
Nathan yang sejak tadi menunggu kedatangan Aleea seketika beranjak dari duduknya setelah melihat Aleea masuk ke dalam rumah.
"Apa kau tau ini jam berapa Aleea?" tanya Nathan.
"Aku tau," jawab Aleea tanpa menghentikan langkahnya.
Nathanpun segera mengikuti langkah Aleea dan dengan cepat menahan tangan Aleea.
"Apakah menurutmu pantas kau pulang ke rumah tengah malam seperti ini bersama laki-laki lain padahal kau sudah memiliki suami?" tanya Nathan.
"Kita memang masih terikat dengan pernikahan, tapi aku sudah tidak menganggapmu sebagai suami, Nathan!" balas Aleea sambil berusaha menarik tangannya dari Nathan,
"Kau adalah istriku Aleea dan aku adalah suamimu, kau harus bisa menjaga sikapmu agar....."
"Agar aku tidak membuat masalah untukmu dan keluargamu, benar begitu bukan?"
Nathan terdiam, apa yang Aleea katakan memang benar, tapi ia berusaha untuk mencari alasan karena ia ingin membuat Aleea percaya jika ia ingin memperbaiki hubungan mereka berdua dan salah satu cara yang harus ia lakukan adalah berusaha untuk tidak bersikap egois.
"Aku tau apa yang harus aku lakukan Nathan, jadi berhenti ikut campur masalahku dan tidak perlu bersikap pura-pura peduli padaku!" ucap Aleea yang kembali menarik tangannya dengan kasar lalu segera berlari kecil menaiki tangga.
Aleea masuk ke kamarnya, membaringkan badannya di ranjang dengan kesal.
"Apa tidak bisa sehari saja dia tidak membuatku marah?" tanya Aleea pada dirinya sendiri.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Aleea berdering, sebuah panggilan masuk dari Tika.
"Halo Tika, kenapa kau menghubungiku malam-malam seperti ini?" tanya Aleea setelah ia menerima panggilan Tika.
"Sebelumnya aku minta maaf karena tidak bisa menemanimu bertemu Evan hari ini, karena tadi pagi aku mendapat kabar jika ibu jatuh di kamar mandi dan pingsan," jelas Tika yang merasa bersalah.
"Aku belum membahas apapun dengan Evan hari ini, kita akan membahasnya setelah kau kembali nanti, jadi bagaimana keadaan ibumu sekarang, Tika?" ucap Aleea sekaligus bertanya.
"Ibu sekarang sedang kritis di rumah sakit Aleea, sepertinya aku tidak bisa kembali dalam waktu dekat, ibu hanya memilikiku disini jadi aku tidak bisa meninggalkannya, sekali lagi aku minta maaf Aleea," jelas Tika.
"Aku mengerti Tika, untuk saat ini fokus saja dengan keadaan ibumu dan semoga ibumu akan segera melewati masa kritisnya," ucap Aleea.
"Semoga saja Aleea, karena aku tidak berada disana bersamamu, apapun keputusanmu, aku akan menyetujuinya Aleea, termasuk jika kau akan menutup ruko untuk sementara sampai aku kembali," ucap Tika.
"Apapun keputusan harus kita diskusikan Tika dan aku akan tetap membuka ruko, aku bisa membuat dan menjualnya sendiri walaupun mungkin aku harus membatasi jumlah pesanan yang masuk," balas Aleea.
"Berjualan sendiri tidak akan mudah Aleea, jika kau mau kau bisa mencari pegawai baru, aku rasa pendapatan kita sudah cukup untuk memberikan gaji pada pegawai kita nanti," ucap Tika.
"Kita pikirkan hal itu nanti, sekarang fokus saja dengan kesembuhan ibumu dan segera kembali jika semuanya sudah baik-baik saja, oke?"
"Oke, terima kasih atas pengertianmu Aleea," balas Tika.
Aleea menghela napasnya panjang setelah panggilan Tika berakhir. Ia terdiam menatap langit-langit kamarnya.
Dalam hatinya ada kekhawatiran jika bisnis yang dijalaninya akan benar-benar berakhir, mengingat bagaimana keadaan ibu Tika saat itu.
"Apa yang harus aku lakukan jika semuanya benar-benar berakhir?" batin Aleea bertanya dalam hati.
