
Di tempat kerja, Qiara sedang melakukan presentasi di hadapan beberapa pemilik hotel yang memercayakan seluruh interior hotel padanya.
Biasanya Qiara hanya mengerjakan bagian-bagian tertentu dan baru kali ini ia memimpin sebuah tim untuk mengerjakan keseluruhan konsep.
Teknik presentasi Qiara berbeda dengan desainer lainnya. Dirinya paham bahwa orang perlu mendapatkan sensasi setiap masuk ke sebuah ruangan. Dengan jeli ia membawa para kliennya untuk menikmati sensasi dari mulai masuk lobby, area receptionist, restoran, kafe, elevator, hingga kamar-kamar dengan berbagai tingkatannya mulai standard hingga presidential suite.
Para pemilik hotel yang merupakan kakak beradik itu merasa puas. Mereka harap hotel ini akan menjadi tempat kumpul sosialita di Jakarta.
Pemilik hotel bernama Anti memberikan komen atas presentasinya. “Qiara, kami suka banget sama desain kamu. Elegan tapi tetap vibrant.”
“Mbak Maya benar. Aku melihat semua ruangan instagramable, tata lampunya juga pas. Perbaikan minoritas aja, cuma di deluxe room. Lainnya udah approved!” Sang adik, Iriana, sama semangatnya dengan kakak.
Iriana menyambung, “Nanti pas pelaksanaan Qiara akan mengawasi, kan?”
“In syaa Allah Mbak, kalau untuk production ada Mas Adrian di sini. Saya akan mengawasi penempatannya di lokasi.”
“Bagus, kami udah nggak sabar. So far kami puas dengan ArteLi Desain karena tepat waktu dan semuanya benar-benar sesuai bayangan kami. Semoga nanti saat di lapangan juga memuaskan.”
“In syaa Allah Bu,” jawab Adrian kepala produksi menjawab.
“Baik kalau begitu kami pamit.” Maya, Iriana, dan rombongan pamit. Marianne, Qiara, dan Adriane mengantarkan mereka sampai ke lobby.
“Good joob Qi! Thanks ya,” ucap Marianne sambil menepuk pundak desainer andalannya.
“Sama-sama Mbak. Yuk makan aku laper. Cherish katanya mau gabung juga.”
“Jadi makan seblak?”
“Jadi doong, dari tadi presentasi aku dah kebayang-bayang.”
Tak berapa lama, Marianne dan Qiara sudah berjalan ke kedai seblak di depan kantor. Cherish sudah menunggu.
“Harus banget ya, makan seblak. Panas tau,” sambut Cherish tanpa basa-basi.
“Lu kenapa mau aja ikut, gakpunya temen, Nyet?” Balas Qiara sambil terkekeh diikuti Marianne.
“Udah gue pesenin seblak pedes level tiga. Numben amat sih pengin seblak. Bunting lu?”
“Sssh, seblaknya dah dateng, jangan berisik. Makan-makan…”
Marianne dan Cherish menggeleng-geleng melihat Qiara yang melahap seblak seperti orang kelaparan.
“Lu abis dironde sama Thoriq ya?” Seloroh Cherish lagi sambil perlahan menyeruput kuah segar.
“Hehehe, you know lah. Katanya suruh fight.”
“So how are you doing?”
“Lu tau nggak sih, gue tu kayak berdiri di tepi jurang. Setiap saat bisa jatoh. Selama gue belum jatoh, ya gue bersyukur dan nikmatin aja. Lu tau kan kalo udah jatoh ke jurang susah naiknya.”
__ADS_1
Marianne dan Cherish mengangguk setuju.
“Dah, ludes!”
“Beneran lu ye, kita baru setengah lu udah klaar.”
“Laper boss. Bang, saya mau rujak dua ya. Kalian mau juga kan?”
***
Thoriq dan Hanna sedang menonton siaran TV. Beberapa hari semenjak Hanna memberitahukan kehamilan, Thoriq memang selalu ingin pulang cepat.
Rutinitas pulang kantor sekarang adalah memijat kaki Hanna dan membuatkan susu hamil sebelum tidur. Hanna mengeluh kaki dan pinggangnya sering pegal.
Kesibukan baru dengan Hanna membuat Thoriq lupa menanyakan kabar Qiara. Seperti malam ini Qiara lagi-lagi memeriksa hape tidak ada satu pun pesan masuk sementara biasanya setiap pagi dan malam, setidaknya Thoriq mengirim pesan.
Padahal Qiara tahu Thoriq juga mengirim pesan untuk menanyakan kabar Hanna setiap pagi dan malam saat bersamanya.
