
Di udara London yang selalu dingin dean berangin, Qiara duduk di depan nisan Devan.
Ini adalah kegiatan rutinnya setelah Devan meninggal. Usai mengantar Zee ke sekolah, Qiara akan duduk selama beberapa jam sambil membaca Qur’an.
Benaknya memutar ulang kenangan-kenangan indah bersama Devan. Hingga bulir-bulir air mata menetes.
“Good morning,” sapa seorang wanita yang berumut lebih tua dari Qiara.
“Oh hi, good morning,” balas Qiara sambil mengusap kedua pipinya.
“Aku sering liat kamu duduk di sini. Suami?”
“Love of my life …”
“Aku bisa liat itu, kenalkan namaku Judith.”
“Qiara, nice to meet you, please sit down.” Qiara bergeser memberikan tempat untuk Judith duduk di sampingnya.
“Suami?” Tanya Qiara.
Judith menggeleng, “Anakku satu-satunya.”
“I’m sorry.”
“Oh no, no …don’t be. It’s meant to be. Anakku mengidap kelainan langka. Tuhan masih memberinya waktu hingga berumur dua puluh tahun sebelum akhirnya ia pergi. Berat memang, tapi aku berpikir, akan egois jika mengharapkannya hidup ditopang alat-alat medis dan belasan pil yang harus diminumnya tiap hari.”
Judith mengeluarkan dompet, menunjukkan foto.
“Clementine Andrews dan ini suamiku Oliver Andrews. Kami bagaikan tiga sekawan. Dengan anak berkebutuhan khusus, hidup kami tidaklah mudah, tapi indah.”
“Suamimu?”
“Meninggal tahun lalu, karena tua. Ia minta dikremasikan karena tau aku akan selalu mendatangi makamnya tiap hari, seperti kamu.”
Pandangan Qiara menerawang jauh.
“Sulit menghilangkan rasa sedih ini. Sulit sekali. Kadang aku masih mendengar suaranya, masih menantikan dirinya masuk dari pintu depan dengan senyum lebar dan matanya yang hangat menatapku penuh kerinduan.”
“I know … Duniaku pun runtuh saat Oliver pergi,” ucapnya lirih.
“Aku tau Devan tidak menginginkan ini. Ia berpesan agar aku harus bahagia. Bagaimana aku bisa bahagia sementara sumber kebahagiaanku telah hilang. Pagi hari ketika bangun, ingin rasanya agar malam segera tiba hingga aku bisa memimpikannya.”
“Bergerak.”
“Maksudmu?”
“Bergerak, cari kesibukan yang membuat kamu melupakan kesedihan. Bukan melupakan suamimu ya, tapi sedih terus menerus tidak baik untuk kejiwaanmu. Mungkin kamu sudah ratusan kali mendengar nasihat ini. Tapi itu satu-satunya jalan keluar, dear.”
“Saat aku mempersiapkan perkawinan anakku memang sedikit terhibur, tapi kini ketika tinggal menghitung hari, rindu tak tertahan ini muncul lagi.”
“Lalu, bergeraklah. Belajar sesuatu yang kamu tidak pernah pikirkan, atau mengajar orang lain mengenai sesuatu yang kamu bisa. Bersosialisasi, apapun yang membuat tubuh dan pikiranmu bergerak. Lalu setiap pagi katakan ‘Aku akan mengisi hariku dengan kebahagiaan dan manfaat untuk orang lain’. Setiap hari.”
“Works for you?” Qiara menantikan jawaban Judith.
“It did. Kamu tau usiaku sudah 70 tahun, dan aku mengajar dansa untuk kelompok senior di balai warga. Dulu aku benci berdansa. Oliver dan aku sering menertawakan mereka yang berdansa sampai pagi. Karena itulah kupelajari setiap gerakan dansa yang ada, waltz, tango, foxtrot. Bahkan zumba! Aku mempelajari sesuatu yang tidak pernah kulakukan bersama duamiku. Dan sekarang teman-temanku belajar denganku. Kami menghabiskan waktu di balai warga dengan berdansa. What a good time.”
“Wow, itu luar biasa!”
“Aku harap ini membantu. Hubungi aku jika kamu juga mau berdansa. Gratis.” Judith bangkit lalu menirukan gerakan orang berdansa. Qiara tertawa melihat wanita yang masih energik di usianya.
