Cinta Yang Tak Utuh

Cinta Yang Tak Utuh
Putra Thoriq


__ADS_3

POV Thoriq


Malam itu aku menidurkan Aira lebih cepat. Anak perempuanku kini tahu bahwa ia memiliki seorang kakak bernama Kala. Ia bersorak kegirangan dan mengajakku untuk menemui Kala.


Aira, Aira, jika saja kamu tahu betapa Aya begitu bahagia sekaligus sedih saat ini.


Kupandangi foto Qiara sedang mencium putraku. Mungkin saat itu Kala baru berumur beberapa hari. Wajah wanitaku itu terlihat sangat berseri-seri. Kala yang masih bayi merah tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka. Persis aku saat tidur.


Lamunan membawaku ke malam terakhir kali aku melihat Qiara. Kesedihan, kekecewaan, kesakitan semua dapat kulihat di netra yang biasanya melihatku dengan penuh cinta. Dan aku … aku bahkan tak memedulikannya.


Kalandra Akira Putra Thoriq.


“Qia, apakah putra kita memanggilmu buna seperti yang dulu kamu inginkan? Apakah kamu mengenalkanku padanya?”


Aku memandangi foto anakku sedang main bola.


“Pasti kamu lelah harus menjaga Kala seorang diri. Atau adakah orang lain yang menjaga kalian berdua?”


Mendadak hatiku pilu.


Aku mengambil surat perpisahan yang ditinggalkan Qiara untukku.


Dear Mas Thoriq,


Pertama-tama, Qia minta maaf karena Qia akan pergi tanpa minta ijin.


Kedua, Qia minta maaf karena melanggar janji untuk memberitahukan ke Mas jika Qia sudah nggak tahan.


Qia pamit ya Mas. Sepertinya hanya sampai sini kita berjodoh. Qia memang belum bisa menerima pernikahan Mas dan Hanna, tapi Qia lebih nggak bisa terima melihat Mas menjadi suami dzolim di antara Qia dan Hanna.


Mas, berbahagialah bersama Hanna dan anak kalian. Qia akan berusaha ikhlas. Ijinkan juga Qia merajut mimpi yang baru dan mencari kebahagiaan di jalan yang Qia ambil.


Terima kasih untuk duabelas bulan yang membahagiakan. Duabelas bulan dimana Mas hanya milik Qia.


Maafin Qia karena pastinya Qia banyak salah sama Mas.


Mas, nanti akan ada pengacara Qia yang akan mengurus perceraian. Ah perceraian. Nggak nyangka ya Mas, perkawinan kita akan sampai di titik ini.


Tapi Qia nggak pernah nyesel pernah jadi istri Mas. Qia hanya akan ingat kebahagiaan bersama Mas dan berusaha melupakan semua kesedihan. Qia berdoa jika suatu saat kita bertemu lagi, kita bisa menertawakan kejadian ini. Tanpa duka dan luka.


Salam buat Kakek Nenek, maaf Qia pergi tanpa pamit. Tapi ada hati dan diri yang harus dijaga.


Selamat tinggal, Mas. Qia doakan Mas selalu sehat dan bahagia.


Qiara Anjani


Ribuan kali kubaca surat itu. Aku gagal memahami kalimat ada ‘hati dan diri yang harus dijaga’.


“Qia, Sayang, begitu besar kesedihan dan penderitaan yang Mas berikan ke kamu saat itu hingga kamu memilih pergi ke negeri orang dalam keadaan hamil.”


Tak terasa air mata menetes jatuh membasahi surat. Buru-buru kukeringkan, agar tidak merusak surat dari cinta sejatiku. Walau isinya sungguh menusuk hati. Buah dari ketidakpekaanku.


Aku membuka pintu kamar Aira yang bersebelahan dengan kamarku. Besok aku akan menitipkan Aira ke Nenek untuk ke Jakarta.


Kubenahi selimut Aira. Tidurnya pulas sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya. Aku melihat sesuatu menyembul dari balik bantalnya.


Ternyata Aira mengambil foto Kala yang sedang tersenyum lebar dan menyimpannya. Kukecup kening putriku, walau ia lahir dari rahim istri yang tak pernah kucintai, namun aku sangat menyayanginya.


“Putriku, Aya berdoa semoga kita bisa bertemu Kakak Kala…”


Pov Ends.


