduk di samping Evan.
Evanpun segera mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Nathan.