“Dokter Devan dulu yang menyemangatiku untuk mempertahankan Clara. Dia masih dokter muda. Seniornya mengusulkan agar aku menggugurkan Clara karena mengingat kesulitan yang akan dia hadapi sepanjang hidupnya. Dokter Devan diam-diam mengenalkanku pada komunitas yang memiliki anak dengan kelainan yang sama. Kami saling menguatkan.”
Judith menatap nisan Devan.
“Aku tidak pernah menyesal melahirkan Clara. Walau hidupnya sulit tapi senyumnya melelehkan hati. Ia mengajari aku dan Oliver untuk mencintai tanpa batas dan menghargai kehidupan. Jika sedikit saja aku bisa membalas kebaikan Dokter Devan, maka adalah membuat istrinya bersinar lagi.”
“In syaa Allah. Thank you, Judith.”
“Aku harus pergi, kelas pertamaku jam sepuluh. Datanglah ke balai warga, hanya lima kilometer dari sini. Jika kamu tidak berdansa, silakan minum kopi dan mengobrol bersama kami.”
“Thank you, Judith. Setelah selesai pernikahan anakku di Indonesia, aku akan mampir. Daerah Woolwich?”
“Exactly, tanya saja Judith Andrews, aku terkenal di sana. Take care Qiara.”
Qiara masih tinggal di depan nisan Devan.
“Maaf aku memang belum bisa bahagia seperti yang kamu mau, Dev. Liam sebentar lagi menikah dan aku selalu terbayang kamu berada di sampingku mengantarkannya menempuh hidup baru bersama Aira. If only I can get one more hour with you, Dev …”
***
Qiara dan anak-anaknya tiba dengan jet pribadi di Indonesia.
“Beginilah kalau kita traveling. Keluarga lain dijemput mobil, sementara kita naik minivan ukuran besar,” seloroh Kala sambil menggandeng Zee.
“Itu pun nggak cukup sama barang-barang kita loh.”
“Well thanks to Abby dan Zee yang bawa empat koper untuk perjalanan tujuh hari saja,” celetuk Hayyan. Tentara muda itu merangkul kakak perempuannya yang langsung manyun.
“Women never travel light. N-E-V-E-R!” Sahut Abby sambil melakukan toss dengan Zee yang terkekeh.
“Buna always travels light and she looks stunning all the time,” ucap Barran yang gemas karena diminta tolong membawa travel bag Abby.
“Kamu bawa apa sih di travel bag ini, njiir berat banget,” keluh Barran.
“Lemah,” ledek Hayyan.
“Ni bawa!” Barran langsung melempar travel bag Abby hingga sang empunya menjerit. Hayyan menangkap dengan tangkas.
“I kill you kalau skincare aku berantakan.”
“Abby, Abby, kamu bawa skincare berapa banyak sih?”
“Itu kado aku buat Mbak Aira. Juga aku belikan adik-adiknya Latifah, Fatimah, dan Malika. Liat, aku baik dan perhatian kan? Nggak kayak adik-adikku yang …”
__ADS_1
Abby tidak melanjutkan tapi menatap triplets dengan gaya sok sinis.
“Ganteng!” Teriak Azka.
“Keren!“ Barran tak mau kalah.
“Macho!” Hayyan menekuk lengannya yang berotot.
“Nasib … nasib …” Abby berpaling dari triplets yang kini saling memberikan high five karena berhasil mengalahkan kakak mereka.
Qiara yang berjalan di depan bersama Liam tersenyum-senyum mendengar perdebatan anak-anaknya.
Melihat mata Bunanya mulai sendu, Liam lalu berkata, “Buna, aku ketinggalan sepatu untuk pas akad.”
“Innalillaahi, Liam, kok bisa.”
Setelah itu Qiara mengomelinya panjang pendek. Liam hanya tersenyum dan diam-diam mengedipkan mata ke adik-adiknya.
Ia lebih baik membiarkan dirinya di berondong omelan daripada melihat Qiara kembali bersedih karena Devan tidak lagi bersama mereka.
Sepasang sepatu yang dimaksud sudah tersimpan rapi di kopernya.
***
Thoriq menatap putri satu-satunya. Sebentar lagi ia akan menyerahkan tanggung jawab terhadap Aira kepada Liam.
Air mata berlinang di wajah Aira.
“Aya, makasi udah berjuang keras untuk Aira. Masih segar diingatan Aira waktu Aya berusaha keras untuk bisa jalan lagi karena ingin bisa mengantar Aira ke sekolah. Aira ingat bermalam-malam Aya tidak tidur untuk mengompres saat Aira demam. Aya yang ajarin Aira naik sepeda. Kita selalu rebutan makan oncom goreng. Aya … Aira nggak mungkin seperti ini kalau nggak ada Aya.”