***


Qiara, Dhanu dan Marianne duduk di teras paviliun tempat Qiara dan Kala tinggal. Dhanu dan Marianne tidak mengijinkan Qiara tinggal sendiri.


Paviliun yang awalnya hanya dipakai sebagai gudang disulap oleh Qiara menjadi tempat tinggal yang nyaman dengan gaya kekinian.


Kala sedang main bola bersama Rama di halaman belakang yang luas.


Qiara menuangkan ice lemon tea ke gelas-gelas sambil berkata, “Qia tidak boleh menunda lagi untuk memberi tahu Mas Thoriq tentang Kala. Anakku juga sudah bolak-balik menanyakan ayahnya. Entah bagaimana bocah dua tahun itu ingat kalau ayahnya ada di Indonesia.”


Dhanu menyesap minuman dingin itu sambil berpikir.


“Sudah beberapa minggu ini Thoriq kembali menelepon Mas Dhanu, Anne, dan teman-teman kamu. Setelah sekian lama dia tidak pernah menelepon kami.”


“Mas bilang apa?”


“Nggak diangkat, Qi. Kami bingung mau ngomong apa ke Thoriq,” jawab Dhanu sambil menyesap minuman dingin.


Qiara melemparkan pandangan ke Kala yang sedang berusaha membuat tendangan pisang.


“Buna liat, tendangan Kala hebat,” seru anak itu dengan seringai lebar.


Dhanu mengamati keponakannya lalu berkata, “Kala itu fotocopy-an Thoriq banget. Thoriq kecil.”


Qiara mengangguk sambil terkekeh, “Qia cuma dilewatin aja, Mas. Semua-muanya mirip Mas Thoriq, wajah, kebiasaan, gaya pakaiannya.”


Bik Surti, ART yang membantu rumah Dhanu dan Marianne mendatangi mereka.


“Maaf Den Dhanu, di depan ada tamu namanya Thoriq. Ingin bertemu.”


Qiara tersentak.


“Ya Allah, baru diomongin,” ucapnya ke Dhanu dan Marianne. Wajah Qiara nampak gugup.


“Qia, Mas terserah kamu. Kala adalah anak kamu. Apapun putusanmu, Mas Dhanu akan dukung dan jagain kamu.”


“Bismillaah.” Qiara memantapkan hati.


Qiara mengangguk pada Dhanu dan Marianne. Ketiganya berjalan ke luar.


Dari luar pagar, Thoriq melongok-longok.


Ia menyapa Dhanu begitu mantan kakak iparnya muncul, “Mas Dhanu, assalamualaykum. Thoriq mau bicara …”


Tenggorokan Thoriq tercekat melihat wanita yang berdiri di belakang Dhanu dan Marianne.


“Qia … Qia …”


Qiara menatap wajah pria masih ada di hatinya.

__ADS_1


“Mas …”


“Qiara …”


Begitu pintu gerbang dibuka, Thoriq bergegas mendekati mantan istrinya. Qiara memperhatikan jalan Thoriq yang tidak seperti dulu.


Dua manusia itu saling bertatapan penuh rindu. Ingin memeluk namun dihalangi kenyataan bahwa tidak ada lagi ikatan di antara mereka.


“Assalamualaykum, Mas …”


“Waalaykumussalam … Qia … Qia apakabar?” Suara Thoriq bergetar menahan luapan emosi.


“Buna … Buna dimana Buna Kala …” terdengar Kala berdendang sambil lari mendekat.


Mata Thoriq membola melihat anak kecil yang merupakan jiplakan dirinya. Melihat Thoriq, Kala langsung memeluk pinggang Bunanya. Menyembunyikan wajah kepada orang yang belum dikenal.


Emosi Thoriq membuncah. Matanya yang menghangat tak lepas menatap anak kecil yang bersembunyi di belakang Qiara.


“Qia … Qia …” Thoriq hanya mampu memanggil nama Qia. Matanya bergantian melihat ibu dan anak di depannya.


Qiara tersenyum ke arah Kala yang balas menatapnya dengan sorot bertanya.


Kala berbisik. “Buna, he looks like Aya.”


Qiara duduk di atas lututnya agar sejajar dengan Kala.


“Kala, this is your Aya …”


Kala dengan mata bertanya menatap ayahnya. Thoriq berusaha duduk di atas lututnya. Dhanu membantu mantan iparnya itu.