“Ya Allah, kuatkan aku atas ketetapanMu. Mudahkan aku Ya Allah. Jagalah Mas Thoriq agar dia tidak menjadi suami dzolim atas istri-istrinya,” pinta Qiara seusai sholat.
Setelah melipat mukena dan sajadah. Qiara memeriksa sekali lagi pesan dari Thoriq. Masih belum ada.
Akhirnya jarinya iseng membuka laman instagram suaminya. Belum ada tambahan. Ia lalu membuka instagram Hanna. Hatinya teriris melihat foto-foto pernikahan dan bulan madu suaminya.
Di pesta pernikahan Thoriq masih terlihat biasa, cenderung sendu. Namun di foto-foto bulan madu di beberapa postingan terlihat Thoriq mengecup pipi Hanna dengan sayang.
“Ya Allah, sakit.” Qiara langsung menutup laman tersebut. Air mata mengembang di pelupuknya, membasahi bulu mata lentik. Dipandangnya sisi ranjang tempat Thoriq biasa tidur. Mengingat kehangatan yang dulu hanya miliknya.
***
“Mas, apa nggak bisa minta sama Mbak Qiara untuk mengalah? Sekarang kan Hanna hamil. Harusnya Mas lebih banyak sama Hanna, jagain debay.”
“Sekarang aja Mas masih bingung gimana bilang ke Mbak Qiara. Nanti Mas atur. Maminya debay harus sehat dan bahagia biar debay juga sehat.”
Thoriq lalu berlutut di hadapan Hanna menciumi perut tempat benihnya sedang bertumbuh.
Dengan berat Thoriq bangkit.
“Mas berangkat, Hanna. Assalamualaykum.”
“Waalaykumussalam, Mas.”
Hari ini terasa berbeda. Jika sebelum-sebelumnya Thoriq tak sabar bertemu Qiara, kini ia enggan meninggalkan Hanna. Terlebih dirinya belum tahu bagaimana cara memberitahukan kehamilan Hanna.
Akhirnya Thoriq menelepon Qiara.
“Assalamualaykum Qia, apakabar?”
Qiara mengernyit mendengar nada suara Thoriq yang datar.
__ADS_1
“Waalaykumussalam, Mas. Qia baik. Mas gimana?”
“Baik.”
“Alhamdulillah,” Qia menjawab sambil menahan rasa kecewa atas sikap Thoriq yang tidak biasa.
“Nanti ke rumah kan?”
“Iya.”
“Ya udah nggak usah dijemput, Qia hari ini kerja dari rumah.”
“Oke. Ya udah sampai nanti ya. Assalamualykum.”
“Waalaykumussalam.”
Qiara menutup telepon sambil menahan rasa kecewa. Tidak ada kata “sayang”, tidak menanyakan kenapa Qiara kerja dari rumah. Qiara tahu suatu saat ia harus menghadapi kenyataan ini, namun ia menyangka akan secepat ini.
Dihapusnya air mata yang akhir-akhir ini rajin mengembang di matanya. Ia kembali fokus pada pekerjaannya. Melupakan kekecewaan pada suaminya. Sesekali menyeruput teh dan mengigit roti bakar.
Dua hari ini Qiara merasa tidak enak badan. Ia menyalahkan seblak pedas yang dilahapnya belum lagi rujak dan pempek.
Hampir siang ketika sebuah telepon tanpa nama masuk.
“Assalamualaykum, Mbak Qiara, ini Hanna.”
Tenggorokan Qiara tercekat mendengar suara madunya yang terdengar lembut mendayu-dayu.
“Ya Allah, pantas suamiku cepat berpaling..”
Setelah mengambil napas panjang Qiara menjawab,” Waalaykumussalam Hanna.”
“Mbak, boleh nggak Hanna main ke rumah? Maaf Hanna mau ngobrol sama Mbak. Hanna … Hanna mau minta maaf.”
Qiara diam dan berpikir, menimbang apakah hatinya sudah kuat menemui wanita yang telah berbagi ranjang bersama suaminya.
“Mbak Qiara, halo, masih ada di sana kah?”
“Masih. Oke datang aja.”
“Sore ya Mbak.”
“Mas Thoriq hari ini ke rumah Mbak.”
“Oh sebelum itu koq. Ya udah sampai nanti Mbak.”
“Oke Hanna.”
Hanna tahu jadwal Thoriq hari ini tidak begitu padat. Ia akan mengatur waktu kedatangannya ke rumah Qiara sebelum Thoriq tiba di sana.
__ADS_1
***