Aira lalu memeluk dan menangis di dada ayahnya. Thoriq mengelus lembut rambut Aira.
“Terima kasih sudah jadi anak Aya yang sholihah. Setiap waktu sama Aira adalah waktu terbaik bagi Aya. Sebentar lagi, Aira akan jadi istri Liam. Surga Aira adalah pada suamimu. Taat dan cintai Liam. Berdoalah agar perkawinan kalian langgeng hingga menua. Jadilah madrasah untuk anak-anak Aira dan Liam.”
Aira mengeratkan pelukan pada ayahnya.
“Aya sendirian dong …”
“Hei, I will be fine. Udah, jangan suruh Aya nikah lagi. Aya udah nyaman kayak gini.”
“Nggak mau udahan, Aira masih mau dipeluk Aya.”
Thoriq mengecup pucuk kepala anaknya.
“Selamanya kamu anak Aya, ya …”
Aira mengangguk kuat-kuat.
Ketukan di pintu menandakan saatnya Aira harus mulai berdandan.
“Barakallahu fiik, anakku, Aira.”
Sekali lagi Aira memeluk ayahnya. Keduanya tersenyum, Thoriq menghapus air mata di pipi Aira.
“I love you, too, Daughter.”
***
“Saya terima nikah dan kawinnya Kamelia Aira Putri Thoriq binti Thoriq Aditya dengan mas kawin senilai 1 kilogram emas, tunai.”
“Sah?”
“Sah!”
“Barakallahu lakuma wa baraka alaikuma wa jama’a bainakuma fii khoir …”
Semua bernapas lega. Qiara dan Hanna saling berpelukan.
Mereka saling melihat sambil tersenyum bahagia, “Besan …”
Keluarga besar Thoriq dan Hanna mengagumi kebesaran hati Qiara mengingat sejarah pahit yang pernah ditorehkan mantan suami dan istri keduanya.
Tiba saatnya Aira untuk masuk.
Meja akad sudah disingkirkan.
Liam berdiri dengan gagah didampingi Triplets yang sama gagahnya.
Musik berganti dengan lagu Pachelbel yang dimainkan apik oleh string quartet.
Malika masuk sambil tersenyum manis diikuti Rafathar yang sedikit cemberut karena ingin berdiri di samping saudara-saudara Liam. Tapi Malika memaksanya.
Aira muncul diapit Thoriq dan Kala.
Gaun panjang bernuansa muslimah tetap membuat dirinya anggun dan chic saat melangkah masuk.
Liam, The Love Guru, akhirnya tidak bisa menahan rasa haru melihat pengantin wanita yang begitu cantik. Gadis yang ia idamkan dari kecil kini sah miliknya.
Azka memberikan tisu pada kakaknya.
Suasana menjadi haru. Di layar panitia menampilkan foto-foto Liam dan Aira serta Kala tentunya yang selalu berada di antara mereka.
Termasuk screen shot yang diam-diam diambil Liam saat dulu sering menakut-nakuti Aira.
Aira tiba di tempat dimana Liam menyambutnya.
Pengantin pria itu menyium takzim tangan ayah mertua, lalu memeluk Kala. Liam berterima kasih pada adiknya yang menempatkan diri sebagai penjaga Aira.
“She’s officially yours, now, Bro,” seringai Kala sambil menepuk pundak Liam.
Tibalah Liam kini berhadapan dengan Aira. Tangannya menyentuh wajah Aira dengan lembut.
“Hey you … Istri.”
__ADS_1
“Kak Liam … Suamiku,” balas Aira. Matanya berbinar-binar.
Liam kemudian menggandeng Aira untuk menuju pelaminan. Liam yang tinggi tegap berdampingan dengan Aira yang juga semampai.
MC memanggil ke dua orang tua Aira. Kemudian mempersilakan Qiara dan Azka untuk menemani mempelai.
Aira memeluk ibunya sambil menahan tangis bahagia.
“Nak, bahagialah bersama Liam. Taati suamimu, cintai dan layani dia karena Allah,” bisik Hanna di telinga Aira.
“In syaa Allah, Ma.” Aira mencium takzim tangan ibunya lalu kembali memeluknya sebelum beralih ke Qiara.
Hari itu di taman hotel yang ditata indah dengan bunga-bunga serta furniture bertema rustic semua orang berbahagia.