“Maa syaa Allah, Qia, ini … ini anak kita?”


“Iya, Mas…” Qiara mencium Kala yang memeluknya makin erat sambil mengintip ayahnya dari balik kerudung ibunya.


“Kala, ini Aya …” Ucap Thoriq lembut.


Mata bening Kala kini menatap Thoriq. Telunjuknya terulur, pelan-pelan menelusuri wajah yang selama ini dikenalnya hanya melalui foto.


“Aya?” Kala melirik Bunanya seperti meminta ijin. Qiara mengangguk.


“Aya-nya Kala,” ucapnya malu-malu lalu mengulurkan tangan. Tangan Thoriq meraih tangan anaknya. Untuk pertama kali menyentuh darah dagingnya.


Kala yang masih malu-malu mencium takzim tangan ayahnya lalu kembali memeluk Qiara. Tipikal anak usia dua tahun.


Thoriq menyentuh pipi Kala menatapnya dengan kasih sayang. Dadanya terasa mau meledak. Bagaimana ia bisa luput mengetahui Qiara hamil saat itu. Berarti ia memukul dan mendorong Qiara dalam keadaan hamil demi membela Hanna yang hanya pura-pura.


Air mata menuruni wajahnya. Ia menatap Qiara dan rasa bersalah.


“Qia, Mas minta ampun …”


Thoriq hendak bersujud di depan Qiara. Dhanu segera menahannya.


“Thoriq, kita tidak diperkenankan sujud dihadapan manusia lain. Berdirilah.” Dhanu lalu membantu Thoriq yang masih kesulitan berdiri sendiri.


Buru-buru Qiara berkata, “Mas, masuk yuk, kita ngobrol di dalem. Kala, gandeng Aya masuk.”


Kala malu-malu menarik tangan ayahnya. Thoriq merasa bahagia yang teramat sangat. Hatinya tidak berhenti bersyukur. Ia menghapus air mata dengan satu tangannya.


“Aya … Aya …” Kala memanggil-manggil sambil terisak. Entah apa yang dirasakan anak itu.


Suasana menjadi semakin haru. Thoriq menggendong Kala, memeluknya erat. Menumpahkan kasih sayang pada laki-laki kecil yang terisak di pundaknya.


“Kala, Aya seneng banget ketemu Kala.”


“Mas, maafin kalau Kala suka nggak ngerti, Bahasa Indonesia dia masih belum lancar.”


Thoriq menjauhkan wajah anaknya lalu menatap. Bibir Kala menjebik menahan tangis.


“I love you, Kala. Even before I know you,” ucapnya lembut. Kala mengangguk lalu kembali membenamkan wajah di bahu bidang ayahnya. Kerinduan selama ini tumpah sudah.


Dhanu mempersilakan Thoriq untuk duduk. Kala kini duduk di pangkuan ayahnya sambil menghisap satu jempol.


“Maa syaa Allah, Qia, waktu kecil Mas juga suka menghisap jempol. Sampai Nenek harus kasih asem ke jempol Mas.”


Qiara tersenyum lembut ke Kala yang meliriknya. Seperti minta persetujuan apakah boleh berlama-lama di pangkuan Thoriq.


Melihat ibunya tersenyum Kala tersenyum kepada Aya dan Bunanya. Qiara mengamati Thoriq yang nampak kurus, wajahnya terlihat lebih tua. Satu kakinya terlihat kaku.


“Mas Thoriq …”


Susah payah Thoriq menahan air mata mendengar suara yang dirindukan memanggil namanya. Diam-diam ia mencuri pandang. Qiara, wajahnya semakin berseri-seri. Terlihat lebih dewasa dan cantik.


“Andaikan Mas bisa memeluk kamu dan melepas rindu yang menghimpit dada ini, Qia,” jerit hati Thoriq.


Dengan mata berkaca-kaca, Qiara berkata, “Mas, maaf Qia belum berani kasih tahu tentang Kala.”


“Buna don’t cry …” Kala seketika merosot dari pangkuan Thoriq dan memeluk Qiara.


“Are you sad, Buna?”


“I’m fine Kala, it’s happy tears …” Kala lalu menciumi Buna dan duduk manis di sampingnya.