**
Waktu berlalu, malam telah berganti pagi. Karena tidak ada kegiatan di ruko, Aleea membantu bibi memasak di dapur.
Namun tiba-tiba Aleea merasakan sesuatu yang membuat perutnya tidak nyaman.
Aleea kemudian membuat jus dan meminumnya, tetapi tetap saja rasa tidak nyaman itu masih terasa di perutnya.
Saat baru saja Aleea selesai memasak bersama bibi, terdengar suara langkah yang memasuki rumah. Aleeapun segera membawa langkahnya untuk melihat tamu yang datang sepagi itu dan ternyata mama Nathanlah pemilik suara langkah kaki itu.
"Selamat pagi sayang," sapa Hanna dengan penuh senyum.
"Pagi ma," balas Aleea yang segera membawa dirinya menyambut sang mertua.
Mereka berpelukan sebentar sebelum akhirnya Aleea meminta sang mama untuk ikut sarapan bersama.
"Aleea akan memanggil Nathan sebentar ma," ucap Aleea lalu berjalan menaiki tangga.
Aleea segera membawa langkahnya ke arah kamar Nathan.
"Jika aku mengetuk pintu, mungkin mama akan mendengarnya dan curiga," ucap Aleea dalam hati.
__ADS_1
Dengan pelan, Aleea membuka pintu kamar Nathan yang tidak terkunci dan mendapati Nathan yang sudah tidak ada di atas ranjangnya.
"Kemana dia? apa ke ruang kerjanya?" tanya Aleea pada dirinya sendiri.
Namun tiba-tiba Aleea mendengar suara dari dalam kamar mandi, Aleeapun segera mendekat dan berdiri di depan pintu kamar mandi.
Saat Aleea baru saja berdiri di depan pintu kamar mandi, saat itulah Nathan membuka pintu kamar mandinya, mereka yang sama-sama terkejutpun seketika berteriak dengan bersamaan.
"Apa yang kau lakukan disini, Aleea? kau....."
Seketika Aleea membungkam mulut Nathan agar mama Nathan tidak mendengar apa yang terjadi di dalam kamar Nathan.
"Diamlah, aku kesini untuk memberi tahumu jika mama datang," ucap Aleea berbisik pada Nathan.
"Mmmppp mmmppp!!!"
Aleea seketika melepaskan tangannya saat melihat Nathan kesulitan berbicara.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk? atau kau sengaja ingin mengintipku di kamar mandi?" tanya Nathan dengan senyumnya yang membuat Aleea kesal.
"Aku sengaja tidak mengetuknya karena takut mama mendengarnya dan curiga, apa kau sangat bodoh sampai tidak terpikirkan hal itu?"
"Kau yang bodoh, apa kau pikir rumah ini sangat sempit sampai-sampai suara ketukan pintu disini terdengar dari bawah!" balas Nathan sambil mendorong kening Aleea dengan jadi telunjuknya.
"Kau....."
"Apa kau ingin aku membuka handuk ini di depanmu sekarang?" tanya Nathan yang tidak membiarkan Aleea melanjutkan ucapannya.
Aleea yang semakin kesalpun akhirnya keluar dari kamar Nathan lalu membawa langkahnya menuruni tangga, sedangkan Nathan hanya terkekeh melihat Aleea yang terlihat sangat kesal saat itu.
Setelah Nathan mengenakan pakaiannya, iapun keluar dari kamarnya dan membawa langkahnya ke arah meja makan dimana sudah ada Aleea dan sang mama disana.
Setelah Nathan duduk, Aleeapun segera menyiapkan nasi dan lauk untuk Nathan, seolah ia adalah istri yang sigap melayani sang suami.
"Kau terlihat sedikit pucat Aleea, apa kau baik-baik saja?" ucap Hanna sekaligus bertanya pada Aleea.
"Aleea baik-baik saja ma, hanya saja.... Aleea merasa sedikit tidak nyaman di bagian perut," jawab Aleea.
"Kenapa?" sahut Nathan bertanya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Aleea.
Mereka bertigapun mulai menikmati makanan di hadapan mereka. Namun saat Aleea baru saja mencoba masakan di hadapannya, tiba-tiba rasa tidak nyaman di perutnya semakin menjadi-jadi.