Liam dan Aira tak henti-henti saling menatap hingga MC mengingatkan mereka untuk fokus menerima ucapan selamat dari para tamu.
Para tamu dijamu dengan aneka rupa hidangan. Mulai dari bistik lidah yang langsung lumer di mulut, grilled salmon dengan saus lemon yang segar, tak ketinggalan nasi liwet yang jadi ciri khas kota Solo.
Aneka rupa kue juga tersedia untuk mereka penyuka manis. Keylime pie, double-chocolate gateu, blackforest, strawberry shortcake memberi pilihan bagi para tamu.
Langit biru, awan putih berarak, angin gunung sejuk semilir mengiringi gelak tawa dan cakap akrab sepanjang pesta.
***
Qiara berjalan menyusuri jalan setapak dalam hotel. Hari sudah malam namun ia belum bisa memejamkan mata. Mungkin terlalu lelah, bisa jadi juga karena merindukan Devan.
Di sebuah gazebo ia berhenti melihat sosok yang sedang duduk sambil melihat hape.
“Mas …” Panggilnya sambil mendekat.
“Eh, Qia, kok belum tidur?” Sahut Thoriq yang buru-buru menutup hapenya.
“Nggak bisa tidur.”
“Qia mau duduk sini, biar Mas masuk …”
“Temenin Qia, Mas, boleh nggak?”
Thoriq mengangguk.
Semenjak pesan yang tidak dibalas, Thoriq tahu bahwa ia tidak lagi memiliki harapan untuk bersama Qiara.
“Maaf …” ucap Qiara sambil melihat ke bukit seberang yang diterangi lampu-lampu pohon.
“Untuk apa, Qia?”
“Karena Qia nggak balas pesan Mas bulan lalu.”
Thoriq tersenyum.
“Mas ngerti. Maafin udah lancang kirim pesan seperti itu ke Qia.”
“Qia tau anak-anak merencanakan kita buat bersatu lagi.“
“Qia … Qia mau?” Thoriq bertanya dengan hati-hati dan penuh harap.
“Qia belum siap, Mas. Nggak mungkin Qia menerima Mas atau siapa pun sementara di hati Qia masih dipenuhi rasa cinta buat Devan.”
“I understand.” Itulah yang dirasakan okeh Thoriq sepanjang hidupnya setelah kehilangan Qiara.
“Mas mau kan jadi temen Qia aja?”
“Kita ni udah lolita, lolos lima puluh tahun. Udah nggak jaman cinta-cinta’an kayak dulu. Mas akan seneng banget jadi sahabat buat Qia.”
“Mas, aku kepikirian sesuatu.”
“Apa Qia?”
“Kalandra ini kok asik sendiri, ya. Ada nggak gadis kayak Aira yang bisa kita ambil mantu? Anak kita ini setiap disuruh nikah malah ketiduran.”
Thoriq tergelak. Ingat semasa SMA, warung di ujung jalan rumah mereka mendadak untung besar karena jadi tempat nongkrong siswi-siswi hanya untuk melihat Kala pulang sekolah.
Sementara Kala melirik pun tidak. Ia lebih tertarik menanyakan Bibik masak apa untuknya hari itu lalu tidur siang setelah makan.
“Dia masih sibuk sama figurin super heronya itu?”
“Parah, dia udah taro dua lemari tambahan di kamarnya buat naro koleks figurin baru. Qia ampe nggak ngerti itu kamar atau musium koleksi.”
“Pas Mas tanya, kapan nikah, dia cuma bilang, kalau ada cewek yang sekeren Captain Marvel.”
“Ya ampun Kala …” Sahut Qia menggelengkan kepala.
“Makanya dia cocok jadi dokter anak.”
Qiara tersenyum mengingat laporan pegawai rumah sakit yang dulu bekerja untuk Devan dan kini menjadi asisten Kalandra. “Pasien dia itu ada yang pura-pura sakit cuma biar bisa dicek sama Kalandra.”
“Serius, Qia?”
“Beneran, Mas. Qia diceritain sama orang rumah sakit.”
Sepanjang malam Thoriq dan Qiara terlibat dalam obrolan seru tentang banyak hal. Hingga tak terasa malam telah larut dan udara semakin dingin.
“Mas, Qia masuk, ya.”
“Mas temenin masuk, yuk.”
Mereka masih mengobrol seru hingga Qia masuk ke kamarnya.
Di luar kamar Thoriq tersenyum.
“Alhamdulillaah buat kebahagiaan ini, ya Allah.”
***
__ADS_1