Thoriq menikmati pemandangan indah di depannya. Wanita yang masih bertahta kuat di hatinya dan darah daging yang baru pertama kali ia temui.


“Mas nggak mau mikirin apa-apa Qia. Ketemu kamu dan Kala udah keajaiban dan kebahagiaan buat Mas. Jangan pergi lagi ya …” Thoriq terkesiap melirik cincin yang melingkar cantik di jari manis Qiara.


“Qia … Qia, sudah menikah lagi?” Suara Thoriq bergetar menahan emosi.


“Belum, Mas, in syaa Allah bulan depan,” balas Qiara membuat hati Thoriq berdenyut.


“Mas, apa masih bisa ketemu Kala?”


“Mmm, calon suami Qia orang Australia. Setelah menikah, Qia dan Kala akan ikut ke Australia. Nanti kita bicarakan, ya.”


Berusaha menahan rasa sedihnya, Thoriq bertanya, “Calon suami Qia, muslim kan?”


“In syaa Allah, Mas, namanya Devan. Baru semalam Devan melamar Qia,” ucap Qia malu-malu namun hatinya terketuk mendengar pertanyaan Thoriq. Ia teringat betapa dulu laki-laki itu pernah sangat melindunginya. Sebelum Hanna hadir…


Thoriq terdiam. Entah, hatinya terasa ditusuk seribu sembilu.


“Maaf Qia, kamu pasti lebih sakit dari Mas sekarang ketika tahu dulu Mas menikah lagi. Kemudian kamu menerima berbagi suami dengan Hanna.” Thoriq kembali menyesali perlakuannya pada Qiara.

__ADS_1


“Mas, Hanna dan anak Mas dimana?” Tenggorokan Qiara tercekat menanyakan hal yang masih menyakitkan baginya.


“Mas punya anak perempuan, Qia tebak namanya siapa?”


Alis Qiara terangkat.


“Kamelia Aira Putri Thoriq?”


“Qia masih ingat …” Ucap Thoriq lirih.


Qiara tersenyum dan mengangguk. Thoriq merogoh kantongnya mengeluarkan hape lalu menunjukkan foto Aira.


“Panggilannya Aira.” Mata Qiara terbelalak, kaget betapa Thoriq memberikan nama panggilan yang mirip dengan namanya.


“Ya Allah, Mas, Qia pernah ketemu Aira di toilet rumah sakit kalau gitu. Kala nunjuk ke anak perempuan terus bilang adek …”


Kala ikut melihat foto Aira lalu mengenali anak perempuan itu.


“Adek, Kala.” Semua yang berada di ruangan terpana. Kala bisa mengenali Aira sebagai adiknya padahal sama sekali mereka tidak pernah menyebut tentang anak Thoriq dan Hanna.


“Iya ini adik Kala,” sahut Thoriq lembut.


“Aya, I want to meet my sister,” ucap Kala dengan mata bulat berbinar-binar.


“Aira sedang di Solo bersama Kakek dan Nenek buyutnya. Qia, Mas dan Hanna sudah bercerai. Mas dan Aira tinggal di Solo. Mas sekarang buka usaha di sana.”


Qiara terdiam. Seperti ada beban terangkat, namun dirinya tak pasti apa yang harus ia rasakan. Haruskah bahagia? Haruskah prihatin?


“Mas, Qia … Qia nggak tahu mesti ngomong apa … tapi Qia selalu berdoa untuk kebahagiaan Mas.”


“Sama, Qia, setiap selesai sholat, Mas selalu kirim doa buat kamu. Dan in syaa Allah akan terus begitu. Sekarang ditambah doa buat Kala. Anak Aya mau doa apa?”


Kala yang tidak mengerti menatap ibunya dengan alis terangkat. Qiara menjelaskan pada Kala.


“Aku mau didoain jadi pemain bola terkenal.”


Semua tergelak mendengar jawaban sederhana dan jujur dari anak kecil berumur hampir tiga tahun itu.


Thoriq mengulurkan tangannya dan Kala kembali menghambur ke ayahnya. Thoriq memeluk erat anaknya, menciuminya hingga Kala kegelian.


***


“Dev, aku mau cerita sesuatu. Please dengerin dulu, ya,” pinta Qia melalui sambungan video call.


“Yes my dear Qiara, your wish is my command.”