Aleea yang berusaha menahannya membuat raut wajahnya semakin pucat bersama rasa mual yang semakin mengganggunya.
"Hmppp!"
Seketika Nathan dan Hanna membawa pandangan mereka ke arah Aleea saat melihat Aleea yang tampak menahan mual saat itu.
"Maaf ma, Aleea permisi sebentar!" ucap Aleea yang segera beranjak dari duduknya dan berlari ke arah toilet yang ada di dekat dapur.
Aleea seketika memuntahkan seluruh isi perutnya saat itu juga dan hanya terlihat bekas jus yang tidak tercerna dengan baik oleh Aleea.
"Astaga, ada apa denganku? kenapa perutku mual sekali?" batin Aleea bertanya dalam hati sambil memegangi perutnya.
Sudah lebih dari 5 menit Aleea masih berada di toilet karena ia tidak berhenti muntah sejak tadi meskipun yang ia keluarkan hanya cairan bening.
"Aleea, buka pintunya Aleea!" ucap Nathan sambil mengetuk pintu toilet setelah beberapa lama ia menunggu disana.
Aleea yang merasa sudah sangat lemas akhirnya membuka pintu toilet dan keluar dari toilet dengan raut wajahnya yang semakin pucat.
"Ada apa denganmu, Aleea? kenapa kau tiba-tiba seperti ini?" tanya Nathan pada Aleea.
"Entahlah, badanku terasa sangat lemas sekarang," jawab Aleea yang hampir saja kehilangan keseimbangan tubuhnya, namun dengan sigap Nathan menahannya.
"Sejak kapan kau merasa mual Aleea?" tanya Hanna yang ikut menghampiri Aleea.
"Sejak tadi pagi ma," jawab Aleea.
"Bawa Aleea masuk ke kamar Nathan, mama akan menghubungi dokter agar memeriksa keadaan Aleea, sepertinya dia sedang hamil," ucap Hanna yang membuat Aleea dan Nathan begitu terkejut.
"Sepertinya Aleea hanya kelelahan saja ma, Aleea hanya perlu beristirahat, jadi tidak perlu memanggil dokter," ucap Aleea.
"Kita tunggu sampai nanti siang saja, jika keadaannya masih seperti ini, Nathan akan membawanya ke rumah sakit," ucap Nathan.
__ADS_1
"Tidak, mama akan tetap menghubungi dokter, jangan sampai kalian terlambat mengetahui kehamilan Aleea," ucap Hanna lalu membawa langkahnya pergi sambil menghubungi dokter.
Sedangkan Nathan membantu Aleea menaiki tangga dan berjalan ke arah kamar.
"Sebaiknya kau berisitirahat di kamarku agar mama tidak curiga jika kita tidur di kamar yang berbeda," ucap Nathan.
Aleea hanya menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah Nathan yang berjalan masuk ke kamar Nathan.
"Apa mama benar-benar meminta dokter untuk datang?" tanya Aleea saat ia sudah duduk di tepi ranjang Nathan.
"Sepertinya begitu, tapi kau tidak sedang hamil bukan?" balas Nathan sekaligus bertanya.
"Apa maksudmu? Kenapa kau bertanya seperti itu? memangnya kau pikir aku perempuan seperti apa Nathan?" tanya Aleea yang emosi mendengar pertanyaan Nathan.
"Aku tau kau sangat dekat dengan Evan, kalian bahkan pernah tinggal berdua dan kemarin kau pergi dari pagi sampai larut malam bersamanya, aku tidak tau apa saja yang kalian lakukan selama ini, bisa saja kau....."
PLAAAAAKKKKK
Satu tamparan keras mendarat di pipi Nathan sesaat setelah Aleea beranjak dari duduknya. Apa yang Nathan katakan tidak hanya melukai harga dirinya, tapi juga akan melukai harga diri Evan jika Evan mendengarnya.
"Jaga ucapanmu Nathan, aku bukan perempuan seperti itu dan Evan bukan laki-laki brengsek sepertimu!" ucap Aleea sambil menunjuk tepat di hadapan wajah Nathan.