Qiara menarik napas, mengucapkan bismillaah, lalu bercerita, “Tadi Mas Thoriq ke sini dan akhirnya untuk pertama kali ketemu Kala dan aku.”


Devan bersyukur Allah menciptakan organ dalam dengan sistem yang begitu kuat hingga tidak merosot atau copot ketika mendengar ucapan Qiara. Dirinya tahu betapa Qiara masih memiliki cinta untuk Thoriq.


Pria itu memilih diam menunggu kelanjutan cerita Qiara.


“Kala seneng banget ketemu ayahnya…”


“Ibunya?” Devan benar-benar tak bisa menahan diri.


“Jujur, setelah sekian lama nggak ketemu Mas Thoriq, aku canggung. Dia sudah bercerai dari Hanna.”


“Hmmm …”


“Kok hmmm?”


“Kamu sekarang yang bikin aku canggung. Qia, aku takut kejadian dengan Stella akan terulang. Ketika aku jatuh cinta terlalu dalam, ternyata dia hanya menganggap cinta dan ketulusanku sebagai pengorbanan. Maafkan aku yang egois karena malah membicarakan perasaanku dan bukannya fokus pada Kala dan ayahnya.”


“Aku sangat mengerti, Dev. Kita berdua pernah gagal mempertahankan cinta.”


“Apakah, apakah kamu masih mencintai Thoriq.”


“Sampai kapan pun, aku akan menyayangi Mas Thoriq karena dia adalah ayah dari Kala. Hanya saja, aku tidak ingin kembali padanya, Dev.”


“Kenapa?”


“Aku nggak tahu bagaimana kamu akan mengartikan ini. Sebagian tubuhku masih merinding membayangkan aku dulu rela berbagi Mas Thoriq dengan Hanna.”


Devan kecewa dengan jawaban Qiara. Kecemburuan menandakan tunangannya itu masih mencintai Thoriq, lagi-lagi ia berhadapan dengan cinta yang tak utuh untuknya.


“Qia, apakah … apakah kamu mau berusaha mencintaiku?”


“Pertanyaan macam apa itu? Aku mencintai kamu, Dev. Nggak mungkin cincin ini melingkar di jariku kalau aku nggak cinta sama kamu. Emang kamu pikir aku cewek apaan?” Qiara bicara dengan mata mendelik.


Devan tersenyum. Begitulah ia dulu jatuh cinta pada Qiara yang selalu berani mengemukakan pendapatnya. Terlebih mata mendeliknya.


“Andaikan kita sudah halal, Qia, habis kamu sama aku,” batin Devan sambil mencebikkan bibirnya dan dibalas dengan kerlingan mata Qiara.


“Dev, kita berdua punya masa lalu. Aku ada Mas Thoriq sedangkan kamu ada Stella.”


“Aku menginginkan kamu, Qia, bukan Stella.”


“Tapi Stella akan selalu ada di sekitar kita, karena Liam. Dan aku harus siap dengan hal itu. Btw, kamu tahu nggak kalau ternyata Stella yang kasih tahu Mas Thoriq tentang Kala. Sepertinya aku harus lebih waspada terhadap mantan istrimu itu?”


Kening Devan berkerut.


“Biar aku bereskan,” jawabnya gusar.


“Jangan dekat-dekat dia, Devan. Maafkan aku, tapi lebih baik kita menjaga jarak dengan mantan-mantan kita.”


“Stella sudah keterlaluan, Qia. Aku tahu niatannya apa. Ia pikir jika kamu dan Thoriq rujuk, maka aku akan kembali padanya.”


Qiara memijat pangkal hidungnya.


“Ya Allah, mudahkanlah jalanku untuk mencintai Devan,” pintanya dalam hati.


“Qia … Qia … are you okay?”


Devan khawatir melihat ekspresi Qiara.


“Aku cuma berpikir, kenapa sulit banget ya buat aku untuk mencintai seseorang? Dulu pernikahanku yang bahagia, hancur karena Mas Thoriq memenuhi permintaan Kakek dan Nenek untuk menikahi Hanna. Kini saat aku memulai denganmu, Stella sudah dua kali menyabot diriku,” ucap Qiara lirih.


“Aku janji tidak akan melakukan apapun karena kamu minta untuk tidak mendekati Stella. Namun aku akan menempatkan orang untuk memantau gerak-geriknya.”


Qiara menghela napas.

__ADS_1


***


__ADS_2