"Jika memang kau tidak melakukannya, kau tidak perlu semarah ini padaku Aleea, lagi pula bagaimanapun keadaanmu aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, tidak peduli jika hamil dengan laki-laki lain sekalipun!" ucap Nathan.
"Kau benar-benar sakit Nathan, kau harus menemui psikolog agar kau tau jika otakmu sakit bahkan lebih sakit dibanding orang gila sekalipun!" ucap Aleea penuh emosi.
"Diam dan berbaringlah Aleea, dokter akan segera datang dan memeriksa keadaanmu!" ucap Nathan sambil mencengkeram kedua pipi Aleea dengan satu tangannya lalu menghempaskan Aleea ke atas ranjangnya.
Nathan kemudian keluar dari kamarnya, sedangkan Aleea masih terbaring di atas ranjang Nathan dengan memegangi kedua pipinya yang terasa sakit.
"Apa seperti ini caramu memperbaiki hubungan kita? sikapmu yang kasar, egois dan sangat labil ini sama sekali tidak menunjukkan keseriusan dari ucapanmu padaku!" batin Aleea dalam hati.
Saat tengah menunggu kedatangan dokter, beberapa kali Aleea masuk ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya yang sudah kosong, membuatnya semakin lemah dan pucat.
Hingga akhirnya dokter datang dan memeriksa keadaan Aleea. Dokter menanyakan beberapa pertanyaan pada Aleea dan pada akhirnya dokter menjelaskan jika apa yang terjadi pada Aleea saat itu karena akibat dari daging rusa yang sebelumnya Aleea makan.
"Beberapa orang memang memiliki keadaan tubuh yang berbeda dan daging rusa di tubuh pasien bukanlah jenis daging yang bisa dicerna dengan baik," ucap dokter lalu memberikan secarik kertas yang bertuliskan beberapa jenis obat yang harus Aleea konsumsi untuk beberapa hari.
"Jika dalam beberapa hari rasa mualnya belum hilang, silakan datang ke rumah sakit!" ucap dokter.
"Baik dok," balas Aleea.
Setelah dokter pergi, kini hanya ada Aleea, Nathan dan Hanna di dalam kamar itu.
"Mama pikir kau sedang hamil Aleea!" ucap Hanna yang hanya dibalas senyum tipis oleh Aleea.
"Tapi kenapa kau tiba-tiba memakan daging rusa? dari mana kau mendapatkannya?" tanya Hanna penasaran.
"Aleea...... "
"Nathan yang memberikannya," sahut Nathan.
"Lain kali jangan memberinya daging seperti itu lagi, lihatlah wajahnya sangat pucat karena daging itu!" ucap Hanna.
"Iya ma," balas Nathan.
Karena keadaan Aleea yang masih lemas, Aleea harus beristirahat di dalam kamar dan Hannapun memutuskan untuk pergi.
Saat Nathan mengantar sang mama keluar dari rumah, Aleea beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar Nathan lalu masuk ke kamarnya.
Aleea membaringkan dirinya di atas ranjangnya dengan memegangi perutnya yang masih terasa tidak nyaman.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Aleea berdering, sebuah panggilan masuk dari Evan. Aleea yang sebenarnya malas untuk menerimanya pada akhirnya tetap menerima panggilan Evan.
"Pagi Aleea, ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu, apa kita bisa bertemu?" ucap Evan sekaligus bertanya.
"Maaf Evan, sepertinya hari ini aku tidak bisa keluar rumah," jawab Aleea.
"Kenapa? ada apa denganmu Aleea? suaramu terdengar sangat lemas, apa kau baik-baik saja?" tanya Evan khawatir.
Aleea kemudian menjelaskan pada Evan tentang apa yang terjadi padanya sesuai dengan penjelasan dokter.
"Astaga, maafkan aku Aleea, aku tidak tahu jika daging rusa itu akan membuatmu seperti ini," ucap Evan yang merasa bersalah.
__ADS_1
"Ini bukan kesalahanmu Evan, perutku saja yang sangat manja karena menolak daging rusa itu," balas Aleea dengan tersenyum tipis.
Tanpa Aleea tahu, Nathan yang hendak masuk ke kamar Aleea yang sedikit terbuka, memilih menghentikan langkahnya saat mendengar Aleea yang sedang mengobrol dengan menyebut nama Evan.